
Handoko pulang dari rumah Wijaya dengan perasaan senang sekaligus penasaran. Senang karena permohonan bantuan kepada Wijaya untuk meminjam sejumlah besar dana dari Wijaya dikabulkan setelah Handoko menceritakan permasalahan yang menimpa perusahaannya. Namun, penasaran memenuhi dirinya setelah dia bertemu dengan Arisa yang begitu mirip dengan Erina. Apakah ada kemungkinan bahwa Arisa itu adalah putrinya yang telah lama hilang itu, atau lebih tepatnya dikira sudah meninggal.
Flash back on
Handoko sedang sibuk berkutat dengan laporan perusahaannya saat handphonenya berbunyi. Cukup lama dibiarkannya, barulah diangkat karena dirinya mau menyelesaikan pengecekan laporan terakhir.
Betapa terkejutnya saat dia mengangkat panggilan tersebut, terdengar isak tangis istrinya dari seberang.
"Pa, cepat pulang, Pa. Erika hilang..." suara Della di telepon membuat Handoko kaget.
"Apa? Apa maksud mama?" teriak Handoko merasa tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. Dia segera menutup teleponnya setelah mendengarkan penjelasan singkat istrinya dan bergegas pulang ke rumah.
Hatinya tidak tenang dan dia mengebut di jalan supaya cepat sampai ke rumah, hampir saja mobilnya menyenggol mobil yang mau belok di depannya, syukur saja dia bisa mengarahkan setirnya dengan baik.
Sesampainya di rumah, dengan cepat dia berlari menemui istrinya yang sedang menangis di ruang keluarga. Hanya ada Erina di situ.
"Di mana Erika, Ma? Bagaimana mungkin dia bisa hilang?"
"Ini semua kesalahanku, Pa..hiks..." jawab Della masih terisak menangis.
"Tadi pagi, kami sedang bermain di taman depan. Sebelumnya ada, Sari yang ikut menjaga, tetapi karena anak-anak mau minum, aku memintanya untuk masuk ke dalam menyiapkan susu mereka. Lalu, tiba-tiba ada telepon berbunya, aku masuk sebentar untuk mengangkatnya. Saat keluar, Erika sudah hilang Pa. Aku sudah mencari ke mana-mana di sudut rumah ini, namun tidak ketemu." ucap Della menjelaskan.
Dengan cepat Handoko meraih handphonenya dan menelepon polisi untuk melaporkan kejadian kehilangan putrinya itu. Dia kemudian teringat dengan CCTV yang terpasang di bagian depan teras rumah, dengan segera dia menuju ruang khusus yang ada di rumahnya tersebut untuk membuka rekaman CCTV tersebut. Dia berharap ada petunjuk yang bisa didapatkannya dari rekaman tersebut.
Saat rekaman diputar ulang pada waktu kejadian, terlihat Erina dan Erika yang sedang bermain bersama. Tiba-tiba, datang seorang, entah bagaimana dia masuk, apakah mungkin tadi pintu pagar tidak terkunci, langsung mengendong paksa Erika dan membawanya pergi.
__ADS_1
Handoko mencoba memutar ulang rekaman tersebut dan mengatur slow motion agar bisa melihat dengan lebih jelas siapa orang tersebut, namun dia tidak bisa mengenali orang tersebut karena memakai helm dan jaket yang menutupi tubuhnya.
"Sial, aku tidak bisa mengenali orang itu!" gerutu Handoko
"Tunggu dulu, Pa. Coba putar ulang bagian itu!" pinta Della.
"Lihat, perawakan tubuhnya dan sedikit sisi wajah yang terlihat itu. Apakah ini mirip dengan Pak Asman, supir yang papa pecat itu?" ujar Della. Handoko mencoba melihat lebih teliti lagi.
"Iya, sekilas terlihat mirip perawakannya. Apakah mungkin dia pelakunya?" Handoko belum yakin seratus persen dan diapun tidak mau menuduh sebelum ada bukti yang kuat. Dia akan menyerahkan bukti rekaman ini kepada polisi untuk ditelusuri. Dia berharap putrinya akan segera ditemukan. Namun hati kecilnya juga mengatakan, ada kemungkinan bisa saja Asman itu pelakunya, mengingat dia dipecat oleh Handoko karena melakukan kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Apakah mungkin Asman sakit hati dan membalas dendam dengan menculik salah satu putrinya. Hati Handoko berkecamuk memikirkan semua hal tersebut.
Meski sudah melaporkan kepada polisi dan polisi pun sudah turun tangan melakukan pencarian, Handoko tidak tinggal diam, dia mencoba menyebarkan selebaran tentang orang hilang dan menjanjikan hadiah yang besar kepada siapapun yang berhasil menemukan putrinya tersebut.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu bahkan bulan berganti bulan, namun masih belum ada titik terang atas kasus kehilangan putrinya tersebut. Handoko sudah memerintahkan orang suruhannya untuk mencari ke mana-mana dan juga mencari jejak Asman yang juga tiba-tiba hilang bak ditelan bumi. Hingga suatu hari, sebuah surat kabar memuat tentang sebuah kecelakaan bus yang terjadi. Bus tersebut dikabarkan tergelincir dan menerobos pagar pembatas hingga keluar dari jalur dan meledak. Hampir semua penumpang dalam bus tersebut dinyatakan meninggal dan susah dikenali karena sudah terbakar habis.
Betapa mengejutkan, ketika hasil dari identifikasi tersebut menyatakan dua di antara korban penumpang tersebut merupakan orang yang tidak asing bagi Handoko. Sebuah jenazah laki-laki dewasa dikenali bernama Asman berdasarkan kartu identitas yang ditemukannya dan seorang anak perempuan berusia sekitar 3 tahunan yang diyakini itu adalah Erika karena ada kalung liontin emas yang dipakai oleh anak perempuan itu sama dengan yang dipakai oleh Eriak, ditemukan pada mayat anak perempuan tersebut.
Flasback off
Kilasan kejadian masa lalu tiba-tiba terbayang-bayang seperti slide-slide yang muncul bergantian dalam pikiran Handoko saat ini, membuat dia tidak fokus mengendarai mobilnya. Karena itu, dia akhirnya menepikan mobilnya untuk menenangkan dirinya sejenak. Kemudian dia meraih handphonenya untuk menelepon seseorang yang akan dia tugaskan untuk mencari tahu siapa Arisa sebenarnya.
Meski rasanya mustahil, mengingat bukti-buti masa lalu telah membuktikan bahwa Erika sudah meninggal. Namun, tidak ada salahnya dia berharap. Dia bertekad tetap merahasiakan ini dari Della, sampai dia bisa mendapatkan informasi akurat untuk memastikan semua ini.
****
Sementara itu, setelah cukup lama bersantai di rumah orang tuanya, Andika dan Arisa akhirnya pamit pulang.
__ADS_1
"Antarkan aku mall ya, Mas!" pinta Arisa saat di dalam mobil.
"Kamu mau belanja sesuatu?" tanya Andika.
"Iya, aku besok kan sudah masuk kerja pertama kali. Aku baru teringat, kalau diriku tidak memiliki satupun setelan kantor yang bisa kupakai untuk hari pertamaku besok."
"Oh, iya, hampir lupa....tetapi kamu yakin, kamu benar-benar ingin menerima tawaran kerja itu, sayang?"
"Aku yakin, Mas. Biarkan aku mencoba ya!" pinta Arisa.
"Ya sudah... Sekarang kita ke mall ya untuk mencari apa yang kamu butuhkan besok."
"Asyik....Makasih ya, Mas!" ucap Arisa sambil nyosor mencium pipi Andika. Dirinya sudah mulai terbiasa menunjukkan sikap mesranya kepada suaminya itu.
"Kok, cuma sebelah? Sebelah lagi dong!" pinta Andika.
"Sebelah, tunggu nanti kalau sudah dibelikan belanjaaan aku ya hehehe...." canda Arisa sambil mengerdipkan matanya menggoda Andika.
"Huh...." gerutu Andika pura-pura kecewa dan memasang muka cemberut.
Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di mall dan langsung menuju distro pakaian kanntoran, untuk membeli beberapa stel setelan kantor yang cocok dipakai Arisa. Tidak lupa, mereka juga ke bagian sepatu, untuk membeli sepatu kantor yang cocok dipadukan stelan tersebut.
****
Update lagi ya. Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman... Like, komen, rate apalagi vote sangat diharapkan, supaya author semakin semangat untuk menulis.
__ADS_1
Terima kasih buat semua yang sudah mengikuti cerita receh diriku ini ya....