
Sejak pertemuannya dengan Arisa, Handoko menjadi kepikiran terus akan hal itu, namun dirinya belum berani menceritakan kepada istrinya. Saat ini, dia sedang berada di kantornya menelepon telepon dari orang suruhannya yang diperintahkan untuk menyelidiki Arisa.
"Jadi, bagaimana? aku harap bisa mendengarkan hasil kerja yang memuaskan darimu."
"Iya, Bos. Saya sudah menyelidiki seluk beluk kehidupan gadis itu, Bos." jawab seseorang dari seberang telepon sana.
"Jadi, apa saja yang kamu dapatkan?"
"Gadis yang bernama Arisa itu adalah anak yatim. Ayahnya telah meninggal dan kini hanya tinggal ibunya seorang. Ibunya bernama Dina Marsiah. Suaminya telah meninggal saat Arisa masih kecil. "
"Terus, apakah Arisa itu adalah anak kandung dari wanita itu?"
"Dari informasi yang saya dapatkan, sepertinya Arisa bukan kandung dari wanita ini. Namun, sepertinya hal ini dirahasiakan dari Arisa."
"Sekarang, berikan alamat dari rumah ibu Dina tersebut kepadaku. Kamu sudah mendapatkannya, bukan?"
"Tentu saja, Bos. Sebentar saya akan kirimkan kepada Bos!"
"Bagus...bagus....aku puas dengan hasil kerjamu. Bayaranmu akan aku transfer nanti." ucap Handoko mengakhiri pembicaraan.
"Terima kasih, Bos."
Handoko senang sekali mendengarkan kabar ini. Jika Arisa bukan angka kandung dari wanita yang bernama Dina Marsiah ini, berarti ada kemungkinan bahwa Arisa adalah putrinya yang telah lama hilang. Tetapi, apakah mungkin itu terjadi? lalu siapa anak yang meninggal dalam kecelakaan bus bersama Asman tersebut. Bukankah dari mayat tersebut ditemukan kalung milik Erika? Semua ini masih menjadi misteri baginya.
Untuk urusan perusahaan, sepertinya Handoko sudah bisa menangani masalah yang terjadi dengan baik, apalagi setelah dia mendapatkan pinjaman dana dari Wijaya. Dia bersyukur sahabatnya itu mau menolongnya di saat dia terpuruk. Kini, dia bisa fokus untuk mencari tahu kebenaran tentang siapa itu Arisa.
Tok..tok....tok....
"Masuk!"
Pintu dibuka dan Calvin melangkah masuk.
"Om, panggil saya tadi? Ada apa, Om?" tanya Calvin setelah tadi beritahu oleh sekretarisnya bahwa dirinya dipanggil oleh Handoko. Sebelumnya dia memang ada urusan di luar dan kebetulan handphonenya ketinggalan di kantor.
"Kamu tadi dari mana?"
__ADS_1
"Oh, tadi saya baru habis bertemu dengan klien baru, Tuan Budi Santoso. Sepertinya Beliau tertarik untuk menerima penawaran kerja sama kita."
"Syukurlah, kalau begitu. Aku tahu kamu memang bisa diandalkan."
"Terima kasih, Om atas kepercayaannya."
"Oh ya, untuk beberapa hari aku ada urusan lain yang harus diurus. Jadi, tolong kamu handle perusahaan dengan baik. Ingat, jangan kecolongan lagi seperti dulu!" pesan Handoko.
"Siap, Om!"
Setelah membahas beberapa hal terkait perusahaan, Calvin pun pamit kembali ke kantornya. Meski, dia sedikit penasaran urusan penting apa lagi yang harus diurus oleh pamannya itu, sehingga harus mendelegasikan lagi urusan perusahaan ke dalam tangannya, namun dirinya tidak berani menanyakan lebih lanjut. Tetapi, yang pasti Calvin melihat gelagat Handoko memang sedikit berbeda hari ini. Pamannya terlihat sedang senang.
Memang begitulah yang terjadi, Handoko merasa senang hari ini karena dia mendapatkan sebuah harapan. Meski semuanya belum pasti, tetapi tidak ada salahnya dia berharap bukan. Dia tidak sabar untuk segera bisa bertemu dengan wanita yang bernama Dina Marsiah itu untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai Arisa. Dia berencana akan mengunjungi rumah Dina besok tanpa sepengetahuan sitirnya.
Drrit....Drrit...Dritt....
Handphone Handoko berbunyi menandakan ada pesan yang masuk. Dia segera membuka dan membacanya. Sesaat kemudian dia menyunggingkan senyumnya, pesan itu adalah informasi tentang alamat di mana dia bisa bertemu dengan Dina Marsiah.
*****
Cukup lama dia mencari, karena kawasan itu adalah kawasan pemukiman padat penduduk. Apalagi ketika dia menanyakan kepada beberapa orang yang ditemuinya di jalan sempit kawasan tersebut, tidak banyak yang mengenal Dina Marsiah. Kalaupun ada, beberapa di antaranya memang bernama Dina, namun setahu orang-orang tersebut tidak tahu mana yang bernama lengkap Dina Marsiah.
Akhirnya, ketika Handoko berhenti di sebuah warung kelontong dan menanyakan kepada orang-orang yang sedang duduk di depannya. Seseorang mengarahkannya kepada sebuah rumah tidak jauh dari sana, yang pemiliknya bernama Dina dan memiliki seorang anak gadis bernama Arisa. Benar, itulah yang dicari-cari Handoko dari tadi.
Handoko menghampiri rumah tersebut dan mengetuk pintu yang tertutup rapat. Dia berharap ada orang di rumah tersebut.
Diketuknya lama namun tidak ada jawaban dari dalam.
"Cari siapa, Pak?" tanya seorang ibu dari tetangga sebelah.
"Apa benar ini rumahnya Dina Marsiah, Bu?" tanya balik Handoko.
"Ya, ini memang rumah jeng Dina, Pak. Tetapi setahu saja nama lengkapnya bukan Dina Marsiah, kalau tidak salah Dina Aristo." Sebenarnya Aristo adalah nama keluarga suami Dina dulu. Jadi, orang-orang memang lebih mengenal ibunya Arisa dengan nama Dina Aristo daripada Dina Marsiah. Itulah sebabnya, beberapa orang yang ditemui Handoko tadi mengaku tidak mengenal Dina Marsiah.
"Jadi, ibu Dinanya kira-kira ada gak yang di dalam?"
__ADS_1
"Biasanya jam segini, ibu Dinanya pergi ke pasar. Ditunggui aja pak, paling bentar juga udah datang!"
"Oke, terima kasih atas infonya, Bu. Baiklah, saya coba tunggu
dulu."
Handoko kemudian berjalan menuju kursi teras yang terdapat di teras depan rumah Dina. Setengah jam telah berlalu namun Dina tak kunjung muncul. Dia berusaha tetap sabar untuk menunggu. Namun tiba-tiba handphonenya berbunyi.
Saat dilihatnya itu adalah panggilan dari rumah, Handoko segera mengangkatnya.
"Hallo"
"Tuan....Nyonya pingsan!" terdengar suara dari seberang.
"Apa?"
Handoko bergegas pulang ke rumah. Dia mengkuatirkan keadaan istrinya. Dia membawa mobilnya dengan ngebut. Dalam hatinya, dia berharap mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu yang serius dengan istrinya.
Sesampai di rumah dia segera menuju kamarnya. Sebelumnya dia sudah menelepon dokter pribadinya untuk datang memeriksa keadaan Della. Saat dia sampai di kamar, Della sedang diperiksa oleh dokter Rino.
"Jadi, bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Handoko setelah dokter Rino meyelesaikan pemeriksaannya.
"Tidak ada masalah serius. Hanya saja Ibu Della memang dalam kondisi fisik yang lemah. Usahakan ibu agar tidak terlalu banyak pikiran dan stres ya. Itu bisa membuat daya tahan tubuhnya semakin melemah, sehingga mudah sakit dan pingsan seperti tadi."
"Dan ingat, jaga juga pola makannya. Makannya harus teratur ya..!" lanjut dokter Rino memberi pesan.
Handoko merasa sedikit bersalah terhadap istrinya. Beberapa hari ini sejak kepulangan mereka dari Belanda, dirinya disibukkan dengan urusan perusahaan dan usaha penyelidikannya terhadap Arisa, membuat dia jadi kurang memperhatikan keadaan istrinya.
Della sendiri sejak pulang dan tinggal di rumah yahg penuh kenangan ini, meski dirinya sudah berusaha namun dirinya selalu kepikiran dengan Erina. Dia begitu merindukan putrinya itu dengan semua kenangan di rumah ini, membuat dia menjadi kurang nafsu makan, akhirnya dia jatuh pingsan hari ini.
"Tuh, kan mama dengar apa kata dokter Rino tadi kan? Kamu tidak boleh stres, Ma! Sekarang makan ya, aku suapin!" ujar Handoko, kemudian menyuruh salah satu pembantunya untuk menyiapkan makanan dan membawanya ke kamar. Della hanya mengangguk saja. Terlihat tatapan matanya yang kosong, membuat hati Handoko terasa semakin perih melihat keadaan istrinya itu.
*****
Update lagi nih. Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys...
__ADS_1