Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Terjawab Sudah


__ADS_3

Ucapan Alex tadi menjadi terngiang-ngiang di pikiran Arisa. Dia mencoba mengenyahkan pikiran tersebut dan menganggap tidak terjadi apa-apa. Tokh, memang tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Dalam hatinya, Arisa mengakui kalau dulu dia memang pernah menyukai atau mungkin mencintai Alex, tetapi itu dulu. Sekarang, hatinya hanya untuk Andika seorang, pria yang telah menjadi suaminya ini. Namun, dia juga menyadari posisinya yang hanya menjadi pemeran pengganti Erina, apakah mungkin Andika akan tetap mencintainya jika tahu kalau dia bukan Erina.


Arisa sedang menyiapkan makan malam, saat pintu apartemen dibuka, menandakan Andika sudah pulang. Arisa tidak tahu kalau sebenarnya Andika sudah lama sampai dari tadi.


"Sudah pulang, Mas? Makan malamnya sebentar lagi sudah siap. Tunggu sebentar ya!" sapa Arisa dengan ramah namun tidak ditanggapi Andika yang langsung berjalan menuju ke kamar.


Mungkin dia sedang kecapekan, pikir Arisa.


Makan malam sudah siap, namun Andika tak kunjung keluar. Arisa kemudian memilih menyusul ke dalam kamar untuk memanggil suaminya. Namun, saat dia sampai di dalam kamar, dilihatnya Andika sedang duduk di tepi ranjang dengan wajah yang penuh emosi. Belum pernah, Arisa melihat suaminya dalam kondisi seperti itu.


Yang lebih mengejutkan lagi, saat Arisa melihat apa yang ada di dalam genggaman tangan Andika.


Astaga, bagaimana mungkin aku bisa ceroboh, tidak menyimpannya dengan baik. Gerutu Arisa mengutuki kelalaian dirinya.


"Jelaskan kepadaku, apa maksud semua ini?" tanya Andika sambil melempar sebuah botol yang berisi pil-pil kecil berwarna merah jambu itu ke arah Arisa hingga tergeletak di bawah kaki Arisa. Pada botol tersebut, tertulis jelas itu adalah pil kontrasepsi untuk membantu mengontrol agar tidak terjadi kehamilan. Andika menemukan botol tersebut saat mencoba mencari obat pereda sakit yang dia lupa taruh di mana. Dia mencoba mencari di laci meja rias Arisa, mungkin saja Arisa membantu menyimpannya di situ, pikir Andika. Namun, dia malah menemukan botol yang berisi pil-pil yang mengejutkannya itu.


"Aku....aku....." ucap Arisa terbata-bata, tidak tahu harus mulai dari mana menjelaskan.


"Kenapa? Apakah kamu tidak sudi punya anak dariku?"


"Aku...." Arisa masih bingung.


"Ya....ya....aku tahu, ini pasti karena laki-laki itu kan? " tuduh Andika membuat Arisa semakin bingung.


"Laki-laki? Apa maksudmu?"


"Sudah, jangan berpura-pura. Aku tahu kamu punya hubungan dengan laki-laki lain di luar sana. Jadi, itu sebabnya kamu berpura-pura ingin bekerja, supaya kamu bebas berhubungan dengan dia." Andika melanjutkan tuduhan berdasarkan persepsinya sendiri.


"Apa maksud perkataanmu itu? Aku tidak pernah berselingkuh." ucap Arisa mencoba membela diri.


"Tidak pernah, katamu. Lalu apa itu namanya, makan siang dengan mesra dan diantar pulang oleh laki-laki tadi?" tanya Andika dengan ketus.


"Tidak....tidak... kamu salah paham, Mas. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Alex."

__ADS_1


"Oh, jadi namanya Alex? sudah berapa lama kalian berhubungan di belakangku?"


"Cukup dengan semua tuduhanmu, Mas! Itu tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku akui, aku memang pernah menyukai Alex. Tetapi itu dulu, saat kami masih SMA. Dan kini, aku hanya mencintaimu. Hati ini hanya untukmu seseorang. Tetapi...."


"Tetapi? tetapi apa?" tanya Andika masih dengan nada tinggi.


"Tetapi, aku terlalu takut, kalau cinta ini tidak akan mendapat balasan yang sebanding."


"Apa maksudmu?"


"Aku tidak tahu apakah kamu juga benar-benar mencintaiku."


"Apa? Kamu meragukan cintaku?" tanya Andika.


"Aku tidak meragukan cintamu, Mas. Tetapi aku juga menyadari bahwa cintamu hanya untuk Erina. Dan aku bukanlah wanita yang kamu cintai itu. Aku hanyalah orang yang kebetulan mirip dengan wanita yang kamu cintai itu. Aku sadar itu, aku tidak pantas untukmu. Jika saat ini, kamu mau mencampakkanku, aku terima itu, Mas. Aku tahu aku telah membohongimu." ucap Arisa sambil terisak-isak.


"Tetapi ketahuilah, aku menelan pil-pil tersebut bukan karena aku tidak sudi memiliki anak darimu, Mas. Aku ingin, bahkan sangat menginginkan itu. Tetapi, aku tidak siap, jika suatu hari nanti Erina yang asli muncul, dan kamu memilih dia. Cukup aku saja yang merasakan sakit itu saat kau mencampakkanku, jangan sampai anak kita merasakan derita dari perpisahan kita." lanjut Arisa menjelaskan. Seketika itu, dirinya menangis dengan keras, namun hatinya lega setelah bisa mengungkapkan semua isi hatinya selama ini.


Arisa menundukkan kepalanya dan menangis sejadi-jadinya. Tiba-tiba dia merasakan rangkulan dari tubuh hangat suaminya, kemudian tangan Andika memegang dagu Arisa untuk menegakkan wajah Arisa agar memandang ke arahnya.


"Maksudmu?" tanya Arisa keheranan setelah muali bisa menenangkan dirinya untuk tidak menangis lagi.


"Lagipula Erina tidak akan mungkin bisa muncul lagi di hadapanku."


"Apa?" tanya Arisa serasa tidak percaya.


"Erina sudah meninggal saat kecelakaan itu terjadi. Aku sudah mengetahui itu."


"Jadi, apa itu berarti kamu juga sudah tahu kalau..."


"Ya, aku sudah tahu sejak lama kalau kamu bukanlah Erina."


"Apa? kamu sudah tahu itu sudah lama? Jadi selama ini kamu yang berpura-pura tidak tahu?"

__ADS_1


"Ya, aku ingin tahu seberapa besar cintamu kepadaku, apakah kamu benar-benar mencintaiku atau sekedar terpaksa karena membutuhkan biaya pengobatan untuk ibu."


"Jadi, kamu sudah tahu semua itu, Mas. Sejak kapan?"


"Aku tidak tahu kapan tepatnya, tetapi aku mulai menyadari beberapa hal aneh, mulai dari ibu yang hilang ingatan,tidaknya adanya bekas luka di lenganmu dan masih banyak hal lagi yang membuatku menjadi curiga hingga akhirnya aku menyewa seorang detektif untuk menyelidiki semua itu."


"Apa? detektif?"


"Iya, aku perlu mendapatkan informasi untuk menjawab semua kecurigaanku, dan kini semuanya terjawab sudah, apalagi ketika kamu menunjukkan surat panggilan kerjamu kepadaku waktu itu, kamu ingat itu?"


"Bodohnya aku, bisa-bisanya aku tidak menyadari hal itu" gerutu Arisa mengutuki kebodohannya sendiri. Waktu itu, karena saking senangnya diterima kerja, tanpa pikir panjang dia langsung menunjukkan surat panggilan kerjanya kepada Andika, bukankah jelas di situ tertulis namanya Arisa, bukan Erina. Tentu saja, Andika bisa membacanya jelas waktu itu.


"Kini aku pasrah, Mas. Kamu mau marah, mau menghukumku atau mau menceraikanku, aku terima, Mas." ujar Arisa pasrah menerima apapun resiko.


"Beraninya kamu mengatakan itu lagi. Memang siapa yang bilang akan menceraikanmu?". Ucapan Andika membuat Arisa semakin bingung.


"Kamu tidak akan menceraikanku?"


"Kamu adalah istriku dan tidak ada alasanku untuk menceraikanmu. Ingat itu!"


"Tetapi, aku bukan...."


"Memang, kenapa kalau kamu bukan Erina, apakah aku tidak boleh mencintai wanita lain yang bernama Arisa?" ucap Andika membuat Arisa tersentak seketika.


"Cinta? Kamu mencintaiku, Mas?" mata Arisa sudah berbinar-binar berharap apa yang didengarnya barusan itu benar adanya.


Tiba-tiba Andika mengecup lembut bibir Arisa, yang kemudian berlanjut menjadi ciuman yang semakin ganas, membuat Arisa menjadi tak berkutik.


"Perlu bukti apa lagi untuk membuktikan aku mencintaimu, sayang?" ucap Andika pelan setelah menghentikan ciuman mautnya membuat Arisa terdiam tak bisa berkata-kata apa lagi, karena hatinya begitu lega saat ini. Kini, terjawab sudah semua keraguan dalam hatinya. Malam ini, menjadi malam yang begitu indah baginya, meskipun dia telah melewatkan malam-malam indah bersama Andika sebelumnya, tetapi ini adalah malam yang berbeda.


Tanpa berkata-kata apa-apa lagi, Andika kemudian mengangkat tubuh Arisa dan meletakkan pelan di atas ranjang. Bagi Arisa, ini adalah malam pertama baginya memadu kasih dengan suaminya yang kini benar-benar menjadi miliknya sepenuhnya setelah semua kebenaran ini terungkap. Hati Arisa lega, begitu juga dengan Andika. Mereka melewati malam mereka dengan kegiatan panas mereka yang berlangsung cukup lama, hingga akhirnya keduanya menyadari bahwa mereka belum makan malam, saat terdengar musik gendang bertabuh dalam perut keroncongan mereka. Akhirnya mereka pun menikmati makan malam mereka yang sudah sangat terlambat.


*****

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak melalui like, komen, rate dan vote yang teman-teman. terima kasih atas dukungannya ya teman-teman.


__ADS_2