Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Tendangan Maut


__ADS_3

Mereka pun menuju mobil untuk kembali ke apartemen mereka. Malam ini adalah malam kedua mereka setelah sah menjadi suami istri, tentu saja Arisa masih sedikit takut menghadapi malam-malam setelah pernikahannya ini. Dia masih belum siap, jika Andika meminta sesuatu yang menjadi haknya sebagai suami.


Untung saja, Andika begitu pengertian, dia tahu bahwa beberapa hari ini dia tidak mungkin bisa melakukan itu berhubung istrinya sedang kedatangan tamu bulanan. Jadi, Arisa bisa bernafas lega untuk beberapa malam ini dan dia juga tidak perlu pusing mencari alasan untuk menghindar.


Sesampai di apartemen dan setelah membersihkan diri masing-masing, kini mereka telah sama- sama telah berada di atas ranjang di kamar mereka.


"Apakah kamu bahagia menikah denganku?" tanya Andika tiba-tiba.


Untuk apa dia menanyakan seperti itu, andai saja dia tahu apa alasan kenapa aku mau menikah dengannnya.


"Tentu saja aku bahagia menikah denganmu." jawab Arisa asal.


"Kamu mencintaiku?"


Ini pertanyaan apa lagi nih. Cinta? aku sendiri belum tahu bagaimana perasaanku saat ini.


"Iya, tentu saja. Kalau tidak cinta, tidak mungkin kan aku menikah denganmu, Andika."


"Kalau begitu, mulai sekarang harusnya kita mempunyai panggilan sayang donk, masa cuma panggil nama."


"Memangnya, mau memanggil seperti apa?"


"Panggil sayang, donk." jawab Andika sambil tersenyum tipis. Senyumannya itu membuat hati Arisa jadi berdegup kencang memandang pria tampan di depannya itu, apalagi kemudian ketika Andika tiba-tiba mencium keningnya.


Kecupan di kening mulai turun, ke pipi Arisa, lalu mulai merambat ke leher Arisa.


Akh...kecupan lembut itu sungguh menghanyutkan. Sadar....Arisa...sadar...jangan terlena.


Kalau boleh jujur sebenarnya, Arisa sendiri sangat menikmati perlakuan Andika itu, namun kemudian spontan dia membalikkan badan membelakangi Andika dan berpura-pura menguap.


"Aku ngantuk, aku tidur ya." ujar Arisa berpura-pura ngantuk dan segera memejamkan matanya, tidak lama kemudian akhirnya dia benar-benar terlelap.

__ADS_1


"Dia benar-benar kecapean hari ini." Andika tersenyum melihat Arisa yang sebentar saja sudah tertidur pulas, bahkan sampai terdengar suara ngoroknya meskipun tidak begitu keras. Akhirnya, dia pun memilih ikut terlelap bersama Arisa dan mendekap tubuh istrinya dari belakang.


Bruk.....


Arrrgh......teriak Andika, terbangun tiba-tiba...


Ini kali keduanya, Andika yang lagi tertidur lelap terkena tamparan maut dari Arisa. Ya ampun, gadis ini memang seperti main kungfu kalau tidur. Andika memilih menepi karena hampir seluruh area tempat tidur sudah dikuasai Arisa. Hanya tersisa sedikit area buat Andika. Baru saja Andika mencoba untuk terlelap kembali. Tiba-tiba....


Bruk.....


Andika jatuh dari tempat tidur. Semua karena ulah Arisa yang tiba-tiba saja menendangnya. Andika yang terbangun kaget menatap wajah polos tak bersalah Arisa yang tertidur pulas. Ya ampun, tidur saja begitu mengerikan apalagi kalau lagi marah dan ngamuk-ngamuk ya, pikir Andika.


Kali ini, Andika memilih posisi aman saja, dia kemudian beranjak dari tempat tidurnya menuju sofa yang ada di sudut kamarnya itu. Tidak perlu lama, akhirnya dia tertidur lelap kembali. Sedangkan Arisa, sudah sudah bermimpi indah tanpa tahu bahwa dia telah menggusur suaminya itu dari temapt tidurnya.


Matahari sudah mulai menampakkan diri di pagi hari yang cerah ini. Arisa terbangun ketika tangannya meraba-raba tempat tidurnya, didapatinya kosong. Dia bangun dan mengucek matanya, melihat ke sekelilingnya, dilihatnya Andika sedang tertidur di sofa.


Kenapa dia tidur di sofa? Apakah semalaman dia tidur di sana? Apa dia tidak mau tidur satu ranjang denganku.


"Kamu tidak ke kantor hari ini?" tanya Arisa setelah Andika mulai membuka matanya.


"Iya....ya....tetapi mungkin agak siang, aku masing berduaan denganmu pagi ini, sayang." jawab Andika yang langsung menarik tubuh Arisa hingga jatuh di dalam dekapannya.


"Lepaskan....Dika...aku mau...."


"Lho...lho...kok panggilnya masih nama, panggil sayang donk." Andika mengingatkan.


"Iya...iya....lepaskan donk sayang." ujar Arisa yang sebenarnya sedikit kikuk memanggil sayang kepada Andika, meskipun pria itu sudah menajdi suaminya sekarang.


"Aku mau mandi dulu ya." Arisa ingin secepatnya membersihkan diri karena sudah merasa tidak nyaman dan ingin sgera mengganti pembalutnya.


"Kita mandi bareng ya." pinta Andika.

__ADS_1


"Jangan....." teriak Arisa


"Lho....kok tidak boleh? Kamu malu ya? atau ada sesuatu yang kamu tutupi? atau jangan-jangan badanmu penuh dengan panu, jadi malu ya hahahah...." goda Andiak.


"Bukan begitu....aku tidak nyaman saja, kan aku sedang datang bulan."


"Ya sudah....mandi sana, nanti baru gantian aku."


Pagi itu, Andika bersiap-siap ke kantor, memulai hari barunya untuk belajar lagi dari awal mengenai seluk beluk perusahaan ayahnya itu, setelah dia mengalami hilang ingatan. Sebenarnya sesuai dengan saran orang tuanya, dia ingin sekali bisa pergi bulan madu ke luar negeri selama 2 minggu bersama istrinya, namun Arisa menolak. Alasannya, karena Arisa tidak mau meninggalkan ibunya yang masih belum sadarkan diri di rumah sakit. Mau tidak mau, akhirnya rencana bulan madunya itu ditunda sampai ibu Arisa sudah sadar dulu.


Sedangkan Arisa sendiri, setelah menikah, dirinya telah dilarang untuk bekerja di cafe oleh ibu mertuanya. Mungkin Anita tidak mau merasa malu jika ketahuan mempunyai menantu yang hanya kerja di cafe kali, pikir Arisa. Padahal, dia sudah mulai menikmati pekerjaannya di cafe Tante Ririn itu, namun mau tidak mau dia harus mengundurkan diri untuk mematuhi perintah Anita, sebagai bagian dari perjanjiannya dengan Anita.


"Jadi, apa yang akan kamu lakukan selama aku di kantor, sayang?" tanya Andika sambil menikmati sarapan sederhana yang telah disiapkan Arisa.


"Mungkin aku akan melanjutkan beres-beres sisa barang kemarin, tinggal sedikit lagi." Arisa mengarahkan pandangannya ke tumpukan barang yang sudah dikeluarkan dari kotak, tetapi belum ditata pada tempatnya, termasuk juga sekotak barang yang diambil dari rumahnya kemarin.


"Ya sudah, aku berangkat dulu ya...." pamit Andika yang sudah menyelesaikan sarapannya sembari mencium kening Arisa kemudian meraih jasnya dan memakai sepatunya.


"Hati-hati....sayang." sepertinya Arisa mulai terbiasa dengan panggilan sayang tersebut.


"Ya...."


Setelah Andika pergi, Arisa kembali membereskan barang-barang Andika dan miliknya sendiri, sesuai rencananya barusan. Ketika dia meraih beberapa barang milik Andika untuk ditata pada tempatnya, tiba-tiba sebuah kalung indah terjatuh ke lantai.


Kalung indah dengan liontin berbentuk hati yang bisa dibuka tentu saja membuat Arisa menjadi penasaran. Arisa membuka liontin kalung itu dengan hati-hati, dilihatnya foto seorang gadis pada salah satu sisi liontin tersebut. Tak perlu waktu lama, tentu saja dia mengenali siapa yang ada di foto itu. Itu pasti foto Erina. Dan yang tak kalah menarik perhatiannya adalah tulisan pada sisi lain dari liontin tersebut.


You are my only one, I love u


Sungguh beruntung kamu, Erina. Andika benar-benar mencintaimu.....sedangkan aku, aku hanya kebetulan mirip denganmu saja.


Tak terasa, Arisa pun menitikkan air mata, perasaan bahwa dia sebenarnya bukan siap-siapa dalam hidup Andika membuatnya menjadi sedih.

__ADS_1


__ADS_2