
Arisa masih kepikiran dengan urusan pekerjaannya di perusahaan Alex. Baginya, urusannya belum benar-benar selesai karena seingatnya terakhir sebelum dia pingsan, Alex menolak surat pengunduran dirinya.
Tetapi dalam kondisi seperti ini, tidak mungkin dia bisa ke kantor. Andika pasti tidak mengizinkannya. Jadi, akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Alex lewat telepon untuk memastikan bahwa dia sudah resmi mengundurkan diri, terlepas apapun konsekuensi yang harus diterimanya karena tidak menyelesaikan kontraknya.
Tut...Tut....Tut
Arisa menelepon Alex. Namun, panggilan teleponnya tak kunjung diangkat. Arisa mencoba menghubungi berkali-kaki, namun tak juga ada jawaban. Mungkin Alex sedang sibuk atau handphone ketinggalan, nanti saja baru dihubungi lagi, pikir Arisa.
Hari ini, Andika sudah mulai bekerja, jadi Arisa merasa kebosanan berada di apartemen saja meski ada ibunya yang menemani. Dia sudah terbiasa dengan rutinitasnya bekerja di kantor, sehingga tiba-tiba menganggur kembali seperti dulu, itu sangat tidak menyenangkan baginya.
Tidak banyak hal yang bisa dilakukannya hari ini, setelah dia selesai sarapan dengan porsi yang sangat sedikit, dia memilih menonton televisi. Berkali-kali dia ganti Chanel TV karena tak ada satupun tontonan yang menarik baginya, hingga akhirnya dia memilih menonton acara infotainment yang sedang ditayangkan saat itu.
"Pemirsa, kabar mengejutkan datang dari salah satu penyanyi berbakat kita Rasti Andini, yang tiba-tiba dikabarkan sudah menikah diam-diam dan bahkan sekarang sudah hamil. Mari kita saksikan langsung penuturan dari Rasti Andini. Namun sebelumnya kita saksikan pariwara berikut ini." ucap pembaca acara dalam infotainment tersebut.
Apa??? Rasti hamil? Dan dia sudah menikah? Dia menikah dengan siapa?
Arisa merasa penasaran. Karena itu, dia tidak mengganti channel lagi, dan tetap menunggu kelanjutan acara tersebut.
"Jadi benar, seperti kabar yang beredar, bahwa Anda telah hamil saat ini?" tanya seorang reporter yang sedang mewawancarai Rasti.
"Iya, memang benar. Saat ini saya memang sedang hamil. Kami sudah sudah melangsungkan pernikahan sebulan yang lalu. Kami sengaja menikah secara diam-diam tanpa dipublikasikan, supaya kami memiliki privasi."
"Jadi, maksud Anda, suami Anda tidak suka tampil di depan umum, mengingat profesi Anda sebagai selebritis, bukankah itu hal yang sulit dihindari?" tanya reporter tersebut lagi.
"Ya, memang benar. Suami saya ini pemalu, katanya dia belum siap diperkenalkan di media." jawab Rasti
"Wah, kalau begitu para penggemar Anda bakalan penasaran dong dengan sosok suami Anda. Boleh dong, bagi-bagi sedikit informasinya, mungkin inisialnya, pekerjaannya."
__ADS_1
"Hahaha....sabar ya, pasti deh nanti akan dipublikasikan. Ditunggu saja. Tetapi bolehlah saya berbagi sedikit, suami saya seorang pengusaha, jadi bukan kalangan selebritis seperti saya. Insialnya AR."
"Wah, si Tuan AR ini beruntung sekali ya bisa mendapatkan istri cantik dan berbakat seperti Anda. Sekali lagi, selamat ya atas kehamilannya. Semoga semuanya lancar sampai melahirkan. Terima kasih atas waktu yang Anda berikan." ujar reporter tersebut mengakhiri wawancaranya dengan Rasti.
Inisialnya AR? seorang pengusaha? Apakah yang dimaksud oleh Rasti itu adalah Andika?
Arisa bertanya-tanya dalam hati. Tiba-tiba saja hatinya dipenuhi kecurigaan dan dia mulai berpikiran buruk tentang suaminya. Inisial AR bukankah itu inisial yang sama dengan Andika Raharsyah.
Apakah mungkin selama ini Andika memang mempunyai hubungan khusus dengan Rasti tanpa sepengetahuannya. Dia mencoba mengingat-ingat memang ada beberapa kali Andika mengabarkan bahwa dia akan pulang terlambat karena urusan pekerjaan. Apakah waktu itu, benar-benar karena urusan pekerjaan. Tidak tahulah, kali ini Arisa tidak bisa berpikir jernih. Tiba-tiba saja dirinya menjadi posesif dan penuh curiga serta membuat kesimpulan sendiri.
Seharian itu, pikirannya jadi kalut membayangkan kalau suaminya benar-benar selingkuh dengan Rasti, sampai menikah diam-diam dan akan memiliki anak juga.
Saat waktunya makan siang, Arisa pun tidak berselera, meski Dina sudah berkali-kali memaksa. Dia hanya memaksakan dirinya untuk memakan beberapa sendok makanan, lalu kembali ke kamar.
Dina pun merasa ada sesuatu yang lain dengan Arisa, tidak biasanya dia bersikap murung, karena Arisa pada dasarnya adalah orang yang ceria. Pasti ada masalah kayaknya, pikir Dina.
Apakah dia sedemikian sibuknya, sampai -samoai tidak sempat membalaskan pesanku? Huh.. Awas saja kalau dia pulang nanti.
Arisa menggerutu dalam hatinya. Ingin rasanya dia marah dan mengomeli Andika saat ini. Namun, karena mulai mengantuk, akhirnya dia tertidur sampai hari sore menjelang malam.
Dia baru terbangun, saat mendengar suara berisik di kamar mandi, rupanya Andika sudah pulang kerja.
Saat Andika keluar dari kamar mandi, Arisa sengaja membalikkan badannya hingga posisi berbaringnya kini membelakangi Andika.
"Sayang, bagaimana keadaanmu hari ini? kamu makan banyak kan? Tidak muntah-muntah lagi kan?" tanya Andika karena dia tahu istrinya sudah bangun. Dia sempat melihat saat Arisa membalikkan badannya pas ketika dia keluar dari kamar mandi.
Namun tak ada jawaban dari Arisa, hingga Andika memilih bergabung dengan istrinya berbaring di atas ranjang empuknya itu. Tak lupa, dia memeluk Arisa dari belakang. Namun, tangannya ditepis oleh Arisa.
__ADS_1
"Sayang?" tanya Andika keheranan.
"Tidak usah peluk-peluk, jauh-jauh sana!" ketus Arisa.
"Sayang, kenapa? Marah ya karena tadi pagi aku pergi duluan tanpa membangunkanmu?" tanya Andika mulai menyadari bahwa istrinya sedang marah saat ini.
"Gak!" jawab Arisa singkat.
"Kalau bukan itu, terus kenapa dong?" tanya Andika bingung.
"Tebak saja sendiri!" jawab Arisa.
"Lha kok jadi main tebak-tebakan? Kalau kamu tidak kasih tahu, bagaimana aku bisa tahu, sayang?" ujar Andika semakin bingung dengan kelakuan istrinya itu. Perempuan memang makhluk bin aneh dan ajaib. Apa susahnya sih kasih tahu langsung daripada harus main tebakan-tebakan begini.
"Lihat ke sini dong, sayang!" pinta Andika agar Arisa membalikkan badannya sehingga mereka bisa saling berpabdang dan berbicara dengan saling memandang.
"Tidak mau!" jawab Arisa dengan ketus.
Kryukk...kryukk....
"Nah, tuh perutnya sudah lapar kan? Kasih si adek di dalam juga kelaparan, gara-gara mamanya kelaparan dan sudah habis tenaga karena marah gak jelas begini." ucap Andika sempat-sempatnya menggoda istrinya yang sedang marah.
Meski marah, Arisa mengiyakan perkataan suaminya tadi. Kasihan janin yang dalam kandungannya tadi, kalau sampai dia mogok makan.
"Aku mau makan!" ucap Arisa yang tiba-tiba saja sudah beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan keluar. Dengan segera, Andika menyusulnya.
Di meja makan, Dina sedang menyiapkan makan malam mereka. Kebetulan pas selesai dan Dina hendak menyuruh keduanya untuk makan, rupanya anak dan menantunya sudah keluar tanpa perlu dipanggil.
__ADS_1
Sepanjag sesi makan malam tersebut yang senyap itu, Dina merasa heran melihat wajah Arisa yang cemberut dan Andika yang tegang. Keduanya tidak saling bicara. Apakah mereka bertengkar? Dina ingin bertanya, namun dia berpikir ulang bahwa dia tidak perlu terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya ini, karena tujuannya tinggal di sini hanya untuk merawat Arisa, bukan yang lain. Mereka sudah dewasa, pasti bisa menyelesaikannya dengan baik, pikir Dina.