Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Kecurigaan Johan


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung menuju ruangan tempat ibunya Arisa yang terletak di lantai 3. Sepanjang mereka berjalan menelusuri lorong rumah sakit, Arisa merasakan banyak tatapan mata ke arah mereka. Tentu saja, banyak yang menatap karena penampilan Andika yang tampan dan keren itu sungguh menarik hati, apalagi para gadis yang kebetulan berpapasan dengan mereka. Secara tidak langsung tatapan mereka juga jatuh kepada Arisa, membuat gadis itu menjadi tertunduk malu, karena dirinya baru menyadari, setelah memberes-bereskan barang-barang di apartemen tadi, dirinya tidak sempat untuk berbenah diri, merapikan rambutnya dan memperbaiki riasannya. Entah, bagaimana tampilannya saat ini, karena dia memang tidak sempat bercermin.


Arisa menjadi tidak percaya diri berjalan berdampingan dengan Andika, sedangkan Andika dengan santai mengandeng tangannya dan berjalan tanpa merasa ada yang aneh dengan tatapan orang yang berpapasan dengan mereka.


"Ibu....Arisa datang." sapa Arisa kepada ibunya langsung ketika mereka sudah masuk ke dalam kamar inap ibunya itu, meskipun Arisa tahu bahwa ibunya tidak akan menjawab sapaan Arisa.


Meski tidak banyak yang bisa diperbuat Arisa setiap kali dia mengunjungi ibunya itu, bisa melihat wajah ibunya itu dan merasakan masih ada nafas kehidupan pada wanita paruh baya itu, sudah membuat hati Arisa tenang. Tanpa terasa, air mata Arisa mulai menampakkan diri dari sudut matanya, dengan cepat dia menghapusnya sebelum Andika melihatnya.


kryukk...kryukkk....kryukkkk


Suara musik berdendang dari dalam perut Arisa terdengar. Seketika itu, Andika langsung menatap ke arahnya.


"Kamu lapar?" Arisa mengangguk.


"Aku belikan makanan dulu ya, kamu tunggu di sini saja." Andika pun bergegas keluar membeli makanan tanpa menunggu jawaban Arisa. Tinggallah Arisa seorang diri menemani ibunya saat ini. Tiba-tiba bunyi langkah kaki masuk. Arisa menolek ke belakang.


"Cepat sekali sudah balik?" tanya Arisa sambil menoleh ke belakang, mengira Andika sudah kembali.


"Johan."


"Arisa..."


"Gimana kabar Loe Arisa, gimana keadaan Loe? Loe bahagia dengan pernikahan Loe?" pertanyaan Johan lebih terdengar seperti sindiran di telinga Arisa.


"Baik, gue baik...gue bahagia dengan pernikahan gue...." jawab Arisa singkat.


"Bahagia sebagai Erina?" lanjut Johan yang membuat Arisa semakin tersudut.


"Loe bahagia dengan pernikahan pura-pura loe sebagai Erina, sebenarnya apa yang terjadi Risa, gue tahu ada yang tidak beres."

__ADS_1


"Itu urusan gue, loe tidak perlu ikut campur, Joh." tegas Arisa karena dia tidak mau melibatkan Johan dalam masalah yang dia hadapi. Selama ini sahabatnya itu sudah banyak membantunya, dia tidak mau merepotkan Johan lagi, apalagi orang tua Johan tidak begitu menyukai hubungan persahabatan mereka. Bagi mereka, Arisa hanya memanfaatkan Johan saja.


"Baiklah, kalau Loe tidak mau kasih tahu, gue akan cari tahu sendiri, Arisa....gue hanya tidak mau Loe menderita, gue peduli sama loe, gue cinta sama loe....loe tahu itu kan."


"Cinta????" terdengar suara dari belakang.


"Hei bung, dengan siapa Anda menyatakan cinta? dengan istri saya?" tanya Andika geram yang tiba-tiba sudah muncul dengan membawa sebungkus makanan di tangannya.


"Hati-hati kalau bicara, gadis di depanmu adalah istriku, dia adalah milikku." tegas Andika setelah mengenali bahwa laki-laki yang sedang berbicara dengan istrinya itu adalah Johan, dia mengenali Johan sebagas temannya Arisa.


"Tetapi istrimu bukan...." ujar Johan langsung cepat disanggah Arisa.


"Sudah....sudah....jangan bertengkar di sini, kalian hanya menganggu ketenangan ibu saja. Berhenti...." potong Arisa sebelum Johan sempat melanjutkan ucapannya.


"Gue permisi Ar....Erina." pamit Johan yang hampir salah menyebut nama, namun cepat dia ralat, karena meskipun marah, dia tidak mau gadis yang dicintainya itu akan mendapat masalah kalau dia mengungkapkan identitas Arisa sebenarnya saat ini.


"Tidak ada apa-apa di antara kami." ketus Arisa singkat merasa terintimidasi dengan pertanyaan Andika tersebut. Bisa-bisanya dia langsung menuduh sembarangan, membuat Arisa menjadi kesal terhadap pria yang menyandang status sebagai suaminya itu.


Akhirnya, mereka menikmati makanan mereka masing-masing di dalam kebisuan. Setelah dirasa cukup lama berada di ruangan itu, barulah kemudian Arisa membuka suara duluan, mengajak Andika untuk pergi ke rumahnya mengambil beberapa barang miliknya yang akan dibawa ke apartemen.


Masih tetap bertahan dengan kebisuan mereka masing-masing dalam perjalanan menuju rumah Arisa, akhirnya Andika mengajak bicara duluan.


"Maaf."


"Untuk apa?"


"Untuk perkataanku tadi, jika telah membuatmu tersinggung. Hanya saja aku merasa hatiku terbakar oleh cemburu." ujar Andika jujur.


Cemburu? dia cemburu kepadaku, apakah dia tetap akan cemburu jika dia tahu aku bukan Erina?

__ADS_1


"Tidak apa-apa, lupakan saja... Kita sudah mau sampai, depan sana belok kiri masuk ke gang tersebut." jawab Arisa sambil menunjukkan jalan. Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah Arisa. Meski terletak di kawasan pemukiaman agak kumuh, tetapi rumah Arisa yang sederhana itu tetap terlihat asri dan rapi, hanya saja seperti tidak terawat kelihatan dari luar, karena memang beberapa waktu terakhir ini tidak ada yang menempati rumah tersebut.


Sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah Arisa, membuat beberapa tetangga rumah Arisa kiri kanan yang kebetulan sedang berada di depan rumah, merasa penasaran dan mencari tahu. Siapa gerangan yang datang? Alangkah kagetnya mereka, ketika melihat Arisa keluar dari mobil disusul oleh seorang pria berkharisma. Apakah mereka tidak salah lihat, Arisa yang selama ini mereka kenal tombol, urak-urakan, sekarang bisa bersama dengan seorang pria yang tentu saja tidak cocok jika disandingkan dengan Arisa, menurut mereka.


Dengan ramah, Arisa menyapa salah satu tetangga yang kebetulan pas ada di samping rumahnya.


"Selamat sore, tante."


"Iya...gimana keadaan ibumu Arisa?" tanya si tante yang disapa, tetapi matanya sedari tadi tidak berhenti menatap Andika.


"Masih belum sadar. "


"Mudahan ibumu cepat sadar ya." harapan itu hanya terdengar sekedar basa-basi saja bagi Arisa, karena memang selama ini mereka tidak begitu akrab satu sama lain.


Arisa membuka pintu rumahnya dan segera menuju ke kamarnya untuk membereskan beberapa barang yang akan dibawanya. Sementara itu, Andika menunggu di ruang tamu. Matanya tertuju pada beberapa foto yang tergantung di salah satu sisi dinding. Sebuah foto yang menunjukkan seorang gadis kecil kira-kira berusia 6 tahun sedang duduk di atas pangkuan ibunya, sungguh menarik perhatiannya.


Jadi begini wajah Erina saat kecil, lucu....


Tidak lama kemudian, Arisa pun keluar dengan satu kotak di tangannya, sepertinya hanya itu saja barang yang dibawanya, tidak banyak. Andika langsung mengambil kotak tersebut dari tangan tersebut.


"Biar aku saja."


"Ini tidak berat kok."


"Gak apa-apa, aku saja."


"Ya sudah, kalau maunya begitu."


Mereka pun menuju mobil untuk kembali ke apartemen mereka. Malam ini adalah malam kedua mereka, tentu saja Arisa masih sedikit takut menghadapi malam-malam setelah pernikahannya ini. Dia masih belum siap, jika Andika meminta sesuatu yang menjadi haknya sebagai seorang suami.

__ADS_1


__ADS_2