Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Mulai Luluh


__ADS_3

Hampir seminggu sudah, Arisa tinggal di rumah Handoko sejak kepulangan Della dari rumah sakit. Itu berarti Andika terpaksa menahan kerinduan terhadap istrinya di tengah kesepiannya tinggal sendirian di apartemen. Sungguh keadaan yang sangat tidak menyenangkan baginya.


Sementara itu, Arisa sudah sangat ingin mengungkapkan kebenaran tentang status dirinya yang sudah menjadi istri Andika kepada mamanya, namun dia tidak tahu hendak memulai dari mana.


Saat ini, Arisa sedang duduk termenung di taman belakang rumah, memikirkan banyak hal dalam hidupnya. Kebetulan hari ini adalah akhir pekan, jadi dia tidak pergi kerja. Sebenarnya Della sedikit keberatan melihat Arisa yang harus bekerja di perusahaan orang lain. Della mau kalau Arisa ikut membantu papanya di perusahaan.


"Arisa!" sapa Della dari arah belakang sambil berjalan mendekati putrinya itu. Dirinya juga sudah mulai terbiasa memanggil putrinya dengan nama Arisa, sesuai dengan permintaan Arisa sendiri, yang merasa lebih nyaman dipanggil dengan nama Arisa daripada Erika.


Cukup sudah, selama beberapa waktu dirinya dipanggil sebagai Erina, sekarang kalau harus dipanggil dengan Erika, dia merasa tidak terbiasa.


"Kamu sedang memikirkan apa, Nak? Dari tadi mama lihat, kamu melamun saja." tanya Della.


"Tidak, Ma. Aku hanya memikirkan urusan pekerjaan di kantor yang belum selesai kemarin." kilah Arisa.


"Sudahlah, ini kan waktunya libur kamu. Jangan lagi memikirkan urusan pekerjaan, atau bagaimana kalau kamu sebaiknya resign saja dari tempat kerjamu sekarang, lalu bantu papamu untuk mengurus perusahaannya?" ucap Della bermaksud untuk membujuk Arisa lagi.


"Tidak, Ma. Aku menyukai pekerjaanku saat ini." jawab Arisa bersungguh-sungguh, sebenarnya ada bagian yang tidak disukainya juga, di mana Alex masih gencar melakukan pendekatan terhadap dirinya. Apa memang sebaiknya dia berhenti saja sesuai anjuran dari mamanya. Lagipula, Andika juga sudah pernah menyuruhnya untuk berhenti bekerja. Sepertinya, Arisa akan mempertimbangkan hal itu.


" Ma.."


"Iya, sayang..." jawab Della


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan Mama." ucap Arisa. Menurutnya mungkin ini waktu yang tepat untuk mengatakan hal yang sebenarnya kepada mamanya itu.


"Ada apa? Katakan saja!"


"Begini...mengenai Andika.."

__ADS_1


"Apa? Andika? Jangan kamu membahas namanya di depan mama, Arisa. Mama tidak suka." Baru mendengar nama Andika saja, Della sudah mulai emosi.


"Tetapi, Ma. Ini hal yang sangat penting, dan Mama harus tahu itu." lanjut Arisa.


"Apa maksudmu, Arisa?"


"Aku dan Andika, kami sudah.....kami sudah menikah, Ma." akhirnya Arisa memberanikan dirinya untuk mengatakan hal itu.


"Apa?" tanya Della dengan nada agak tinggi. Dia terlihat cukup shock mendengar ucapan Arisa barusan.


"Apa maksud ucapanmu tadi, Arisa? Tidak...tidak....kamu pasti bohong sama Mama." ujar Della tidak ingin mempercayai apa yang dikatakan Arisa tadi.


"Iya Ma, Arisa tidak berkata bohong. Dia dan Andika memang sudah menikah." sahut Handoko yang juga tiba-tiba muncul dari belakang dan ikut bergabung duduk dengan mereka.


"Apa, Pah? Tidak Pah, aku tidak bisa terima hal itu. Aku tidak sudi Andika menjadi menantu kita setelah apa yang telah dia lakukan hingga membuat Erina meninggal." pekik Della.


"Tetapi Pah, bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Bukankah selama ini, Andika dan Arisa tidak pernah saling kenal, Andika adalah tunangan Erina. Lalu, bagaimana ceritanya Arisa bisa menikah dengannya?" tanya Della mengharapkan penjelasan atas semua hal ini.


"Ceritanya panjang, Ma. Kami dulu mungkin memang menikah tidak atas dasar cinta Ma, tetapi kini kami saling mencintai, Ma. Aku mohon Ma, restui kami!" ucap Arisa berharap hati mamanya akan luluh dan merestui hubungan pernikahannya dengan Andika.


Akhirnya, Arisa menceritanya semuanya dari awal mulai dari peristiwa kecelakaan yang menimpa Dina, wanita yang selama ini telah dianggapnya sebagai ibu kandung, yang kemudian membuatnya terpaksa harus menerima tawaran bantuan Anita dengan sebuah perjanjian menikah dengan Andika. Namun siapa sangka, jika akhirnya mereka berdua benar-benar menjadi saling mencintai satu sama lain seperti saat ini.


Mendengarkan cerita Arisa yang panjang lebar itu, akhirnya hati Della sedikit demi sedikit mulai luluh.


"Baiklah, kalau begitu..Jika kalian saling mencintai, panggil Andika ke sini. Mama ingin berbicara dengannya!" ucap Della memberi sedikit harapan bagi Arisa akan restu mamanya terhadao hubungan pernikahan mereka.


Dengan segera Arisa menghubungi suaminya, agar bisa segera datang ke rumah Handoko. Andika yang menerima kabar dari Arisa, tentu saja senang sekali, dan segera bersiap-siap untuk ke rumah mertuanya itu.

__ADS_1


Tak perlu waktu yang lama bagi Andika untuk sampai ke rumah Handoko, karena dia mengendarai mobilnya dengan cukup laju. Syukur saja, jalanan juga tidak begitu macet saat itu.


Saat dia memasuki rumah Handoko, seorang pelayan mengantarkannya untuk menuju taman belakang tempat Arisa dan mamanya sedang duduk bersama. Handoko tidak terlihat, karena sudah kembali ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan sedikit pekerjaannya yang tertunda selama istrinya dirawat di rumah sakit beberapa waktu yang lalu.


"Mas!" panggil Arisa dengan senyum manisnya membuat Andika ingin rasanya langsung memeluk dan mendekapnya erat-erat, kalau saja ibu mertuanya tidak ada di situ. Andika benar-benar sudah sangat merindukan istrinya itu.


"Mama ingin berbicara berdua saja dengan Andika, sayang."


Arisa paham maksud mamanya itu, dia segera berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan mamanya untuk berbicara berdua saja dengan suaminya.


"Duduk!" ucap Della datar tanpa ekspresi ramah membuat Andika menjadi sedikit canggung.


"Sebelum aku merestui hubungan pernikahan kalian, aku ingin memastikan bahwa kamu benar-benar mencintai putriku ini dan tidak akan sekalipun menyakitinya. Cukup sudah kamu menyakiti Erina, bahkan sampai membuatnya meninggal...." ucap Della mulai terisak karena teringat dengan putrinya.


"Aku minta maaf, mengenai Erina, aku tahu itu benar-benar salahku dan aku sadar, tidak mungkin aku bisa menebus kesalahanku yang begitu besar itu."


"Kamu bisa menebusnya dengan benar-benar membahagiakan Arisa. Kuberikan satu kesempatan kepadamu. Manfaatkan itu dengan benar, jangan kamu sia-siakan kesempatan ini. Sekali saja, kamu menyakiti Arisa, aku tidak akan segan meminta Arisa untuk bercerai darimu. Camkan itu!" ucap Della dengan tegas.


"Baik, Bu..!


"Kamu bisa memanggilku Mama seperti Arisa memanggilku. Biar bagaimanapun kamu adalah menantuku, meski hatiku belum seratus persen menerima hal ini."


"Baik, Ma." jawab Andika. Dalam hatinya, dia berjanji tidak akan sekalipun menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan oleh ibu mertuanya itu. Dirinya benar-benar mencintai Arisa, dan dia tidak bisa membayangkan kalau apa jadinya kalau dia harus berpisah dengan Arisa.


Setelah pembicaraan empat mata itu selesai, merekapun menikmati makan siang bersama. Sore itu, Della mengizinkan Arisa untuk pulang bersama Andika. Arisa senang sekali, dia berjanji akan sering-sering datang untuk mengunjungi kedua orangtuanya itu. Kini kebahagiannya terasa hampir lengkap, dia memiki suami yang sangat mencintainya, ibu yang cerewet namun sangat menyayanginya dan kini dia memilih sepasang orang tua yang masih lengkap. Arisa sungguh mensyukuri semua itu.


*****

__ADS_1


Karena rupanya ditungguin beberapa reader setia, jadi Author berusaha bisa update lagi satu episode lagi hari ini. Makasih ya buat readers yang sudah setia membaca novel receh author ini. Jangan lupa tinggalkan jejak ya, like, komen, rate dan vote, supaya author semakin bersemangat nulisnya.


__ADS_2