Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Undangan Reuni


__ADS_3

Setelah melewati malam yang indah, pagi ini Andika benar-benar bersemangat untuk memulai aktivitasnya di hari yang baru ini. Ibarat handphone yang habis dicharger, baterai Andika lagi full saat ini, sehingga saat dia berjalan memasuki ruang kantornya, dia bersenandung kecil membuat para staf dan karyawan bingung melihat kelakuan bosnya itu.


"Kamu baru sampai, Dika?" Sapa Wijaya yang kebetulan juga baru sampai ke perusahaan.


"Eh, papa, Selamat pagi Pa, Iya nih, barusan juga Dika sampai."


"Kelihatannya kamu begitu senang hari ini, tumben?"


"Ada deh...." jawab Andika langsung terus menuju ruang kerjanya yang bersebelahan dengan kantor Wijaya.


Andika memulai aktivitas paginya dengan melanjutkan mempelajari beberapa proposal tender yang akan diajukan oleh perusahaannya itu sebelum ditandatangani. Dia terlihat begitu serius mempelajari semua dokumen tersebut, maklum karena semuanya terasa baru baginya setelah dia mengalami lupa ingatan, sehingga mau tidak mau dia harus belajar dari awal lagi.


Tok...tok...tok...


"Masuk!" sahut Andika dengan matanya masih tertuju pada dokumen di depannya.


"Permisi, Pak!" sapa Mita, sekretarisnya itu sambil membawa sebuah amplop.


"Oh kamu, Mita... Ada apa?"


"Ini Pak, tadi ada kiriman surat, dari SMA Adiguna Jakarta." jawab Mita sambil membaca nama instansi yang tertera pada surat tersebut sembari menyerahkan surat tersebut kepada bosnya.


"Dari SMA?" Andika mengernyitkan dahinya, dia sendiri lupa dia dulu bersekolah di SMA mana, apa mungkin di SMA Adiguna tersebut.


"Saya permisi dulu, Pak." pamit Minta


"Oke, silakan!" Andika segera membuka amplop tersebut, untuk mengetahui apa isinya. Sebuah undangan dikeluarkannya dari amplop tersebut. Setelah dia membaca dengan teliti, rupanya itu adalah undangan reuni akbar SMA Adiguna yang ditujukan kepada dirinya. Jadi benar, dia adalah alumni dari SMA Adiguna tersebut.


Sebenarnya Andika agak malas untuk menghadiri kegiatan reuni yang akan diadakan minggu depan tersebut, tetapi ketika dia membuka buku agenda pribadinya, tiba-tiba tanpa sengaja dia menjatuhkan foto-foto misterius yang diterimanya kemarin.

__ADS_1


Kenapa ini bisa kebetulan sekali? guman Andika dalam hati.


Dia masih penasaran dengan foto-foto yang diterimanya kemarin, dan kebetulan beberapa foto di antaranya menunjukkan momen saat dia masih SMA bersama gadis tersebut. Itu terlihat dari seragam yang mereka kenakan saat itu.


Mungkin tidak ada salahnya, aku menghadiri acara reuni ini. Siapa tahu bisa bertemu teman-teman lama, yang mungkin bisa membantukan untuk mengingat masa laluku dan menyembuhkan lupa ingatanku ini. Akh, kenapa aku bisa melupakan semuanya, satu-satunya yang kuingat ketika kuterbangun dulu hanyalah Erina.


Mengingat nama Erina, membuat dia tersenyum senang sendiri teringat apa yang dilakukannya bersama istrinya tadi malam. Akhirnya, apa yang dia dambakan kesampaian juga.


Kring....kring...kring


Tiba-tiba telepon di ruangan Andika berbunyi


"Andika...." sahut papa di telepon dari seberang ruangan


"Iya, ada apa, Pa?"


"Oh, tentu saja pa...." Wijaya kemudian menutup teleponnya.


Waktu begitu cepat berlalu bagi orang yang lagi bersemangat bekerja, termasuk bagi Andika yang hari ini memang lagi bersemangat sejak dari pagi tadi. Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan jam makan siang, itu artinya dia akan berangkat bersama papanya menemui klien penting, sekalian makan siang di resto tersebut.


"Kamu sudah siap, Dika. Ayo, kita berangkat!" baru saja Andika bermaksud menemui papanya di ruangan sebelah, rupanya papanya sudah duluan berdiri di depan pintu ruangannya.


"Iya, mari kita jalan, Pa." Mereka pun segera menuju mobil Wijaya, yang sudah ada supir standby menunggu mereka.


"Klien kita kali ini sangat penting, Dika. Kalau kita berhasil menjalin kerja sama dengan perusahaan mereka, maka akan mendatangkan banyak keuntungan bagi perusahaan kita." Wijaya membuka obrolan saat mereka di dalam perjalanan menuju resto XS.


Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di resto XS. Mereka segera menuju ruang privat yang telah dibooking untuk pertemuan mereka. Di dalamnya, sudah menunggu beberapa orang di meja makan bundar tersebut. Awalnya, Andika berpikir bahwa kliennya adalah seorang bapak-bapak seperti papanya itu, tetapi rupanya dia salah, seorang gadis cantik spontan memperkenalkan diri ketika Andika dan Wijaya memasuki ruangan tersebut.


"Perkenalkan saya Michella, direktur perusahaan YY yang akan menjalin kerjasama dengan perusahaan bapak....." sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Wijaya.

__ADS_1


"Wijaya Raharsyah." sahut Wijaya seraya memperkenalkan diri.


"Dan ini?" tanya Michella mengarahkan pandangannya ke pria tampan di samping wijaya.


"Perkenalkan ini putra saya, pewaris tunggal perusahaan saya, Andika Raharsyah."


"Saya Michella." sapa gadis itu dengan ramah dan menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Andika. Siapa pun yang melihatnya, tentu akan bersepakat bahwa gadis itu memiliki daya tarik tersendiri yang akan membuat para pria terkesima akan kecantikan dan keanggunannya itu, termasuk Andika. Namun cepat, dia mengenyahkan pikiran itu karena dia masih mengingat jelas statusnya yang bukan pria lajang lagi.


"Silakan duduk, mari kita mulai..!" Kemudian pembicaraan dikuasai oleh Wijaya yang memaparkan tawaran kerja sama antara kedua perusahaan tersebut. Cukup lama, awalnya Andika menyimak dengan baik, namun lama kelamaan pikirannya malah beralih memikirkan istrinya.


"Bukankah memang seharusnya begitu, bagaimana menurut Andika Pak Andika? Anda juga setuju , Andika?" pertanyaan Michella yang tiba-tiba sembari mengerdipkan matanya membuyarkan lamunan Andika.


"Oh, iya...Tentu saja." jawab Andika asal, padahal dia juga tidak tahu jelas apa yang ditanyakan.


"Oke, saya pikir kita telah mendapatkan kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak. Saya harap kerja sama kita dapat berjalan dengan lancar. Mari kita tanda tangani dokumen ini sehingga semuanya akan selesai lebih cepat." saran Michella.


Setelah, Michella dan Wijaya menandatangi dokumen tersebut, barulah mereka memulai makan siang mereka. Sesekali Michella memandang ke arah Andika, seolah-olah ada yang aneh dengan pria tersebut. Namun, Andika tidak menyadari kalau dirinya sedang diperhatikan. Dirinya asyik melahap makanan yang di depannya karena memang dia sudah lapar sedari tadi. Wanita itu sepertinya tertarik dengan ketampanan Andika yang memang menawan hati itu.


Selesai pertemuan penting itu, Wijaya dan Andika pun kembali ke perusahaan mereka.


"Ingat, nantinya kamu yang akan menghandle kerja sama perusahaan kita dengan perusahaan Nona Michella ya." ujar Wijaya saat mereka berjalan menuju ke ruangan mereka masing-masing.


"Iya, Pa..."


"Kamu pelajari baik-baik dokumen ini. Papa sudah tidak sabar lagi untuk kembali pensiun, santai menikmati masa tua papa. Kamu hilang ingatannya jangan kelamaan, Dika."


"Papa nih, memang bisa diatur hilang ingatannya mau berapa lama." balas Andika.


"Iya, siapa tahu aja....Udah, papa mau ke ruangan papa dulu, jangan lupa pelajari dokumen tersebut." Wijaya mengingatkan Andika sembari membuka pintu ruang kerjanya. Andika pun melanjutkan aktivitas pekerjaannya siang itu sampai sore menjelang malam.

__ADS_1


__ADS_2