Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Makan Malam Romantis


__ADS_3

Ada sedikit perasaan bersalah menyeruak dalam hati Andika, meskipun dalam hati kecilnya dia merasa yakin kalau dia tidak melakukan hal-hal di luar batas dengan Rasti tadi malam, tetapi karena dia tidak bisa mengingat jelas apa yang telah terjadi tadi malam membuat dirinya dipenuhi kebimbangan.


Malam ini adalah malam terakhir Andika dan Arisa berada di Bali, karena besok mereka akan terbang kembali ke Jakarta, lebih cepat dari rencana mereka sebelumnya.


"Tolong disiapkan semuanya dengan baik." perintah Andika di telepon kepada manajer hotel sesaat sebelum Arisa terbangun.


"Sudah bangun sayang?" sapa Andika sambil mencium kening istrinya.


"Hah....sudah sore ya, aku tertidur cukup lama rupanya." ucap Arisa saat melihat jam yang terpasang di dinding.


"Tidak apa-apa, kalau kamu masih capek, istirahat saja. Kumpulin tenaga untuk kita berolahraga lagi nanti malam ya." goda Andika sambil tersenyum yang kemudian segera disambut dengan cubitan Arisa pada pinggangnya.


"Gak mau lagi, aku benar-benar tidak mampu lagi." bantah Arisa cepat. Dia memang benar-benar merasakan kelelahan yang luar biasa, setelah aktivitas mereka sepanjang siang tadi.


"Kalau tidak mau malam ini, berarti besok malam aku mendapat jatah dua kali kalau kita sudah sampai di apartemen besok malam ya."


"Gak mau!" ujar Arisa sambil memelototin suaminya itu dengan tatapan tajam.


"Aku mandi sekarang, kamu mau ikut sayang?" tanya Andika


"Gak mau!" ucap Arisa cepat, dia tidak mau kejadian tadi siang terulang lagi, bisa-bisa dia benar-benar tidak memiliki sisa tenaga untuk penerbangan pulang besok.


"Benaran nih? Aku mandiin deh..."


"Gak mau!" teriak Arisa sambil melemparkan bantalnya ke arah Andika membuat Andika segera berlari masuk ke dalam kamar mandi

__ADS_1


Enak aja, nanti bukannya dimandiin, pasti diriku dikerjain di dalam.


Sesaat kemudian, Andika pun menyelesaikan kegiatan mandinya dan telah berpakaian rapi.


"Kamu mau ke mana, Mas?' tanya Arisa penasaran, karena setahunya malam ini suaminya tidak memiliki jadwal acara atau pertemuan dengan siapapun.


"Salah pertanyaan, harusnya kita mau ke mana, sayang?"


"Hmm....memangnya kita mau ke mana malam ini?"


"Udah sana....cepat kamu pergi mandi, jangan lupa nanti pakai gaun ini dan dandan yang cantik ya." ujar Andika sambil menyerahkan sebuah kantong baju berisi gaun yang dia beli tanpa sepengetahuan Arisa saat mereka berjalan-jalan mencari oleh-oleh kemarin.


Arisa segera beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Tidak perlu waktu lama, dia pun keluar dari kamar mandi dan segera mengenakan gaun yang diberikan Andika tadi.


"Jangan melihat ke sini!" teriak Arisa merasa risih karena ditatap oleh Andika dari tadi saat dia hendak mengenakan gaun tersebut.


"Aku malu, udah lihat ke arah sana saja....atau mas tunggu aja di balkon sana!" usir Arisa.


"Hehehe....untuk apa malu, tokh bukankah biasanya aku juga sudah lihat semuanya." ucap Andika santai.


"Tapi ini lain....kalau yang itu, kita sama-sama dalam kondisi seperti itu, kalau yang ini kamunya udah berpakaian rapi, akunya yang.....Akh....pokoknya aku gak mau memakai gaun ini kalau dilihatin begitu." ketus Arisa beralasan, sehingga membuat Andika mengalah dan berjalan ke luar ke balkon, duduk menunggu di sana sampai istrinya selesai mengenakan pakaiannya.


Ada-ada saja.


Saat Andika berjalan kembali masuk ke dalam kamar, Arisa sudah selesai mengenakan gaunnya dan sedang merias dirinya di depan cermin sekarang. Tidak perlu waktu lama Arisa berdandan, memang tidak banyak yang dia poles, hanya riasan sederhana saja, karena dirinya hanya mampu berdandan secara sederhana, belum benar-benar ahli. Tetapi dengan riasan sederhana saja itu sudah membuat dirinya terlihat cantik. Apalagi ketika dia berdiri dan melihat pantulan dirinya di cermin, gaun itu benar-benar cocok di badannya. Syukurlah, Andika tidak salah membeli.

__ADS_1


Setelah keduanya siap, Andika pun mengajak Arisa menuju resto hotel yang menyatu dengan kolam renang hotel tersebut. Namun saat mereka berjalan memasuki resto tersebut, hanya bagian resto dalam yang terlihat dikunjungi beberapa pengunjung, sedangkan bagian resto luar yang berada di dekat kolam renang, tidak ada orang sama sekali.


Andika mengajak Arisa berjalan mendekati kolam renang tersebut. Betapa senangnya Arisa, ketika melihat lilin-lilin yang menyala tersebar di seluruh area kolam renang tersebut, sungguh indah. Lalu mereka berjalan ke sebuah meja yang telah disediakan di situ. Andika segera menarik kursi untuk mempersilakan Arisa duduk, barulah kemudian dia duduk di depan istrinya itu.


Sekuntum bunga mawar telah tersedia di atas meja, Andika memberikan kepada Arisa. Malam ini mereka akan menikmati makan malam candle light mereka sambil memandangi awan cerah yang bertaburan kerlap-kerlap bintang malam itu. Khusus malam ini, Andika memang sengaja membooking area resto bagian luar ini agar mereka bisa menikmati makan malam tanpa gangguan. Itulah sebabnya, resto terlihat begitu sepi, hanya bagian dalam saja yang ada pengunjungnya.


Andika sengaja memilih makan malam tetap di hotel ini, supaya istrinya tidak kecapekan jika harus mengajaknya ke luar lagi karena jadwal penerbangan mereka besok cukup awal. Meski mereka hanya makan malam di hotel saja, itu sudah membuat Arisa merasa cukup senang, apalagi tanpa sepengetahuannya Andika telah mempersiapkan kejutan kecil ini untuk dirinya. Akh, dirinya benar-benar merasa dicintai. Alangkah beruntungnya, Erina yang begitu dicintai oleh Andika, pikir Arisa miris karena menyadari dirinya bukanlah Erina.


"Terima kasih ya, kamu sudah mempersiapkan semua ini, mas." ucap Arisa tulus.


"Gak kok, bukan aku yang mempersiapkannya." ujar Andika membuat Arisa mengernyitkan dahinya.


"Mereka yang mempersiapkannya, aku cuma menyuruh saja." lanjut Andika sambil menunjuk ke arah pelayan-pelayan yang sedang melayani pengunjung resto bagian dalam.


"Mau siapa yang mempersiapkannya, pokoknya aku senang malam ini, apalagi sekarang aku benar-benar lapar, tahu." Andika segera memberi kode kepada salah satu pelayan yang telah standby di dekat mereka, untuk segera membawakan makanan yang telah dipesannya sebelumnya.


"Maaf ya." ucap Andika.


"Lho, kok minta maaf?"


"Maaf, karena malam ini aku hanya bisa mengajakmu makan malam di sini." jawab Andika.


"Ini saja, sudah lebih dari cukup. Lagipula, mau makan di mana pun sama saja, yang penting sama kamu dan perutku kenyang, itu sudah cukup untukku hahaha...." ucap Arisa santai sambil meneguk minumannya.


Merekapun melanjutkan makan malam mereka dan sesekali mengobrol santai, terlihat tawa bahagia dari Andika dan Arisa. Sementara itu, di salah satu sudut resto bagian dalam, seorang wanita sedang kesal karena dilarang oleh pelayan untuk memilih meja di area resto bagian luar sekitaran kolam renang. Saat dia tahu alasannya, dia bertambah kesal, apalagi ketika dilihatnya orang yang membooking area resto luar itu adalah orang yang dikenalnya. Michella menggerutu dalam hatinya melihat kemesraan Andika dan Arisa dari kejauhan.

__ADS_1


Awas ya kamu Arisa, harusnya aku yang lebih pantas mendampingi Andika, Aku akan merebut posisimu itu, lihat saja nanti.


Michella tersenyum-senyum sendiri membayangkan kalau dia berhasil menyingkirkan Arisa dan menggantikan posisinya sebagai istri Andika. Baginya, itu bukan hal yang sulit, mengingat perusahaan papanya bekerja sama dengan perusahaan Andika, jadi dia mempunyai kesempatan untuk mendekati Andika. Apalagi dirinya merasa lebih cantik dan lebih hebat segala-galanya dari Arisa yang tidak ada apa-apanya jika disandingkan dengan dia.


__ADS_2