Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Cemburu


__ADS_3

Keesokan harinya, Arisa terbangun ketika ibunya sudah berteriak memanggil namanya dari dapur, seperti kebiasaannya dulu saat dirinya belum menikah dengan Andika. Saat dia membuka matanya, dia sudah tidak melihat Andika lagi. Mungkin dia sudah bangun duluan, pikir Arisa. Saat dia berjalan keluar, dia juga tidak melihat Andika di luar. Dirinya baru sadar saat melihat jak dinding di ruang tama. Rupanya waktu sudah menunjukkan pukul 9, tentu saja Andika sudah berangkat ke kantor.


"Andika sudah pergi pukul 7 tadi. Katanya mau kembali ke apartemen untuk bersiap-siap." sahut Dina dari dapur yang melihat gelagat Arisa yang sepertinya mencari suaminya itu.


"Kamu ini gimana sih, jadi istri kok bangunnya lebih siang dari suami..." sindir Dina.


"Huh...ibu, kan semua juga gara-gara ibu." ketus Arisa pelan, supaya tidak kedengaran oleh ibunya.


Saat Arisa masih bermalas-malasan di sofa ruang tamu, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari depan. Arisa segera beranjak dari sofa untuk melihat siapa yang datang. Rupanya seorang kurir yang sedang memegang sebuah amplop coklat di tangannya.


"Ada kiriman atas nama Arisa." ucap kurir tersebut.


"Ya, saya sendiri." jawab Arisa sembari menerima amplop tersebut, lalu menandatangi slip penerimaan tersebut.


Setelah kurir itu pergi, dia segera membuka amplop tersebut karena penasaran apa isinya dan siapa yang mengirimkannya, karena tidak tertulis jelas nama pengirim di amplop tersebut. Saat dia mengeluarkan isi dari amplop tersebut, betapa terkejutnya dia melihat beberapa lembar foto yang tentu saja dia mengenal setiap orang di dalam foto tersebut.


"Siapa yang datang tadi?" tanya Dina sambil berjalan keluar dari daput, membuat Arisa segera memasukkan kembali foto-foto tersebut agar tidak diketahui oleh ibunya.


"Bukan siapa-siapa, hanya kurir yang mengantarkan surat balasan dari perusahaan tempat aku memasukkan lamaran dulu." ujar Arisa berbohong.


"Jadi, gimana, kamu diterima?" tanya Dina bersemangat.


"Tidak Bu, masih sama jawabannya. Diriku masih belum beruntung." jawab Arisa pura-pura tidak bersemangat agar kelihatan meyakinkan.


"Oh, jangan menyerah. Coba lagi terus, siapa tahu nanti ada yang diterima."


"Iya" Arisa kemudian berjalan menuju kamarnya untuk menyimpan amplop tersebut agar tidak diketahui oleh ibunya.


"Awas, jangan balik tidur lagi, cepat mandi sana."


"Iya bu, ini juga mau pergi ambil handuk di kamar." sahut Arisa.


Selesai mandi dan sarapan, Arisa merasa badannya sangat segar dan bersemangat untuk melakukan aktivitasnya hari ini, yang tidak lain hanya nongkrong di depan tv menonton sinetron kesukaannya. Memang apalagi yang bisa dia lakukan sebagai pengangguran sejati. Tidak ada kesibukan lain yang bisa dia lakukan. Namun kali ini, dirinya tidak konsen menyaksikan acara televisi di depannya itu. Pikirannya teralihkan pada foto-toto yang diterimanya tadi pagi.

__ADS_1


Apakah aku harus menanyakan langsung perihal foto tersebut kepada Andika? Atau aku mencari informasi sendiri, atau kuberitahu saja kepada ibu mertuaku. Enak saja, si kuntilanak itu mau coba merebut Andika dariku. Pikir Arisa menimbang-nimbang apa yang akan dilakukan.


Pagi berganti siang, siang berganti sore dan sebentar lagi sore berganti malam. Hari ini, Arisa seharian di rumah, dia tidak ke mana-mana, karena nanti malam sesuai janji Andika, dia akan menjemput Arisa saat pulang dari kantor. Jadi, Arisa tidak mau membuat Andika menunggu atau kuatir kalau dia tidak ada pas suaminya datang menjemput nanti.


Saat Arisa sedang menikmati makan malam dengan ibunya, barulah Andika muncul dan kemudian diajak ibu Arisa untuk makan malam bersama sekalian. Setelah selesai makan malam dan sempat ngobrol santai sebentar, barulah Andika dan Arisa pamit untuk kembali ke apartemen mereka.


Meski merasa sedikit kesal dengan Andika gara-gara foto yang diterimanya tadi pagi itu, Arisa berusaha tidak menunjukkannya kepada Andika. Dia hanya terdiam saja di dalam mobil saat dalam perjalanan menuju apartemen.


"Kamu tidak senang pulang bersamaku ke apartemen, sayang?" tanya Andika.


"Tidak kok." jawab Arisa singkat.


"Terus kok kelihatan cemberut begitu mukanya... kalau cemberut begitu, kan jadi jelek." ucap Andika.


"Akh, masa sih, gak kok, aku tidak cemberut nih...." sahut Arisa sambil menampakkan senyumannya yang terpaksa.


"Aku kangen denganmu, sayang." ucap Andika sambil meraih dan mengenggam tangan Arisa dengan tangan kirinya.


Tidak lama kemudian mereka telah sampai di apartemen mereka. Arisa segera keluar dari mobil duluan tanpa menunggu Andika dan berjalan menuju apartemen mereka. Setelah masuk ke dalamnya, dia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan kemudian berbaring di atas tempat tidurnya, mencoba untuk tidur padahal waktu masih cukup awal untuk tidur. Andika yang melihat gelagat aneh istrinya itu, menjadi bingung dengan sikap istrinya itu.


Dia kemudian ikut berbaring dan memeluk Arisa dari belakang, terus mencoba mencium tengkuk istrinya, namun badan istrinya menggeliat untuk menghindar. Ditepiskannya tangan Andika yang berada di atas pinggulnya. Arisa mencoba bersikap biasa, namun tidak bisa dipungkiri dia sedang kesal dan sulit baginya untuk menutupi perasaannya saat ini.


"Ada apa?" tanya Andika lembut.


"Lagi dapet..." ketus Arisa asal, padahal dia tidak sedang dalam keadaaan kedatangan tamu bulanan.


"Oh ya? Yah....jadi gak bisa dong, malam ini. Padahal aku sudah pengen sekali....." ujar Andika sedikit kecewa.


"Kan bisa sama yang satunya lagi..." cetus Arisa tiba-tiba tanpa sadar, lalu dengan cepat dia menutup mulutnya dengan tangannya sendiri supaya tidak melanjutkan perkataannya.


"Maksudnya?" tanya Andika bingung.


Rasanya Arisa tidak bisa berpura-pura seolah-olah tidak terjadi apa-apa, dia tidak bisa menutupi kegundahan hati ini. Dia kemudian beranjak dari tempat tidurnya dan mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Dilemparkannya amplop tersebut ke hadapan Andika.

__ADS_1


"Apa ini?" tanya Andika bingung


"Lihat saja sendiri!" ketus Arisa. Andika segera membuka amplop tersebut dan melihat isi di dalamnya.


"Oh tidak! ini tidak seperti yang kamu bayangkan, sayang." ucap Andika berusaha menjelaskan.


"Memang kamu tahu apa yang kubayangkan?" tanya Arisa balik.


"Aku tidak mungkin mengkhianatimu, aku sangat mencintaimu. Aku dijebak." lanjut Andika


"Dijebak atau sengaja menjebak diri sendiri, Mas?"


"Tolong percaya sama aku....Coba kamu lihat sendiri foto ini benar-benar, apakah aku dalam keadaan sadar?" Arisa mengambil salah satu foto dari tangan Andika dan mengamati foto itu dengan seksama.


"Gak. Terus?"


"Yah, itu artinya aku sedang tertidur atau mungkin pingsan. Orang tidur kan gak tahu apa yang terjadi. Lagipula, kalau aku memang sedang bermesraan sedang Rasti waktu itu, buat apa difoto coba?"


"Mana ku tahu, untuk kenangan atau untuk pajangan kali?" ketus Arisa.


"Akh, sudahlah. Aku belum bisa percaya 100 persen dengan perkataan Mas, sebelum ada bukti yang memperkuat alibi Mas tadi." ujar Arisa sambil berjalan arah pintu .


"Mau ke mana?" tanya Andika.


"Mau tidur!"


"Kalau mau tidur, kan di sini tempatnya, sayang." ucap Andika sambil menunjuk ke arah tempat diur.


"Aku mau tidur di kamar sebelah."


"Lho, aku tidur sama siapa dong."


"Tuh ada bantal, tidur aja sama bantal sambil pandangin foto-foto tersebut dan bayangin kalau bantal itu adalah Rasti." sahut Arisa meninggalkan Andika di kamar yang terbengong sendiri karena akhirnya malam ini dia tetap harus tidur sendiri lagi meski Arisa sudah balik ke apartemen, nasib.

__ADS_1


__ADS_2