
Mendengar penjelasan dari Rasti yang panjang lebar, sedikit banyak sudah menjawab kecurigaan Johan selama ini. Dia mulai paham dengan situasi yang dialami Arisa, meskipun dia tidak habis pikir kenapa Arisa mau menerima pernikahan ini, kalau dirinya harus berperan sebagai Erina.
"Ngomong-ngomong, kamu siapanya Arisa?" tanya Rasti tiba-tiba.
"Aku? Oh...perkenalkan aku Johan, sahabat Arisa atau lebih tepatnya sahabat yang berharap naik kelas jadi kekasihnya, namun tidak kesampaian...." jawab Johan jujur yang membuat Rasti terbahak seketika itu.
"Hahaha....sepertinya nasib kita sama, tetapi bukankah kita masih punya harapan?" ujar Rasti
"Maksud kamu?"
"Seperti yang kubilang tadi, kalau ini adalah pernikahan yang penuh kepalsuan, bukankah kita mempunyai kesempatan untuk membuat mereka berpisah, tokh mereka tidak saling mencintai kan."
"Benar juga katamu, terus apakah kamu mempunyai suatu rencana?" Johan merasa tertarik. Biar bagaimanapun, dia masih merasa tidak rela Arisa tiba-tiba menikah, meskipun selama ini dia sendiri tahu bagaimana perasaan Arisa, yang selama ini memang menganggap dia hanya sebatas sahabat saja.
"Aku akan memberitahukan kebenaran ini kepada Andika, dan kamu mungkin bisa ikut andil di dalam rencanaku ini." Johan semakin tertarik dengan penawaran Rasti.
"Apa yang bisa aku lakukan?" tanyanya.
"Dekati Arisa, buat dia dekat dengan dirimu, sehingga ketika Andika mengetahui hubungan kalian, dia akan mencampakkan Arisa, apalagi jika dia mengetahui kalau Arisa bukanlah Erina."
"Hmmmm.....masuk akal juga. Oke, aku ikut dalam rencanamu ini."
"Tetapi ingat, apapun yang mau kau perbuat dengan Andika, aku tidak peduli...tetapi jangan sesekali kamu menyakiti Arisa. Aku akan buat perhitungan denganmu jika itu sampai terjadi." ancam Johan terlihat benar-benar serius.
"Iya...ya....kita jalankan peran kita masing-masing. Lagipula, aku tidaklah sejahat itu, sampai menyakiti Arisa secara fisik." ujar Rasti berjanji kepada Johan.
"Syukur kalau begitu. Aku pegang kata-katamu ini."
"Oke, jadi kita deal ya....kalau gitu aku tidak ada urusan lagi denganmu, aku pergi dulu." Rasti langsung beranjak dari kursi dan pergi meninggalkan Johan.
"Hei.....bayar dulu donk minuman yang kau pesan tadi." teriak Johan namun gadis itu pura-pura tidak mendengar dan tetap dengan langkahnya tanpa menoleh ke belakang.
"Sial....dia yang minum, aku yang harus bayar. Siapa juga yang nawarin traktir dia tadi, perasaan tidak ada deh." gerutu Johan dalam hati. Tetapi sekarang dirinya senang, seolah-olah mendapat secerca harapan untuk memperjuangkan hubungannya dengan Arisa. Jika Arisa bisa berpisah dengan Andika, mungkin saja dia masih memiliki kesempatan, pikirnya.
__ADS_1
Johan kemudian membayar ke kasar dan bermaksud kembali menuju kamar ibunya Arisa untuk menemui Arisa. Sesampainya di sana, dia menemukan Arisa masih terduduk di samping tempat ibunya berbaring, namun sepertinya gadis itu sedang terlelap.
Johan melepaskan jaket yang sedang dipakainya dan kemudian menggunakan jaket tersebut untuk menutupi bagian atas tubuh Arisa, karena suhu ruangan tersebut cukup dingin dengan air conditioner yang sedang dinyalakan. Dia tidak bermaksud membangunkan pujaan hatinya itu, tetapi baru saja dia menutupi Arisa dengan jaket, malah membuat gadis itu terbangun.
"Loe sudah bangun?"
"Iya....Loe sudah lama di sini, tumben hari ini tidak kerja?"
"Oh barusan saja nyampe. Iya, hari ini jadwal jatah libur gue, jadi gue nyempatin diri untuk besuk ibumu, sekaligus ingin bertemu denganmu."
"Oh...."
"Ada yang ingin gue tanyakan sama Loe."
"Apa itu?" tanya Arisa.
"Sebenarnya apa alasan Loe menerima lamaran dan menikah dengan pria itu, bukankah Loe tidak mengenalnya. Kita baru pertama kali bertemu dengannya di taman waktu itu kan?" tanya Johan.
"Hiks....hiks...hiks..." mulai terdengar tangisan Arisa.
"Tetapi, bukankah dengan begitu, Loe telah mengorbankan hidup Loe sendiri, Risa. Apakah itu sebanding?"
"Tentu saja sebanding Joh, jika itu apa yang kukorbankan itu bisa menyelamatkan nyawa ibu gue." jawab Arisa seolah tidak merasakan penyesalan atas keputusan yang telah diambilnya.
"Tetapi apakah Loe mau hidup dalam kepalsuan ini,mau sampai kapan Loe akan berperan sebagai Erina."
"Entahlah, mungkin suatu saat Andika akan sadar dan pulih ingatannya, mungkin saat itu juga dia akan mencampakkanku. Apa pun itu, gue rela untuk menerimanya." lanjut Arisa.
"Tapi, gue yang tidak rela, Arisa. Gue tidak rela Loe hidup menderita begini."
"Siapa bilang gue menderita, gue baik-baik saja kok dengan pernikahan gue ini. Andika bersikap baik kepada gue."
"Iya...dia bersikap baik karena belum tahu kebenarannya." ujar Johan mengingatkan posisi Arisa membuat gadis itu menjadi sedih.
__ADS_1
"Kebenaran???? Kebenaran tentang apa?" tiba-tiba saja Andika sudah berdiri di dekat mereka. Entah sejak kapan, dia sudah berada di situ. Arisa dan Johan tidak menyadari kedatangannya.
Ini orang, kenapa hobi sekali muncul mendadak begitu, ngegetin aja. Gerutu Johan dalam hati.
"Bukan apa-apa., hanya obrolan santai saja tentang teman lama kami." jawab Arisa cepat sambil menghapus sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya.
"Kamu menangis sayang? Katakan, siapa yang membuatmu menangis." ujar Andika sambil menatap tajam ke arah Johan. Melihat situasi yang sudah tidak aman baginya, Johan memutuskan untuk segera pamit diri.
"Kalau begitu, gue pamit dulu Erina, sampai ketemu nanti." pamit Johan kepada Arisa tanpa mempedulikan tatapan sinis Andika.
"Hei, tunggu dulu, kamu harus ingat, Erina sudah menjadi istriku sekarang. Jangan sembarangan, mencuri-curi bertemu dengannya, di belakangku. Atau aku akan membuat perhitungan denganmu." ancam Andika mengiringi langkah kepergian Johan.
Terserah kamu saja Tuan, aku tidak takut, karerena aku tidak sedang bertemu dengan Erina, melainkan Arisa.
"Kamu mengapa menangis sayang? Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi." ujar Andika setelah Johan telah berlalu dari hadapan mereka.
"Oh...tidak, mataku tadi hanya kemasukan debu, jadi kelilipan aja." Arisa berbohong menutupi kesedihannya tadi.
"Oh begitu, sini aku lihat mana matanya yang sakit, aku tiup ya." Andika langsung menarik tangan Arisa sehingga tubuh istrinya mendekat bahkan masuk dalam pelukannya.
"Gak....gak....sudah gak sakit kok." jawab Arisa berusaha menghindar. Namun sekali lagi usahanya itu gagal, karena Andika memperat dekapannya itu.
"Sini mana....coba kulihat." mau tidak mau akhirnya Arisa membelalakkan matanya dan bertatapan langsung dengan Andika dengan jarak yang sangat dekat. Mata Andika yang berwarna kecoklatan memiliki daya tarik tersendiri bagi Arisa. Hampir saja dia terhipnotis dengan tatapan mata pria di depannya itu.
Cup...
Sebuah kecupan lembut mendarat sempurna di bibir Arisa, membuat gadis itu semakin merona pipinya. Ingat, gadis tomboi itu belum pernah diperlakukan seromantis ini, jadi tentu saja semua yang sekarang dialaminya ini begitu berkesan bagi dirinya.
"Pipimu jadi kemerahan....haha...." ujar Andika yang menyadari perubahan wajah Arisa membuat gadis itu semakin tersipu malu dan menundukkan kepala tak berani menatap wajah suaminya lagi.
"Ikh...."
"Ayo, kita pulang, hari sudah mulai malam. Tadi habis dari kantor, aku langsung datang untuk menjemputmu." Arisa menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Tunggu, aku pamit dengan ibu dulu ya." Andika menunggu dengan sabar, ketika Arisa sedang berbicara dengan ibunya itu. Barulah setelah itu, mereka pulang ke apartemen mereka.