
Seorang ibu muda yang kebetulan duduk di samping Arisa, mengajak bicara dengannya.
"Datang sendiri aja, mbak?" tanya wanita itu sekedar basa-basi.
"Iya, sendiri saja. Suami lagi sibuk." jawab Arisa sekedarnya.
"Oh, kirain...." ujar wanita itu yang tak sempat melanjutkan kata-katanya karena dia melihat tiba-tiba seorang pria tampan berjalan ke arah mereka, membuat dirinya terkesima, hampir saja lupa kalau ada suami sedang duduk di sampingnya.
"Sayang!" sapa Andika lembut, Arisa segera mendongakkan kepala, memastikan kalau dia tidak salah dengar.
"Mas!"
"Suaminya, mbak?" tanya ibu hamil yang duduk di samping Arisa dan sudah mulai kepo.
"Iya, perkenalkan, ini suami saya." jawab Arisa dengan sedikit berbangga hati, karena sebelumnya mungkin dia sudah disangka wanita yang hamil di luar nikah karena tidak ditemani pasangan.
Tak lama kemudian, tibalah giliran Arisa masuk ke ruang pemeriksaan. Dengan bangga, dia melewati beberapa ibu hamil yang tadi terlihat celingak-celingik membicarakan dia sebelumnya, sambil menggandeng mesra tangan Andika. Dia sengaja menunjukkan kemesraan bersama suaminya di depan ibu-ibu tadi.
Dokter melakukan beberapa pemeriksaaan standar. Dioleskannya gel ke atas perut Arisa dan mendekatkan sebuah alat pendeteksi, untuk mengecek kondisi janin di dalam rahim Arisa. Betapa senang hati Arisa dan Andika, saat dokter memperdengarkan suara denyut jantung janin, yang terdengar cukup jelas di telinga mereka.
"Kondisi janin sehat. Namun, kalau dilihat dari perkembangan berat badan ibunya, ini malah mengalami penurunan. Padahal biasanya, ibu hamil akan mengalami perkembangan berat badan yang cukup signifikan. Jadi, saya sarankan ibu harus cukup istirahat, tidak boleh stress dan makan dengan teratur, sesering mungkin, meski masih sering mual-mual ya, supaya tidak berdampak bagi perkembangan janin ke depannya." ujar dokter tersebut menjelaskan dengan panjang lebar.
Mendengar penjelasan dokter barusan, membuat Arisa semakin bersalah, apalagi akhir-akhir ini karena pengaruh perasaannya yang sedang marah kepada Andika, membuatnya tidak begitu peduli dengan kondisi kesehatannya, padahal dia sedang hamil saat ini.
"Nah, peran bapak sebagai suami sangat Bu penting ya, usahakan istri Anda selalu dalam keadaan senang, tidak tertekan atau stress ya." nasihat dokter yang ditujukan kepada Andika.
"Baik, Dok!" dalam hatinya, Andika juga menjadi kuatir dengan keadaan Arisa, karena sampai saat ini dia belum bisa membuktikan apa-apa tentang kehamilan Rasti. Jadi, mungkin Arisa masih stress memikirkan hal itu. Apa yang harus dilakukannya supaya Arisa tidak marah dan stress lagi?
__ADS_1
Setelah konsultasi dokter selesai, Andika dan Arisa pun keluar dari ruangan dokter. Saat mereka melewati ruang tunggu yang masih tersisa beberapa ibu hamil yang sedang menunggu giliran, Arisa sengaja menggandeng mesra tangan Andika. Namun, ketika mereka sudah berjalan jauh dari area tersebut, hendak menuju mobil, tiba-tiba Arisa melepaskan gandengan tangannya dan berjalan lebih cepat.
"Sayang, tunggu!" Andika mempercepat jalannya supaya bisa menyejajarkan langkahnya dengan istrinya.
"Ada apa?" tanya Andika sambil mencoba mengandeng tangan Arisa, namun ditepiskan oleh istrinya.
"Gak usah pegang-pegang!" ujar Arisa.
Andika benar-benar dibuat bingung dengan sikap Arisa yang berubah secara tiba-tiba. Tak lama sebelumnya tadi Arisa bersikap manja di dekatnya, sekarang Arisa bersikap ketus kepadanya. Apakah ini salah satu pengaruh dari kehamilan ya? Andika pusing memikirkannya.
Mereka telah berada di dalam mobil dan kini Andika melajukan mobilnya menuju apartemen. Sebelumnya, Andika memang mendapatkan panggilan telepon dari ibu mertuanya yang mengabarkan kalau dia ada urusan mendadak, sehingga Arisa harus menunggu sendirian di rumah sakit tanpa ada yang menemani. Tentu saja, Andika yang tidak rela kalau istrinya menunggu sendirian saja, segera menyusul Arisa ke rumah sakit. Dia juga sudah berpesan kepada asistennya, kalau mungkin dia tidak akan kembali ke kantor, jadi semua tanggung jawab diserahkan kepada asistennya tersebut.
"Sayang, ada yang mau kamu kepengin makan, mungkin kita bisa singgah untuk membelinya?" tanya Andika.
"Aku tidak lapar!" jawab Arisa singkat dengan nada sedikit ketus.
"Stop!" pekik Arisa
"Sayang?"
"Aku bilang berhenti, cepat berhenti...!" teriak Arisa. Melihat kemarahan istrinya yang mendadak, dengan segera Andika menepikan mencari tempat dan mobilnya di tempat yang aman.
Dengan cepat, Arisa beranjak keluar dari mobil. Hampir saja, Andika kalang kabut hendak menyusul Arisa karena mengira istrinya mau melarikan diri, tetapi rupanya Arisa hanya mau muntah. Rupanya sedari tadi, Arisa sudah merasa mual-mual dan tidak nyaman. Kemudian dengan cekatan, Andika membantu mengusap punggung dan leher istrinya, agar merasa lebih nyaman.
Setelah merasa agak baikan, barulah Arisa masuk kembali dan terduduk di kursi belakang.
"Kamu tidak apa-apa, sayang? Apa perlu kita kembali lagi ke rumah sakit?" tanya Andika. Dari kaca depan, dia dapat melihat istrinya yang sedang menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaannya barusan.
__ADS_1
"Aku hanya ingin pulang, Mas!" jawab Arisa lemas.
"Baiklah, kita pulang. Sebentar lagi kita sampai, aku akan menemanimu hari ini, sayang."
"Tidak perlu, Mas. Bukankah kamu harus kembali bekerja?"
"Tidak apa-apa, sudah ada yang ngurus di kantor. Jadi, tidak masalah aku tinggal hari ini." jawab Andika. Arisa hanya diam, kemudian berusaha mencari posisi nyaman untuk menyandarkan kepalanya.
Meski di satu sisi, Arisa masih merasa kesal dengan suaminya, namun di satu sisi, Arisa begitu terharu dengan kepedulian dan kelembutan yang diberikan Andika. Haruskah dia memaafkan suaminya, bahkan kalau benar Rasti sedang mengandung anaknya Andika.
Saat sampai di apartemen, dengan cekatan Andika langsung mengendong Arisa untuk menuju ke kamar. Tak diiizinkannya, Arisa berjalan sendiri karena dilihatnya kondisi istrinya sedang lemas. Kali ini, Arisa tidak menolak, dia melingkarkan kedua tangannya di leher Andika, sehingga wajah keduanya cukup berdekatan. Mereka saling berpandangan dalam diam. Lalu, dengan pelan-pelan Andika membaringkan istrinya di atas tempat tidur, dikecupnya dengan lembut kening istrinya itu, cukup lama hingga membuat Arisa terbuai sejenak. Andai saja, Arisa tidak ingat dengan kekesalan terhadap suaminya saat ini, mungkin kecupan itu bisa berlanjut menjadi percumbuan yang panas.
"Kamu istirahat dulu ya, sayang. Aku buatkan susu hangat dulu!" Andika segera menuju ke dapur untuk membuatkan susu khusus ibu hamil buat istrinya. Tak lupa dia mengecek isi kulkas, agar bisa menyiapkan sesuatu untuk makan siang istrinya yang sebenarnya sudah sangat terlambat.
"Minum dulu susu ini dan makan cake ini ya!" ucap Andika sambil menyodorkan segelas susu hangat rasa coklat dan sepotong cake dalam piring kecil.
"Aku siapkan makan siang dulu ya!" Arisa hanya mengangguk, meski dalam hati kecilnya dia ingin ditemani oleh suaminya, namun dia gengsi untuk mengungkapkan hal itu.
Sambil menunggu, Arisa menyalakan televisi untuk mengusir kebosanan, karena sedari tadi dia tidak bisa tertidur.
Setelah beberapa kali ganti channel, perhatiannya tertuju pada acara infotainment di salah satu channel TV, karena kalau tak salah dengar, dirinya mendengar nama Rasti Andini disebutkan. Berita apa lagi tentang wanita itu???
*****
Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman....
Happy reading....
__ADS_1