Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Tak Berani Menolak


__ADS_3

Perut Arisa yang keroncongan tiba-tiba berbunyi, terdengar jelas oleh Alex. Betapa malunya Arisa jadinya, hingga dia tertunduk malu tak berani menatap balik Alex.


"Tuh kan, kamu sudah kelaparan? Ayo, tidak ada tapi-tapian..." Alex menyambar tangan Arisa sehingga mau tidak mau Arisa berjalan mengikuti langkah Alex. Syukur saja, di sekeliling mereka tidak ada karyawan lagi karena ruangan pada lantai ini memang dibuat agak terpisah dari ruangan staf lainnya.


Arisa segera menarik tangannya dari genggaman Alex saat mereka berjalan menuju lift, karena Arisa tidak mau sampai terlihat oleh siapapun kalau Alex mengenggam tangannya. Itu bisa menjadi masalah serius baginya nanti.


Saat berjalan keluar dari lift, beberapa staf memang memandang ke arah mereka. Tetapi, mereka tentu tidak menaruh curiga apa-apa karena Arisa yang notabene sekarang adalah sekretaris Alex, tentulah hal biasa jika dia akan sering mendampingi Alex keluar.


"Kita akan makan di resto XYZ yang ada di Jalan Melati ya. Aku yakin kamu pasti menyukai makanannya." ucap Alex saat mereka sudah berada di dalam mobil. Kali ini, Alex sendiri yang mengendarai mobilnya. Dia sengaja tidak memanggil sopirnya. Arisa hanya mengangguk pelan.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di resto yang dimaksud Alex. Setelah memesan makanan, mereka pun menunggu dan terdiam sesaat karena sama-sama tidak tahu mau memulai obrolan dari mana. Suasana menjadi kaku karena hati Arisa merasa was-was keluar makan siang bersama dengan Alex yang merupakan atasannya.


Sekilas orang melihat, tentu akan mengira kalau mereka adalah sepasang kekasih. Arisa berharap mudah-mudahan dia tidak akan bertemu orang-orang yang mengenalnya. Namun apa yang diharapkan Arisa malah terjadi yang sebaliknya. Belum sempat makanan pesanan mereka datang, seseorang menegur Arisa dari arah belakang.


"Hai, ketemu lagi kita. Wah ini siapa nih? Apa jangan-jangan....." tanya Rasti yang kebetulan juga hendak makan siang di resto tersebut. Dan tanpa sengaja dia melihat Arisa sedang bersama seorang laki-laki di salah satu meja pengunjung. Laki-laki itu bukanlah Andika, sehingga membuat Rasti penasaran dan akhirnya dirinya berjalan mendekati tempat Arisa duduk.


"Bukan urusan kamu, tolong jangan ganggu aku di sini. Aku mau makan siang tanpa gangguan." jawab Arisa dengan ketus.


"Oh tentu ini menjadi urusanku, apa gerangan yang telah terjadi, hingga istri Tuan Andika yang tersayang sedang makan siang dengan laki-laki lain sekarang? Ini pasti selingkuhanmu ya?" tuduh Rasti santai. Tentu saja dia senang dan berharap hubungan antara Arisa dan Andika bermasalah sehingga dia mempunyai kesempatan untuk menndekati Andika.


"Nona, tolong jangan ganggu kami. Silakan Anda pesan makanan anda sendiri dan duduk di meja kosong lainnya!" pinta Alex dengan sopan.


"Oh, tentu saja aku tidak bermaksud menganggu suasana romantis kalian. Hanya saja aku penasaran, bagaimana mungkin seorang wanita bersuami bisa makan siang berduaan saja dengan laki-laki selain suaminya."


"Itu bukan urusan kamu, pergi sana!" ketus Arisa.


"Hahaha....memang bukan urusanku, kamu mau berselingkuh dengan laki-laki manapun. Bukankah itu malah bagus, berarti aku mempunyai kesempatan untuk mendapatkan kembali Andikaku tercinta hahaha....." ucap Rasti sengaja memancing emosi Arisa.


"Nona!"


"Oke....oke...Tuan Tampan, aku pergi sekarang...Dah...Arisa....sampaikan salamku dengan suamimu tercinta ya." ujar Rasti lalu pergi berjalan menjauh dari meja Arisa dan Alex.

__ADS_1


Alex dan Arisa terdiam kembali setelah Rasti sudah menjauh dari mereka. Alex penasaran siapa wanita tersebut, namun dirinya tidak berani menanyakannya kepada Arisa. Tak lama setelah itu, makanan pesanan mereka pun datang, sehingga mereka pun menikmati makanan mereka dalam sunyi. Masing-masing dengan pikiran mereka masing-masing.


Arisa sendiri sedang kalut pikirannya, dia kuatir makan siangnya bersama Alex ini diketahui oleh Andika, bisa-bisa Andika salah paham lagi kepadanya sehingga hubungan mereka menjadi bermasalah lagi, padahal baru saja beberapa hari yang lalu dia merasa lega hubungannya dengan


Andika sudah semakin baik setelah jati dirinya yang sebenarnya sudah terungkap.


Makanan yang enak pun menjadi terasa hambar di mulut Arisa, sehingga dia memakan hidangan di depannya itu dengan tak bersemangat.


"Apa makanannya tidak enak?" tanya Alex


"Oh tidak...makanannya enak sekali. Hanya saja...."


"Kenapa? Apa karena kejadian tadi?"


"Hmmm.....aku hanya kuatir...."


"Sudah.....jangan dipikirkan. Sekarang nikmati saja makananmu ini, tadi kan perutmu keroncongan kan? Ayo makan yang banyak, biar perutnya tidak bunyi lagi." canda Alex membuat Arisa tersipu malu mengingat betapa nyaringnya bunyi perut keroncongannnya tadi hingga bisa terdengar jelas oleh Alex.


****


Sementara itu, Andika yang sedang sibuk dengan pekerjaannya di kantor, tiba-tiba mendapat pesan misterius dari nomor tak dikenal. Saat dia membuka pesan tersebut, terlihat jelas itu adalah foto istrinya yang sedang makan siang dengan laki-laki lain. Dia tidak tahu siapa yang mengirimkan pesan tersebut, tetapi foto tersebut cukup membuatnya cemburu dan merasa emosi. Namun, dia berusaha menenangkan dirinya karena dia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama hanya karena dia tidak bisa menahan emosi dan mengontrol rasa cemburunya yang berlebihan.


Andika pun melanjutkan pekerjaannya kembali hingga sore. Sebelumnya, dia telah memesan online makan siangnya, sehingga dia tidak perlu ke mana-mana hari ini. Kebetulan, dia juga tidak memiliki jadwal bertemu dengan klien hari ini.


Pekerjaan yang cukup menguras tenaga dan pikiran ditambah lagi perihal foto Arisa tadi, benar-benar membuat Andika kelelahan. Dia berjalan lesu saat meninggalkan kantornya dan ingin segera pulang ke apartemennya untuk beristirahat. Untuk itu, dia mengirim pesan kepada Arisa bahwa dia tidak dapat menjemput sore ini.


Tidak menjadi masalah buat Arisa, kalau suaminya tidak bisa menjemputnya pulang kerja. Hanya saja, dia juga benar-benar kuatir kalau Andika sudah tahu soal makan siangnya bersama Alex. Dia bertekad benar-benar akan jujur kepada suaminya saat sampai di apartemen nanti.


Sesampai di aparteman, Arisa melihat lampu-lampu ruangan sudah menyala. Itu berarti, Andika sudah sampai duluan. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, namun dia tidak melihat Andika. Mungkin Andika ada di kamar. Arisa pun segera berjalan menuju ke kamar. Dilihatnya Andika sedang meringkuk di dalam selimut di atas tempat tidur. Arisa segera berjalan menghampiri.


Wajah Andika terlihat pucat, Arisa menyentuh kening suaminya tersebut, terasa cukup panas. Sepertinya Andika demam.

__ADS_1


"Kamu sakit, Mas. Apakah sudah minum obat?" Andika menggeleng, dengan mata yang terbuka sayu.


"Aku ambilkan ya!" Arisa beranjak dari tempat tidur hendak mengambil kotak obat, namun ditahan oleh Andika yang mengenggam tangannya.


"Temani aku!"


"Baiklah!" Dia tahu, suaminya memang agak manja kalau sedang sakit. Arisa ikut berbaring dengan suaminya. Andika mendekat erat tubuh Arisa.


"Mas!"


"Iya..."


"Aku minta maaf!"


"Untuk apa?"


"Hari ini, aku makan siang dengan Alex. Aku tahu aku harusnya menolak ajakannya, tetapi dia atasanku, Mas. Jadi, aku tak kuasa menolaknya."


Jadi, Alex itu atasan tempat Arisa bekerja. Apa-apaan ini?


"Mas, tidak marah kan?" tanya Arisa, namun Andika masih tidak bergeming dan menjawab apa-apa, membuat Arisa semakin bingung.


"Aku benar-benar menyesal, Mas!" ucap Arisa, suaranya mulai terdengar seperti orang menangis. Namun, Andika masih diam.


"Maafkan aku, Mas!" Andika masih diam.


"Maaf"


*****


Jangan lupa, tinggalkan jejak ya teman-teman, like, komen, rate dan vote jika berkenan, supaya author semakin semangat menulis ya. Makasih semua....

__ADS_1


__ADS_2