
Sinar mentari mulai menampakkan diri, mencuri masuk lewat celah-celah tirai jendela yang tidak tertutup rapat. Cukup silau hingga membuat Arisa terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Dalam keadaan setengah terbangun, tetapi masih enggan membuka mata, dia membalikkan badan dan tangannya mulai meraba-raba, hendak memeluk tubuh suaminya yang kekar itu, namun tak didapatinya.
Sisi ranjang di sebelahnya telah kosong menandakan Andika sudah bangun duluan. Andika memang sudah bangun setengah jam yang lalu, bahkan kini dirinya sudah mandi dan sedang berganti pakaian untuk bersiap-siap pergi ke kantor pagi ini.
"Mas!" panggil Arisa.
"Sayang, kamu sudah bangun? tidur saja lagi, kalau masih mengantuk!" ujar Andika, sambil mengancingkan kemejanya.
Dengan sigap, Arisa beranjak dari tempat tidurnya, meraih salah satu dasi yang tersimpan di lemari pakaian Andika. Tentu saja, dipilihnya dasi yang memiliki warna senada dengan kemeja suaminya itu. Dengan cekatan, kemudian dia membantu memakaikan dasi itu kepada suaminya.
Jarak mereka begitu dekat. Kesempatan ini tak disia-siakan Andika, dengan cepat mulutnya nyosor mencium bibirnya istrinya itu Rupanya, ciuman spontan itu mendapatkan balasan yang sebanding. Arisa membalas ciuman suaminya itu dengan cukup agresif, hingga ciuman itu berlangsung cukup lama.
Tidak seperti biasanya, karena biasanya Arisa kebanyakan pasif saat Andika menciumnya, mungkin ini efek film barat yang ditontonnya tadi malam, yang kebetulan menampilkan adegan ciuman yang cukup hot atau ini efek hormon dari kehamilannya ini. Entahlah, tetapi yang pasti, Andika dengan senang hati menerima dan menikmati setiap keagresifan istrinya itu.
Pagi ini, Andika menyiapkan sarapannya sendiri, meski Arisa memaksa ingin menyiapkan sarapan baginya. Dia tidak mengizinkannya, disuruhnya Arisa mandi agar lebih segar, sementara Andika yang menyiapkan sarapan bagi mereka berdua.
Saat Arisa selesai mandi dan keluar dari kamar, dilihatnya Andika sudah standby duduk di meja makan sedang menunggunya.
"Ayo, sarapan!" ajak Andika
"Maaf ya, cuma ini yang bisa kubuat!"
"Tidak apa-apa, Mas!" jawab Arisa sembari menikmati segelas susu hangat dan roti bakar yang telah disiapkan oleh suaminya itu.
"Hari ini, aku akan minta mama datang menemanimu ya, karena ibu mungkin baru akan kembali ke sini nanti sore." ujar Andika.
"Gak perlu, Mas. Aku tidak apa-apa kok sendirian, tidak perlu ditemani. Aku kan bukan anak kecil lagi, Mas!" bantah Arisa.
"Tidak boleh, harus ada yang menemanimu, sayang. Aku tidak akan tenang bekerja nanti kalau kamu sendirian di apartemen."
"Lagipula, kalau ada mama di sini, mama akan membantu memasak untuk makanmu nanti dan memastikan kamu makan dengan baik. Soalnya, kamu ini kan suka malas makan!" lanjut Andika sambil mencubit lembut hidung istrinya itu.
"Mas!" protes Arisa karena dicubit suaminya itu, meski sebenarnya itu tidak menyakitkan.
__ADS_1
"Gimana, kalau Mas aja yang temani aku. Mau ya?" Arisa mencoba tawar menawar dengan suaminya, karena meski sekarang mama Anita sudah bersikap baik kepadanya, dia tetap merasa segan dengan ibu mertuanya itu.
"Kan, aku sudah bolos sehari kemarin sayang. Kamu lupa, bukankah dulu kamu yang suka mengingatkanku agar aku menjadi atasan yang bisa memberi contoh kepada bawahan. Kalau atasannya bolos kerja terus, gimana bisa jadi contoh yang baik buat para karyawan di kantor, sayang?" ucap Andika menjelaskan, meski sebenarnya dia juga ingin menghabiskan waktu seharian dengan istrinya, tetapi hari ini dia mempunyai beberapa janji temu klien yang tidak bisa diundur lagi, karena sudah diundur dari kemarin-kemarin. Jadi, mau tidak mau hari ini dia tetap harus masuk kerja.
"Iya, deh!" jawab Arisa dengan setengah terpaksa, hatinya tak rela ditinggal pergi sama suaminya hari ini. Rasanya, dia ingin berada di dekatnya suaminya terus sepanjang hari ini. Apa daya, Andika mempunyai tanggung jawab pekerjaan yang tidak bisa ditinggal seenaknya Arisa harus mengerti itu.
*****
Setelah Andika berangkat ke kantor, Arisa mencoba mencari kesibukan yang bisa dilakukannya. Dia mencoba merapikan beberapa area dan sudut apartemennya itu. Mumpung dia sedang sendiri, kalau biasa ada Andika, suaminya itu tidak mengizinkan dia melakukan apapun, bahkan pekerjaan ringan sekalipun, padahal dia juga ingin sesekali bisa bergerak melakukan ini itu, hitung-hitung sekalian olahraga baginya.
Ting...Tong..Ting..Tong
Bel apartemen berbunyi, pertanda ada yang datang. Mungkin itu ibu mertuanya, karena pasti sudah ditelepon Andika. Arisa bergegas membuka pintu, karena tidak mau sampai ibu mertuanya itu menunggu lama.
"Mama?" ujar Arisa sedang setengah kaget saat melihat yang berdiri di depan pintu, bukanlah ibu mertuanya, melainkan mama kandungnya, Della.
"Kamu kok kayak kaget aja lihat mama datang? Tidak senang mama datang mengunjungimu, sayang?" tanya Della melihat raut wajah kaget Arisa saat membuka pintu.
"Bukan begitu, Ma. Soalnya..."
"Ups....lupa....masuk Ma...Aku siapin minum buat mama ya!"
"Tidak usah repot-repot, sayang. Mama ke sini bukan untuk bertamu. Mama ingin mengajakmu keluar." ucap Della.
"Keluar, memangnya kita mau ke mana, Ma?"
"Sudah, tidak usah banyak tanya. Pokoknya sekarang kamu ganti pakaianmu. Cepat, mama tunggu ya.. lagipula kamu seharian di apartemen pasti bosan kan, jadi mama mau mengajakmu jalan-jalan."
"Tetapi, Ma...."
Ting...Tong...Ting..Ting...
Bel apartemen berbunyi lagi.
__ADS_1
"Ini siapa lagi yang datang?"
"Sudah kamu ganti baju sana. Biar mama yang bukakan pintunya!" perintah Della. Arisa patuh saja dan segera ke kamar untuk mengganti pakaiannya.
Dipilihnya gaun berwarna cerah, sesuai dengan perasaanya yang sedang ceria hari ini karena dia sudah tidak menyimpan kekesalan dengan suaminya lagi. Tak lupa, dia berdandan secukupnya, agar wajahnya tidak terlihat pucat.
"Aku sudah siap, Ma!" ujar Arisa sembari berjalan keluar dari kamar.
"Mama?" ucap Arisa sedikit kaget saat melihat Della dan Anita sedang duduk mengobrol di ruang tamu. Keduanya kelihatan akrab. Hampir saja, dia melupakan kalau hari ini Andika memang memanggil mama Anita untuk menemaninya.
"Kamu sudah siap, sayang?" tanya Della. Arisa hanya mengangguk.
"Ayo, kita berangkat!" ajak Della sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Ayo!" jawab Anita juga segera beranjak dari tempat duduknya.
"Jadi, kita pergi bertiga?" tanya Arisa.
"Iya, jarang-jarang kan kita bisa keluar bertiga begini, iya kan Jeng?" ujar Della sambil melirik ke arah Anita.
"Iya dong, nanti pakai mobil saja ya, sopirku sudah menunggu di bawah." jawab Anita sambil tersenyum.
Arisa hanya terbengong-bengong saja melihat keakraban kedua wanita paruh baya itu. Padahal seingatnya saat di rumah sakit kemarin, keduanya sempat bersitegang memperebutkan dirinya untuk tinggal dengan mereka.
Tetapi, syukurlah kalau kedua besan itu sudah menjadi akrab. Tentu ini hal yang baik dan tidak perlu dikuatirkan oleh Arisa.
"Kita mau ke mana, Ma?" tanya Arisa sekali lagi karena dirinya masih penasaran mau diajak ke mana.
"Ayo, ikut!" ucap Della dan Anita bersamaan sembari menarik tangan Arisa masing-masing satu sisi, karena Arisa berjalan dengan lambat.
****
Happy reading teman-teman
__ADS_1
Jangan lupa, tinggalkan jejak ya...