Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Kontrol ke Dokter


__ADS_3

Karena merasa tidak nyaman dengan kondisi badannya, Arisa mengajak Andika untuk pulang. Meski sebenarnya Andika masih mau berlama-lama dalam makan malam ini sambil berusaha membujuk istrinya supaya tidak marah lagi, Andika mengiyakan permintaan Arisa.


Saat mereka hendak berjalan keluar, mereka mendengar ada keributan kecil di salah satu sudut resto dari kejauhan. Cukup ramai orang yang berkerumun sehingga menghalangi pandangan mereka, namun sekilas Arisa mengingat bahwa di situ adalah area Rasti sedang makan malam dengan seorang pria tadi. Arisa mengingatnya, karena dia melewati mereka saat dia keluar dari toilet tadi.


Arisa penasaran dengan apa yang terjadi, namun karena Andika sudah melangkah lebih cepat tanpa terganggu dengan insiden yang terjadi, maka Arisa juga mempercepat jalannya untuk meyejajarkan langkahnya dengan suaminya itu.


Di dalam mobil, Arisa juga terdiam, tidak ingin berbicara apa-apa kepada Andika, apalagi sekarang kondisi badannya sangat tidak nyaman, namun dia tidak ingin memberitahukannya kepada Andika.


"Sayang, kamu baik-baik saja? wajahnya terlihat pucat?" tanya Andika karena merasa ada yang aneh dengan gelagat istrinya itu. Arisa hanya menggelengkan kepalanya.


Sesampainya di apartemen, Arisa bergegas mengganti baju dan membersihkan wajahnya sebelum bersiap-siap untuk tidur. Dia sudah tidak sabar untuk membaringkan dirinya di atas ranjang empuknya dalam kondisi badan yang tidak nyaman ini.


Melihat istrinya yang sudah duluan berbaring di atas ranjang, dengan cepat Andika juga menyusul sesaat setelah mengganti bajunya juga.


"Sayang, bolehkan aku memelukmu?" tanya Andika meminta izin kepada istrinya karena dia tahu mood Arisa sedang tidak dalam kondisi baik. Dia tidak mau pelukannya yang mendadak malah akan membuat Arisa marah.


Satu sisi, Arisa masih merasa malas dan kesal dengan suaminya, tetapi satu sisi mungkin karena bawaan janin dalam kandungannya itu, dia merindukan pelukan hangat Andika.


Arisa terlalu gengsi untuk mengatakan iya, jadi dia hanya mendehem, tanda dirinya memberikan izin.


Melihat kode lampu hijau yang diberikan istrinya, dengan segera Andika memeluk Arisa dari belakang dan akhirnya mereka tertidur dalam pelukan hangat dan hening itu.


*****


Beberapa hari ini, sikap Arisa masih belum berubah terhadap Andika. Dirinya merasa malas untuk dekat-dekat dengan suaminya itu. Bahkan, dirinya sering merasa mual-mual saat Andika di dekatnya. Padahal, sepanjang hari saat Andika sedang bekerja di kantor, dirinya baik-baik saja.

__ADS_1


Mood Arisa juga sering berubah-ubah, kadang-kadang dia merespon sikap baik Andika, namun lebih sering dia mengacuhkan perlakuan Andika yang masih berusaha mengambil hatinya.


Melihat kondisi seperti ini, Dina mencoba membujuk anaknya.


"Arisa, sebenarnya apa yang terjadi sih antara kamu dan Andika?" tanya Dina tiba-tiba saat mereka sedang menonton televisi bersama-sama siang itu.


"Tidak ada apa-apa, Bu." jawab Arisa seperlunya saja.


"Tidak mungkin tidak ada apa-apa. Ibu lihat sikapmu selalu dingin dan ketus terhadap suami itu. Padahal, ibu lihat Andika sudah berusaha untuk selalu bersikap baik kepadamu."


"Kamu tuh harusnya bersyukur, dapat suami yang baik dan peduli seperti Andika, kurang apa lagi coba?" lanjut Dina menciba menasihati Arisa yang masih terlihat asyik dengan tontonan televisi di depannya itu.


Arisa berpura-pura mengacuhkan perkataan ibunya itu, namun sebenarnya dia mendengarkan. Jauh di lubuk hatinya, sebenarnya dia juga ingin hubungannya dengan Andika bisa mesra kembali, namun entah kenapa setiap dekat dengan Andika, moodnya jadi buruk, bahkan dia sering merasakan mual-mual, ditambah lagi persoalan kehamilan Rasti yang masih belum ada kejelasannya.


"Coba, kamu ubah sikapmu itu. Jangan bersikap seperti kemarin-kemarin lagi, saat suamimu pulang kerja nanti. Kamu dengar itu?" ujar Dina lagi. Arisa hanya mengangguk sekilas.


Sore harinya, saat Andika pulang kerja, Arisa mencoba bersikap baik kepada Andika saat di depan Dina. Namun, mereka hanya berdua di kamar, sikap cuek Andika kembali kumat lagi. Melihat hal itu, Andika semakin bingung, apakah memang semua ibu hamil seperti itu. Moodnya menjadi labil begini? Andika bertanya-tanya dalam hatinya sendiri.


"Sayang, kalau tak salah besok adalah jadwalmu untuk kontrol kembali ke dokter kandungan kan ya? Aku besok akan mengantarmu ya." ucap Andika m ncoba memecahkan keheningan di antara mereka.


"Tidak perlu, aku bisa pergi dengan ibu. Lagipula, jadwalnya siang, itu kan jam kerjamu!"


"Tidak apa-apa, aku bisa mengaturnya kok!"


"Aku bilang tidak ya tidak, aku akan pergi dengan ibu!" jawab Arisa dengan ketus. Andika semakin heran dengan sikap istrinya ini. Bukankah setiap wanita hamil selalu menginginkan suaminya menemani saat kontrol ke dokter. Ini yang terjadi, malah sebaliknya, istrinya tidak mau ditemani.

__ADS_1


Andika terdiam sejenak, tidak ingin membuat istrinya bertambah marah.


"Ya sudah, kalau begitu. Tetapi, kalau kamu nanti berubah pikiran dan mau aku menemani, kabari aku ya, sayang!" lanjut Andika. Sebenarnya dalam hati kecilnya, Arisa merasa sedikit bersalah, telah bersikap ketus kepada suaminya barusan, namun dia pun bingung dengan perasaannya sendiri.


*****


Keesokan harinya, seperti rencana sebelumnya, Arisa akan pergi kontrol dengan ditemani oleh Dina. Mereka sudah sampai di rumah sakit, saat tiba-tiba handphone Dina berbunyi. Sebuah panggilan telepon dari salah satu teman arisan ibu-ibu kompleks Adina, yang mengabarkan bahwa hari ini ada arisan dan sisanya tinggal 2 nama lagi yang belum dikocok untuk mendapatkan jatah arisan. Salah satunya adalah Dina.


Akh, bagaimana mungkin aku bisa melupakan hal sepenting ini. Arisan yang sudah lama kutunggu. Aku harus hadir, peluang kali besar, harus aku yang dapat nih.


Dina berkata-kata dalam hatinya, dia tidak rela jatah arisannya kali ini jatuh pada orang lain karena tidak hadir hari ini.


"Tunggu sebentar, aku akan menyusul sekarang juga!" jawab Dina di telepon dengan semangat.


Setelah mengakhiri panggilannya di telepon, Dina berjalan menghampiri Arisa yang saat ini sedang duduk di kursi tunggu menunggu gilirannya dipanggil. Terlihat cukup banyak ibu-ibu hamil yang menunggu juga di situ, namun bedanya, hampir semuanya ditemani suaminya. Sedangkan Arisa hanya duduk sendiri saat itu.


"Risa, kamu tidak apa-apa, ibu tinggal. Ibu ada urusan yang sangat penting nih!" ujar Dina dengan muka memelas. Awalnya, Arisa sedikit keberatan, namun setelah mendengar penjelasan dari ibunya, akhirnya dia mengiyakan saja ibunya menghadiri arisan. Tokh, dia sudah sampai di rumah sakit dan tinggal menunggu saja.


Nomor antrian Arisa masih lama. Setelah kepergian ibunya, Arisa merasa sedikit tidak nyaman dengan tatapan aneh beberapa ibu muda kepadanya. Beberapa ibu tersebut kelihatan sedang berbisik sesamanya sambil menatap ke arah Arisa, mungkin sedang membicarakan Arisa yang datang sendiri tanpa ditemani pasangan. Padahal, hampir semua ibu hamil yang datang periksa waktu itu, ditemani oleh pasangannya, kecuali Arisa.


Merasa menjadi bahan pembicaraan, membuat Arisa sedikit menyesal atas sikapnya terhadap Andika kemarin. Kalau saja, dia mengiyakan tawaran Andika untuk menemaninya saat ini. Pasti tidak akan ada kejadian tidak mengenakkan seperti ini. Arisa berpura-pura sibuk menatap layar handphone untuk mengacuhkan keadaan di sekelilingnya.


*****


Jangan lupa, tinggalkan jejak ya teman-teman. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2