Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Memanfaatkan Kesempatan


__ADS_3

Tepat 2 jam Arisa menghabiskan waktunya di luar untuk berbelanja segala keperluan rumah tangga. Saat dia sampai di apartemen, dilihatnya Andika di kamar, rupanya sedang tertidur pulas, mungkin efek obat yang diminumnya tadi pagi. Dengan cekatan, dia membereskan barang belanjaan untuk ditaruh pada tempatnya.


Setelah itu, barulah dia masuk ke kamar tidur mengecek kondisi Andika. Panasnya sepertinya belum mereda, setelah diceknya dengan menggunakan punggung tangannya. Lalu dia bermaksud untuk mandi lagi siang itu karena dirinya merasa cukup gerah apalagi setelah bertemu dengan si Mak Lampir yang sok kecantikan itu. Berendam di bath tub sepertinya menjadi pilihan yang menyenangkan untuk meredakan kegerahan Arisa. Dengan segera dia mengisi air dalam bath tub di kamar mandi dan memberikan beberapa tetes minyak aroma terapi. Setelah siap, barulah dia melepaskan pakaiannya dan berendam di dalam bath tub tersebut.


Sungguh menyenangkan rupanya, harusnya dia sering-sering melakukan ini, pikirnya. Tiba-tiba, krik....Bunyi pintu dibuka.


"Akh........." teriak Arisa seketika sambil menutup bagian dadanya dengan kedua tangannya. Sialnya, dia tidak berendam dalam air yang berbusa, sehingga semua terlihat dengan jelas oleh Andika.


"Aku kebelet nih...." ujar Andika santai tak merasa bersalah sudah menuju area toilet


"Tutup matamu!" perintah Arisa tegas.


"Kenapa harus tutup mata?"


"Gak lihat nih, aku lagi mandi."


"Lihat kok, tuh lagi mandi."


"Jangan lihat, tutup matanya!" seketika itu Andika langsung menutup matanya sambil membuang air kecil yang sedari tadi sudah ditahannya.


"Katanya tadi disuruh lihat, kok disuruh tutup mata lagi?" tanya Andika pura-pura bingung.


"Aku malu..." Andika cekikikan sendiri mendengar alasan Arisa. Bagaimana mungkin dia bisa malu, padahal dua malam yang lalu bukankah semua juga sudah dilihatnya.


"Kalau sudah selesai urusan, cepat keluar dan ingat, tetap tutup matanya!" ujar Arisa memperingatkan.


Alhasih, mau tidak mau Andika berjalan ke luar seperti orang buta yang meraba-raba letak pintu. Ada-ada saja.


Sial, kok bisa-bisanya aku lupa tutup pintu. Malu sekali rasanya nih. Gerutu Arisa dalam hati, membuat dia menjadi tidak bersemangat lagi untuk berendam lebih lama dan memilih menyudahi kegiatan berendamnya. Dengan segera dia meraih handuk yang ada di dekatnya untuk mengeringkan badannya dan berjalan ke arah wastafel dengan cermin besar di depannya.


"Hah?? Ini kenapa bekas-bekas gigitan semut kemarin masih gak menghilang, malah bertambah lagi? Padahal aku kan sudah mengganti seprai kemarin."


Dengan segera dia berpakaian dan keluar menuju tempat tidur, mengecek dengan teliti tempat tidur tersebut dari sudut ke sudut.

__ADS_1


"Tidak ada?"


"Apa yang kamu cari?" tanya Andika yang berjalan dari luar setelah mengambil air minum di dapur.


"Semut-semut." Arisa masih sibuk mencari.


"Semut?"


"Iya, lihat nih" sambil menunjukkan beberapa ruam merah yang ada di lehernya, membuat Andika menahan tawa karena tidak mau sampai istrinya curiga.


"Wah, sepertinya semut-semut itu benar-benar menyukaimu ya, dia menciumimu setiap malam." sahut Andika, padahal dialah semut tersebut.


"Bantu cariin dong." pinta Arisa.


"Iya...iya....sini aku bantu carikan." Andika bergegas naik ke tempat tidur dan berpura-pura mencari sesuatu yang tentu saja tidak ada. Hingga kemudian kepa mereka saling terantuk.


"Auh.....!" pekik Andika sambil mengelus-elus dahinya padahal sebenarnya tidak begitu sakit.


"Sakit? Maaf...maaf....Sini aku lihat!" Dengan segera, Arisa mengambil alih mengelus dahi Andika.


"Gak mau, aku bosan di atas tempat tidur!"


"Ya namanya juga sakit, ya baring-baring aja di tempat tidur, emang kalau tidak kamu mau ngapain?" tanya Arisa.


"Kalau sendirian bosan dong, kalau bareng kamu, mungkin lain ceritanya." ujar Andika memberi kode.


"Ya sudah, sini aku temanin." Arisa juga menarik selimutnya dan ikut berbaring bersama Andika. Tentu saja, hal itu sangat menyenangkan buat Andika. Dia malah berpikir beberapa hari ini, dia mau tetap sakit saja, meskipun sebenarnya kondisinya sudah cukup membaik.


Dalam posisi Arisa yang membelakanginya, Andika memeluk istrinya dari belakang, nyaman buat Andika tetapi tidak nyaman buat Arisa, karena dia merasa cukup gerah meskipun AC dalam kondisi dinyalakan. Cukup lama, hingga akhirnya Andika bisa terlelap, barulah pelan-pelan Arisa melepaskan dirinya dari pelukan Andika, untuk melanjutkan kegiatannya yang tertunda. Rencananya, dia akan memaksa bubur dan sup jagung buat makan malam Andika, menu yang cocok buat orang sakit, menurutnya.


******


"Erina....Erina....jangan tinggalkan aku...akh....!" tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam kamar. Dengan cepat, Arisa langsung lari ke dalam kamar untuk melihat apa yang terjadi. Dilihatnya, wajah Andika yang pucat pasi, pasti dia mengalami mimpi buruk lagi.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa, Mas?" tanya Arisa mendekati Andika


"Aku takut....aku mimpi buruk lagi, mimpi bahwa kamu akan meninggalkanku." jawab Andika sambil menarik Arisa mendekat kepadanya.


"Sini.....berjanjilah padaku, bahwa kamu tidak akan meninggalkanku, Erina, sayang!" pinta Andika dengan muka memelas.


Andai kamu tahu Mas, bahwa sebenarnya aku bukan Erina yang kau cintai itu, apakah kamu akan bisa berkata seperti itu? Arisa sendiri tidak yakin akan hal itu.


"Iya...iya....aku janji." jawab Arisa asal, tidak ingin membuat Andika menjadi curiga.


"Tidur lagi ya!"


"Aku mau kamu nemanin!" ujar Andika manja.


"Tetapi aku lagi masak mas, ntar buburnya gosong tuh. Sebentar ya." ucap Arisa sembari berjalan keluar meninggalkan Andika yang sebenarnya tak rela ditinggal.


Kenapa aku sering mengalami mimpi buruk terus, mimpi yang sama lagi. Apakah ini suatu pertanda? tanya Andika dalam hati.


Tidak mungkin Erina akan meninggalkanku, kami sudah menikah sekarang. Seharusnya aku tidak perlu mengkuatirkan apapun. Ini mungkin efek trauma dari kecelakaan saja.


Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat, sore menjelang malam, meskipun biasanya bagi orang sakit yang kebosanan di rumah akan merasa waktu berjalan begitu lambat, tetapi tidak bagi Andika. Baginya, sakit adalah berkah tersendiri karena memberikan kesempatan kepadanya untuk menghabiskan lebih banyak waktu berduaan dengan istrinya. Meski mereka telah menikah, namun kadang-kadang Andika masih merasa bahwa masih ada jarak di antara mereka, terlebih dari sikap Arisa yang memang belum berani terlibat jauh dalam hubungannya dengan Andika.


"Makan malam sudah siap, Mas...Ayo, kita makan, apa perlu aku bawa ke kamar saja?" ucap Arisa dari depan pintu kamar.


"Tidak usah....aku akan keluar. Sebentar, aku ke kamar mandi dulu."


"Ya sudah, aku tunggu di meja makan ya." Tidak lama kemudian, Andika pun menyusul ke meja makan.


"Wow, kelihatannya enak nih masakannya." puji Andika saat melihat makanan yang sudah terhidang di atas meja dan langsung menyambar ingin mengambil nasi.


"Eits....ini aja makannya, Mas." ujar Arisa sambil menyodorkan semangkuk bubur.


"Lho...kok aku makannya bubur, mana cocok dengan lauknya." protes Andika.

__ADS_1


"Cocok donk, untuk orang sakit. Nih, makannya dengan sup jagung ini, biar makin cocok ya."


Akhirnya dengan setengah terpaksa, Andika melahap makanan yang sudah dikhususkan untuknya, padahal dia ingin menyantap semua hidangan yang tersedia di meja, terutama udang goreng yang kelihatan menggiurkan. Namun, tidak diizinkan Arisa, gak boleh dimakan oleh orang sakit, katanya. Rupanya, gak nyaman juga jadi orang sakit apalagi pura-pura sakit. Dia memikirkan kembali rencananya akan berpura-pura sakit selama 3 hari, biar bisa berkesempatan mendapatkan perhatian penuh dari istrinya itu, sepertinya batal deh.


__ADS_2