Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Rencana Rasti


__ADS_3

Setelah selesai makan dan hari juga mulai sore, Andika mengajak Arisa pulang supaya mereka mempunyai waktu untuk beristirahat karena nanti malam mereka mempunyai janji temu acara reuni bareng teman-teman SMA Andika dulu. Andika sebenarnya ingin mengajak istrinya pergi bersama, karena setahunya berdasarkan cerita Rinto yang lalu, istrinya juga satu sekolah dengannya dulu, meski beda satu tingkat. Namun, tentu saja Arisa tidak mau, karena dia tidak pernah satu sekolah dengan Andika, apalagi kalau dia harus berpura-pura menjadi Erina di depan teman-teman Andika nanti, tadi malam saja dia hampir salah tingkah saat berhadapan dengan Rinto, syukur saja laki-laki itu percaya-percaya saja kalau dirinya adalah Erina. Jadi, akhirnya Arisa beralasan bahwa dia kecapekan dan ingin beristirahat saja malam ini, sehingga Andika terpaksa pergi sendiri.


Di sebuah resto mewah, telah berkumpul Rinto bersama beberapa teman lainnya saat Andika baru sampai. Andika hanya mengenali Rinto karena dia sama sekali tidak ingat dengan teman-temannya yang lain, semua terlihat asing baginya. Namun, tidak perlu lama mereka pun cepat mengakrabkan diri kembali. Di saat mereka sedang mengobrol seru, tiba-tiba seorang wanita datang menghampiri mereka.


"Maaf aku terlambat." ujar Rasti yang barusan datang.


"Oh tidak apa-apa, kita juga barusan ngumpul. Silakan duduk, Rasti. Teman-teman pada masih ingat kan dengan primadona sekolah kita dulu." ucap Rinto dijawab anggukan kepala teman-temannya yang lain, kecuali Andika. Dia tidak tahu bahwa Rasti juga ikut dalam acara reuni ini.


"Tentu saja, aku masih ingat. Gadis paling top di sekolah, siapa coba yang bisa lupa." sahut Doni, salah satu teman SMA Andika.


"Eh bukannya kalian pacaran dulu? Wah, awas nih CLBK kembali nih" ucap Darman yang duduk di samping Andika membuat Rasti menjadi tersipu malu. Dia sengaja memilih tempat duduk di sebelah Andika, sehingga membuka Andika semakin risih saja.


"Ngomong-ngomong, gimana kabarmu sekarang Rasti? Sudah menikah?" tanya Doni.


"Akh, masih belum, belum ada yang mau nih." jawab Rasti.


"Belum ada yang mau atau kamunya yang gak mau nih? Gak percaya deh aku, wanita secantik kamu tidak ada yang mau."


"Habis yang aku mau udah keburu nikah sih, makanya aku gak nikah-nikah deh sampai sekarang." jawab Rasti yang sengaja ditujukan kepada Andika.


"Kalau gitu, aku doain kamu cepat dapat penggantinya ya. Kalau belum dapat juga, aku rela kok jadi penggantinya. hahaha...." ucap Rinto pura-pura bercanda padahal sebenarnya pria lajang ini masih mengharapkan cintanya akan terbalas oleh Rasti.


"Iya, kamu sama Rinto aja, udah cocok deh." sahut Darman.

__ADS_1


"Gak mau akh, aku maunya sama yang di sebelahku ini nih." ujar Rasti santai sambil bergelayut manja di lengan Andika membuat laki-laki itu semakin gerah dan kemudian menepis tangan Rasti.


"Udah deh, jangan seperti ini, jaga sikapmu!" ketus Andika kesal, malah membuat teman-temannya cekikikan karena melihat temannya itu digoda oleh Rasti.


Obrolan mereka pun berlanjut seputar nostalgia mereka saat mereka masih sekolah SMA dulu. Setelah selesai makan, Rinto memesan beberapa botol wine untuk merayakan acara temu kangen mereka malam ini. Rasti memohon diri untuk ke toilet sebentar. Saat dia keluar dari toilet, kebetulan dia melewati mini bar pelayan yang sedang menyiapkan minuman yang dipesan Rinto tadi. Dia langsung mendekati pelayan tersebut dan berkata bahwa dia saja yang sekalian membawakan minuman tersebut.


Tanpa curiga, pelayan tersebut memberikan botol wine dan gelas-gelas yang sudah terisi dalam nampan. Saat tidak ada seorang pun melihat, Rasti mengeluarkan sebuah botol kecil berisi bubuk ke dalam salah satu gelas dan mengaduknya supaya larut dan tidak terlihat perbedaannya dengan gelas-gelas yang lain. Dengan gesit, kemudian dia membawakan minuman tersebut ke meja tempat teman-temannya berkumpul.


"Kok, jadi kamu yang membawakannya Rasti? sudah ngelamar jadi pelayan di sini ya?" ledek Doni.


"Enak aja....tadi pas aku lewat, sekalian biar aku yang bawa saja kan sekalian jalan ke sini." jawab Rasti. Kemudian Rasti memberikan setiap gelas kepada masing-masing temannya, tentu saja gelas yang berisi campuran bubuk tadi diberikannya kepada Andika. Lalu mereka pun melakukan cheers dan semuanya minum tanpa curiga, temasuk Andika.


Tidak lama kemudian, Andika merasa pusing kepalanya. Dia berpikir mungkin dia mabuk karena efek dari beberapa gelas wine yang diminumnya.


"Gak, sepertinya aku harus kembali ke hotel sekarang, kepalaku sedikit pusing saja." jawab Andika.


"Aku antar saja ya." Rinto menawarkan bantuan karena kuatir Andika pulang dalam keadaan tidak sadar sepenuhnya begitu.


"Gak apa-apa, Andika sama aku aja, karena kami menginap di hotel yang sama. Biar sekalian jalan aja, bukankah arah rumahmu berlawanan dengan hotel kan?" sahut Rasti langsung, karena memang itulah rencananya.


"Kamu yakin?" tanya Rinto memastikan.


"Tenang saja, aku bisa kok mengantarkan Andika selamat sampai tujuan kok."

__ADS_1


"Kalau gitu, kami duluan ya." pamit Rasti.


"Iya, hati-hati ya."


Andika yang setengah sadar begitu manut aja ketika dipapah oleh Rasti, kemudian mereka naik sebuah taksi online yang mengantarkan mereka kembali ke hotel tempat mereka menginap. Rasti senang sekali, karena kali ini Andika benar-benar berada dalam pelukannya saat ini. Sesampainya di hotel, bukannya menuju ke kamar Andika, Rasti malah memapah Andika masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Dia membaringkan Andika di atas ranjang kamarnya dan tersenyum puas karena malam ini dia bisa menghabiskan waktu bersamanya dengan Andika. Saat Rasti ikut naik di atas ranjang mendekati Andika, laki-laki setengah sadar itu membuka matanya dan melihat wajah istrinya di depannya. Dengan spontan dia menarik tangan Rasti yang dikira istrinya itu dan mulai mencumbuinya. Tentu saja, Rasti pasrah dengan senang hati, karena memang itulah yang dia inginkan dari awal. Bahkan dia mengharapkan sesuatu yang lebih dari itu, bila perlu Andika menanamkan benih pada rahimnya sehingga itu bisa dijadikannya sebagai pengikat Andika nanti. Baginya itu tidak masalah lagi, tokh selama ini dia sudah kehilangan keperawanannya, saat dia menjalin hubungan dengan pria bule ketika dia tinggal di luar negeri dulu sebagai pelampiasan kekecewaannya atas berakhirnya hubungannya dengan Andika dulu.


Namun baru beberapa menit Andika mencumbui Rasti, dan wanita itu mulai menikmatinya, tiba-tiba saja Andika tertidur pulas, gara-gara efek dari obat yang diberikan oleh Rasti pada minumannya tadi. Akhirnya gagallah rencana Rasti untuk melakukan sesuatu yang lebih bersama Andika malam ini. Bukan Rasti namanya, kalau dia tidak memiliki rencana cadangan. Dengan cepat, dia meraih handphonenya dan menelepon seseorang.


"Kamu ke kamarku sekarang!" perintah Rasti singkat kepada orang yang diteleponnya itu.


Tidak lama kemudian, datanglah seorang laki-laki dengan membawa perlengkapan kameranya. Rasti sengaja membayar seorang fotografer suruhan agar mengabadikan foto dia bersama dengan Andika di atas ranjang, supaya bisa menjadi senjatanya untuk merusak hubungan Andika dengan istrinya nanti.


Setelah beberapa jepretan, Rasti kemudian mengambil uang dalam dompetnya dan memberikan kepada fotografer tersebut.


"Cetak semua foto-foto tersebut dan kirimkan kepadaku!"


"Siap bos!" kemudian laki-laki itupun meninggalkan kamar Rasti.


******


Terima kasih ya buat teman-teman yang sudah mampir dan berkenan membaca novelku ini. Jangan lupa tinggalkan jejak ya, like, rate, komen dan vote, supaya diriku semakin semangat nulisnya.....

__ADS_1


__ADS_2