
Hari yang ditunggu-tunggu oleh Andika akhirnya tiba. Hari ini dia akan menjadi mempelai yang akan mempersunting kekasih yang dicintainya itu, Erina. Dia sudah bersiap sedari tadi di kamar hotel yang terpisah dengan kamar pengantinnya itu.
Sedangkan, Arisa yang berada di kamar pengantin masih dirias untuk tahapan akhir. Dirinya begitu anggun mengenakan gaun pengantin tersebut. Tetapi itu tidak membuatnya bersemangat, karena harapannya tidak kesampaian. Dia berharap di hari pernikahannya ini, ibunya akan sadar dari koma dan menghadiri acara pernikahannya ini, meskipun dia sendiri belum tahu apakah ibunya akan merestui pernikahan mereka atau tidak. Namun, kenyataannya ibunya masih terbaring di rumah sakit dan belum sadar sama sekali.
Arisa menghapus air mata yang hampir keluar dari pelupuk matanya. Dia harus bisa menutupi kegalauan dalam hatinya. Dia akan berdiri di tengah-tengah orang yang tidak dikenalnya nanti di resepsi pernikahan sebagai mempelai wanita dari Tuan Andika, lelaki yang sebenarnya mencintai Erina, bukan dirinya. Dia merasa sendirian, karena memang dari pihaknya dia tidak mengundang banyak orang. Tidak ada yang bisa diundangnya, selain Johan, tante Ririn beserta teman-teman kerjanya di cafe tante Ririn itu.
Jangan ditanya seberapa terkejutnya mereka ketika menerima undangan dari Arisa yang begitu mendadak, apalagi Johan. Kekecewaan jelas tergambar di wajahnya saat itu, karena dari lubuk hatinya dia memang sangat mencintai Arisa dan tidak rela Arisa akan menjadi milik orang lain.
"Kamu sudah siap?" tanya Anita yang sudah siap dengan gaun pestanya lengkap dengan riasan di wajahnya yang membuat wanita itu tetap terlihat anggun dan cantik meskipun usianya tidak muda lagi.
"Sebentar lagi, selesai Nyonya." jawab perias Arisa mendahului sebelum Arisa sempat menjawab. Anita berjalan mendekati Arisa.
"Ingatlah, bersikaplah sebagaimana mestinya seorang Erina.." bisik Anita di telinga Arisa yang terdengar sebagai sebuah peringatan bagi Arisa.
"Baik." jawab Arisa tertunduk lesu.
"Tersenyumlah." Anita memegang dagu Arisa agar mendongakkan kepalanya. Arisa segera memaksakan sebuah senyuman kecil untuk memenuhi permintaan calon ibu mertuanya itu.
Satu jam kemudian, acara pernikahan itupun segera dimulai. Setelah melewati acara inti yang mengesahkan pernikahan mereka di hadapan para saksi, Andika dan Arisa sudah berada di satu ruangan yang sama untuk menunggu, sebelum nanti mereka akan memasuki ruangan ballroom tempat berlangsungnya resepsi pernikahan.
__ADS_1
Semua telah dipersiapkan dengan begitu luar biasa oleh wedding organizer yang ditunjuk Anita, meskipun pesta pernikahan ini tidak mengundang banyak orang, namun ini tetap termasuk pesta pernikahan yang berkelas. Ruang resepsi telah didekorasi sedemikian rupa menambah meriahnya pesta pernikahan ini.
Tiba saatnya ketika pengantin akan berjalan beriringan masuk ke ruang resepsi didahului oleh kedua orang tua Andika, sedang dari pihak Arisa tidak ada yang mewakili di depannya, karena memang dia tidak memiliki siapa-siapa lagi selain ibunya yang belum sadar dari koma.
"Kamu siap?" tanya Andika sambil mengarahkan tangan Arisa supaya merangkul pada lengannya. Arisa mengganggukan kepalanya. Sejujurnya dia sangat takut, entah bagaimana dia harus bersikap di dalam. Mungkin saja ada yang mengenalinya bahwa dia bukan Erina dan mengatakan semua kebenarannya di depan Andika. Akh, membayangkannya saja dia sudah ngeri.
Arisa memaksakan senyuman di wajahnya untuk menutupi kegalauan dalam hatinya. Sedangkan Andika memang sudah senyum sumrigah sedari tadi. Andika berjalan dengan gagah memasuki ruangan didampingi oleh Arisa, yang kemudian disambut dengan tepukan oleh para tamu yang sudah hadir sejak dari tadi. Tepuk tangan meraih memenuhi ruangan mengiringi Andika dan Arisa berjalan sampai di depan pelaminan. Setelah itu, prosesi demi prosesi mulai dilakukan sebelum nantinya para undangan akan bersantai menikmati jamuan yang telah disediakan di berbagai stan yang tersebar di ruangan ballromm tersebut.
"Santai saja..." bisik Andika menangkap ketegangan di wajah Arisa, bahkan dia bisa merasakan tangan Arisa yang begitu dingin.
Bagimana mungkin Arisa tidak tegang, tak pernah sekalipun terlintas dia akan berada dalam posisi seperti ini. Kalaupun dia pernah membayangkan akan menikah, dia tidak pernah membayangkan akan memiliki pesta pernikahan yang semeriah ini. Baginya semua ini seperti mimpi.
"Cantik sekali, istrimu, Dika." puji tante Rani, sepupu dari mama Andika.
"Terima kasih tante, silakan dinikmati jamuannya." Andika sekalian memulai mengenali beberapa kerabatnya itu setelah sebelumnya telah diberitahukan oleh ibunya, karena memang Andika sama sekali tidak mengingat keluarga dari mama dan papanya itu setelah mengalami kecelakaan.
Dari sudut ruangan, di depan sebuah stand makanan, sepasang mata memandang sinis ke arah Andika dan Arisa. Kemudian laki-laki itu berjalan menghampiri pasangan pengantin itu.
"Selamat ya, Arisa." sapa Johan dengan suara yang terdengar agak berat.
__ADS_1
"Eh....Johan...Hmm...terima kasih." jawab Arisa salah tingkah karena mendengar Johan memanggil nama asli di depan Andika, padahal sebelumnya dia merasa senang dengan kedatangan Johan di pesta pernikahannya itu.
Tentu saja, Andika ikut kaget karena dia juga mengenali Johan ketika mereka bertemu di taman dulu.
"Hei...tunggu dulu, sepertinya Anda salah orang Tuan....istri saya ini bernama Erina, bukan Arisa." Arisa mengerdipkan mata kepada Johan, memberikan isyarat kepada sahabatnya itu untuk mengiyakan saja apa yang dikatakan Andika.
"Oh...maaf...saya salah sebut..." Johan menaikan alisnya karena sempat merasa bingung namun seketika itu dia langsung meralat ucapannya setelah menangkap isyarat dari Arisa.
"Kalau begitu, kami permisi dulu untuk menyapa tamu undangan yang lain, ya." ujar Andika yang mulai melangkahkan kaki sambil menggandeng tangan Arisa. Tatapan curiga Johan mengikuti langkah mereka dari belakang.
Apa maksudnya ini? Arisa berpura-pura menjadi Erina? Pernikahan macam apa ini? Aku harus menyelidikinya.
Setelah 3 jam, akhirnya rangkaian acara pernikahan Andika dan Arisa selesai juga. Para tamu undangan sudah pamit satu per satu, menyisakan beberapa orang, termasuk Johan masih tinggal di ruang resepsi tersebut. Lalu, Johan pun ikut pamit.
"Selamat atas pernikahan kalian." ucap Johan dengan hati tidak rela.
" Saya pulang dulu Ari.....eh...Erina..." Hampir saja Johan salah menyebut nama lagi di depan Andika. Meskipun dia bingung kenapa harus begitu, tetapi dia ikut saja aba-aba dari Arisa dulu, supaya tidak mempersulit keadaan dan posisi Arisa, pikirnya.
Setelah semua tamu sudah pulang, Andika mengajak Arisa untuk kembali ke ruang pengantin yang sudah dipersiapkan untuk mereka. Malam ini akan menjadi malam yang spesial bagi Andika. Tetapi bagi Arisa, malam ini mungkin akan menjadi malam yang mengerikan baginya. Entah bagaimana dia harus melewati malam ini.
__ADS_1