
Satu minggu telah lewat setelah hari pernikahan Andika dan Arisa, beberapa hari terakhir ini mereka menjalani rutinitas yang hampir sama. Sepanjang hari, Andika sibuk di kantor untuk belajar menangani perusahaan papanya itu, Wijaya sendiri sudah tidak sabar ingin secepatnya mengembalikan tanggung jawab tersebut kepada Andika. Sedangkan Arisa, tidak banyak yang bisa dia lakukan di apartemen itu sendirian. Maka, setelah membereskan pekerjaannya di apartemen, dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit, sekedar menjenguk dan berbicara dengan ibunya itu, meskipun wanita itu belum menyadarkan diri.
Saat ini, Arisa sedang berada tepat di samping ranjang ibunya.
"Ibu....kapan ibu akan bangun? tahu gak bu, sekarang Arisa sudah menikah, Arisa bukan lagi gadis tomboi yang selalu diomelin ibu, yah....meski sekarang rasanya aku sangat merindukan omelan ibu itu."
"Bangunlah Bu, Arisa rela diomelin sepanjang hari oleh ibu deh." ujar Arisa yang hampir menangis karena sangat merindukan ibunya.
Begitulah Arisa, dia mencurahkan semua isi hatinya kepada ibunya dan dia percaya ibunya dapat mendengarkan suara. Tanpa dia ketahui, sepasang mata sedang menatapnya dari celah pintu yang terbuka. Tatapan itu milik seorang gadis berkacamata hitam, dengan tinggi rata-rata dan tentu saja dilihat sekilas pun tampilan gadis itu benar-benar menarik meskipun wajah cantiknya itu tertutup oleh kacamata hitam yang dipakainya, ditambah lagi dengan rambut indahnya yang panjang dan lurus. Jika dibandingkan dengan Arisa, rasanya Arisa bakalan kalah jauh.. Seolah mengintai sesuatu, pandangannya tertuju pada Arisa sedari tadi melai celah pintu yang terbuka sedikit.
Johan yang kebetulan hari ini mendapatkan jatah libur dari tempatnya bekerja, bermaksud untuk menjenguk ibu Arisa hari ini. Sebenarnya, tujuan utamanya adalah bertemu dengan Arisa. Dia tahu, Arisa tidak pernah absen mengunjungi ibunya seharipun. Dan dia tidak mau menyia-nyikan kesempatan hari liburnya hari ini, apalagi dia juga tahu bahwa selama hari kerja Arisa selalu datang sendirian ke rumah sakit tanpa ditemani Andika, suaminya Arisa yang masih menjadi misteri bagi Johan. Ini kesempatan untuk dia bisa berbicara berdua dengan Arisa tanpa ada gangguan. Johan sudah berada di lantai 3 dan berjalan menyusuri lorong menujung kamar temat ibu Arisa dirawat.
Dari kejauhan, dia melihat seorang gadis berkacamata hitam sedang berdiri di depan pintu kamar ibu Arisa. Tampaknya gelagat gadis itu mencurigakan karena dia kelihatan mengintip seperti seorang pencuri yang sedang menunggu waktu yang tepat untuk beraksi.
Johan mempercepat langkahnya hingga dia sudah mendekati gadis itu, namun gadis itu masih belum menyadarinya. Dengan cepat, Johan menyambar tangan gadis itu dan menariknya agar jauh dari pintu kamar tersebut sehingga membuat gadis itu kaget seketika.
"Siapa kamu?" tanya Johan agak kasar
"Lepaskan tanganku, sakit tahu....Anda sungguh tidak sopan."
"Yang tidak sopan itu kamu, ngapain kamu ngintip-ngintip di kamar ibunya Arisa." bentak Johan.
"Oh.....jadi gadis itu bernama Arisa, hahaha....sudah kusangka ada yang tidak beres....."
"Apa maksud perkataanmu itu?"
"Bukan urusanmu...." ujar gadis itu sembari mau berjalan pergi meninggalkan Johan, tetapi dengan cepat langkahnya dicegat oleh Johan.
"Jelaskan dulu, atau aku tidak akan melepaskanmu." ujar Johan geram.
"Auh....sakit tahu....lepaskan genggamanmu ini, kau membuatku kesakitan, tahu...."
"Biarin.....aku tidak akan melepaskanmu kalau kau tidak menjelaskan tujuanmu mengintai temanku tadi." balas Johan.
__ADS_1
"Oke...oke....fine...aku ngalah, lepaskan aku dulu....kita bicara baik-baik."
"Terserah kamu...aku tunggu penjelasanmu sekarang juga." tegas Johan.
"Tetapi aku tidak mau kita bicara di sini, kita cari tempat yang lebih aman."
"Ikut aku!" Johan menarik tangan gadis dan membawanya ke kantin rumah sakit. Dia memilih meja yang agak pojok, supaya lebih leluasa.
"Oke, sekarang jelaskan, siapa kamu!" perintah Johan.
"Sabar...sabar....biar aku minum dulu, haus nih! memang kamu tidak haus?"
"Sudah....jangan banyak alasan! aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni kamu!" ketus Johan
"Sabar dikit donk jadi orang, aku mau minum dulu!" sembari meneguk es jeruk yang baru saja diantarkan oleh pelayan kantin. Sepertinya gadis itu memang kehausan, tak perlu waktu lama, segelas es jeruk itu sudah kosong, isinya sudah berpindah.
"Nah, sudah minum kan? sekarang jelaskan!" pinta Johan semakin terlihat tak sabar menunggu.
"Aku tidak peduli siapa namamu!"
"Huh....segitu amat jadi cowok, jangan galak-galak bung, ntar gak ada yang mau, baru tahu rasa lho!"
"Jelaskan apa tujuanmu mengintai temanku tadi!"
"Temanmu yang bernama Arisa itu kan?" tanya Rasti.
"Eh, ditanya kok malah tanya balik."
"Aku datang hanya untuk memastikan kebenaran informasi yang kudapatkan, rupanya kecurigaanku selama ini terbukti hahaha...." ujar Rasti dengan penuh senyum kemenangan.
"Tunggu dulu, apa maksudmu tadi? informasi apa yang kamu dapat memangnya, terus apa yang kamu curigai?"
"Ikh....mau tahu aja, kepo amat sih kamu nih, kayak emak-emak yang hobi ngegosip aja."
__ADS_1
"Aku tidak sedang bercanda." Seketika itu Rasti merasa ngeri dengan raut wajah Johan yang sedang geram itu.
"Kamu mau tahu siapa aku?" tanya Rasti
Nih orang ya, ditanya dari tadi malah tanya balik melulu. Rasanya sudah habis kesabaranku meladeninya. Syukur aja, dia cantik, kalau tidak mau kuajak kelahi nih.
"Emang siapa kamu? Artis? seingatku tidak pernah ada tuh muka artis yang kayak model kamu nih nongol di TV." sindir Johan.
"Yeah, aku memang bukan artis, tetapi ketahuilah.....aku adalah orang penting dalam hidup Andika, suami temanmu itu, siapa namanya tadi...oh iya, Arisa...bukan Erina ya." balas Rasti.
"Erina???? Kamu juga tahu soal itu?" tanya Johan penasaran.
"Tentu saja, aku tahu, aku punya kan punya informan di mana-mana, jadi diriku tidak pernah ketinggalan berita aktual dan terpercaya." ujar Rasti membanggakan diri.
"Seperti informasi yang kudapat, sebenarnya Erina sudah meninggal, meskipun berita kematiannya sengaja ditutupi oleh orang tuanya. Tetapi aku kaget ketika mendengar berita bahwa Andika telah menikahi Erina, bagaimana mungkin Andika bisa menikah orang yang sudah meninggal." lanjut Rasti.
"Tunggu dulu.....Erina meninggal?" tanya Johan kaget mendengar penjelasan Rasti barusan.
"Iyah....dia telah meninggal dalam kecelakaan yang dialaminya bersama dengan Andika, kecelakaan yang sangat parah, menurut informasi yang kudapatkan. Sedangkan Andika sendiri mengalami lupa ingatan."
"Untuk itu aku pulang ke sini, jauh-jauh dari luar negeri, untuk memastikan apakah benar Andika telah menikah, lalu dengan siapa dia menikah, kalau tunangannya itu sudah meninggal." lanjut Rasti.
"Terus, apa hubungan semua ini dengan kamu?" tanya Johan.
"Seperti yang kubilang tadi, aku adalah orang penting dalam hidup Andika, jauh sebelum Andika mulai menjalin hubungannya dengan Erina, mengikuti kemauan kedua orang tua mereka, aku adalah kekasihnya Andika, cinta pertama Andika." jawab Rasti dengan bangga.
"Terus buat apa kamu kembali, tokh bukankah mantan kekasihmu itu sudah menikah?"
"Iya...tapi menikah dalam kepalsuan."
"Maksudmu?"
"Selama ini, Andika menikahi temanmu itu hanya karena dia mengganggap Erina, tunangannya itu masih hidup. Bukankah itu artinya menikah dalam kepalsuan?" Johan mengangguk kepala, sepertinya dia sudah mulai paham apa yang terjadi dengan Arisa. Namun, dirinya masih tidak habis pikir, kenapa Arisa mau menerima pernikahan ini.
__ADS_1