
Nah, seperti janji author nih mau crazy up...Jadi, boleh dong author minta tolong, jangan lupa untuk tinggalkan jejak selalu ya, like, koment, rate dan vote jika berkenan, supaya author semakin semangat nulisnya. Sudah ada beberapa judul episode dan ide cerita di dalam isi kepala author nih, cuma masih belajar merangkai kata-katanya, makanya jadi agak lambat. Tetapi yang pasti, gak lama lagi harus sudah episode kalau Andika sudah tahu kebenaran bahwa wanita yang dinikahinya itu bukanlah Erina, melainkan Arisa, biar Arisa gak kasihan, digantung dan ragu-ragu akan cintanya kelamaan, setuju gak?
Happy reading ya alls....
*****
Melihat istrinya yang sudah tertidur dan berbungkus selimut begitu membuat Andika menjadi sedikit bingung, karena suhu udara saat ini bukanlah suhu yang bisa dikatakan dingin, malah Andika merasa cukup gerah meski air conditioner di dalam kamar mereka dalam kondisi menyala.
"Sayang..." panggil Andika untuk memastikan apakah istrinya benar-benar tertidur, sambil mengambil piyamanya di lemari pakaian dan memakainya. Namun, tidak ada balasan dari istrinya itu, sepertinya dia benar-benar kecapekan hari ini, pikir Andika.
Setelah mengenakan piyamanya, Andika juga segera bergabung di atas tempat tidur berbaring di samping Arisa dengan posisi tidur Arisa yang membelakanginya.
Arisa memejamkan matanya dari tadi dan tidak berani bergerak sama sekali, berpura-pura tidur supaya Andika tidak sampai membuka selimut yang menutupi dirinya itu, sehingga ketahuan dia memakai pakaian tak senonoh itu. Namun, tiba-tiba Arisa merasakan ada hawa panas yang keluar dari tubuhnya. Tiba-tiba, ada sebuah rasa bergejolak di dalam tubuhnya itu. Tiba-tiba saja, dia merasa ingin sekali dipeluk, dibelai dan disentuh oleh Andika, tetapi Andika tak kunjung memeluknya dari tadi.
Peluk dong, peluk dong....gimana sih, kok belum peluk dari tadi? Harap Arisa dari tadi, namun Andika tak kunjung memeluknya dari belakang seperti yang biasanya dia lakukan.
__ADS_1
Arisa kemudian berpura-pura membalikkan badannya, namun masih dalam keadaan mata terpejam, supaya menghadap ke arah Andika, berharap Andika mengecup keningnya seperti biasa, menciuminya dan mencumbuinya. Akh, pikiran liarnya sudah ke mana-mana, bahkan sedari tadi mulutnya sudah dalam posisi monyong minta disosor, namun belum ada reaksi apapun dari Andika. Dengan pelan-pelan, dia mencoba membuka matanya sedikit, untuk mengintip apakah Andika sudah tertidur atau belum. Dalam keadaan samar-samar, karena lampu kamar sudah dimatikan menyisakan lampu tidur yang hanya memberikan penerangan seadanya, dia melihat Andika masih dalam keadaan berbaring terlentang, matanya menerawang menatap ke atas seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.
Saat ini memang Andika memang sedikit kacau pikirannya, setelah dia menerima sebuah pesan email dari akun tak dikenal siang tadi. Sebuah pesan yang memberikan beberapa informasi mengejutkan, namun semakin memperkuat kecurigaannya membuatnya terus kepikiran hingga tidak bisa tidur saat ini, bahkan sampai lupa untuk memberikan pelukan dan ciuman selamat malam buat istri yang berbaring di sampingnya saat ini.
Aku harus menyelidiki semua ini dan memastikan bahwa semua informasi tersebut benar atau bohong. Andika berencana menyewa seorang detektif untuk menyelidiki masalah
Andika kemudian mengarahkan badannya ke arah Arisa hingga dia bisa menatap wajah istrinya yang sedang tertidur. Ditatapnya wajah polos yang sedang tidur itu, atau sebenarnya berpura-pura tidur. Cukup lama Andika menatap wajah Arisa seolah-olah sedang mencari sesuatu yang salah di wajah istrinya itu, kemudian Andika mengecup pelan kening Arisa.
"Selamat tidur, sayang." ucap Andika pelan, lalu membalikkan badannya dan tidur membelakangi Arisa.
Aduh gimana nih, masak iya, aku harus bilang, sayang...ayo, aku lagi kepengen nih.. Membayangkan dirinya mengucapkan hal-hal seperti itu, membuatnya merasa malu duluan. Selama ini, memang setiap kali saat mereka melakukan yang seperti itu, selalu karena Andika yang memulai duluan, Arisa hanya pasrah menerima saja. Tetapi kalau saat ini, Arisa harus memulai duluan, dia belum punya keberanian untuk hal itu.
Akhirnya tinggallah Arisa yang uring-uringan tidak bisa tidur, sesekali dia menggeliat mencari posisi enak untuk bisa terlelap, namun tetap saja dia tidak bisa tertidur. Dirinya semakin galau saat melihat Andika yang sepertinya mulai terlelap, karena sudah terdengar dengkuran halus dari dirinya. Meski tidak begitu berisik, dengkuran halus Andika membuat Arisa semakin kesulitan untuk tidur.
Setelah memastikan Andika benar-benar tertidur, dia bermaksud akan melangkah pelan-pelan ke kamar mandi untuk berganti pakaian saja. Namun, baru saja beberapa langkah beranjak dari tempat tidur, tiba-tiba lampu kamar menyala.
__ADS_1
"Sayang..." panggil Andika membuat Arisa kaget dan spontan menutupi bagian dadanya dengan menyilangkan kedua tangannya. Apa daya, pakaian itu memang tipis dan tembus pandang, tentu saja apa yang dilakukannya itu tidak akan mampu untuk menutupinya.
"Sayang..." panggil Andika sekali lagi sambil beranjak dari tempat tidur dan berjalan menghampiri Arisa yang masih berdiri mematung di situ. Arisa menjadi salah tingkah sendiri karena kedapatan oleh suaminya dalam kondisi memakai pakaian aneh tersebut. Tentu saja, dia merasa sangat malu saat ini.
"Kenapa tidak memberitahuku, kalau lagi kepengen malam ini?" goda Andika sambil menatap Arisa dari atas sampai ke bawah, lalu ke atas lagi.
"Apaan sih, kok menatapnya sampai seperti itu?" ujar Arisa merasa risih ditatap oleh Andika. Meski merasa malu, namun dirinya juga senang melihat Andika terbangun kembali.
Andika sendiri terkejut saat melihat istrinya berpakaian seperti itu, tetapi hatinya senang karena itu berarti istrinya sudah mulai menunjukkan keagresifannnya. Sebagai laki-laki normal, tentu saja dia menyukai hal itu. Dirinya sampai meneguk salivanya dan tanpa perlu dikomando, spontan Andika mengendong Arisa kembali kembali ke tempat tidur dan meletakkan dengan pelan tubuh istrinya di atas ranjang.
Tangan Andika sudah mulai tidak bisa dikondisikan, namun Arisa menikmati setiap sentuhan tersebut hingga tanpa sadar, tiba-tiba saja pakaian tak senonoh itu sudah lepas dari tubuhnya. Dalam hati, Arisa berpikir, kenapa juga perlu dibuat pakaian seperti ini, kalau tokh pakainya sebentar saja, sudah dibuka, kan jadinya mubazir. Syukur saja, ini tadi ibu belinya karena diskon, karena tidak boro-boro aku mau membeli pakaian seperti ini, pikir Arisa.
Akhirnya, mereka menikmati kenikmatan duniawi mereka hingga tengah malam menjelang subuh. Barulah, mereka tertidur setelah beberapa ronde pertempuran. Dan kali ini, dalam beberapa ronde tersebut, Arisa yang menjadi pemenangnya, ini mungkin efek dari jamu yang diberikan ibu tadi.
*****
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, like, komen, rate dan vote ya jika berkenan. Maafkan author kalau masih belum lihai merangkai kata untuk momen-momen romantis Andika dan Arisa. Masih perlu banyak belajar dari author-author handal lainnya. Terima kasih semuanya.