Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Oleh-oleh yang Terlupakan


__ADS_3

Mentari pagi bersinar cerah pagi itu, sinarnya mulai menyeruak masuk melalui celah-celah golden jendela kamar yang tidak tertutup rapat, membuat Arisa terbangun karena silau. Dengan pandangan yang masih samar-samar, dia melihat ke arah jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat. Dia kaget, dengan cepat dia membangunkan Andika yang masih tertidur pulas di sampingnya itu.


"Mas...bangun...sayang!" ucap Arisa sambil mengoyangkan badan Andika namun bukannya bangun, suaminya malah menarik selimut dan semakin larut dalam tidurnya itu.


"Mas harus pergi ke kantor kan hari ini? Ayo, bangun, jangan tidur lagi!" lanjut Arisa, namun masih belum berhasil membangunkan Andika. Arisa lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Andika, awalnya suara masih pelan untuk membangunkan suaminya tersebut, namun makin lama volumenya makin diperkeras.


"Mas, bangun!" teriak Arisa


"Auh......" Andika tiba-tiba terbangun dan langsung dalam kondisi duduk, sambil mengelus-elus telinganya yang terasa pekik mendengar teriakan istirnya barusan. Dia menatap tajam ke arah Arisa seolah-olah sedang marah karena diteriaki pagi-pagi.


"Sudah berani ya? Awas ya...nih, rasain!" ujar Andika lalu tangannya langsung menggelitik badan Arisa yang masih belum berpakaian sama sekali sehingga membuat Arisa meronta-ronta kegelian.


"Sudah....cukup...ampun....ampun...." teriak Arisa memohon Andika untuk menghentikan aksinya itu, karena dirinya sudah tidak tahan tertawa terus, apalagi saat ini dia dalam kondisi ingin membuang air.


"Makanya, jangan macam-macam sama suamimu ini!" balas Andika yang sudah menghentikan aksinya dan menggantinya dengan pelukan erat hingga Arisa tidak bisa berkutik.


"Sudah siang nih... Ayo, mandi sana! Nanti terlambat lho, ke kantornya. Meski perusahaan sendiri, bukankah kamu tetap harus disiplin dan memberi contoh buat para karyawan kan?" ucap Arisa sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Andika.


"Mandi bareng, yuk!" ajak Andika.


"Gak mau! Udah mandi duluan sana, biar cepat!"


"Kalau gak mau, aku juga gak mau melepaskan pelukan ini ya." balas Andika sambil mengeratkan pelukannya tersebut. Mau tidak mau, akhirnya Arisa mengalah dan pasrah saja saat Andika memboyong tubuhnya ke kamar mandi.


"Ingat, tidak ada aktivitas tambahan di dalam ya, Mas sudah terlambat, lho!" ucap Arisa mengingatkan seraya turun dari gendongan Andika setelah mereka telah sampai di dalam kamar mandi.


Karena sudah diingatkan dari awal, maka Andika tidak berani macam-macam saat di dalam kamar mandi, meski dia ingin melakukan hal itu. Namun, dirinya juga membenarkan perkataan istrinya tadi bahwa dia harus menjadi contoh bagi karyawan, jadi dia tidak boleh sering datang terlambat ke kantor, apalagi kalau sampai sering tidak masuk tanpa sebab. Lagipula, hari ini dia berniat ingin bertemu dengan detektif yang telah direferensikan oleh salah satu kolega bisnisnya tadi malam saat dia chat sesaat sebelum tidur.


Arisa memilih untuk menyelesaikan aktivitas mandinya duluan dan segera keluar dari kamar mandi, supaya dirinya bisa aman dari terkaman Andika. Setelah berpakaian, dia segera menyiapkan baju kerja suaminya dan lanjut menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan ala kadarnya dulu. Segelas kopi dan roti selai sudah disiapkan di atas meja makan, saat Andika berjalan keluar dari kamar.


"Sarapan dulu, Mas. Maaf ya, aku cuma bisa siapkan ini kali ini. Habis, kita bangunnya kesiangan sih." ucap Arisa merasa tidak enak sendiri karena hanya bisa menyiapkan sarapan ala kadarnya saja kali ini.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Kan aku sudah kenyang, dengan sarapan sepanjang malam tadi hehehe...."


"Apaan sih, mana bisa kenyang coba... Yang ada menguras tenaga dan membuat jadi lapar kali...." bantah Arisa.


"Iya, tetapi kamu suka kan, sayang?" goda Andika dengan senyum genitnya.


"Ikh...aku suka, tetapi Mas yang doyan kan?" balas Arisa tidak mau kalah.


"Habis, siapa suruh pakai model pakaian begitu tadi malam... Yah, salah sendiri kan." ujar Andika membuat Arisa mengingat kembali betapa konyolnya dia yang terpaksa mengenakan lingerie tembus pandang itu demi menuruti perintah ibunya.


Ini semua gara-gara ibu. Gerutu Arisa dalam hati.


"Hari ini, kamu rencana ke mana, sayang?" tanya Andika.


"Sepertinya, aku tidak ke mana-mana, Mas. Aku mau beres-beres saja, terus istrirahat. Habis, rasanya masih ngantuk deh, gara-gara bergadang tadi malam."


"Ya, sudah deh, kamu baik-baik di apartemen ya. Jangan kecapekan ya beres-beresnya, istirahat saja yang cukup, biar nanti malam kita bisa bertempur lagi." ucap Andika menggoda istrinya lagi.


"Akh, yang benar? Awas lho, jangan nanti malam malah minta lho...." ujar Andika membuat Arisa tersipu malu, karena terlihat jelas sekali kalau tadi malam dia yang meminta duluan meski secara tidak langsung, namun melalui kode pakaian yang dia kenakan tadi malam.


"Udah, cepatkan habiskan sarapannya. Terus berangkat sana. Udah telat lho... Tuh, lihat !" ucap Arisa sengaja mengalihkan pembicaraan sambil mengarahkan pandangannya ke jam dinding yang terpasang di salah satu sisi dinding.


"Ya sudah, aku berangkat dulu ya, sayang!" ucap Andika sambil mencium kening Arisa.


"Hati-hati ya, Mas!"


Setelah kepergian Andika, tinggalah Arisa sendiri di apartemen. Hari ini dia berencana membereskan apartemennya dan barang-barangnya masih dalam koper, belum dikeluarkan semua sejak mereka pulang dari bulan madu di Bali. Setelah mengemas semua barang miliknya duluan, barulah Arisa beralih ke koper Andika. Beberapa baju bersih yang tidak terpakai ditaruhnya kembali pada lemari baju. Setelah mengeluarkan semua baju dalam koper, dia menemukan sebuah kantong besar yang sepertinya berisi banyak barang di dalamnya. Karena penasaran, langsung saja Arisa membuka kantong tersebut, dia melihat ada banyak cendera mata yang pernah dilihatnya saat dia berjalan-jalan dengan Andika mengitari pusat penjualan cendera mata di Bali beberapa waktu yang lalu. Saat itu, dia memang melihat menenteng sekantong besar barang belanjaan, namun sesampai di hotel, dia lupa menanyakan kembali.


"Banyak sekali cendera mata yang dibeli Mas Dika nih... Memangnya mau dikasih kepada siapa saja?" ucap Arisa pada dirinya. Dia lalu mengeluarkan barang-barang tersebut lalu menyusunnya dengan rapi di atas lantai, lalu memotret barang-barang tersebut.


"Akh, lebih baik aku tanyakan saja ke Mas Dika, mau diberikan kepada siapa saja semua ini, mungkin saja untuk karyawan-karyawan di kantornya juga. Biar aku bisa bantu pilah-pilahnya nanti." ucap Arisa lalu mengirim pesan kepada Andika.

__ADS_1


Arisa : Sudah sampai di kantor, Mas?


Tidak lama kemudian, barulah handphone Arisa berderit kembali tanda ada pesan yang masuk.


Andika : Baru saja sampai, sayang. Kenapa? kangen ya?


Arisa : Ikh, siapa juga yang kangen... Ini aku mau tanya... (disertai foto)


Andika : Kenapa?


Arisa : Banyak sekali yang Mas beli nih, untuk siapa saja? Biar aku bantu pilahkan sekalian.


Andika : Itu semua untukmu, sayang...


Arisa : Lho, kok untuk aku semua, Mas. Yang namanya oleh-oleh, ya harus dibagi-bagi dong.


Andika : Ya sudah, itu semua untukmu, terserah kamu mau bagi ke siapa saja ya.


Arisa : Oke deh, Bos.


Andika : Terus, mana dong ciuman terima kasihnya??hehehe...


Arisa : Tunggu pulang nanti ya, Mas. Sabar.....


Andika : Maunya sekarang.


Arisa : Udah akh, aku mau lanjutin beres-beres lagi. Selamat bekerja ya, Mas. Bye...


Arisa kemudian melanjutkan kegiatan beres-beresnya dan memilah cendera mata yang terhampar di lantai kamarnya. Beberapa sudah dia pilah untuk diberikan kepada ibunya. Sebagaian lagi dia sudah pisahkan untuk diberikan kepada Tante Ririn dan teman-teman kerjanya di cafe dulu. Tunggu dulu, bukankah dia juga harus memberikan kepada mertuanya, dia mencoba memilih cendera mata yang cocok untuk diberikan kepada kedua mertuanya itu. Paling tidak dia mau menunjukkan rasa hormatnya kepada orang tua Andika tersebut.


"Hmm....minggu ini, mungkin aku ajak mas Dika saja untuk berkunjung ke rumah papa dan mama." Sudah cukup lama juga, mereka tidak berkunjung ke rumah orang tua Andika. Arisa sendiri masih merasa canggung dengan kedua orang Andika, jadi dia belum berani datang berkunjung sendirian ke sana tanpa ditemani oleh suaminya.

__ADS_1


__ADS_2