
Dalam beberapa hari setelah ibu Arisa sadar dari komanya, kondisi kesehatannya semakin membaik, bahkan sekarang dia sudah bisa berjalan sendiri, tidak hanya terbaring di atas tempat tidur saja lagi. Dokter pun mengatakan bahwa hari ini Dina sudah boleh keluar dari rumah sakit. Tentu saja ini adalah kabar yang menggembirakan bagi Arisa.
Pagi ini, di saat Dina sedang menikmati sarapannya sendirian sebelum Arisa datang menjemputnya untuk pulang ke rumah, tiba-tiba dia kedatangan tamu. Seorang wanita cantik dan anggun masuk ke dalam ruangannya, wanita itu meskipun mungkin juga sudah cukup berumur seperti ibunya Arisa namun dia tetap kelihatan menawan, siapa lagi kalau bukan Anita, mamanya Andika.
"Maaf, Anda siapa?" tanya Dina sopan.
"Perkenalkan saya Anita, mamanya Andika. Saya rasa kamu sudah tahu hubungan di antara mereka bukan?"
"Hubungan? hubungan pernikahan yang penuh kebohongan yang anda maksudkan itu?" tanya Dina.
"Pernikahan mereka itu pernikahan sungguhan, itu bukan bohongan. Jadi saya pikir tidak ada yang salah dalam hal ini."
"Bagaimana mungkin tidak ada yang salah, jika Andika menikahi anak saya hanya karena dia berpikir bahwa anak saya adalah calon istrinya yang hilang entah ke mana itu. Apakah itu bukan namanya kebohongan?"
"Saya mempunyai alasan melakukan semua itu, saya harap kamu bisa bekerja sama dalam hal ini."
"Maksudnya? Saya harus ikut dalam sandiwara ini, tetapi mau sampai kapan, cepat lambat bukankah Andika akan mengetahuinya?" ujar Dina.
"Apalagi jika suatu hari Erina yang sebenarnya muncul di hadapan Andika, bukankah dalam ini anak saya yang akan dirugikan dan menderita pada akhirnya." lanjut Dina.
"Erina tidak mungkin akan bisa muncul di hadapan Andika lagi, saya bisa pastikan itu." tegas Anita.
"Maksud Anda?"
"Erina yang asli sudah meninggal dua bulan yang lalu, jadi tidak mungkin dia akan muncul di hadapan Andika lagi. Jadi, kamu tidak perlu kuatirkan itu." jawab Anita.
"Tetapi....tetap saja, ketika Andika tahu bahwa Arisa bukanlah Erina, bukankah dia akan mencampakkannya. Saya tidak rela kalau anak saya yang harus menderita pada akhirnya."
__ADS_1
"Saya akan pastikan itu tidak akan terjadi." tegas Anita sekali lagi.
"Asalkan kamu ikut aturan main dari saya, maka tidak ada yang akan dirugikan dalam hal ini. Bukankah kamu juga tahu, bahwa segala biaya perawatanmu di rumah sakit ini ditanggung oleh saya, kalau tidak mungkin kamu sudah tidak terselamatkan lagi. Dan Arisa akan menjadi seorang anak yatim piatu selamanya."
"Baiklah, kalau begitu, apa yang anda mau saya lakukan?'
"Ikuti saja sandiwara ini, jangan pernah buka identitas Arisa yang sebenarnya. Untuk saat ini, Andika mengetahui bahwa kamu juga hilang ingatan sehingga mengira Erina adalah Arisa." ucap Anita menjelaskan.
"Tunggu dulu.....saya tidak mengerti maksud Anda." Dina bingung mencerna maksud perkataan Anita barusan.
"Berpura-puralah hilang ingatan, maka semuanya akan berjalan dengan lancar dan Andika tidak akan curiga."
Dina masih belum mengerti apa maksud dari perkataan Anita itu. Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu. Tampak Arisa dan Andika muncul bersamaan memasuki ruangan.
"Ibu....Mama...." sapa Arisa dan Andika bersamaan yang melihat kalau Anita juga berada di ruangan tersebut.
"Kok mama ada di sini?" tanya Andika.
"Hari ini ibu sudah boleh pulang lho, kami ke sini untuk menjemputnya." ujar Andika menjelaskan.
"Oh ya, mama turut senang mendengarnya. Selamat ya, hari ini sudah bisa keluar dari rumah sakit." ucap Anita sambil tersenyum kepada Dina.
Dasar tukang sandiwara, memang cocok ya kamu jadi artis atau sutradara aja sekalian sana. Ketus Dina dalam hati merasa kesal sikap Anita yang tadinya dingin tiba-tiba berubah jadi ramah saat kedatangan anaknya.
"Gimana keadaan ibu sekarang, dihabiskan dong sarapannya, setelah itu aku bantu membereskan barang-barang, setelah itu baru kita pulang ya, Bu." ucap Anita.
"Kalau begitu, mama permisi dulu ya sayang. Mama ada janji pertemuan arisan ibu-ibu siang ini."
__ADS_1
"Oke kalau begitu, Ma...Apa perlu Dika antar Ma?"
"Tidak perlu, nanti pak Joko akan datang menjemput mama."
"Saya permisi ya, besan." pamit Anita kepada Dina dengan senyumannya yang membuat Dina semakin jengkel.
Setelah kepergian Anita, barulah Dina melanjutkan sarapannya yang tertunda tadi. Sementara itu, Arisa dan Anita mulai bekerja sama membereskan beberapa barang yang akan dibawa pulang.
"Gimana keadaan ibu sekarang? Jangan terlalu dipaksakan untuk mengingat ya Bu, agar kepala ibu tidak sakit." pesan Andika berdasarkan pengalamannya yang juga mengalami hilang ingatan akibat kecelakaan yang lalu.
"Oh tidak, ibu tidak terlalu memaksakan diri untuk mengingat kok." Padahal kan memang dirinya tidak mengalami amnesia, jadi tidak perlu ada usaha untuk mengingat sesuatu. Memori di kepalanya masih sangat baik.
"Untuk sementara waktu, ibu tinggal di apartemen kami ya, biar Arisa bisa merawat ibu." pinta Arisa. Sebenarnya Dina lebih memilih untuk langsung pulang ke rumahnya daripada harus tinggal bersama dengan Arisa dan Andika, supaya dia tidak perlu ikut-ikutan dalam sandiwara ini. Tetapi Arisa terus memaksa dari kemarin, sehingga ia terpaksa mengikuti kemauan Arisa.
"Sudah? tidak ada yang ketinggalan kan sayang? Kamu dengan ibu di sini dulu ya, aku akan mengurus administrasinya dulu." ucap Andika kemudian berjalan menuju ruang administrasi rumah sakit.
"Kamu bahagia dengan pernikahan ini, Risa? Apakah kamu mencintai Andika?" tanya Dina tiba-tiba saat melihat situasi yang memungkinkan untuk dia berbicara berdua dengan Arisa.
"Entahlah Bu, aku masih bingung dengan perasaanku. Aku takut suatu hari Andika akan mengetahui kebenarannya."
"Itu juga yang Ibu takutkan, Nak. Kamu tidak bisa hidup terus-terusan dalam kebohongan ini. Suatu hari Andika pasti mengetahuinya." ucap Dina yang membuat hati Arisa menjadi semakin galau.
"Apa tidak lebih kamu menjelaskan semuanya kepada Andika tentang dirimu yang sebenarnya?"
"Aku rasa saat ini waktunya belum tepat, Andika masih dalam proses pemulihan. Bisa saja kebenara ini akan membuat dia shock dan kondisinya menjadi drop kembali."
"Ibu rasa kamu bisa memutuskan yang terbaik buat hidupmu...ibu kembalikan semua kepadamu."
__ADS_1
"Makasih ya Bu, ibu sudah mau ngertiin Arisa." ucap Arisa terharu kemudian memeluk ibu yang duduk di sampingnya. Biasanya ibunya selalu bersikap galak terhadapnya, tetapi kali ini sikap ibunya benar-benar berbeda. Bagaimanapun sikap ibu terhadapnya, Arisa tahu bahwa ibunya selalu menyayanginya.
"Saatnya kita pulang....semua sudah siap ya.." sahut Andika dari balik pintu. Hari ini dia sengaja tidak ke kantor pagi hari karena dia mau menemani Arisa menjemputnya ibunya. Setelah itu, mengantar Arisa dan ibunya sampai di apartemen, barulah dia pergi ke kantor.