Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Masalah Farah


__ADS_3

"Ini kan?" ujar Arisa spontan


"Iya, ini foto-foto Alex dan Michella. Aku baru tahu kalau mereka pernah punya hubungan spesial."


"Tetapi, bukankah itu hanya masa lalu mereka, jadi tidak ada yang perlu kamu khawatirkan bukan?" Arisa sendiri sebenarnya juga tahu kalau Alex dan Michella dulu memang pernah dekat karena mereka bertiga satu SMA dulu, bahkan Arisa juga termasuk salah satu gadis yang menggangguku Alex saat itu.


"Awalnya aku juga mencoba berpikir begitu, tetapi..." Farah berkata sambil terisak menangis.


"Akhir-akhir ini, sikap Alex berubah. Beberapa waktu yang lalu, aku sangat senang, hubungan kami sudah lebih baik, dia sudah bisa bersikap lebih perhatian terhadapku meskipun masih sedikit canggung. Aku senang itu. Tetapi, sekarang tmsikap Alex tiba-tiba berubah lagi. Bahkan, aku tidak bisa menghubunginya saat ini." lanjut Farah menjelaskan.


"Lho, bukannya kamu bisa tinggal ke kantor untuk menemuinya?" tanya Arisa masih kurang mengerti dengan apa yang terjadi di antara Farah dan Alex.


"Sudah beberapa hari ini Alex tidak ada di kantor. Kata sekretaris barunya, Alex sedang ada urusan pekerjaan di luar kota. Aku sudah berusaha menghubungi berkali-kali, namun tidak berhasil."


"Kamu sudah tanyakan kepada keluarganya?"


"Iya, itupun sudah kulakukan, tetapi tidak ada yang bisa kudapatkan juga, Ayah Alex sudah tua dan sering sakit-sakitan, jadi aku tidak berani memberitahukan yang sebenarnya kepada beliau kalau Alex tidak bisa dihubungi sama sekali. Beliau berharap sekali hubungan kami akan berhasil. Jadi, tidak tega rasanya kalau harus membuat orang tua itu kuatir, apalagi aku sudah menganggap beliau seperti ayahku sendiri."


Arisa tidak menyangka di balik kejudesan Farah selama ini, tersimpan juga hati yang baik dan lembut. Dia semakin percaya kalau Farah memang tulus mau berteman dengannya.


"Mungkin saja Alex sedang sibuk dengan urusan pekerjaannya itu, jadi tidak mau diganggu dulu?" ujar Arisa mencoba berasumsi untuk menenangkan Farah.


"Ya, kalau seperti itu, mungkin aku tidak kuatir. Tetapi, coba kamu lihat ini." Farah menunjukkan chat WA antara dia dengan Michella.


Dalam chat tersebut, Michella mengatakan bahwa dia masih mencintai Alex dan dia yakin Alex pun pasti masih mencintainya. Jadi, dia akan memperjuangkan cintanya, merebut Alex dari Farah.


"Lho, tidak seharusnya kamu terpengaruh kan dengan omongan dia seperti itu kan? Bisa saja dia hanya ingin memanasi kamu."


"Tetapi, bukti foto ini membuat aku sedikit bimbang." Farah menunjukkan sebuah foto yang dikirim orang nomor tak dikenal, yang memperlihatkan kalau Alex sedang makan malam dengan Michella di suatu tempat. Farah tidak mengetahui siapa yang mengirimkannya itu, tetapi bisa ditebak itu pasti mungkin orang suruhan Michella atau wanita itu sendiri.

__ADS_1


"Aku tidak tahu ini foto kapan, dan di mana mereka bertemu. Tetapi, ketika aku mencoba mendatangi Michella di kantornya, asistennya juga mengatakan kalau dia sedang ke luar kota."


"Jadi, kamu berpikir, kalau Michella dan Alex sedang bersama saat ini?" tanya Arisa.


"Entahlah, aku takut kalau seperti itu yang terjadi. Aku sungguh sangat mencintai Alex, Aku tidak bisa membayangkan kalau hubungan kami harus berakhir setelah aku mencoba memperjuangkannya selama ini."


"Sudahlah, itukan hanya dugaanmu saja. Belum tentu kan seperti itu, kamu jangan berprasangka buruk dulu!" ucap Arisa mencoba menenangkan Farah. Dalam hatinya, dia merasakan kasihan dengan wanita di depannya itu, yang begitu mencintai seorang pria, namun tidak mendapatkan balasan cinta yang sebanding dari pria tersebut.


Dia mensyukuri hidupnya kalau Tuhan begitu baik terhadap dirinya, yang memberikan seorang pria yang sangat mencintai dirinya, meski awalnya dia terpaksa menikah Andika demi mendapatkan biaya pengobatannya bagi ibunya saat itu.


"Arisa!" terdengar panggilan Della dari jauh. Arisa segera menoleh. Dilihatnya kedua wanita paruh baya itu sudah berjalan mendekati tempat duduk mereka.


"Kamu di sini rupanya." ucap Anita.


"Perkenalkan, Ma. Ini Farah." ucap Arisa


"Saya Farah, Tante." sahut Farah sambil menyodorkan tangan kanannya untuk menyalami Della dan Anita, yang segera disambut hangat oleh kedua wanita cantik itu meskipun sudah berumur.


"Oh, ini mamaku dan ini mertuaku." jawab Arisa sambil menunjuk ke arah Della dan Anita secara bergantian.


"Oh, senang bertemu dengan Anda, Tante."


"Iya, senang bertemu denganmu juga Farah. Ayo, Arisa kita pulang sekali. Sudah sore nih, nanti mama kena marah sama Andika, mengajakmu keluyuran seharian ini." ajak Anita.


"Iya, apalagi kamu kan lagi sedang hamil. Tidak boleh kecapean." sahut Della.


"Oh, kamu sedang hamil sekarang? Wah, selamat ya." ucap Farah.


"Iya, terima kasih. Kalau gitu, aku pamit dulu ya, Farah. Kapan-kapan kita mengobrol lagi."

__ADS_1


"Iya, terima kasih ya sudah mau menjadi teman curhatku tadi." jawab Farah.


"Ayo, nak Farah. Kami pamit dulu ya." ucap Della. Mereka bertiga pun berjalan meninggalkan Farah yang masih duduk sendirian menikmati sisa minumannya yang belum habis tadi.


Ketiga wanita itu segera berjalan menuju lobby depan pusat pembelanjaan itu dan menunggu mobil mereka yang akan datang menjemput.


"Akh, senangnya hari ini kita jalan-jalan. Kapan-kapan kita jalan lagi ya jeng!" ucap Della kepada Anita sesaat setelah mereka sudah masuk dan duduk manis di dalam mobil. Mobil itu pun segera melaju menuju apartemen Arisa.


Sesampainya di apartemen, Arisa melihat beberapa petugas pengantar barang yang sudah menunggu di depan lobbi apartemennya. Sepertinya mereka sedang mengantarkan barang pesanan penghuni apartemen ini.


"Oh, rupanya sudah datang barang yang kita beli tadi, jeng." ucap Della senang saat melihat beberapa paket barang yang sudah diturunkan dari mobil pengantaran.


"Ma, apa ini?"


"Lho, kamu ini gak ingat atau lupa ingatan, Arisa. Ini kan barang-barang belanjaan yang kita beli tadi. Itu lho, box tidur untuk bayimu nanti. Nah, ini pakaian-pakaiannya. Nah yang kotak itu, pasti mainan-mainannya." jawab Della sambil menunjuk ke beberapa box yang tergeletak di lantai.


"Nah, kalau yang itu, pasti box tidur yang aku beli tadi." ucap Anita tak mau kalah.


Arisa tidak habis pikir melihat kelakuan mama Della dan Mama Anita yang memborong banyak barang untuk keperluan bayi yang sedang ada di dalam kandungan ini. Padahal, belum tahu apakah itu bayi laki-laki atau perempuan. Lalu, semua barang-barang ini akan ditaruh di mana, pikir Arisa.


"Semuanya angkut ke atas ya, Pak."


"Hah?" Arisa sudah membayangkan apartemennya yang akan sesak penuh dengan barang-barang itu. Namun, mau tidak mau dia harus mengikuti kemauan kedua wanita itu dan tak bisa menolaknya.


Dan benar saja, setelah semua barang itu diangkut masuk ke dalam apartemennya. Dia merasa seperti orang yang sedang pindahan saja. Tidak mau memusingkan itu, akhirnya dia memilih merebahkan diri di ranjang empuknya sambil menunggu kepulangan suaminya dari kantor. Sedangkan Anita dan Della sudah pamit pulang ke rumahnya masing-masing.


******


Update lagi,maaf ya akhir-akhir ini agak lambat updatenya. Author lagi sibuk dengan urusan pekerjaan di dunia nyata dulu. Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komennya ya. Itu aja udah bikin author senang, apalagi kalau ada yang berkenan vote, makin semangat author nih.

__ADS_1


Happy reading ya..


__ADS_2