
Sudah lebih dari seminggu, Handoko tidak pergi ke kantor untuk mengurus perusahaannya. Dia menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab tersebut kepada Calvin karena dia mau fokus mengurus istrinya yang sedang tidak sehat akhir-akhir ini. Handoko memutuskan untuk lebih banyak menemani Della, bahkan sampai-sampai dia melupakan rencananya yang tertunda untuk mengunjungi dan bertemu dengan Ibu Dina Marsiah, demi mencari informasi tentang anaknya yang hilang. Tentu saja, dia ingin segera bisa memastikan apakah Arisa adalah putri kandungnya atau bukan, namun untuk saat ini yang lebih penting dari semuanya itu adalah melihat istrinya bisa sehat kembali.
Hari ini, saat Handoko sedang mengecek laporan perusahaan yang dikirimkan oleh Calvin di ruang kerjanya, sedangkan Della sedang tidur siang di kamarnya, seorang pembantunya mengetuk pintu dan masuk untuk memberitahukan bahwa ada tamu yang mencarinya.
Setelah pembantu tersebut menceritakan sekilas ciri-ciri orang yang mau bertemu dengannya itu, dia penasaran, sepertinya dia tidak punya kenalan seperti yang disebutkan itu. Karena penasaran, akhirnya Handoko menyuruh pembantunya untuk mempersilakan tamunya itu untuk masuk dan akan menemuinya di ruang tamu.
Setelah mematikan laptopnya, Handoko turun dari lantai 2 menuju ruang tamu untuk menemui tamunya tersebut. Dilihatnya seorang wanita paruh baya yang berpenampilan sederhana. Rasanya dia tidak mengenal wanita tersebut. Apakah wanita ini adalah teman istrinya, tetapi wanita tersebut mengatakan ingin bertemu dengannya, bukan istrinya. Handoko bingung.
"Maaf, kalau boleh tahu, Anda siapa ya?" tanya Handoko jujur karena memang dia merasa tidak mengenal wanita yang duduk di depannya saat ini.
" Maaf Tuan, nama saya Linda. Tuan memang tidak pernah bertemu dengan saya sebelumnya, jadi saya maklum kalau Tuan tidak mengenal saya, tetapi mungkin Tuan mengenali almarhum suami saya." jawab wanita tersebut.
" Suami Anda?" tanya Handoko semakin bingung.
"Ya, suami saya, Mas Asman pernah bekerja dengan Tuan sebagai sopir keluarga Tuan dulu."
"Asman?" Handoko mulai emosi mendengar nama Asman. Dan kini istri dari orang yang dibencinya itu muncul di hadapannya. Ada apa gerangan?
" Mohon Tuan jangan marah dulu, ada yang ingin saya katakan. Saya sudah menyimpan ini sejak lama, dan saya merasa dipenuhi rasa bersalah selama ini. Untuk itu, saya memberanikan diri untuk menemui Tuan."
" Apa maksud kamu?"
"Saya tahu, mungkin seharusnya saya menemui Tuan dulu, tetapi keadaannya tidak memungkinkan." ucap Linda semakin membuat Handoko bingung.
__ADS_1
"Saya sungguh menyesali apa yang telah menimpa keluarga Tuan, terutama dengan putri Tuan yang hilang itu."
"Tunggu dulu, apa maksud kamu? Apa artinya putri saya masih hidup, dia belum meninggal?" tanya Handoko penasaran.
"Iya, Tuan, putri Anda masih hidup. Hanya saja, sayapun tidak tahu di mana keberadaannya."
"Lantas, mayat anak perempuan yang ditemukan bersama dengan Adakan saat kejadian kecelakaan bus tersebut?"
"Itu anak kami, Tuan." ucap Linda mulai menangis terisak-isak.
"Tetapi, karena ada barang milik putri kami yang melekat pada anak perempuan tersebut, sehingga polisi mengindentifikasi bahwa itu adalah putri kami, Erika."
" Ya, semua itu salah kami, Tuan. Saya menyesal tidak melarang suami saya yang emosi saat itu ingin membalas dendam kepada Anda, yang telah memecatnya hanya karena kesalahan kecil waktu itu."
"Kesalahan kecil kamu bilang? saat itu dia membawa mobil begitu ngebut, sampai-sampai hampir terjadi tabrakan dan membahayakan nyawa keluarga saya. Kamu katakan itu kesalahan kecil, hah?" ucap Handoko dengan nada cukup tinggi.
"Apa?"
"Ya, Tuan. Dan saat itu, Anda langsung memecatnya tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Pada akhirnya, anak pertama kami meninggal dunia. Tentu saja ini tidak ada hubungan dengan keluarga Anda, Tuan." Handoko terkejut mendengarkan penjelasan Linda. Tiba-tiba terbayang dalam ingatannya, dia memang marah besar kepada Asman waktu itu, dan langsung memecatnya tanpa mau mendengarkan penjelasannya sama sekali.
"Karena merasa dendam, suami saya menculik salah satu putri Anda, dengan maksud supaya Anda juga merasakan kehilangan yang sama."
"Kurang ajar!" gertak Handoko.
__ADS_1
"Saya tahu ini tidak bisa dimaafkan. Saya juga menyesal, karena saya tidak melarang suami saya waktu itu. Apalagi, ketika dia merampas kalung yang dipakai oelh putri Anda dan memakaikannya kepada anak kedua kami."
"Apa? Jadi, itu berarti..."
"Ya, Tuan. Yang meninggal bersama suami saya itu bukanlah putri Tuan, melainkan anak kami. Karena kejadian itu, saya menjadi depresi, bahkan sempat dirawat di rumah sakit jiwa, saya tidak bisa terima kehilangan suami dan kedua anak saya sekaligus. Saya benar-benar tidak mampu menanggung cobaan itu." Hati Handoko mulai trenyuh mendengar cerita Linda. Dia merasakan kehilangan yang dialami oleh Linda, karena diapun mengalami kehilangan yang sama. Dia telah kehilangan kedua putrinya, namun bukankah apa yang dialami Linda lebih buruk lagi, dia kehilangan suami dan anak-anaknya dalam waktu yang hampir bersamaan.
"Kini, setelah saya pulih kembali, saya memberanikan diri untuk datang menemui Tuan, karena saya tidak mau dipenuhi rasa bersalah tersebut. Tolong Tuan, maafkan saya dan almarhum suami saya." pinta Linda dengan suara lirih.
"Baiklah. Apa yang telah terjadi, biarlah terjadi, kita tidak bisa mengubahnya lagi. Saya sudah memaafkan kamu dan almarhum suamimu." jawab Handoko.
"Terima kasih, Tuan." hati Linda bisa mulai tennag, karena telah mendapat maaf dari Handoko.
"Namun, ada satu hal yang saya mau minta untuk kamu lakukan?"
"Apa itu, Tuan? kalau saya sanggup, saya pasti melakukannya untun menebus kesalahan suami saya." ucap Linda bersungguh-sungguh.
"Saya ingin kamu ikut saya pergi ke suatu tempat saat ini." jawab Handoko.
"Sekarang, Tuan?"
"Iya, sekarang juga. Kamu tunggu sebentar, saya bersiap-siap dulu." ucap Handoko, kemudian menuju ke kamarnya sebentar untuk mengganti pakaiannya. Sekilas dilihatnya, istrinya masih tertidur lelap. Jadi, dia bisa keluar sebentar tanpa sepengetahuan Della.
"Ayo, kamu ikut saya sekarang!" perintah Handoko yang kemudian diikuti Linda. Mereka pun masuk ke dalam mobil, yang kemudian segera melaju ke suatu tempat yang belum diketahui oleh Linda. Dalam pikiran Linda, yang penting dia telah mendapat maaf dari Handoko, apapun akan dia lakukan kalau dia bisa, supaya dia terbebas dari rasa bersalah yang menyelimuti dirinya selama ini.
__ADS_1
*****
Update lagi nih...boleh dong author minta tolong di-like, komen dan rate-nya ya, supaya author lebih semangat lagi menulis. Apalagi kalau ada yang berkenan ngevote, makin semangat author nih. Ditunggu ya teman-teman semua. Mari kita saling mendukung dan menyemangati ya...