Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Tidak Bisa Makan


__ADS_3

Wanita itu juga menengok ke arah Andika dan terlihat sama kagetnya. Namun, tidak seperti biasanya, kali ini dia langsung berlalu dari hadapan Andika, setelah posisi berdirinya sudah sempurna. Bahkan dia terlihat mempercepat langkahnya seolah takut akan dibuntuti oleh seseorang. Andika hanya memandang kepergian wanita itu dengan penuh kebingungan.


"Ada apa dengannya? wajahnya terlihat pucat. Tidak biasanya dia bersikap seperti itu. Aneh!" ucap Andika pelan berbicara pada dirinya sendiri melihat wanita yang biasa yang selalu berusaha mendekatinya, kini malah menghindari saat mereka berpapasan tanpa sengaja tadi.


Apa yang terjadi dengannya?


Tidak mau berlama-lama dengan rasa penasarannya, Andika melanjutkan langkahnya menuju kantin rumah sakit untuk membelikan beberapa makanan bagi istrinya dan dirinya juga. Entah kenapa, tiba-tiba dirinya merasa sangat lapar, padahal sarapannya tadi pagi cukup banyak.


Sesampainya di kantin, dia memesan 2 bungkus nasi goreng dan membeli berbagai macam kue yang terlihat sangat menggoda selera. Setelah pesanannya jadi, segera dia berjalan kembali ke ruang rawat Arisa. Tidak sabar, dia ingin menikmati makan siangnya bersama Arisa. Namun, rupanya istrinya sudah tertidur pulas kembali saat dia sampai di kamar.


Pelan-pelan Andika membangunkan Arisa, karena dia tidak mau istrinya tidur dalam keadaan kelaparan.


"Bangun, sayang! Makan dulu, baru tidur lagi!"


"Hmmm..." Arisa masih belum membuka matanya.


Dengan sengaja, Andika kemudian mencium bibir Arisa, bahkan dengan sedikit ganas dia mengulum bibir manis istrinya itu, hingga membuat Arisa terkaget dan terbangun seketika itu.


Tanpa sepengetahuan suaminya, sebenarnya Arisa tadi sempat bermimpi aneh. Arisa bermimpi tentang kejadian saat dia menemui Alex untuk mengundurkan diri tadi pagi. Dalam mimpinya itu, Alex tidak mengizinkan dirinya untuk mengundurkan diri, hingga akhirnya mereka bersitegang. Dan ketika Arisa hendak berjalan meninggalkan ruangan Alex, tiba-tiba tangannya digenggam oleh Alex, yang kemudian langsung menariknya hingga dia terjatuh dalam pelukan atasannya itu. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Alex langsung mencumbui dan mencium Arisa dengan ganas. Mimpi itu terasa begitu nyata, karena di saat yang sama, Andika juga mencium bibirnya, sehingga membuat Arisa terbangun seketika karena saking kagetnya.


"Aku tidak lapar, Mas!" ujar Arisa masih dengan pendiriannya tidak mau makan.


"Tidak mungkin, kamu tidak lapar sayang. Sarapanmu sedikit tadi pagi, aku aja yang sarapan banyak tadi, sudah merasa sangat lapar sekarang, masa kamu tidak... Ayo, kita makan sama-sama ya!" bujuk Andika.


Dengan segera, Andika menyiapkan makanan yang telah dibelinya tadi ke dalam wadah piring yang memang tersedia di ruangan itu.


"Aku suapin ya!" Arisa hanya mengangguk lemah.

__ADS_1


"Ayo, buku mulutnya, sayang!" dengan sedikit terpaksa, Arisa membuka mulutnya dan menyambut makanan yang disodorkan Andika.


"Nah, gitu dong!"


"Aku tidak mungkin bisa menghabiskan sebungkus nasi ini, Mas. Bantuin makan juga ya!" pinta Arisa saat dirinya melihat jelas makanan yang dipegang suaminya itu. Porsinya memang cukup besar. Entah kenapa, dirinya jadi tidak berselera makan hari ini, padahal biasanya dia kuat makan. Porsi sebesar itu harusnya tidak masalah baginya.


"Iya..iya...nih aku bantu makan juga. Biar kelihatan romantis juga, sepiring berdua." ujar Andika yang lalu juga menyendoki nasi dan memasukkan ke dalam mulutnya sendiri.


"Enak!" ucap Andika saat mengecap nasi goreng yang dibelinya itu. Akhirnya, dia sampai memakan beberapa sendok lagi dengan lahap, sampai lupa menyuapi istrinya.


"Mas, pelan-pelan makannya!" ucap Arisa yang membuat Andika tersadar malah dia yang keasyikan makan sendiri.


"Hehehe...makan lagi ya, sayang!" Andika kemudian lanjut menyuapi Arisa lagi.


Namun, baru beberapa sendok nasi masuk ke dalam mulut Arisa, tiba-tiba Arisa merasa sangat mual.


Dengan cepat, Arisa beranjak dari tempat tidurnya dan berlari ke kamar mandi. Dia memuntahkan semua isi perutnya, termasuk beberapa sendok nasi goreng yang disuap Andika tadi.


"Sayang, kamu kenapa? Aku panggilkan perawat ya!" ucap Andika kuatir, sambil mengelus pelan punggung istrinya itu.


"Tidak, aku tidak apa-apa lagi, rasanya sudah lebih enak setelah memuntahkan semuanya tadi." jawab Arisa sambil kemudian berjalan kembali ke arah temapt tidurnya.


"Tetapi, perutmu benar-benar kosong sekarang sayang. Bahkan, yang baru saja kamu makan pun sudah termuntahkan semua. Aku panggilkan dokter ya!" ucap Andika tanpa menunggu respon Arisa, dia sudah berjalan ke pos perawat yang tak jauh dari ruangannya itu untuk memberitahukan keadaan istrinya dan meminta pemeriksaan dokter.


Setelah Andika kembali ke kamar dan menunggu beberapa saat, datanglah seorang dokter laki-laki dengan seorang perawat untuk memeriksa kondisi Arisa.


Dokter tersebut memegang tangan Arisa dan mengecek denyut nadinya, kemudian melakukan beberapa pemeriksaaan standar untuk memastikan keadaan pasien. Entah kenapa, Andika terlihat tidak senang melihat apa yang dilakukan oleh dokter tersebut terhadap istrinya. Dia tidak rela istrinya disentuh-sentuh oleh orang lain. Padahal, apa yang dilakukan dokter tersebut adalah hal yang lumrah dilakukan terhadap pasien.

__ADS_1


Akh, lain kali aku akan meminta dokter perempuan. Tidak boleh ada laki-laki lain yang memegang-megang istri cantikku ini.


Pemeriksaan dokter itu pun selesai. Tanpa perlu ditanya oleh Andika, dokter tersebut langsung menjelaskan kondisi Arisa.


"Apa yang dialami istri Anda ini biasa, karena pengaruh hormon. Pada masa-masa awal kehamilan, memang biasa seperti itu, ibu hamil akan mengalami ngidam, morning sickness dan lainnya. Biasanya kondisi seperti ini akan berlangsung selama 3 bulan pertama, atau mungkin ada yang sampai melahirkan." ucap dokter pria itu menjelaskan dengan panjang lebar.


"Hah?" Andika terkaget saat mendengarkan kalimat terakhir dokter tersebut.


"Maksud dokter, istri saya akan muntah-muntah seperti tadi selama tiga bulan atau mungkin lebih. Kalau seperti itu, bagaimana bisa, janin dalam perut saya bisa tercukupi nutrisinya?" tanya Andika dengan wajah kuatirnya.


"Itulah sebabnya, peran suami sangat penting di sini. Anda harus mengingatkan istri Anda untuk makan teratur, tidak apa-apa sedikit saja, yang penting sering." jawab Dokter.


"Tetapi, bagaimana kalau yang dimakan, nanti dimuntahkan lagi, Dok?"


"Yah, makan lagi!" jawab dokter itu santai.


"Ada lagi pertanyaan, Pak?" tanya dokter tersebut. Andika menggelengkan kepalanya.


"Kalau tidak ada, saya permisi dulu!"


"Nah, tuh kan, sayang. Dengar apa kata dokter tadi. Kamu harus sering-sering makan. Sedikit yang penting rutin ya. Udah enakan sekarang Nah, makan lagi ya" kali ini Andika mengambil beberapa kur dengan jenis yang berbeda dan menyodorkan ke arah istrinya.


"Aku tidak lapar, Mas!" ujar Arisa sambil memasang mka cemberutnya. Dirinya benar-benar tidak suka, dipaksa makan begitu. Entah kenapa, tiba-tiba dirinya menolak semua makanan yang masuk ke dalam tubuhnya, padahal biasanya dia termasuk orang yang jago makan.


******


Author gak bisa tidur nih, jadi akhirnya bisa update satu episode lagi mumpung suasananya lagi tenang. Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman.

__ADS_1


__ADS_2