Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Bertemu Rasti lagi


__ADS_3

Arisa baru bersiap-siap pulang setelah membereskan beberapa barang yang akan dibawanya karena ini adalah hari terakhirnya bekerja, saat panggilan telepon Andika masuk. Dengan sedikit terpaksa, Arisa menjawab panggilan telepon dari suaminya itu yang mengabarkan kalau Andika sudah menunggu di bawah.


Sebenarnya, dia masih marah dengan Andika. Pikirannya dipenuhi dengan prasangka buruk hubungan Andika dan Rasti. Siapa lagi yang dimaksud Rasti, kalau bukan suaminya, mengenai siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Rasti seorang publik figur, tidak mungkin dia berani senekat itu mengarang-ngarang cerita mengenai kehamilan atau pernikahan rahasiannya. Kalau misalnya itu adalah sebuah kebohongan, pasti itu akan berdampak buruk pada karirnya Jadi, tidak mungkin Rasti berbohong saat diwawancarai kemarin, pikir Arisa.


Dengan langkah malas, Arisa berjalan menuju mobil Andika.


"Jadi, kamu sudah benar-benar berhenti bekerja kan, sayang?" tanya Andika sekadar memastikan, meski dia bisa melihat sendiri kalau istrinya sedang membawa sekotak barang dalam kardus berukuran sedang saat ini. Arisa hanya mengangguk. Seperti dia masih mau melakukan aksi mogok bicara kepada suaminya itu.


"Malam ini, kamu bersiap-siap ya, sayang. Kita akan makan malam di luar!" Sebelumnya Andika sudah mengabari ibu mertuanya agar tidak menyiapkan makan malam bagi mereka karena mereka akan makan di luar.


"Malas!" ketus Arisa singkat tanpa memandang sedikitpun ke arah suaminya itu. Dirinya sengaja menoleh ke arah jendela samping dari tadi.


"Sayang, aku mohon, percayalah kepadaku! Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan Rasti. Kalaupun dia benar hamil saat ini, pasti itu bukan anakku, sayang. Aku berani sumpah akan hal itu." ucap Andika mencoba meyakinkan istrinya sekali lagi.


"Aku tidak akan percaya, sebelum kamu membuktikan kepadaku, Mas!"


"Lalu, apa yang kamu mau aku lakukan sayang?" tanya Andika.


"Aku mau dengar dari mulut Rasti sendiri, kalau yang telah menikahinya itu bukan kamu, Mas. Dan anak yang sedang dikandungnya itu bukan anakmu." jawab Arisa.


Andika bingung sejenak, apakah maksudnya dia harus menghubungi Rasti, lalu memohon-mohon kepadanya untuk menjelaskan kebenarannya kepada istrinya. Akh, dia paling malas berurusan dengan wanita itu. Wanita yang pernah menjadi masa lalu menyakitkan baginya.


"Tetapi...bagaimana caranya, sayang?


"Pokoknya, aku tidak mau tahu caranya. Mas pikirkan sendiri saja." ketus Arisa.


Akh, kenapa hubungan mereka jadi terganggu gara-gara kehamilan Rasti. Andika menggerutu dalam hati. Seharusnya, ini menjadi masa-masa yang membahagiakan bagi dirinya dan istrinya, karena saat ini Arisa sedang mengandung buah cinta mereka.


"Jadi, bagaimana? kita masih jadi ya, makan malamnya? Aku sudah pesanin ibu lho, tidak perlu menyiapkan makan malam untuk kita." Mendengar hal itu, mau tidak mau Arisa mengiyakan ajakan suaminya untuk makan malam di luar.

__ADS_1


Dina sedang menonton sinetron kesukaannya saat anak dan menantunya sampai di apartemen. Kedua wajah pasangan suami istri tersebut masih tampak sama seperti tadi pagi, masih sama tegangnya. Sepertinya masalah mereka masih belum selesai. Sebenarnya, masalah apa sih yang terjadi di antara mereka berdua ini. Dina bertanya-tanya dalam hati.


Satu jam kemudian, kedua keluar bersamaan dari kamar dan telah berpakaian rapi. Dina senang melihat Arisa dan Andika akan kelaur bersama, itu berarti mungkin mereka sudah tidak saling marahan lagi.


"Kami pergi dulu ya, Bu!" pamit Andika.


"Iya, hati-hati ya. Selamat menikmati makan malam kalian!" balas Dina.


"Pergi ya, Bu!" ucap Arisa.


****


Mereka sampai di sebuah resto yang menawarkan nuansa romantis dengan fasilitas kolam di tengah yang dihiasi lilin-lilin kecil bertabur bunga.


Andika sengaja memilih tempat itu, supaya bisa meluluhkan hati Arisa, paling tidak sedikit saja. Bahkan, Andika sudah membooking seorang pemain biola dan penyanyi untuk menyanyikan beberapa lagu menemani acara makan malam mereka.


Setelah pemain biola dan penyanyi tersebut menyanyikan beberapa lagu, Andika mempersilakan mereka pergi supaya dia memiliki waktu privasi dengan istrinya sambil menikmati hidangan makan malam mereka.


Arisa terlihat tidak bersemangat untuk memakan hidangan yang tersedia di depannya itu.


"Apakah makanannya tidak enak? Apa mau aku pesankan yang lain lagi, sayang?" tanya Andika melihat Arisa yang tidak bersemangat makan. Arisa hanya menggelengkan kepalanya. Sebenarnya, dirinya sedang menahan mual. Entah kenapa, dirinya mulai merasa mual-mual lagi saat makan, padahal tadi siang ketika makan siang dengan Alex, dia merasa baik-baik saja.


"Perutku terasa mual. Aku ke toilet sebentar!" ujar Arisa


"Apa perlu aku temani?"


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri!" Arisa langsung beranjak dari kursi dan berjalan menuju toilet.


Sesampainya di toilet, Arisa bergegas menuju salah satu ruang toilet yang masih kosong, karena dirinya ingin muntah. Namun, tak banyak yang dikeluarkan dari perutnya, hanya sedikit saja yang dimuntahkannya.

__ADS_1


Dia kemudian keluar dan berdiri di depan wastafel dan menatap dirinya di cermin yang terlihat sedikit kacau setelah habis muntah-muntah tadi. Dia mencoba merapikan penampilannya.


Namun, tiba-tiba dari cermin, Arisa melihat seseorang yang sangat familiar berjalan masuk. Wanita itu juga memandang ke arahnya.


"Hei, kebetulan sekali. Kita bertemu di sini. Bagaimana kabarmu? Pasti tidak sebaik kabarku ya? kasihan..." sindir Rasti karena melihat wajah Arisa yang sedikit pucat dan penampilan yang sedikit kacau


"Apa maksudmu?" tanya Arisa geram.


"Hahaha.....pasti kamu sudah mendengar beritanya kan? Aku sedang hamil sekarang." ucap Rasti santai sambil melakukan gerakan perutnya yang masih terlihat rata.


"Dan kamu pasti bisa menebak kan siapa ayah dari anak yang kukandung ini? hahahaha..." perkataan Rasti semakin membuat Arisa geram.


"Katakan kepadaku, kalau ini hanya karanganmu saja. Tidak mungkin, Andika melakukan hal itu denganmu. Tidak mungkin dia berselingkuh dariku. Tidak...!" ujar Arisa.


"Kalau soal itu, kamu tanyakan saja padanya! Sudah ya, aku mau keluar dulu. Dah....." ucap Rasti setelah merapikan sekilas dandanannya. Asia berjalan penuh dengan penuh kemenangan karena sepertinya dia berhasil membuat Arisa percaya kalau dirinya mengandung anak Andika.


Arisa berjalan dengan lesu, kembali ke meja di mana Andika sedang menunggunya. Saat dia berjalan, dia melewati meja Rasti dan melihat Rasti sedang makan malam dengan seorang laki-laki. Kalau memang Rasti mempunyai hubungan dengan Andika, bagaimana mungkin dia dengan makan dengan tenang di tempat ini, tentu dia tahu kalau Andika juga pasti ada di sini, pikir Arisa sedikit curiga.


Tidak, aku tidak boleh percaya seratus persen dengan perkataannya itu tadi. Mungkin saja dia berkata bohong.


Hati nurani Arisa sedang berkecamuk, satu sisi dia tidak ingin percaya apa yang dikatakan Rasti tadi, tetapi satu sisi dia menaruh curiga dengan Andika.


Tadinya, Arisa berpikir dengan mendengar sendiri dari mulut Rasti bahwa wanita itu tidak sedang hamil anak Andika, akan membuatnya tenang. Namun, yang didengarnya malah kebalikannya, hatinya semakin kacau dan bimbang, kalau-kalau memang itu sebenarnya yang terjadi. Apakah dia akan sanggup menerima hal itu?


*****


Happy reading ya teman-teman


Jangan lupa, tinggalkan jejak ya, like and komen ya.

__ADS_1


__ADS_2