
Selesai makan siang dan setelah bersantai di ruang keluarga beberapa saat, barulah Andika dan istrinya itu berpamitan kepada kedua orang tuanya itu dan berniat segera menuju apartemen yang telah disiapkan oleh Wijaya.
Hari itu, Andika berencana membereskan barang-barangnya yang sebelumnya memang sudah dipindahkan ke aparteman tersebut, tetapi masih dalam kotak. Sedangkan barang Arisa sendiri masih ada di rumahnya. Jadi, rencananya mungkin setelah menjenguk ibunya di rumah sakit, Arisa akan kembali ke rumahnya untuk mengambil barang-barangnya yang sekiranya mau dibawa.
Setelah menerobos kemacetan jalan di siang itu, sekitar satu jam kemudian, sampailah mereka di apartemen baru mereka yang terletak di lantai 10. Mereka segera menuju aparteman tersebut, dan ketika mereka masuk ke dalamnya, Arisa begitu takjub melihat apartemen yang luas itu lengkap dengan properti mewah di dalamnya. Apartemen tersebut sendiri memiliki 2 kamar, dengan ruang santai yang tertata begitu apik dan dapur dengan kitchen set yang berkonsep minimalis. Tentu saja, semua perlengkapan masak sudah tersedia lengkap di sana. Selama ini, Arisa tidak pernah membayangkan akan tinggal di tempat semewah ini, bisa tinggal di rumahnya yang sekarang dia tempati di tengah pemukiman agak tergolong agak kumuh itu aja, dia sudah bersyukur sekali.
Andai saja dia memang menikah dengan laki-laki yang mencintai dirinya yang sebenarnya, mungkin dia akan senang sekali, tetapi sekali lagi dia menyadari bahwa laki-laki yang menjadi suaminya ini hanya mencintai Erina, bukan dirinya Arisa. Dirinya hanya beruntung saja, kebetulan memiliki wajah yang mirip dengan Erina, sehingga dia menikah dengan Andika. Pikiran itu membuat tersadar agar tidak terlalu berharap bisa memiliki kebahagian sebagaimana mestinya.
Siapa yang akan tahu, apa yang terjadi nanti, jika suatu saat Andika akan mengingat semuanya, dan mengetahui bahwa dia bukan Erina. Mungkin Andika akan mencampakkannya dan sangat membencinya. Akh....memikirkan itu membuat Arisa menjadi sedih tak bersemangat meskipun sekarang dia bisa menikmati kemewahan ini.
"Kamu melamun lagi?" tanya Andika yang tiba-tiba, menyadarkan Arisa yang sudah sibuk dengan pikiran kalutnya itu.
"Hari ini kita akan mengatur dulu barang-barang kita, baru nanti kita ke rumah sakit ya..." Arisa sedikit kecewa mendengarnya, dia berpikir setelah berkunjung ke tempat ini, dia bisa langsung ke rumah sakit, tetapi nyatanya dia harus membantu Andika untuk mengatur barang-barang yang ada di dalam kotak-kotak, yang teronggok di ruang santai saat ini. Ingin rasanya dia menolak, tetapi dia pun tidak tega membiarkan Andika untuk mengatur semuanya sendirian, karena cukup banyak kotak di sana menunggu untuk diatur.
Meski agak malas, akhirnya dia membantu Andika membuka kotak-kotak tersebut, mengeluarkan barang-barang yang ada di dalamnya dan menaruh pada tempatnya yang sesuai, sambil sesekali dia bertanya kepada Andika, jika dia bingung hendak di taruh ke mana barang-barang tersebut.
Saat dia sibuk mengeluarkan beberapa barang Andika dari kotak tersebut, Arisa menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah foto dengan pigura kecil, orang di dalam foto itulah yang membuatnya tertarik. Bagaimana tidak, dia yakin sekali laki-laki yang ada di dalam foto tersebut adalah Andika, dan gadis di sampingnya itu, benar-benar mirip dengan mukanya. Apakah dia yang namanya Erina? Pantas saja, Andika bahkan kedua orang tuanya mengenalinya sebagai Erina ketika pertama kali mereka bertemu. Bagaimana mungkin kedua orang yang tidak mempunyai hubungan sama sekali bisa memiliki wajah mirip begini. Setahu Arisa, orang tuanya hanya memiliki anak satu-satunya yaitu dia, jadi tidak mungkin dia memiliki saudara kembar.
Melihat foto itu, membuat Arisa menjadi penasaran ke mana Erina sekarang. Anita, ibu mertuanya itu memang belum pernah menceritakan secara rinci tentang Erina. Jadi Arisa pun tidak tahu kalau sebenarnya Erina sudah meninggal. Dan memang berita tentang kematian Erina, oleh Handoko memang sengaja ditutup-tutupi, supaya tidak banyak media yang meliput hal itu, karena Handoko tidak mau istrinya akan larut dalam kesedihan terus setiap kali melihat atau membaca berita di media yang membahas kematian putrinya itu. Jadi, tidak banyak orang yang tahu tentang kematian Erina, termasuk juga karyawan-karyawan di perusahaan Wijaya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lihat?" tanya Andika
"Oh, ini....Ini kan foto kita berdua? Tetapi aku lupa, kapan kita mengabadikan foto ini?" dirinya memang masih belum banyak mengingat hubungannya dengan Erina pada masa lalu, Andika hanya ingat bahwa kekasihnya adalah Erina, itu saja.
"Apakah kamu ingat kapan kita mengabadikan foto ini? ceritakan donk, siapa tahu bisa membantuku untuk mengingat momen itu." Arisa kaget mendengar permintaan Andika. Bagaimana mungkin dia menceritakannya, kalau gadis di dalam foto tersebut bukan dirinya.
"Hmmm......ini saat kita sedang berjalan-jalan ke pantai waktu itu, kita senang sekali menikmati matahari terbenam saat itu." jawab Arisa asal setelah melihat background dari foto tersebut menunjukkan sebuah pantai.
"Begitu ya...." Andika mengernyitkan dahinya seolah sedang berpikir.
Apakah dia cuma mau mengetes aku, jangan-jangan.....
Syukurlah
Setelah hampir menghabiskan waktu 2 jam, akhirnya selesai juga kerjaan mereka. Hampir semua barang sudah dikeluarkan dari kotak dan berada pada tempat yang seharusnya. Andika sedang terduduk di sofa di ruang santai itu untuk beristirahat sejak, sedangkan Arisa yang berada di dekatnya masih sibuk mengeluarkan beberapa barang pada kotak terakhir. Tiba-tiba saja, Andika menarik tangannya sehingga spontan membuat Arisa mendarat sempurna di atas pangkuan Andika. Tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, Andika langsung mendekap tubuh istrinya itu dengan erat, membuat Arisa tak berkutik, bahkan tubuhnya terasa kaku.
Aduh....bagaimana ini, entah kenapa kok aku senang dengan pelukan ini. Lama sedikit juga boleh donk...
"Kamu capek, terima kasih ya sudah membantuku" ujar Andika pelan setengah berbisik di telinga Arisa membuat gadis itu semakin salah tingkah.
__ADS_1
"Tidak masalah, ini sudah seharusnya." jawab Arisa singkat. Tubuhnya makin bergidik, jantungnya berdegup dengan kencang, ketika merasakan tangan Andika yang sudah mulai menjalar di sekujur badannya
Cup...
Sebuah kecupan mendarat di pipi Arisa membuat wajahnya menjadi merah merona, entah sejak kapan. Spontan, dia langsung berdiri karena kaget dan pura-pura merapikan diri.
"Nah, sudah selesai kan, hayo....sekarang kita ke rumah sakit, jenguk ibu ya." ajak Arisa sekalian untuk mengalihkan suasana yang sebenarnya sudah cukup romantis tadi, tetapi dia tidak mau terlalu cepat terbawa dalam perasaan ini.
Andika pun segera beranjak dari sofa dan menyambar kunci mobilnya.
"Ayo, kita berangkat!" dia mengandeng tangan Arisa dan berjalan keluar menuju pintu apartemen mereka.
Sepanjang perjalanan di dalam mobil, Arisa tidak banyak bicara, karena kejadian yang dialaminya barusan masih terbayang-bayang di pikirannya. Kalau boleh jujur, dia menikmati suasana itu, tetapi pikirannya dengan cepat menyadarkannya bahwa bukan dirinya yang dicintai Andika, melainkan Erina. Jadi, dia tidak berani untuk terlalu berharap kalau ada cinta untuk dirinya, Arisa.
Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah sakit tempat ibu Arisa dirawat.
Bersambung....
******
__ADS_1
Hai teman-teman semua, terima kasih ya sudah mampir di novel karyaku ini. Mungkin masih perlu banyak perbaikan, mohon kritik, saran dan komentarnya yang membangun ya. Jangan lupa, like, rate dan tipsnya kalau berkenan. Love you alls....