
Pertemuan tak sengaja dengan Alex menyisakan rasa gundah gulana di hati Farah. Dia memang belum ketemu langsung dengan Alex, sejak dia memutuskan untuk tidak berharap lagi cintanya dengan Alex.
Dalam perjalanan kembali ke butiknya ya, Johan pun terdiam tidak berani menanyakan apa-apa perihal kejadian di resto tadi meski dirinya sedikit penasaran. Sementara itu, Farah juga terlihat diam seperti sedang memikirkan sesuatu dalam benaknya.
Tak lama kemudian, merekapun sampai di butik. Farah segera keluar dari mobil, tak lupa dia mengucapkan terima kasih sekaligus permintaan maaf atas kejadian tidak mengenakkan di resto tadi.
"Tidak apa-apa. Aku tidak masalah, tetapi yang aku kuatirkan itu dirimu Far, kamu benar tidak apa-apa sekarang?" tanya Johan.
"Tenang saja, aku tidak apa-apa kok. Sekali lagi aku minta maaf ya, mungkin lain kali kita bisa makan siang kembali sebagai ganti perbaikan makan siang hari ini." ujar Farah.
"Perbaikan? kayak anak sekolah saja, dapat nilai jelek, terus perbaikan hahaha...." ucap Johan yang membuat Farah ikutan tergelak.
"Hahaha....tetapi kamu mau kan?"
"Oh tentu saja aku mau, tetapi ada satu syarat." ujar Johan.
"Apa syaratnya?" tanya Farah
"Lain kali, biarkan aku yang mentraktirku ya!"
"Oh kirain apa...kalau itu mah, tentu saja, silakan...makan sering juga makin bagus, diriku bisa semakin menghemat budget makanku hahaha..." ucap Farah.
"Aku masuk dulu ya Joh, bye..." lanjut Farah mengakhiri pembicaraannya dan kemudian melangkahkan kaki masuk ke dalam buktinya diikuti dengan pandangan Johan yang mengiringinya masuk. Setelah Farah hilag di balik pintu dari pandangan Jihan, barulah laki-laki itu melakukan mobilnya untuk kembali ke kantornya, berhubung waktu istirahat siang pun hampir berakhir.
__ADS_1
****
Sementara itu, Alex yang menatap geram kepergian Farah dengan laki-laki tak dikenalnya itu, entah kenapa hatinya terasa sakit. Padahal biasanya dia cuek, bahkan tidak peduli Farah mau jalan dengan siapa saja, bahkan dengan laki-laki lain sekalipun. Tetapi, kali ini rasanya beda.
Setelah menenangkan dirinya sejenak, barulah Alex kembali ke kantornya untuk mengurus pekerjaannya yang tertunda selama ini, karena dirinya tidak berada di tempat hampir tiga lamanya kalau tidak salah.
Dritt....dritt...
Suara telepon di kantor Alex berbunyi. Dengan segera mengangkatnya.
"Apa?" teriak Alex setengah kaget. Meski sebenarnya sebelumnya dia juga sudah memprediksi kalau hal ini akan terjadi. Hanya saja, dia tidak menyangka akan secepat ini.
Perusahaan yang menjadi patner kerjanya selama ini dan memegang saham besar di perusahaannya, tiba-tiba menarik diri dan menjual semua sahamnya di pasaran. Belum lagi, beberapa pemegang saham lainnya juga ikut menarik diri. Tentu, keadaan ini membuat keadaan perusahaan sedikit terguncang.
"Baiklah, tunggu saja perintah dariku selanjutnya!" ujar Alex menjawab laporan dari bawahannya dan kemudian menutup teleponnya.
Padahal dulu, dia paling gerah kalau Farah sudah mengunjunginya ke kantor, dia sangat tidak menyukainya, namun dia tidak berani menolak atau mengusir Farah, karena ayahnya sudah sangat berharap akan hubungannya dengan Farah. Dan dia tidak ingin mengecewakan ayahnya yang sudah tua itu dan sering sakit-sakitan.
Tangannya meraih handphonenya yang ada di atas meja dan mencoba menelepon Farah. Panggilan masuk, namun sepertinya panggilan tersebut sengaja dialihkan sehingga tidak diangkat sama sekali.
Berkali-kali, Alex mencoba menelepon, namun hasilnya tetap sama, nihil. Farah tetap tidak menjawab panggilan telepon dari Alex.
Sementara itu, Farah yang sedang sibuk menggambar desain baju pesanan pelanggan, sebenarnya agak terganggu dengan getar handohonenya yang terus berderit meski dia sudah mematikan suaranya. Karena dia yahu bahwa itu panggilan dari Alex, Farah mencoba untuk tidak menghiraukannya. Cukup lama, akhirnya panggilan telepon itu berhenti.
__ADS_1
Sebuah pesan singkat masuk ke handphone Farah.
*Kenapa kamu menghindariku? (pesan dari Alex)
Tolong jangan ganggu aku lagi! ( jawab Farah singkat membalas pesan Alex tersebut*)
Karena sepertinya tidak mungkin membahas masalah hubungan mereka di telepon saat ini. Maka Alex mencoba untuk segera menyelesaikan pekerjaannya hari ini supaya dia bisa pulang lebih awal untuk menemui Alex. Sebenarnya bisa saja, dia pergi menemui Farah saat ini, namun banyaknya laporan dan dokumen yang menunggu pemeriksaan dan persetujuan darinya saat ini membuat dia harus menunda sejenak keinginannya saat ini.
Diapun mulai menyibukkan diri berkutat dengan setumpuk dokumen yang perlu diperiksanya sebelum ditandatanganinya itu. Waktu berlalu dengan cepat .
Tak terasa, jam dinding sudah menunjukkan pukul 5 sore. Meski masih belum selesai semua pekerjaannya, Alex menghentikan pekerjaannya dan bersiap untuk menuju ke butik Farah. Mudah-mudahan dia masih sempat menjemput Farah, karena biasanya Farah baru akan pulang dari butiknya pukul 6 biasanya.
Syukurlah, jalanan tidak begitu macet saat itu, padahal biasanya itu adalah jam-jam macet karena merupakan jam pulang karyawan. Hanya dalam setengah jam, akhirnya Alex sampai di butik Farah. Sepertinya Tuhan sedang berpihak padanya, Alex tersenyum saat melihat butik Farah masih buka. Memang biasanya, Farah yang pulang paling lambat setelah semua karyawannya pulang.
Benar saja, saat Alex melangkahkan kaki masuk ke dalam butik, dilihatnya hanya tersisa satu karyawan yang masih belum pulang.
"Nona ada?" tanya Alex. Gadis belia yang merupakan salah satu karyawan Farah itu mengangguk.
Dengan segera Alex berjalan menaiki tangga menuju kantor Farah yang terletak di lantai dua. Dia mencoba mengetuk pintu ruangan Farah sebelum masuk. Namun setelah menunggu sesaat, tidak terdengar sahutan dari dalam, Alex mencoba membuka pintu dan masuk ke dalam.
Pantas saja tidak ada jawaban sama sekali dari dalam. Dilihatnya Farah sedang tertidur dengan posisi kepalanya tertelungkup di atas meja kerjanya. Sepertinya, Farah sedang kecepan hingga tertidur saat bekerja.
Alex mendekat dan menatapi wajah polos Farah yang sedang pulas itu. Tidak pernah disadarinya, wanita yang selama ini dekat dengannya itu atau lebih tepatnya selalu mendekatinya itu ternyata sangat cantik saat tertidur seperti ini. Bahkan memandangi wajahnya yang tertidur polos ituembiat hati Alex begitu adem.
__ADS_1
Alex mencoba merangkul dan mengendong Farah untuk memindahkannya ke atas sofa agar Farah bisa tidur lebih nyaman di situ. Sepertinya, Farah benar-benar kelelahan atau memang dirinya sedang larut dalam mimpi sehingga sama sekali tidak terbangun dalam gendongan Alex.
Wajah keduanya sangat dekat, bibir mereka hampir saja saling berpaut, apalagi ketika Alex mencoba meletakkan pelan tubuh Farah di atas sofa empuk dalam ruangan Farah itu. Gejolak dalam diri Alex tak bisa ditahannya lagi, akhirnya dia mencuri mengecup dan memagut bibir Farah. Entah kenapa, bibir Farah terasa begitu manis. Ini pertama kalinya dia mencium bibir wanita itu.