
Sebenarnya Alex merasa tidak asing dengan pria yang tadi makan siang bersama Farah, tetapi dia enggan menanyakan kepada Farah. Yang penting hubungan mereka sudah membaik, Alex merasa tidak perlu membahasnya lagi. Meskipun sebenarnya ada sedikit penasaran dalam hatinya, karena wajah laki-laki itu tidak asing baginya, namun dia tidak ingat pernah bertemu di mana.
Sementara itu, hal yang sama juga dipikirkan oleh Johan. Pada awalnya dia tidak begitu menyadari siapa pria yang datang menghampiri Farah tadi siang. Namun kemudian dia merasa wajah pria yang bernama Alex, seperti yang dipanggil oleh Farah, itu tidak asing Barulah dia menyadari bahwa, itu Alex yang sama diceritakan oleh Arisa beberapa waktu yang lalu. Tentu saja wajahnya tidak asing, karena mereka pernah sekolah di satu SMA yang sama, hanya saja berbeda kelas. Alex memang salah satu siswa populer pada masa itu, jadi tentu saja tidak sulit untuk diingat, meski secara penampilan, ada banyak perubahan.
Jika Alex itu merupakan kekasihnya Farah, maka Johan pun segera menyadari kalau dia tidak boleh terlibat terlalu jauh hubungannya dengan Farah. Dia tidak ingin sampai menjadi perusak hubungan orang lain, kecuali kalau Farah memang sudah memutuskan hubungan dengan Alex, barulah mungkin ada kesempatan baginya.
****
Keesokan harinya, Farah yang lagi berbunga-bunga hatinya menghubungi Arisa dan bermaksud untuk mengajaknya makan siang.
"Hai, Arisa. Gimana kabarmu akhir-akhir ini?" tanya Farah di telepon untuk membuka pembicaraan.
"Aku baik, Farah. Kamu sendiri gimana kabarnya?" balas Arisa dari seberang telepon.
"Kabarku baik, sangat baik. Oh iya, kamu ada waktu siang ini? Kita jalan yuk, sekalian aku mau traktir makan siang nih." ajar Farah.
"Tentu saja aku tidak sibuk. Kamu tahu sendiri kan, sejak hamil, Andika tidak mengizinkan aku kerja. Jadi, beginilah aku, di apartemen terus, bosan... Tentu saja aku bisa, kita ketemu di mana?"
"Kita ke temu di mall XXX saja ya... Mallnya tidak jauh dari apartemenmu kan ya?".
"Oh iya, dekat kok, jam 12 ya aku meluncur ke sana. Sampai ketemu di sana!" ucap Arisa.
Tak lama setelah jam menunjukkan pukul setengah dua belas, Arisa pun segera bersiap-siap untuk meluncur ke mall tempat dirinya janji temu dengan Farah. Setidaknya ada sedikit aktivitas di luar yang bisa dia lakukan untuk mengusir kebosanan daripada berada di apartemen seharian. Apalagi, saat ini Dina, ibunya Arisa sedang ada keperluan di luar sehingga tidak bisa menemaninya di apartemen.
Hanya perlu waktu sekitar 20 menit, akhirnya Arisa sampai di tempat yang dituju. Sesuai dengan pesan chatnya dengan Farah, dia segera menuju food court, karena sepertinya Farah sudah duluan sampai dan sedsng menunggunya di sana.
Benar saja, dari kejauhan, dia sudah melihat kalau Farah sedang duduk dan kemudian melambaikan tangan ke arahnya saat melihatnya datang.
"Maaf ya, kamu jadinya nunggu lama ya?" sapa Arisa sembari duduk di hadapan Farah.
__ADS_1
"Oh, tidak. Aku juga barusan sampai kok. Kamu mau pesan apa? kita pesan dulu ya, habis itu baru ngobrol."
"Aku pesan jus jeruk saja." jawab Arisa.
"Makanannya?"
"Tidak, hanya minum saja. Rasanya aku lagi tidak berselera makan apa-apa. Jadi, minum saja."
"Lho, kok kayak gitu, pengaruh hormon lagi hamil ya?" tanya Farah.
"Entahlah, mungkin saja." jawab Arisan.
"Kalau seandainya, kalau nanti mengandung anaknya Alex, apakah akan mengalami kondisi seperti juga gak ya kira-kira?" cetus Farah tiba-tiba berandai-andai kalau dirinya hamil nanti.
"Tunggu dulu, anaknya Alex? Wah, seperti ada kabar bahagia nih, cerita dong bagaimana hubungan kalian sekarang?" tanya Arisa penasaran.
"Itu dia, makanya aku ngajak kamu keluar, aku lagi pengin cerita nih. Alex sudah menjelaskan semuanya kepadaku dan sepertinya dia jujur. Jadi, aku akan memberikannya kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki hubungan kami." jawab Farah menjelaskan.
"Aku juga maunya begitu, doain ya supaya hubungan kami lancar dan bisa berlanjut sampai ke pernikahan."
"Oh, tentu saja aku akan selalu mendoakan kalian." ujar Arisa. Dan selanjutnya Farah menceritakan dengan cukup detail tentang alasan Alex yang hilang tanpa kabar beberapa waktu yang lalu, termasuk foto pertemuannya dengan Michella. Namun, sesaat Farah menangkap ada raut sedih di wajah Arisa.
"Arisa!"" panggil Farah yang melihat seperti Arisa melamun saat mendengarkan ceritanya
"Iya.." Arisa terkaget dan sadar dari lamunannya saat Farah memanggil namanya.
"Kamu melamun ya?" tanya Farah.
"Akh, gak kok." jawab Arisa mengelak.
__ADS_1
"Sudah, jangan bohong. Kamu lagi ada masalah?" tanya Farah merasa tidak enak sendiri. Seharusnya dia bisa lebih peka dengan situasi tadi, namun karena hatinya lagi aenang, dia tidak begitu memperhatikan raut muka Arisa yang tiba-tiba berubah setelah dia mulai bercerita panjang lebar.
"Kamu kok tiba-tiba kelihatan murung, kamu lagi ada masalah Arisa?" tanya Farah sekali lagi.
"Oh, tidak.....ini bukan apa-apa, hanya saja..." ujar Arisa ragu melanjutkan ceritanya.
"Nah, tuh kan, pasti kamu lagi ada masalah ya?"
"Tidak, ini bukan masalah besar kok. Hanya saja, aku kok merasa akhir-akhir ini sikap suamiku agak berubah."
"Berubah gimana maksud kamu?" tanya Farah dengan penuh rasa ingin tahu.
"Sudah seminggu ini, Andika selalu pulang larut malam, alasannya selalu karena harus lembur di kantor. Karena dia selalu berangkat pagi dan pulang cukup malam, akhirnya kami jadi jarang komunikasi seperti biasanya. Kadang-kadang aku yang ketiduran atau kadang-kadang saat dia pulang pun, langsung saja tidur sehingga kami tidak sempat mengobrol."
"Mungkin Andika memang sibuk di kantor dan kerjaannya begitu banyak sehingga membuat dia kecapean sesampai di rumah. Sudahlah, kamu jangan pikiran, apalagi pikirin yang tidak-tidak. Ingat, kamu lagi hamil lho." ujar Farah menasehati Arisa.
"Iya, aku juga tahu ini. Tetapi gimana ya, akhir-akhir ini aku kok jadi kepikiran terus. Apa jangan-jangan...." ujar Arisa.
"Jangan-jangan apa? Jangan bilang kamu mencurigai suamimu berselingkuh darimu, gitu?" sahut Farah.
"Entahlah, aku berusaha percaya kepada Andika, tetapi tidak bisa dipungkiri kadang-kadang tidak bisa dipungkiri ada rasa kekuatiran yang menghampiriku kalau- kalau Andika punya hubungan dengan wanita lain di luar sana. Kamu tahu sendiri kan, pekerjaan Andika membuat dia harus bertemu dengan klien-klien, kadang-kadang kliennya juga ada wanita cantik, seperti Michella dulu."
"Akh,sudahlah. Aku pikir kamu berpikir terlau jauh. Sudah jangan curiga berlebihan. Atau begini saja, aku bantu kamu untuk mencari informasi tentang kesibukan Andika akhir-akhir ini, dan memastikan kalau dia benar-benar sibuk di kantor ya" ucap Farah menawarkan bantuan tiba-tiba agar bisa membuat Arisa lebih tenang. Dia merasa kasihan juga dengan Arisa kalau dia sampai stres di tengah kehamilannya ini.
"Benarkah?"
Farah mengangguk.
"Terima kasih ya."
__ADS_1
Mereka pun melanjutkan obrolan ringan lainnya sampai ketika waktu menunjukkan pukul 2 sore, barulah mereka berpisah dan kembali ke tempat mereka masing-masing.