
Setelah pesawat mendarat di Bandara Bali, Andika dan Arisa bergegas menuju hotel setelah mereka dijemput oleh supir perusahaan Andika yang di Bali. Tentu saja, Rasti juga memilih menginap di hotel yang sama karena sudah mendapat info sebelumnya dari Desy, sekretaris Andika.
Mereka menginap di hotel yang tergolong cukup mewah, tentu saja Andika memilih kamar VVIP agar dia bisa menikmati kenyamanan bulan madu bersama istrinya di sela-sela urusan pekerjaannya. Arisa yang tidak pernah menginap di hotel semewah ini menjadi takjub ketika memasuki kamar mereka, sebuah ranjang king size dengan model gaya eropa dan furniture yang memenuhi kamar tersebut juga bernuansa eropa membuat seolah-olah mereka sedang berada di luar negeri.
"Kamu senang, sayang?" tanya Andika.
"Tentu saja aku senang, kamar ini sangat bagus." jawab Arisa jujur, apalagi kamar itu juga memiliki balkon yang langsung mengarah ke pantai, sehingga memberikan pemandangan yang sangat indah baginya. Dia berjalan ke arah balkon dan mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.
"Nanti sore kita jalan-jalan ke pantai ya." ajak Andika yang segera disambut dengan anggukan kepala Arisa. Tentu saja dia sangat ingin jalan ke pantai, selama ini dia sangat ingin ke pantai tetapi jarang sekali memiliki kesempatan itu. Apalagi untuk pergi ke pantai di Jakarta, harus menempuk jarak yang sangat jauh dari rumahnya.
"Aku gerah nih, mau mandi dulu. Kita mandi sama-sama yuk." Kali ini Arisa tidak menolak, tokh selama ini dia sudah menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Andika, terlepas apakah Andika mencintainya sebagai dirinya sendiri atau hanya karena dirinya mirip dengan Erina. Entahlah, tapi satu hal yang pasti Arisa mulai jatuh cinta kepada Andika, apakah egois kalau dia berharap Andika tidak akan pernah pulih ingatannya, sehingga dia tetap memandang Arisa sebagai orang yang dicintainya. Tidka bisa dipungkiri, Arisa juga ingin memiliki hati Andika sepenuhnya bagi dirinya sendiri.
Mereka berjalan menuju kamar mandi yang ternyata cukup luas, dengan area bath tub dan shower terpisah, hampir sama seperti yang kamar mandi di apartemen mereka, namun yang ini lebih mewah. Arisa memilih mengisi air bath tub dulu, namun tanpa memberi aba-aba Andika langsung menerjang Arisa, melucuti pakaiannya, sebelumnya dia pun sudah melepaskan semua pakaiannya dan menarik tangan istrinya menuju area shower hingga air yang terpancar dari shower membasahi seluruh tubuh mereka.
Andika mengecup pelan tengkuk istrinya dan memeluknya dari belakang. Jangan ditanya, seperti apa sensasi yang Arisa rasakan. Dia menikmati setiap sentuhan dan perlakuan Andika, karena pria itu memperlakukannya dengan begitu lembut. Sesi mandi berlangsung begitu lama, karena kegiatannya berlanjut dengan kegiatan panas di dalam bath tub yang tentu saja hanya boleh dilakukan oleh pasangan suami istri yang sudah sah.
Namun tiba-tiba, Andika teringat sesuatu ketika dia memandang tubuh Arisa tepatnya di bagian bahunya sisi kiri.
Tidak ada, apa mungkin sudah menghilang sendiri bekasnya?
Andika sempat bingung sesaat, namun dia mengenyahkan pikirannya itu supaya tidak menganggu kenikmatan duniawi yang sedang dia rasakan saat ini.
Setelah sesi mandi dan kegiatan plus-plusnya, barulah mereka beranjak dari bath tub, meraih handuk putih yang tersedia dalam kamar mandi tersebut dan saling mengeringkan badan mereka masing-masing.
__ADS_1
Hari ini, kegiatan mereka santai karena besok baru Andika ke perusahaan cabang untuk memeriksa persiapan acara peresmian yang akan dilaksanakan di ballroom hotel tempat mereka menginap juga. Maka setelah mereka berpakaian, Andika bermaksud mengajak istrinya keluar untuk mencari makan, lalu berjalan mengitari pantai jika hari sudah agak sore supaya tidak terlalu panas.
*****
Sementara itu, Rasti yang juga memilih salah satu kamar VIP di hotel tersebut, saat ini merasa uring-uringan sendiri karena dia ingin segera bisa mendekati Andika, namun kali ini dia harus menahan diri mengingat Arisa juga ikut mendampingi Andika.
Membayangkan bahwa Andika mungkin sedang bermesraan dengan istrinya di kamar, membuat Rasti semakin gusar dan memaki kasar orang yang telah merebut pujaan hatinya. Ingin sekali dia langsung melabrak Arisa dan memberitahukan kepada Andika siapa Arisa sebenarnya, tetapi apakah itu akan membuat Andika langsung berpaling kepadanya, dia sendiri tidak yakin akan hal itu. Oleh karena itu, dia tidak mau gegabah, langsung melakukan hal itu, apalagi setelah dia mendapat ancaman dari Anita beberapa hari yang lalu ketika mereka bertemu di rumah sakit.
Dari dulu, Anita memang tidak pernah menyukai Rasti. Mungkin karena pekerjaan Rasti sebagai model dan kehidupannya yang glamor dan liar membuat Anita tidak merestui hubungan Andika dengan Rasti. Apalagi, ketika suatu waktu Rasti yang tengah mabuk di sebuah klub malam bersama teman-teman seprofesinya, terciduk paparazi sedang bermesraan dengan laki-laki lain. Hal itulah yang kemudian membuat Andika memutuskan hubungannya dengan Rasti sebelum akhirnya Andika menjalin hubungan dengan Erina sesuai kemauan orang tua mereka.
"Sial....aku harus menyusun rencana untuk membuat Andika berpaling dari perempuan penipu itu." ketus Rasti kesal. Kemudian dia meraih handphonenya dan menghubungi seseorang.
"Kamu sudah mempersiapkan semua yang aku suruh?" tanya Rasti saat panggilan teleponnya telah diterima dari seberang.
Kemudian barulah dia beranjak menuju kamar mandi untuk menyegarkan badannya yang gerah, disebabkan oleh kekesalan dirinya sendiri. Dia pun bermaksud berjalan di pantai sore ini mengingat cuaca yang sangat cerah hari ini, sangat menggoda siapapun untuk berjalan-jalan di tepi pantai sambil menikmati matahari terbenam.
*****
Andika dan Arisa yang sudah keluar duluan mencari makan di pondok-pondok yang menjual segala jenis makanan dan minuman, saat ini mereka sedang duduk di salah satu pondok menikmati pesanan makanan mereka sambil menikmati pemandangan pantai yang sangat indah.
"Ayolah, kita jalan-jalan di pantai, yuk...." rengek Arisa.
"Jangan dulu, sayang. Lihat, masih sangat panas."
__ADS_1
"Ya, gak apa-apa juga kali, gak ada larangan kan kalau panas tidak boleh ke pantai." ujar Arisa tidak terima, baginya tidak masalah kalau dia terjemur begitu, tokh biasanya juga dia terjemur oleh teriknya matahari saat dia mengendarai motornya di tengah cuaca panasnya dan kadang-kadang dia lalai, lupa memakai jaketnya. Dia memang tidak begitu peduli dengan perawatan tubuhnya dulu.
Sudah tidak sabar rasanya, Arisa ingin cepat-cepat berlarian di pantai, menginjak pasir yang lembut dengan kaki telanjangnya, namun Andika masih saja tidak mengizinkan. Dia tidak rela, kulit istrinya akan terbakar oleh panasnya matahari yang masih terik meski waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore.
"Tunggu sebentar lagi ya....tuh dimakan lagi es krimnya." ucap Andika setelah es krim pesanannya datang. Dia sengaja memesan lagi sambil menunggu, barangkali setengah jam lagi, cuacanya sudah tidak begitu pas.
"Sudah kenyang." ucap Arisa tidak berselera.
"Lho...tadi katanya mau?" Andika tahu kalau istrinya sekarang merajuk karena belum dizinkan berjalan di pantai.
"Aku suapin ya, sini buka mulutnya....akh..." mau tidak mau Arisa membuka mulutnya menyambut suapan Andika.
"Enak....sini aku makan sendiri saja." Arisa mengambil alih sendok yang dipegang Andika, kemudian memakan dengan lahap es krim tersebut. Tidak perlu lama, es krimnya pun ludes habis tanpa tersisa sedikitpun untuk suaminya.
"Tadi katanya tidak mau..." goda Andika yang terkikik menertawakan istrinya yang makan eskrim sampai berlepotan di bibirnya. Dia segera mengambil tisu dan mengelap mulut Arisa.
"Kayak anak kecil aja...."
"Biarin...." ketus Arisa.
Sementara itu, di salah satu meja yang terpisah beberapa meja dari tempat duduk Andika, Rasti memandang kesal setiap perlakuan Andika kepada Arisa. Hatinya semakin panas ketika melihat Andika menyuapi dan mengelap mulut istrinya, apalagi mereka terlihat sangat bahagia, sesekali mereka tertawa. Dia mengepalkan tangannya dan meninju meja di depannya tanpa sadar.
"Aww.....sakit..." Rasti meniup tangannya yang sakit akibat kebodohannya sendiri.
__ADS_1