
Sambil membersihkan celananya yang kotor karena terduduk ke bawah tadi, gadis itu pun berdiri dan memandang sinis ke arah yang menabraknya itu, ups....yang ditabraknya, sebenarnya. Seketika itu juga, Andika memandang kaget ketika melihat wajah gadis itu.
"Erina ....." teriak Andika keras, spontan memeluk gadis di depannya itu.
Gadis itu kaget setengah mati, pria tampan di depannya tanpa aba-aba langsung main peluk saja.
"Hei....lepaskan aku, orang gila....ngapain sih main peluk-peluk...ikh" teriak gadis itu sambil meronta berusaha melepaskan pelukan dari Andika.
"Erina, aku kangen....aku kangen sekali dengan kamu, kamu ke mana saja sih..." ujar Andika yang mulai melepaskan pelukannya itu.
"Hah???? Erina??? Maaf Tuan, seperti Anda salah orang.....saya bukan Erina" sembari berjalan meninggalkan lelaki yang memeluknya tadi, namun dengan cepat tangannya disambar oleh Andika dan menggenggamnya dengan kuat.
"Tidak....tidak....aku tidak salah, kamu Erina, calon istriku....Kita akan segera menikah, bagaimana mungkin kamu bisa lupa." balas Andika tidak mau melepaskan genggamannya pada gadis itu.
"Lepaskan aku.....!!! sudah kukatakan tadi, aku buka Erina, anda salah orang, Tuan Tampan." jawab gadis itu geram.
"Lepaskan tidak, kalau tidak aku teriak nih....." menggambil ancang-ancang untuk berteriak.
Tiba-tiba, seorang laki-laki yang melihat kejadian itu dari kejauhan, segera berlari mendekati.
"Arisa, ada apa ini?" tanya laki-laki yang bernama Johan itu berlari mendekati sahabatnya itu.
"Ini....gak tahu nih, laki-laki ini main peluk aja dari tadi, sudah kukatakan berkali-kali, aku bukan orang yang dikenalnya. Masih tidak percaya." jawab Arisa kesal, apalagi setelah melihat ruam-ruam merah bekas genggaman Andika tadi.
"Hei...Anda kurang ajar sekali, Tuan." bersiap ingin memukul Andika, namun cepat ditangkis oleh Andika.
"Sudah....sudah....kita pergi dari sini, Jo... Aku tidak mau berlama-lama dengan orang gila ini, bisa ikutan gila aku ini." ujar Arisa sembari menarik tangan Johan agar segera beranjak dari situ.
"Urusan kita belum selesai ya, Tuan gila." ujar Johan menoleh ke belakang dan menatap sinis kepada Andika, sambil berjalan ke depan karena tangannya sudah ditarik oleh Arisa.
"Erina....." teriak Andika.
__ADS_1
******
Apaan sih, emang aku mirip dengan pacarnya apa, pakai ngaku-ngaku, main peluk lagi....Arisa masih geram dengan kejadian yang baru saja dia alami tadi. Gadis tomboi ini memang senang berteman dengan laki-laki, bahkan sahabatnya pun laki-laki, si Johan itu. Tetapi, belum pernah sekalipun dia berpelukan atau dipeluk oleh laki-laki, siapa yang berani coba, bisa langsung dapat tonjokan mendarat manis di perutnya kalau ada yang berani memeluknya, tetapi untuk yang tadi itu, asli Arisa tidak dapat menghindar.
"Hei, melamun ya?" tanya Johan membuyarkan lamunan Arisa. Mereka sedang duduk di salah satu kursi di sudut taman tersebut setelah mereka berjalan menghindar dari laki-laki aneh tadi.
"Apaan sih, kagetin aja....Loe hobi lalu ya, ngagetin orang, heran gue?" Arisa menampakkan muka kesalnya yang sepertinya tidak dibuat-buat, sehingga membuat Johan reflek menggeser posisi duduknya ke samping menjauhi Arisa karena seram dengan muka gadis itu.
"Iya...maaf deh...lagipula, loe mikirin apa sih? masih kepikiran sama si cowok breng**k tadi ya?" tanya Johan
"Iya, kesal gue.....main peluk-peluk aja, jijay gue..." jawab Arisa singkat.
"Udah gak usah diingat-ingat lagi, mungkin dia salah orang aja." balas Johan yang diiyakan Arisa dengan anggukan kepalanya.
"Iya kali....ngomong-ngomong, habis ini kita mau ke mana lagi? Loe ada acara malam ini?" tanya Johan
"Gue mau pulang aja deh, udah capek...lagian kasihan mak gue, sendirian di rumah." jawab Arisa
"Akh....yang benar.....mau...mau....loe traktir gue kan?" Arisa langsung bersemangat mendengar ajakan Johan.
"Yeah....tadi bilangnya mau di rumah aja....kok gantian loe yang semangat sekarang..." ledek Johan melihat kelakukan Arisan.
"Iya donk, kalau loe traktir gue nonton, mau donk....kalo bayar sendiri, ogak gue...." lanjut Arisa sambil mengibaskan rambutnya.
"Iya...iya ....deh....gue traktir....lagian memang sudah gue beli tiketnya kok, nih dia...." ujar Johan sambil menunjukkan tiket nontonnya pada aplikasi pemesanan tiket di hapenya itu.
"Sip...deh...loe memang sahabatku yang terbaik sedunia....." pura-pura merangkul lengan Johan manja, membuat laki-laki itu menjadi salah tingkah.
"Giliran ada maunya loe...muji-muji kayak gini, manja-manja gini. Giliran sebelnya, habis gue kena loe..." Arisa terkekeh mendengarnya.
"Udah akh, kita pulang yuk, gue mau bersiap-siap. Nanti loe jemput gue ya, awas lho....kalau gak datang?" ancam Arisa sambil mengepalkan tangannya ke arah Johan. Mereka pun pulang untuk bersiap-siap pergi nonton nanti malam.
__ADS_1
*****
Sementara itu, Andika yang ditinggal begitu saja oleh Arisa dan Johan merasa kebingungan. Dia yakin betul bahwa gadis itu adalah Erina, wajahnya sama persis seperti bayangan wajah yang selalu muncul di dalam pikirannya.
Tetapi kenapa dia tidak mengenalku??? Akh....jangan-jangan dia juga lupa ingatan seperti aku....Pikir Thomas sambil berjalan menuju tempat di mana Pak Joko memarkirkan mobilnya. Aku akan mencari tahu tentang gadis itu.
"Jalan, pak!! langsung pulang ke rumah saja." perintahnya kepada Pak Joko mengingat hari juga sudah mulai gelap.
Sesampai di rumah, kedua orang tuanya sedang duduk santai di ruang keluarga, sembari menunggu makan malam disiapkan oleh para asisten rumah tangga.
"Sudah pulang, nak? kamu pergi ke mana tadi? " tanya Anita penuh dengan rasa ingin tahu.
"Aku bertemu dengannya, Mah." Anita mengernyitkan dahinya terlihat bingung. "di taman sore tadi." lanjut Andika.
"Maksudmu???? bertemu dengan siapa, Dika?" tanya Wijaya yang ikut penasaran.
"Erina." Seketika itu kedua wajah orang tuanya langsung terlihat berubah. Andika menatap penuh curiga dengan kedua orang yang belum seratus persen dia percayai sebagai orang tuanya.
"Bagaimana mungkin? Erina sedang ada di luar negeri, nak." Anita cepat menimpali ketika melihat raut wajah anaknya yang mulai terlihat curiga.
"Dia ada di sini....Aku lihat mata kepalaku sendiri, Erina ada di sini." ketus Andika dengan nada agak tinggi.
"Mungkin kamu salah lihat, bisa saja itu hanya orang yang sekedar mirip dengan Erina." Wijaya mencoba menjelaskan.
"Aku tidak mungkin salah....Akh, sudahlah....aku capek.....aku mau ke kamar dulu...." Andika mengakhiri pembicaraannya dan menuju ke tangga yang mengarah ke kamarnya.
*****
"Bagaimana ini, Pah? sebenarnya Dika bertemu dengan siapa? Tidak mungkin dia bertemu dengan Erina. " lanjut Anita setelah melihat Andika sudah masuk ke dalam kamarnya.
"Sudahlah, Mah....tidak usah dipikirkan. Mungkin saja, Dika bertemu dengan gadis yang sekedar mirip dengan Erina." jawab Wijaya menatap wajah istrinya yang terlihat kuatir sejak dari tadi.
__ADS_1
"Mungkin ya Pah....Ya sudahlah, makan malam sudah siap, sebentar mama panggil Andika dulu ya, Pah." Anita beranjak dari kursinya, berjalan menuju ke kamar Andika.