Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Menjaga Jarak


__ADS_3

Saat mendengar bunyi pintu diketuk, Arisa dan ibunya langsung menoleh ke arah pintu. Seorang laki-laki yang tidak asing bagi mereka berdua memasuki ruangan, siapa lagi kalau bukan Johan.


"Johan....Tumben Loe datang siang-siang begini?" tanya Arisa


"Selamat siang tante, bagaimana tante sekarang?" tanya Johan tanpa menggubris pertanyaan Arisa barusan.


"Baik Joh, kamu apa kabar selama ini?" tanya balik ibu Arisa.


"Saya baik, Tante."


"Johan hebat lho Bu, dia barusan mendapat promosi jabatan dalam pekerjaannya lho." ujar Arisa ikut nimbrung yang merasa tadi dicuekin oleh Johan. Dia lupa, padahal kemarin setelah sampai di apartemen, sesaat sebelum mandi, dia sempat menelepon Johan untuk mengabarkan bahwa ibunya sudah sadar. Tentu saja, dia harusnya tidak perlu heran jika sekarang Johan muncul di rumah sakit. Dia pasti memanfaatkan waktu istirahatnya untuk datang berkunjung ke sini.


"Wah, begitu ya Joh? Tante ikut senang mendengarnya." Ibu Arisa memang senang dengan Johan, sebenarnya dia merestui hubungan Arisa dengan Johan, namun sayang saja, Arisa tidak memiliki perasaan spesial apapun kepada Johan yang telah menjadi sahabatnya sejak lama.


"Maaf tante, aku tidak bisa lama ya, sebentar lagi jam istirahatku habis. Jadi, aku harus balik ke kantor." ucap Johaa setelah beberapa lama ngobrol santai dengan Arisa dan ibunya.


"Iya, gak apa-apa Joh, kamu sudah datang sebentar saja, tante sudah senang kok."


"Kalau gitu, saya pamit dulu ya, Tante."


"Iya, kamu hati-hati di jalan ya. Arisa...sana gih, anterin Johan sampai ke depan."


"Tidak apa-apa, Tante...Saya bisa berjalan keluar sendiri."


"Tidak apa Joh, sekalian saja....kebetulan ada yang ingin kubicarakan sebentar denganmu."


"Oh...oke, kalau begitu, saya pergi dulu ya, Tante." Johan berjalan keluar diikut oleh Arisa yang menyusul dari belakang, berlari kecil untuk menyejajarkan langkahnya dengan Johan.

__ADS_1


"Oh ya, tadi katanya ada yang loe mau bicarakan dengan gue? Soal apa?"


"Maaf Joh, gue pikir mulai sekarang kita harus saling menjaga jarak."


"Menjaga jarak? Apa maksud loe? Bukankah kita sudah bersahabat sejak lama?" tanya Johan bingung.


"Loe tahu sendiri kan, sekarang gue sudah mempunyai suami, tidak enak saja dilihat kalau kita masih sering jalan bareng."


"Lha, jalan bareng sama sahabat, kan tidak ada salahnya." bantah Johan masih bersikukuh.


"Tetapi itu bisa menimbulkan kesalahpahaman di antara kami, loe tahu, makan siang kita kemarin ketahuan sama Andika. Dia marah besar, gue tidak tahu dia dapat dari mana foto-foto tersebut, sehingga membuat dia menjadi salah paham." Sepertinya Johan mulai paham kenapa Rasti menghubunginya beberapa waktu yang lalu dan memintanya untuk mengajak Arisa makan siang bersama. Ini pasti kerjaan Rasti yang sengaja menfoto mereka dan mengirimkannya kepada Andika, pikir Johan di dalam hati.


"Udah, tidak usah dipikirkan. Ntar juga, Andika sadar sendiri...tokh kan memang tidak terjadi apa-apa di antara kita kan pas makan siang kemarin." ujar Johan santai seolah-olah itu bukan masalah besar baginya.


"Loe sih gampang ngomong, lha gue, yang hadapin muka berangnya Andika....gak nyaman tahu?"


"Mulai....mulai...lagi ya..." ujar Arisa sambil mencubit perut Johan.


"Auw....sakit tahu?" pekik Johan.


"Biarin....siapa suruh bikin harimau ngamuk." ketus Arisa mendengus sebal.


"Hahaha....jadi loe ngaku jadi harimau ceritanya?" goda Johan.


"Ikh...loe nih ya, cepat pergi sana, atau mau gue tendang, lumayan jadi loe gak perlu repot-repot, sekali tendang langsung nyampe ke kantor." ancam Arisa.


"Ikh takut, ada harimau ngamuk...." ucap Johan agak keras suara sambil berlari kecil meninggalkan Arisa yang semakin kesal. Lebih baik dia melarikan diri sebelum Arisa benar-benar mengamuk nantinya.

__ADS_1


Saat Arisa kembali ke ruangan, rupanya ibunya sudah terlelap kembali, mungkin efek obat yang diminumnya tadi pagi sehingga membuatnya mudah mengantuk. Alhasil, Arisa terpaksa mengurungkan niatnya untuk melanjutkan pembicaraannya soal Andika yang sempat terhenti karena kedatangan Johan tadi.


Arisa memilih berjalan menuju kantin rumah sakit untuk mencari makan siang. Kebetulan perutnya sudah keroncongan karena dia hanya makan sedikit saat sarapan tadi. Sesampainya di kantin, rupanya sedang begitu ramai saat itu, sehingga akhirnya dia meneruskan langkahnya keluar rumah sakit menju cafe yang kebetulan berada tepat di samping rumah sakit. Tidak perlu berjalan jauh, akhirnya dia sampai ke cafe tersebut. Karena ibunya sedang tidur dan tidak banyak hal yang bisa dia lakukan di rumah sakit, gak ada salahnya jika di bersantai di cafe tersebut sebentar, pikir Arisa.


Setelah memesan makanannya, Arisa mengeluarkan handphone dari tas selempangnya untuk mengecek kali aja ada pesan chat yang masuk. Saat dia sedang asyik-asyiknya menatap layar handphonenya, tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara yang menyapanya dengan tidak bersahabat. Dari suaranya saja dia sudah malas mendengarnya, benar saja ketika Arisa mendonggakkan kepalanya, Michella wanita sombong itu sudah berdiri di depannya. Orang yang paling malas dia temui, parahnya saat ini wanita itu sedang bersama ketiga temannya yang tidak kalah sombongnya. Tentu saja, Arisa kenal dengan mereka semua.


Keempat wanita ini merupakan geng cewek yang terkenal centilnya saat mereka SMA. Tak heran, karena secara wajah dan tampilan, mereka memang cukup menarik, apalagi didukung dengan keadaan orang tuanya yang cukup berada. Tak ayal, sehingga membuat mereka menjadi sombong dan suka menghina murid lalu, terutama Arisa. Rupanya sifat mereka tidak berubah dari dulu hingga sekarang.


Michella saat itu sedang mengenakan pakaian stelan kantor sedangkan ketiga temannya, Ririn, Sani dan Riska memakai baju biasa namun tetap saja terlihat berkelas karena pakaian yang mereka kenakan pasti mahal.


"Hei, rupanya ada perempuan jadi-jadian di sini?" ejek Michella dengan menampakkan muka sinisnya yang sangat tidak enak dilihat., Ketiga temannya langsung spontan menertawakan ucapan Michella barusan.


"Apa urusanmu, kalau aku di sini? Pergi sana, urus diri kalian sendiri." ketus Arisa.


"Yah....ya...tentu kami sangat pandai mengurus diri kami sendiri. Aku hanya kasihan saja melihat kamu yang tidak pandai mengurus diri sendri, kasihan sekali kan teman-teman?" sahut Sani menimpali membuat Arisa semakin geram. Penampilan Arisa saat itu dengan mengenakan celana jeans dan baju kaos santai tentu saja tidak sebanding dengan penampilan mereka berempat. Lagipula, kenapa juga dia harus mengenakan pakaian yang cantik namun tidak nyaman dikenakan hanya sekedar untuk dilihat orang, pikirnya.


"Sepertinya dari dulu, dia tidak pernah berubah ya....Gitu-gitu aja, dibilang perempuan tulen, juga gak, laki juga gak jelas, tomboi begini.....gak yakin deh, ada yang mau hahaha...." ujar Riska langsung disusul oleh ketawa teman-temannya.


"Benar tuh, lihat saja...penampilannya sekarang, mana level dengan kita." sindir Ririn tak kalah sinisnya.


"Mau aku kayak gini kek, kayak gitu kek, itu urusanku, kalian kayak gak ada kerjaan aja, ngapa sih dari dulu sampai sekarang selalu aja urusin orang lain." balas Arisa.


"Yeah, jangan salah....biar sering urusin kamu, juga aku ada pekerjaan bergengsi,kamu kan tahu sendiri perusahaanku sangat besar, jadi ya kamu tahu sendirilah......gak kayak kamu. Kalao kamu sih pasti pengangguran gak jelas ya?" ucap Michella menyombongkan pekerjaannya, tentu saja dia tidak perlu susah mendapatkan pekerjaan kantoran bergengsi, karena papanya memiliki beberapa perusahaan besar. Apa daya, Arisa yang sudah memasukkan lamaran ke beberapa perusahaan namun masih belum ada panggilan. Hal ini membuatnya sedikit minder di hadapan keempat wanita sombong tersebut, tetapi tentu saja dia tidak akan menunjukkan hal itu.


"Udah akh, ngapaian juga kita urusin si perempuan jadi-jadian ini lama-lama? Aku dah laper nih, yuk kita pesan makan." ajak Ririn.


"Oh ya, kamu tadi pesan apa, ntar biar aku bayarin deh, aku kasihan sama kamu, pasti jarang makan enak-enak di cafe seperti ini hahaha...." ujar Michella membalikkan badannya mengejek Arisa lagi, kemudian baru melanjutkan langkahnya menuju meja lain di sudut cafe tersebut.

__ADS_1


Arisa geram sekali dengan ketiga wanita sombong itu, tetapi dia tidak mau terpancing emosi hingga berkelahi di cafe tersebut. Dia memilih tetap menikmati makan siangnya, meski sebenarnya dia kehilangan seleranya setelah bertemu dengan keempat nenek sihir itu. Segera setelah dia menghabiskan makanannya, dia beranjak dari kursi menuju kasir untuk membayar, tidak sudi dia ditraktir oleh nenek sihir itu. Dia tidak mau berlama-lamaan satu cafe dengan mereka, apalagi ketika dia sedang makan, keeempat wanita itu tak henti-hentinya menatap ke arahnya sambil cekikikan tertawa, entah apa yang mereka tertawakan, dasar sombong.


__ADS_2