Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Mengubah Penampilan


__ADS_3

Arisa membulatkan tekadnya untuk menerima tawaran bantuan dari Nyonya Anita demi mendapatkan uang untuk membayar tagihan biaya perawatan ibunya itu. Sungguh belum pernah terlintas sekalipun di pikiran tentang sebuah pernikahan, dan sekarang dia harus diperhadapkan kepada hal itu, siap tidak siap dia harus mampu menghadapinya, pikirnya.


Tok...tok...tok....


Terdengar suara ketukan pintu, Arisa segera mengarahkan pandangan ke arah pintu, masuklah seorang laki-laki yang sama dengan kemarin itu diikuti dengan nyonya Anita di belakangnya.


"Selamat pagi, Nyonya." sapa Arisa dengan sopan kepada wanita yang mungkin seumuran dengan ibunya. Namun, tentu saja wanita itu terlihat masih muda dan cantik dibandingkan ibunya.


"Iya....selamat pagi. Jadi, bagaimana, apakah kamu sudah memutuskan?" tanya Anita tanpa basa-basi sambil duduk di salah satu kursi kosong yang tersedia di ruangan itu.


"Iya, nyonya. Saya sudah memikirkannya semalaman, saya menerima tawaran Anda, Nyonya......demi ibu saya." jawab Anita tertunduk lesu.


"Bagus....bagus.. kamu telah membuat keputusan yang benar. Mulai sekarang, demi kesembuhan ibumu ini, kamu harus mengikuti setiap perintahku." lanjut Anita sambil memandang ke arah ibu Arisa yang masih terbaring koma di atas ranjang rumah sakit.


Arisa berpikir sejenak.


"Hmmmm....baik, Nyonya. Apapun akan saya lakukan, demi kesembuhan ibu saya." lanjutnya.


"Lalu, apa yang harus saya lakukan sekarang, Nyonya?"


"Mengenai biaya perawatan rumah sakitmu ibumu, mulai sekarang kamu tenang saja, saya akan mengurus semuanya. Tetapi, sekarang saya mau kamu ikut saya untuk pergi ke suatu tempat!" perintah Anita.


"Tetapi nyonya....." Arisa sedikit ragu, karena tidak ada yang menjaga ibunya kalau dia pergi.


"Kamu tenang saja....saya akan perintahkan satu perawat untuk menjaga ibumu selama kamu pergi. Rumah sakit ini milik teman saya, jadi saya bisa minta tolong kepadanya." Anita menangkap keraguan di wajah gadis itu.


"Baiklah, kalau begitu. Tetapi....kita akan ke mana, nyonya?" Arisa beranjak dari tempat duduknya mengikuti Anita yang sudah mulai berjalan ke luar.

__ADS_1


"Kamu ikut saja, tidak perlu banyak tanya dulu...." ujar Anita singkat.


Arisa mengikuti wanita itu masuk ke dalam mobil, yang kemudian membawa mereka ke sebuah butik langganan Anita.


"Kenapa kita ke sini, Nyonya?" tanya Arisa penasaran tetapi tidak digubris oleh Anita yang langsung berjalan masuk ke dalam butik.


"Hai....selamat siang, Nyonya Anita, senang Anda berkunjung ke butik kami lagi." sapa salah satu pelayan butik dengan sopan.


"Iya, selamat siang. Tolong bantu saya, carikan pakaian-pakaian yang cocok untuk gadis ini." pinta Anita sembari melihat ke arah Anita. Gadis ini memang mirip wajahnya dengan Erina, tetapi tampilannya....jauh sekali berbeda dengan Erina yang selalu tampil dengan anggun dan elegan, maka dari itu pertama yang harus dia lakukan adalah mengubah penampilannya, Pikir Anita.


"Siap, Nyonya."


"Mari ikut dengan saya, Nona." pelayan tersebut sambil mengarahkan tangannya memberi kode supaya Arisa mengikutinya ke sebuah sudut yang terpanjang dengan bermacam-macam pakaian wanita.


"Anda bisa memilih-milih model yang ada di sini, Nona...Kalau Anda bingung, saya akan bantu memilihkan model yang sesuai dengan badan Anda." kata pelayan itu dengan ramah. Anita berjalan mendekati beberapa gaun yang tergantung itu, sekilas dia melihat label harga yang terpasang pada gaun itu. Kebiasaan yang dia lakukan kalau biasa membeli baju-baju obral di mal. Dia terkaget melihat harga yang tertera pada label gaun tersebut. Astaga.....satu gaun ini bisa menghabiskan gajiku satu bulan dari cafe, kurang malah....Emang ada ya, yang mau membeli gaun semahal ini???


"Oke....silahkan tunggu sebentar, Nona." pelayan itu kemudian berjalan memilihkan beberapa gaun dan stelan modis dan memberikannya kepada Arisa.


"Silakan dicoba dulu, Nona. Ruang ganti ada di sebelah sana." Arisa pun berjalan ke ruang ganti untuk mencoba beberapa pakaian tersebut.


Setelah memakai salah satu dari stelan itu, dia pun keluar dari ruang ganti bermaksud untuk memperlihatkan kepada Anita. Saat Anita melihatnya, dia terkagum.


"Kamu benar-benar mirip dengan Erina." Anita menatap Arisa sampai tak berkedip.


Setelah mencoba beberapa pakaian dan dirasa pas di badannya, akhirnya Anita membeli semua pakaian tersebut dan memberikannya kepada Arisa.


"Ini untuk kamu." Anita menyodorkan beberapa kantong pakaian tersebut kepada Arisa.

__ADS_1


"Ini semua untuk saya, Nyonya?" tanya Arisa tidak percaya.


"Iya....." jawab Anita singkat.


"Hmmmm.....sepertinya masih ada yang kurang." lanjut Anita sambil menatap serius Arisa dari atas sampai ke bawah, membuat gadis itu menjadi salah tingkat.


"Sekarang ikut saya lagi....." lanjutnya.


Mereka pun masuk ke dalam mobil dan Arisa tidak tahu akan dibawa ke mana lagi dia. Dia pasrah saja, karena ini bagian dari konsekuensi dari keputusannya, pikirnya. Akhirnya, mobil berhenti tepat di depan sebuah salon yang terlihat mewah dari luar, bagi orang seperti Arisa. Kali ini dia tidak banyak tanya dan segera mengikuti langkah kaki Anita yang sudah berjalan masuk duluan di depannya.


Kebetulan, hari ini memang Anita berencana mau melakukan perawatan wajah dan rambutnya. Sekalian dia membawa Arisa ke salon langganannya, supaya bisa dipermak sedikit, pikirnya. Tampilan Arisa yang tomboi tentu saja berbeda dengan Erina yang anggun, meskipun wajah mereka boleh dikatakan mirip sekali.


"Tolong, diurus nona ini, lakukan facial pada wajahnya dan rapikan potongan rambutnya." perintah Anita kepada salah satu karyawan salon yang sudah mengenalnya dengan baik.


"Baik, nyonya... Mari Ikut saya, Nona." ujar karyawan tersebut langsung mengarahkan Arisa untuk duduk di tempat yang telah disediakan. Arisa mengikuti tanpa protes. Anita sendiri juga melakukan perawatan pada wajahnya, rambutnya dan juga pada kuku-kuku cantiknya. Begitu banyaknya perawatan yang dilakukan, membuat waktu berjalan begitu cepat tanpa terasa, Arisa menoleh sekilas ke arah jam dinding yang terpasang di sudut ruangan, dia kaget waktu sudah menunjukkan hampir pukul 4 sore. Hatinya sudah tidak tenang sedari tadi, karena sudah meninggalkan begitu lama ibunya di rumah sakit sendirian.


Akhirnya, ketika jam menunjukkan hampir pukul 5 sore, barulah selesai semua prosedur perawatan diri yang harus, termasuk sedikit tambahan riasan pada wajahnya yang dipoles oleh karyawan salon tersebut sesuai intruksi Anita. Arisa segera berjalan ke arah Anita yang sudah selesai sebelumnya dan sedang membaca majalah sambil duduk di sofa empuk di ruangan tunggu salon tersebut, bermaksud meminta izin supaya bisa kembali ke rumah sakit.


"Nyonya....." Seketika itu, Anita memandang ke arah Arisa dan takjub sekali melihat perubahan tampilan Arisa. Dirinya seperti melihat Erina yang masih hidup, sampai dia tidak mengedipkan matanya.


"Kamu cantik sekali....persis seperti Erina." puji Anita tanpa sadar


"Terima kasih atas pujiannya, nyonya...tetapi bolehlah saya kembali ke rumah sakit sekarang." tanya Arisa.


"Oke...cukup untuk hari ini, besok kita akan bertemu lagi. Saya akan menghubungi nanti. Sekarang kamu boleh kembali ke rumah sakit. Saya akan memesan taksi untuk kamu. Maaf saya tidak bisa mengantarkanmu kembali ke rumah sakit." jawab Anita


"Tidak masalah, Nyonya....terima kasih atas semuanya hari ini, Nyonya." ujar Arisa tulus berterima kasih wanita itu.

__ADS_1


Dan mereka pun berpisah sore itu, Arisa bergegas kembali ke rumah sakit dan Anita segera kembali ke rumahnya karena sebentar lagi suaminya akan pulang dari kantor, dia tidak mau suaminya akan mencarinya karena memang rencananya ini masih dia rahasiakan dari suaminya.


__ADS_2