Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Kepulangan Handoko


__ADS_3

Di sebuah rumah sederhana namun berkesan elegan, terletak di salah satu sudut pinggiran kota Amsterdam, seorang pria paruh baya sedang menerima panggilan telepon dari Indonesia.


"Apa? Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi dan lolos dari pengawasanmu?" bentak Handoko keras kepada orang yang sedang berbicara di seberang telepon tersebut.


"Aku akan segera terbang kembali ke sana. Kamu bereskan kekacauan ini, jangan sampai tercium oleh media!" lanjutnya kemudian menutup telepon tersebut.


"Ada masalah apa?" tanya Della, istri Handoko yang ikut kuatir mendengar pembicaraan suaminya di telepon.


"Ada sedikit masalah dengan perusahaan kita di Indonesia, Ma." jawab Handoko singkat, tidak ingin membuat istrinya kuatir, setelah sekian lama akhirnya bisa tersenyum kembali sejak kehilangan putri kesayangan mereka, Erina.


"Benar, Pa? Ini pasti masalah serius ya?" tanya Della, tidak yakin dengan jawaban suami.


"Sudah, tidak perlu mama kuatirkan. Papa bisa mengatasinya kok." jawab Handoko untuk menenangkan istrinya.


"Tetapi, Papa harus kembali ke Jakarta untuk mengurus masalah tersebut. Yang Papa kuatirkan, justru mama di sini, apa tidak apa-apa kalau Mama sendiri di sini?" lanjut Handoko. Della tidak kelihatan terkejut mendengar hal itu, karena memang sedari tadi dia sudah mendengar pembicaraan suaminya di telepon yang sempat mengatakan akan segera kembali ke Indonesia.


"Mama tidak mau sendirian di sini, Pa. Aku ikut kembali ke Indonesia juga ya, Pa." pinta Della.


"Tetapi....Apa kamu siap, Ma?" tanya Handoko memastikan, karena itu berarti mereka akan kembali ke rumah mereka yang penuh dengan kenangan bersama Erina. Selama ini, mereka sengaja pindah ke luar negeri untuk menenangkan diri setelah begitu terpukul dengan kepergian putri mereka akibat kecelakaan tersebut.


"Papa tidak perlu kuatirkan Mama. Aku tidak apa-apa kok."

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu. Aku akan segera urus penerbangan pulang kita hari ini ya. Besok kita akan kembali ke Indonesia."


Handoko terpaksa pulang kembali ke Indonesia untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di perusahaannya. Selama ini, dia menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab kepengurusan perusahaananya itu kepada keponakannya, Calvin. Selama ini, Calvin memang telah menjadi tangan kanan Handoko dalam mengurus perusahaan. Jadi, Handoko merasa bisa mempercayakan sepenuhnya kepada Calvin. Hanya saja, rupanya beberapa manager di dalam perusahaan tersebut mengambil kesempatan selama masa kepemimpinan Calvin ini, karena mereka merasa Calvin yang masih muda tersebut tidak pantas untuk memimpin mereka, sehingga mereka melakukan penggelapan dana yang membuat perusahaan mengalami kerugian besar, bahkan hampir bangkrut.


Handoko menyuruh Calvin untuk menjaga agar hal ini tidak sampai tercium oleh media hingga akhirnya diberitakan oleh media. Hal ini tentu saja akan membuat perusahaan semakin terpuruk, karena bisa dipastikan para pemegang saham akan menarik kepemilikkan saham mereka pada perusahaan tersebut. Dia harus pulang untuk menyelamatkan perusahaannya tersebut agar tidak benar-benar sampai bangkrut.


Handoko segera mengurus segala urusannya di kota ini, sebelum kepulangannya ke tanah air besok. Dia sedikit mengkuatirkan keadaan istrinya, jika Della ikut pulang ke Indonesia. Masih terbayang di pikirannya, bagaimana terpuruknya Della setelah kejadian kecelakaan yang menimpa putrinya tersebut hingga membuat mereka kehilangan untuk kedua kalinya. Dia kuatir Della akan kembali larut dalam kesedihannya jika kembali ke Indonesia. Namun, tekad Della sudah bulat, dia tetap mau mengikuti suaminya kembali ke Indonesia.


Keesokan harinya, Handoko dan istrinya berangkat ke Bandara untuk terbang kembali ke Indonesia. Setelah berada di dalam pesawat kurang lebih 15 jam waktu tempuhnya, sampailah mereka di tanah air. Saat mereka turun dari pesawat dan keluar dari Bandara, sebuah mobil telah menunggu untuk menjemput mereka. Calvin, keponakan Handoko telah menunggu sejam yang tadi karena dia tidak mau kalau sampai pamannya yang harus menunggunya.


"Bagaimana perjalanannya, Om, Tante?" tanya Calvin


"Apalagi dengan kondisi badan yang mulai menua seperti ini, benar-benar melelahkan Vin, duduk berjam-jam di dalam pesawat begini. Tante ingin cepat-cepat sampai ke rumah agar bisa beristirahat." timpal Della.


"Siap, Tante! Kemarin aku sudah perintahkan para pelayan untuk membersihkan dan merapikan rumah agar benar-benar nyaman untuk ditempati lagi." jawab Calvin yang duduk di samping sopir. Mobil pun melaju menembus kemacetan kota menuju kediaman Handoko yang sudah lama ditinggal. Selama ini rumah Handoko memang tidak ditinggali, dia hanya menempatkan dua pembantu untuk tetap mengurus dan merawat rumah tersebut.


Sejam kemudian, mereka pun sampai di kediaman Handoko. Della melangkahkan kakinya pelan memasuki rumah yang sudah lama ditinggalkannya, rumah yang penuh kenangan. Meski masih merasakan kesedihan, dirinya telah bertekad tetap kuat untuk menjalani kehidupannya saat ini. Dia tidak mau terpuruk lagi.


"Mama tidak apa-apa kan?" tanya Handoko yang merasa sedikit kuatir menatap wajah istrinya yang datar.


"Tidak apa-apa, Pa. Sudahlah, Papa tidak perlu mengkuatirkan Mama." jawab Della.

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita masuk!" ajak handoko.


"Selamat datang kembali, Tuan dan Nyonya!" sambut kedua pelayan yang sudah berdiri dari tadi depan pintu untuk menyambut kepulangan majikan mereka. Mereka segera membantu mengangkat barang-barang bawaan majikan mereka.


Handoko dan istrinya segera memasuki rumah mereka yang semuanya masih dalam keadaan sama, namun suasananya terasa beda. Apalagi ketika mereka sampai di ruang keluarga, ruang di mana biasanya keluarga mereka berkumpul, bersenda gurau bersama. Kini hanya tinggal mereka berdua tanpa Erina lagi.


"Mama istirahat saja ya. Ayo, aku antarkan ke kamar ya!" ajak Handoko.


"Tidak usah, Pa. Mama masih mau melihat-lihat sebentar. Nanti aku bisa ke kamar sendiri kok....Kalau Papa masih ada urusan yang mau dibicarakan dengan Calvin, temani saja dia di ruang tamu, Pa!"


"Baiklah. Ingat ya, kamu harus istirahat ya, Ma. Tidak boleh kecapekan... Aku mau bicara sebentar dengan Calvin." ujar Handoko kemudian berjalan menuju ruang tamu di depan. Sedangkan Della berjalan mendekati foto keluarga mereka yang terpajang di salah satu rak dinding di ruang tersebut. Hatinya semakin sesak saat melihat foto Erina. Tanpa terasa, dia meneteskan air mata. Dengan cepat dia menghapusnya, agar tidak membuat suaminya kuatir melihat dia menangisi Erina lagi.


"Mama, kangen dengan kamu, Nak." ucap Della pelan.


"Koper-koper sudah saya taruh di kamar utama, Nyonya. Ada hal lain yang perlu saya bantu lagi, Nyonya?" tanya Sita, salah satu pelayan di rumah itu, sebelum kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Untuk saat ini tidak ada. Kamu lanjutkan kembali saja pekerjaanmu!" jawab Della


"Baik, Nyonya! Saya kembali ke dapur dulu ya. Jika perlu apa-apa, panggil saya ya Nyonya." balas Sita dengan sopan.


Della pun berjalan menuju ke kamarnya untuk beristirahat karena badannya cukup capek setelah menempuh perjalanan panjang.

__ADS_1


__ADS_2