Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Tinggallah Bersama Kami


__ADS_3

Pagi itu, Della terbangun, matanya pelan-pelan terbuka dan mulai memandang keadaan di sekelilingnya. Dirinya mrnyadari bahwa dia tidak sedang berada di kamarnya. Matanya kemudian tertuju pada seorang perempuan yang sedang tidur tertunduk di samping tempat tidurnya. Rambutnya panjang bergelombang, namun dia tidak bisa melihat jelas siapa itu.


Dilihatnya Handoko juga sedang tertidur pulas di atas kursi sofa. Siapakah gerangan perempuan ini, tanyanya dalam hati. Karena merasa haus, dia mencoba meraih segelas air putih yang tersimpan di meja nakas samping ranjangnya. Namun karena tidak hati-hati, dia malah menjatuhkan gelas itu.


Prang..


Bunyi keras dari gelas kaca yang terjatuh ke lantai itu mengagetkan semua orangbyang tertidur, termasuk Arisa yang spontan langsung terbangun.


Betapa kagetnya Della ketika bisa melihat jelas wajah perempuan yang tadi tertidur di samping ranjangnya tadi.


"Erina?" pekiknya


"Tidak mungkin!"


"Mama, ini Erika Mah, anak kita.." sahut Handoko cepat sambil berjalan mendekati tempat tidur Della.


"Erika? Erika anak kita yang hilang itu? Benar Pah, ini dia Pah?" tanya Della serasa masih tidak percaya dengan apa yang dilihat di depannya itu.


"Aku tidak mimpi kan Pah?" tanya Della seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri.


"Iya, Ma. Ini aku Erika, Ma." sahut Arisa.


"Erika, anakku!" panggil Della dan kemudian pecah tangisnya.


"Sini, Nak!" pinta Della sambil membuka dan merenggangkan tangannya memberi kode bahwa dia ingin memeluk Arisa.


Dengan segera, Arisa mendekat dan masuk ke dalam pelukannya mamanya itu. Betapa hangat pelukan itu, Arisa sampai meneteskan air mata tangin bahagia.


Terima kasih Tuhan atas kesempatan ini. Aku masih bisa dipertemukan dengan kedua orang tuaku.


Handoko juga merasa bahagia dengan momen ini. Sekarang, dirinya bisa berharap, dengan kembalinya putri mereka yang telah lama hilang, itu akan membantu pemulihan kesehatan istrinya itu.


"Kamu ke mana saja selama ini, Nak?" tanya Della masih dalam isak tangisnya. Dirinya juga penasaran bagaimana ceritanya suaminya akhirnya dapat menemukan putri mereka yang telah lama hilang, bahkan dia berpikir bahwa putrinya itu sudah meninggal. Oleh karena itu, dia sudah tidak memiliki harapan lagi kalau suatu hari lagi, putrinya akan kembali.

__ADS_1


Namun, sebelum sempat Handoko mrmulai penjelasannya. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk ke dalam ruangan. Wajahnya yang tidak asing, langsung membuat Della menjadi marah seketika.


"Kenapa kamu ada di sini? Keluar sana, aku tidak sudi melihatmu. Kamu yang menyebabkan putriku meninggal. Kamu pembunuh!" teriak Della saat melihat Andika masuk ke dalam ruangan.


Della berteriak-teriak seperti orang gila, dirinya benar-benar marah.


"Tenang, Ma.. tenang!" ujar Arisa menenangkan mamanya itu. Sedangkan Handoko segera memberi kode, agar Andika keluar dari ruangan tersebut dulu. Dengan sigap, Andika langsung keluar setelah menyadari keadaan yang tidak pas baginya untuk berada di situ saat ini.


Andika menyadari kenapa ibu mertuanya begitu marga kepadanya. Memang, semua itu salahnya. Akh, kalau saja waktu itu, dia bisa mengendalikan emosinya. Kalau saja, dia tidak ngebut membawa mobilnya. Pasti kecelakaan itu terjadi. Dan Erina pasti masih hidup sampai sekarang.


Arrgh....


Kepala Andika tiba-tiba menjadi sakit, dia segera duduk di kursi tunggu yang tersedia tak jauh dari posisinya berdiri. Namun, sesaat kemudian dia memikirkan, jika kejadian itu tidak terjadi, berarti itu artinya dia juga tidak akan pernah menikah dengan Arisa. Semua keadaaan ini tiba-tiba menjadi serba salah baginya.


Sementara itu, di dalam ruangan Arisa dan papanya saling pandang, mungkin dalam pikiran mereka masing-masing, mereka sama-sama memikirkan bagaimana caranya menyampaikan kepada Della kalau Andika sekarang telah menjadi menantunya, meski Andika tidak jadi menikahi Erina, tetapi akhirnya dia menikahi Arisa atau Erika.


Melihat keadaan Della yang masih lemah, Handoko tidak tega untuk menyampaikan kebenaran ini, dia takut istrinya akan shock dan berpengaruh pada kesehatannya lagi, begitu juga dengan Arisa.


Lantas, apa yang harus dilakukan oleh mereka? Mereka berdua masih terdiam, sementara Della sudah kembali dalam posisi berbarang, sesekali memejamkan mata, namun belum tertidur.


"Bagaimana Dok, keadaan istri saya?" tanya Handoko.


"Cukup baik. Tolong dijaga ya, jangan terlalu stress ya. Itu akan sangat mempengaruhi kesehatan pasien." ucap dokter menjelaskan.


"Baik, Dok!"


"Saya permisi dulu!" pamit dokter tersebut sambil berlalu dari ruangan tersebut.


"Erika...Erika, anakku...Kamu jangan pernah lagi meninggalkan mama ya, Nak!" ucap Della pelan setelah Arisa duduk tepat di samping tempatnya berbaring.


"Iya, Ma....Erika tidak akan pernah lagi meninggalkan mama!" jawab Arisa


" Kalau begitu, kamu akan kembali tinggal dengan kami ya!" ucap Della memastikan.

__ADS_1


Sesaat Arisa bingung harus menjawab apa, rasanya bukan waktu yang tepat untuk mengatakan bahwa dirinya sudah menikah dan suaminya itu adalah Andika, sedangkan mamanya begitu membenci Andika.


"Iya Ma, nanti Erika akan tinggal bersama kita. Makanya, mama harus cepat sembuh, cepat sehat, biar kita bisa kembali ke rumah bersama-sama!" sahut Handoko yang melihat Arisa yang terdiam, sedangkan istrinya terlihat menunggu jawaban.


"Oh ya, Ma...Pa...Aku lapar nih, papa juga pasti lapar. Aku keluar dulu membeli makanan ya!" ucap Arisa pura-pura beralasan supaya bisa ke luar karena dirinya ingin berbicara dengan Andika.


Handoko mengangguk.


"Aku pergi dulu ya!" pamit Arisa sambil berjalan ke luar. Saat dirinya telah berada di luar, dia melihat Andika yang sedang terduduk lesu di salah satu kursi panjang di satu sisi lorong rumah sakit tersebut.


"Mas!" panggil Arisa sambil berjalan mendekati


"Bagaimana keadaan Mama, sayang?" tanya Andika.


"Mama baik, hanya saja..." Arisa tidak tahu harus bagaimana mengatakannya.


"Hanya saja, kenapa sayang?" tanya Andika penasaran.


"Mama belum bisa menerima kehadiran Mas, jadi kami belum bisa memberitahukan kebenaran bahwa kita sudah menikah, kami takut mama akan shock." ucap Arisa dengan terpaksa mengatakan hal ini.


"Maafkan aku, Mas!" lanjut Arisa merasa tidak enak hati..


"Sudah, tidak apa-apa, aku bisa mengerti itu. Mama memang pantas membenciku. Memang benar, aku yang telah menyebabkan Erina menjadi meninggal." ucap Andika merasa bersalah.


"Itu bukan salah kamu, Mas. Itu kecelakaan. Tidak ada yang bisa disalahkan. Tetapi...." ucap Arisa terhenti lagi.


"Kenapa?"


"Mama ingin aku tinggal bersamanya."


"Maksudmu?" tanya Andika.


"Mama belum tahu kita sudah menikah. Mama mau aku kembali tinggal bersamanya." Andika bingung harus menjawab apa, di satu sisi dia tidak rela berpisah dengan istrinya walau hanya sementara. Tetapi di satu sisi, dia juga mengerti kondisi kesehatan ibu mertuanya saat ini.

__ADS_1


*****


Maaf ya teman-teman, agak lama updatenya. Author lagi disibukkan dengan tugas di dunia nyata dulu, sibuk ngajar online dan segala macamnya. Jangan lupa ya, tinggalkan jejak ya, like, koment, rate dan vote kalau berkenan. Biar author semakin semangat. Mari kita saling mendukung


__ADS_2