
Sinar matahari pagi sudah mencuri masuk melalui celah-celah golden jendela kamar rumah sakit tempat Ibu Arisa dirawat. Arisa terbangun dan mengucek matanya, dia baru tersadar baru semalaman dia tertidur tertelungkup di dekat ranjang ibunya. Dia bergegas menuju toilet yang ada di ruangan itu, untuk sekedar mencuci muka agar lebih segar. Tidak banyak hal yang bisa dilakukan pagi ini. Dia sudah meminta izin tidak masuk kerja selama beberapa hari kepada tante Ririn, karena dia mau menemani ibunya di rumah sakit.
Tiba-tiba, pintu ruangannya itu diketuk dari luar. Masuklah seorang laki-laki, dengan perawakan tinggi besar dan memakai kacamata hitam, sedikit menyeramkan, seperti bodyguard di film-film yang biasa ditontonnya.
"Selamat pagi, Nona Arisa." sapa laki-laki itu. Arisa terkejut, kok laki-laki itu bisa mengenal dan memanggil namanya.
"Iya, anda siapa ya???" tanya Arisa penasaran
"Ada yang ingin bertemu dengan Nona Arisa, mari ikut dengan saya." Arisa kelihatan ragu-ragu.
"Jangan takut, Nona. Saya bukan orang jahat, saya tidak akan apa-apain Nona." lanjut laki-laki itu menangkap keraguan pada Arisa.
"Majikan saya hanya ingin berbicara dengan Nona, mari ikut saya." Meski masih ragu, namun Arisa tetap mengikuti laki-laki di belakang hingga mereka sampai di kantin rumah sakit tersebut. Seorang wanita paruh baya, dengan gaya pakaiannya dan riasan di wajahnya, tentu saja Arisa bisa tahu bahwa wanita itu adalah orang kaya. Tetapi, dia tidak mengenali siapa orang itu karena ibu itu mengenakan kacamata hitam. Ketika, ibu tersebut melepaskan kacamatanya, Arisa terkejut.
"Nyonya...." Arisa kaget mengenali wanita itu.
"Nyonya....yang kemarin itu kan? " tanya Arisa sekedar memastikan bahwa dia tidak salah orang.
__ADS_1
"Iya, saya yang kemarin, sekarang duduklah." Perintah Anita kepada Arisa. Langsung spontan Arisa duduk di kursi depannya itu.
"Maaf saya tidak mengenali Anda, lalu apa yang perlu Anda bicarakan dengan saya?" tanya Arisa
"Begini, dengarkan saya. Saya tahu semua tentangmu Nak, termasuk masalah yang kamu hadapi saat ini." jawab Anita membuat Arisa seketika itu mengernyitkan dahinya dan menatapnya penuh curiga.
"Maksud Anda?"
" Saya tahu kehidupanmu, saya tahu ibumu sedang terbaring tak berdaya di rumah sakit ini, saya juga tahu bahwa kamu mengalami kesulitan untuk membayar semua tagihan rumah sakit ini. Saya akan membantumu." Arisa kaget mendengar kalimat terakhirnya.
"Tetapi, apa tujuan Anda membantu saya? Tidak mungkin kan Anda membantu saya dengan cuma-cuma." tanya balik Arisa masih belum percaya dengan wanita di depannya itu.
"Lalu, apa syarat yang Anda ajukan itu?" rasa ingin tahu Anita mengalahkan keraguan dalam hatinya.
" Menikahlah dengan putraku."
"Hah.....Anda tidak salah, Nyonya? Saya tidak kenal dengan anak Anda? Bagaimana saya bisa menikah dengannya? Lagipula, apakah anak Anda mau menikah dengan gadis seperti saya, bukankah dia juga tidak mengenalku?" tanya Anita.
__ADS_1
"Dia mengenalmu, Nak....sangat mengenalmu." Arisa semakin terkejut mendengar perkatan Anita. Memangnya siapa anaknya itu, bisa mengenalku.
"Maksud Anda, Nyonya?"
"Namun anakku mengenalmu bukan sebagai Arisa, melainkan sebagai Erina, calon istrinya yang telah meninggal. Maka, saya mau kamu menikah dengan putra kesayanganku sebagai Erina." Anita lanjut menjelaskan. Seketika itu, Arisa langsung tertunduk lemas, bingung apa yang harus dia lakukan.
"Tolong, beri saya waktu, Nyonya, untuk memikirkannya." pinta Arisa
"Baiklah, saya akan memberimu waktu sehari untuk memikirkannya. Saya menunggu jawabanmu besok."
Apa ??? besok??? keputusan sepenting ini, harus diputuskan dalam semalam. Kepada siapa aku harus meminta pendapat. Oh tidak.....
"Baiklah, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan lagi. Saya akan pergi. Ingat....saya tunggu jawabanmu besok" Anita mengingatkan sebelum beranjak pergi dari kantin rumah sakit tersebut. Tinggallah Arisa duduk sendiri merenungi nasibnya dan keputusan besar yang harus dia ambil, menyangkut hidup mati ibu tercintanya itu.
Di tengah kebingungannya, Arisa memilih untuk berdoa supaya diberi hikmat oleh Tuhan agar bisa mengambil keputusan terbaik yang tidak disesalinya nanti.
Akhirnya, Arisa membulatkan tekadnya untuk menerima tawaran bantuan dari nyonya Anita. Dia akan terima segala resiko apapun yang terjadi nanti dengan pilihannya itu.
__ADS_1
"Maafkan Arisa Bu, Aku terpaksa harus melakukan ini." kata Arisa sambil menatap tubuhnya ibunya yang terpasang dengan segala macam peralatan medis.
"Ibu restui keputusan Arisa ya." lanjutnya.