Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Bertemu Johan


__ADS_3

Siang itu, sesuai rencananya tadi pagi, setelah menyempatkan diri berkunjung ke rumah sakit untuk mengajak bicara ibunya seperti biasa, Arisa segera menuju cafe SSS, tempat janji temunya dengan Johan. Ketika dia sampai di cafe tersebut, rupanya Johan sudah datang duluan.


"Loe udah nunggu lama, Joh? Maaf ya aku telat..." ujar Arisa sambil melihat jam tangannya, padahal dia cuma telat 5 menit kok, Johan aja yang datangnya keawalan.


"Gak kok, gue juga barusan nyampe. Kita pesan aja dulu ya...." jawab Johan sambil menyodorkan buku menu kepada Arisa. Setelah memesan dan menunggu, barulah mereka melanjutkan kembali obrolan mereka tadi.


"Gimana kerjaan loe di perusahaan itu, lancar?" tanya Arisa. Dia tahu sekarang Johan bekerja di salah satu perusahaan yang cukup bonafide, ya meskipun posisi Johan bukanlah posisi yang penting-penting amat di perusahaan tersebut. Tetapi buat orang seperti Arisa dan Johan, bisa bekerja di perusahaan besar seperti itu, sudah cukup membanggakan.


"Baik...malah gue kemarin barusan dapat promosi, sekarang gue menjadi ketua di bagian departement ku lho."


"Wah, hebat....gue ikut senang dengan keberhasilan loe itu, gue salut deh, gak sia-sia kerja keras loe selama ini, akhirnya membuahkan hasil." ujar Arisa.


"Loe sendiri gimana? gak kepikiran mau kerja juga?" tanya Johan.


"Mau sih, tapi loe kan tahu sendiri, dari sekian lamaran yang gue masukin, belum ada satupun panggilan, padahal -gue dah nunggu-nunggu dan berharap banget."


"Tapi, yah, ngapaian juga loe kerja, secara loe kan sekarang dah punya suami tajir, gak usah kerja juga terjamin." ucap Johan yang terdengar seperti sindiran bagi Arisa.


"Gak gitu juga kali, loe kan tahu gue gimana, gue juga pengen mandiri kali."


"Gue tahu loe gimana? Hmm, seperti gue sendiri gak yakin itu, soalnya kayaknya banyak hal yang loe rahasikan dari gue."


"Gak kok, gue kan selalu terbuka sama loe. Mana ada rahasia-rahasiaan...yeah...." bantah Arisa.


"Buktinya loe tidak memberitahukan rencana pernikahan loe dengan Andika, tiba-tiba aja loe udah nikah dengan laki-laki itu."

__ADS_1


"Loe tahu kan, saat itu keadaa ibu darurat, gue bingung mau dapat uang dari mana untuk membiayai pengobatan ibu, jadi saat ada tawaran bantuan itu ya gue terima aja apapun resikonya....gue terpaksa Joh."


Mendengar kalimat terakhir Arisa tersebut, Johan merasa senang karena masih ada secerca harapan baginya untuk mendapatkan Arisa kembali.


"Terpaksa? berarti loe gak cinta dong sama Andika kan ya?" tanya Johan penuh harap.


"Cinta? gue gak tahu Joh." jawab Arisa jujur, dia sendiri masih bingung bagaimana perasaannya terhadap Andika saat ini, satu sisi dia senang merasa begitu dicintai oleh suaminya itu dan ingin membalas cinta tersebut. Tetapi satu sisi, dia takut jika suatu hari Andika mengetahui semua kebenaran, mungkin dia akan dicampakkan begitu saja. Pasti akan sangat menyakitkan jika akhirnya dia dicampakkan setelah dia memberikan hati sepenuhnya kepada Andika.


"Lho, kok gak tahu? Maksud Loe gimana sih?"


"Ya, gue sendiri masih bingung aja. Udah deh, gak usah bahas itu lagi deh....giliran donk, bahas soal loe aja, gue kan pengen tahu juga."


"Lha, emangnya apa yang pengen loe tahu dari gue? hidup gue mah biasa-biasa aja dengan status jomblo ngenes..."


"Lagian napa loe gak mau terima aja cinta si Siti tuh, anaknya tante Mirna, tetangga satu kompleks dengan gue tuh loho?"


"Oh ya, Loe masih ingat sama Michella? Teman SMA kita dulu."


"Huh, dia lagi...mang kenapa dengan dia?" Arisa mendengus kesal mendengar nama seseorang yang malas dia temui itu, dan sialnya dia bertemu dengannya beberapa hari yang lalu ketika dia berbelanja di supermarket.


"Rupanya perusahaan tempatku bekerja, itu adalah salah satu cabang dari perusahaan Papanya itu. Kebetulan untuk saat ini, dia yang ditunjukkan untuk memimpin perusahaan ini." cerita Johan dengan semangat. Dia sendiri memang tidak ada masalah apa-apa dengan Michella, sebatas teman SMA dulu, tetapi tidak bagi Arisa, yang menjadi musuh bebuyutan Michella saat mereka masih sekolah dulu.


"Wanita sombong itu, pasti kesombongannya makin menjadi-jadi, apalagi udah punya jabatan sekarang." ketus Arisa.


"Gak heran deh, kan dia memang anak orang kaya." lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Masak sih? pas ketemu sama gue, dia biasa-biasa aja kayaknya." ujar Johan tak percaya. Dia dulu memang satu sekolah sama-sama dengan Arisa dan Michella, cuma beda kelas, sehingga dia kurang tahu bagaimana perlakuan Michella kepada Arisa. Lagipula Arisa juga jarang cerita soal Michella dulu.


"Hmm....loe belum tahu aja kali atau dia belum tunjukkan wujud aslinya."


"Yeah....emang dia dedemit, cantik begitu wujudnya."


"Udah akh, malas bahas dia, bahas yang lain aja deh...."


"Yeah, loe gimana sih, bahas ini salah, bahas itu salah....apa-apa salah, loe lagi dapet ya...?" sindir Johan.


"Iya dong, gue lagi dapet hari ini....dapet traktiran dari loe, lumayan kan makan gratis." jawab Arisa.


"Iya...iya....ayo kita makan, ntar keburu dingin." kebetulan pesanan makanan mereka udah diantar.


Tanpa Arisa sadari, sepasang mata sedang mengamati mereka yang mengobrol akrab dari tadi. Kemudian, dengan cekatan, orang itu mengeluarkan handphonenya untuk mengabadikan beberapa foto keakraban Johan dan Arisa saat mereka makan siang.


"Habis ini, loe mau ke mana, balik ke rumah sakit lagi?" tanya Andika setelah menghabiskan suapan terakhir makanannya itu.


"Sepertinya tidak, gue langsung balik apartemen kayaknya, kebetulan jarak ke apartemen dari sini lebih dekat daripada balik ke rumah sakit lagi. Besok aja lagi, gue baru temani ibu."


"Gue antar ya."


"Gak usah, repotin aja....loe bukannya harus balik ke kantor, ntar terlambat lho..."


"He eh...iya...hampir lupa, gue kira hari ini gue lagi libur." ujar Johan menepuk jidatnya sendiri karena saking semangatnya menghabiskan waktu dengan Arisa, dipikirnya hari ini dia libur kerja.

__ADS_1


"Ya udah, loe hati-hati ya.. gue balik kantor dulu ya." ucap Johan sembari beranjak dari kursi diikuti oleh Arisa. Kemudian mereka berpisah dan kembali ke tempat mereka masing-masing.


__ADS_2