
Arisa melangkah masuk ke dalam kamar pengantinnya itu dengan terpaksa mengikuti Andika yang menggandeng tangannya dari tadi.
"Kamu capek hari ini?" tanya Andika lembut sambil membelai kepala Arisa.
"Sedikit....kakiku pegal aja berdiri lama dengan high heel begini..." Dia memang tidak terbiasa memakai high heel selama ini. Baginya model sepatu seperti itu sangat menyiksa, tetapi kenapa banyak gadis senang memakai alas kaki model seperti itu.
" Istirahatlah.....aku akan mandi dulu, atau mungkin kita mau mandi bersama." goda Andika sambil mengerdipkan matanya kepada Arisa.
Mandi bersama??? Secepat ini? oh tunggu dulu, tidak secepat ini Tuan besar. Mataku yang masih perawan ini belum mau ternodai dengan tubuh telanj**gmu Tuan.
"Oh, tidak, duluan saja, aku masih harus membuka aksesoris pada kepalaku ini sebelum mandi." jawab Arisa cepat setelah menemukan alasan yang tepat untuk menolak ajakan Andika.
Akhirnya dengan terpaksa Andika berjalan ke kamar mandi sendirian, padahal sebenarnya dia menginginkan sekali momen tersebut untuk mengawali hubungan mereka sebagai suami istri yang sah. Tetapi dia pun tidak mau memaksa jika memang istrinya belum mau.
Cukup lama Andika berada di kamar mandi, hampir sekitar 30 menit, memberi waktu buat Arisa untuk bernafas lega dan memikirkan bagaimana caranya dia bisa menghindar dari Andika malam ini. Lalu keluarlah Andika dengan handuk putih yang membalut separuh tubuhnya bagian bawah sehingga menampakkan dada bidangnya dan otot-ototnya yang kekar. Arisa terkesima, meskipun tomboi selama ini, dia tetaplah gadis yang bisa tertarik jika dihadapkan dengan pemandangan sebagus itu. Mulutnya sampai menganga, tetapi cepat-cepat dia tutup mulutnya itu dan segera berlalu ke kamar mandi berlalu di depan suaminya itu. Andika sampai terkekeh melihat istrinya salah tingkah begitu.
Andika sudah berpakaian dan duduk di atas ranjang, mendengarkan musik pada handphonenya sembari menunggu Arisa selesai mandi. Tetapi rupanya Arisa tak kunjung keluar, membuatnya menjadi kuatir.
Sementara itu, Arisa yang berada di kamar mandi, sebenarnya dari tadi dirinya sudah selesai membersihkan badannya, tetapi dia lupa membawa baju gantinya ketika terburu-buru ke kamar mandi tadi, sehingga sekarang dia ragu dan tidak berani, apakah dia akan keluar hanya dengan satu handuk yang membalut tubuhnya. Sialnya, handuk itu bukanlah handuk yang berukuran besar, hingga hanya bisa menutup tubuhnya dari bagian dadanya sampai di atas paha.
__ADS_1
Sial....hotel semewah begini, tapi kok handuknya kecil aja....gak modal lalu sih....gerutunya dalam hati.
Tok....tok...tok..... terdengar ketukan pintu dari luar
"Erina, kamu tidak apa-apa, sayang?" tanya Andika yang mulai kuatir karena rasanya dia sudah menunggu begitu lama.
"Iya...bolehkah aku minta tolong, ambilkan baju tidurku yang tergantung di lemari.!" pinta Arisa.
"Oh....oke..." Andika berjalan mendekati lemari, membukanya, dan matanya langsung tertuju pada satu baju yang agak terbuka, langsung saja dia menyambarnya dan memberikannya kepada Arisa.
Sial....ini kan baju tidurku kalau aku tidur sendirian di kamar, kalau sekarang tidur berdua dengan si Tuan hilang ingatan, gak mungkin donk aku pakai yang beginian...
"Ayo, sini."
Dengan terpaksa, dia berjalan menuju ke ranjang untuk bergabung dengan Andika. Tidak mungkin kan, dia ngotot memilih tidur di sofa, bisa-bisa Andika curiga kepadanya nanti dan melaporkan kepada Nyonya Anita. Dia memilih duduk di tepi ranjang yang agak jauh dari Andika, namun langsung saja Andika mendekat dan mendekapnya. Arisa langsung merasa tidak bisa bernafas, ketika dia mulai merasakan tangan suaminya itu mulai mengelus lengannya dari atas sampai ke bawah, berlanjut ke pahanya, kemudian memegang dagunya untuk mengarahkan bibir Arisa ke arahnya. Jarak bibir kedua sudah sangat dekat.
Tiba-tiba...
Huk....huk...huk....Arika terbatuk-batuk, membuat Andika menjadi gagal untuk melakukan ciuman pertamanya dengan Arisa.
__ADS_1
"Aduh....aduh.....sakit." teriak Arisa, yang tiba-tiba merasa perutnya mules sekali. Dan sepertinya ini bukan sakit yang dibuat-buat. Ini benar-benar serius.
"Kamu kenapa sayang?" Andika mulai terlihat kuatir.
"Gak tahu nih, perutku tiba-tiba sakit.....aduh...aduh..." jawab Arisa sambil memegang perutnya.
Phis......tiba-tiba tercium aroma tidak sedap yang langsung saja memenuhi kamar itu. Spontan Andika menutup hidung, dan Arisa menjadi malu karena tidak bisa menahan kentut di depan Andika. Dengan cepat, kemudian dia berlari menuju kamar mandi, karena sepertinya ada sesuatu yang sudah tidak bisa menunggu lagi untuk segera dikeluarkan.
Wuf......Hmmm.....lega...... Arisa berjalan keluar dari kamar mandi sambil mengelap keringat di dahinya itu dengan punggung tangannya, sepertinya dia telah berjuang dengan sangat keras di dalam tadi. Dia berjalan mendekati ranjang lagi, tempat di mana Andika sudah berbaring menunggunya, tiba-tiba....
"Aduh....aduh....kok mules lagi sih." Dengan cepat dia berlari ke kamar mandi lagi dan menyelesaikan panggilan alamnya yang rupanya belum benar-benar selesai tadi.
Entah gara-gara salah makan hari ini, sehingga membuat Arisa bolak-balik masuk ke kamar mandi malam itu, hingga akhirnya Andika yang tadinya sudah menggebu-gebu hasratnya dan tidak sabar lagi untuk segera menyalurkannya, menjadi mengantuk dan tidak lama kemudian dia sudah terlelap menuju ke alam mimpinya. Akh, mungkin dia akan melakukan malam pertamanya di dalam mimpi saja.
Untuk ke sekian kali setelah Arisa bolak-balik kamar mandi, akhirnya perutnya terasa membaik dan tidak mules lagi, dia berjalan keluar dengan lega, dan melihat rupanya Andika sudah tertidur lelap. Dia merasa lebih lega lagi melebihi kelegaannya tadi. Paling tidak, malam ini aman, pikirnya. Diapun kemudian menyusul ke ranjang untuk segera tidur di samping Andika, tetapi tidak lupa dia menyisipkan sebuah bantal di tengah-tengah mereka sebagai batas teritorialnya yang tidak boleh dilewati oleh Andika.
Tidak perlu lama, akhirnya Arisa pun ikut terlelap. Semoga di dalam mimpinya dia tidak bertemu dengan Andika yang menuntut jatah malam pertamanya. Namun, bukan Arisa namanya, kalau bisa tidur dengan tenang. Kebiasaan kalau dia tidur memang jarang bisa tenang, dia membolak-balikkan badanya, bahkan kakinya bisa menendang ke sana kemari. Bantal yang tadinya berada di tengah sebagai pembatas pun, entah kapan sudah berpindah ke bawah kaki Arisa.
Bruk.....
__ADS_1
Andika terkena tamparan dari tangan Arisa yang sedang tidur dan terbangun kaget, rasanya seperti mengalami mimpi buruk. Dia terkekeh melihat gaya tidur Arisa yang melintang ke sana ke mari, akhirnya dia membenarkan posisi dan menaikkan selimut untuk menutup badan Arisa, tidak lupa juga dia ikut masuk dalam selimut dan mendekap Arisa dari belakang, ketika posisi tidur terakhir Arisa sedang membelakanginya.