Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Lamaran Ulang


__ADS_3

Arisa terlihat murung seharian sejak kejadian kemarin di rumah ibunya. Dia masih kaget dan belum bisa menerima keberadaannya bahwa dia bukanlah putri kandung dari Dina. Andika yang melihat perubahaan istrinya yang biasanya semangat dan riang berusaha menghiburnya. Dia kemudian berencana mengajak istrinya untuk mengunjungi suatu tempat. Kebetulan hari ini adalah hari minggu, jadi mereka mempunyai waktu seharian untuk bersantai.


"Ayo, kita keluar yuk, sayang!" ajak Andika


"Ke mana?" " tanya Arisa tak semangat, matanya masih tertuju pada televisi di depannya, padahal dia tidak benar-benar menonton acara yang ada di televisi tersebut.


"Pokoknya ikut saja....aku percaya kamu pasti menyukai tempat itu."


"Baiklah! Aku ganti baju dulu!" ujar Arisa dengan langkah malas segera menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Tak lama kemudian, Arisa keluar dengan pakaian kasualnya, dia memakai jenis pakaian yang sama seperti dikenakan Andika saat itu.


Saat ini, mereka sedang berada di dalam mboil. Andika membawa mobil ke arah jalan yang tidak pernah dilalui oleh Arisa sehingga Arisa tidak dapat menebak mereka akan pergi ke mana.


"Sebenarnya kita mau ke mana sih, Mas?"tanya Arisa penasaran


"Sudah, pokoknya kamu sabar dulu. Bentar lagi kita juga sampai!"


"Ini sudah sejam lebih perjalanan lho, kita belum sampai-sampai."


"Bentar lagi kok!"


"Oh ya, bagaimana rencana Papa soal mengadakan pesta kemarin, jadinya diundur ya Mas?" tanya Arisa baru teringat seharusnya hari ini perusahaan Andika akan mengadakan sebuah pesta. Namun karena Andika sempat masuk rumah sakit, sehingga acara tersebut terpaksa ditunda dulu.


"Iya, papa menundanya dan akan mengadakannya pada hari Sabtu minggu depan"


"Oh, begitu!"


"Masih jauh ya Mas? Perasaan dari tadi kok gak sampai-sampai sih?" protes Arisa.


"Sabar sayang!"


"Aku jadi ngantuk deh!" Arisa memang sengaja membuka kaca jendelanya separuh sehingga angin bisa masuk, membuatnya menjadi mengantuk merasakan angin sepoi-sepoi tersebut. Mobil mereka sedang melaju di kawasan yang mulai sepi dengan pemandangan pohon di kiri kanan, sehingga Arisa sengaja membuka kaca jendelanya untuk menikmati pemandangan di sekelilingnya.

__ADS_1


"Kalau kamu ngantuk, tidur saja sayang. Kalau sudah sampai, aku akan membangunkanmu."


"Baiklah, kalau begitu!" tak lama kemudian, Arisa benar-benar tertidur lelap. Mungkin efek semalaman dia tidak bisa tidur nyenyak karena pikirannya yang sedang kacau.


Setelah berkendara hampir sejam, akhirnya Andika sampai di tempat yang dituju. Tanpa membangunkan istrinya dulu, dia ke luar dan mempersiapkan sesuatu. Setelah itu, barulah dia kembali ke mobil untuk membangunkan Arisa.


"Sayang, bangun sayang....Kita sudah sampai!" ucap Andika pelan sambil menepuk pundak istirnya. Pelan-pelan Arisa membuka matanya dan mengedarkan pandangan ke sekeliling.


"Kita ada di mana, Mas?"


"Ayo, keluar!" ajak Andika.


Saat Arisa berjalan keluar, pemandangan di depannya sungguh menakjubkannya baginya. Barulah, dia menyadari bahwa mereka sedang ada di tempat yang cukup tinggi, sehingga dia bisa melihat pemandangan yang indah di bawahnya dari tempatnya berdiri.


Dilihatnya, Andika sudah menyiapkan tikar untuk mereka duduk dan beberapa makanan dan minuman juga tersedia di atas tikar tersebut. Kapan Andika menyiapkan semua itu, entahlah. Arisa tidak mengetahui itu.


"Ayo, kita duduk di situ!" ajak Andika sambil menggandeng tangan Arisa menuju tempat yang telah disiapkannya. Suasana yang begitu nyaman dan pemandangan yang indah, akhirnya berhasil membuat Arisa yang tadinya murung menjadi tersenyum kembali.


"Kamu senang sayang?" tanya Andika.


"Satu hal lagi!"


"Apa itu?" tanya Arisa penasaran


"Tetapi, aku mau kamu tutup mata dulu ya, sayang!"


"Apaan sih Mas. Kok harus pakai tutup mata segala?"


"Sudah, pokoknya kamu nurut aja. Ayo, tutup matanya!" pinta Andika. Arisa pun menuruti permintaan suaminya itu dengan memejamkan matanya.


"Awas, jangan ngintip ya!"

__ADS_1


"Kan aku sudah tutup mata, Mas!"


"Nah, sekarang boleh buka matanya!" perintah Andika.


Arisa membuka matanya pelan-pelan, dilihatnya sebuah cincin berlian yang sungguh indah pada sebuah kotak cincin terbuka di tangan Andika.


"Arisa, maukah kamu menjadi istriku.....?" ucap Andika.


"Apaan sih Mas? Kan memang aku sudah menjadi istrimu kan?"


"Tunggu dulu. Aku belum menyelesaikan perkataanku. Maukah kamu menjadi istriku selamanya, hidup bersamaku dalam suka mau duka sampai kita menua bersama, ya atau tidak?"


"Tentu saja Iya, Mas. Tetapi Mas aneh deh, kan kita memang sudah menikah, kok pakai acara ngelamar lagi segala?"


"Biarin, lagian aku kan memang belum pernah melamarmu secara langsung. Jadi, tidak ada salahnya aku melakukan momen itu saat ini." Arisa mengangguk mengiyakan perkataan Andika. Dirinya teringat akan awal pernikahan mereka yang memang bukan atas dasar cinta namun dikarenakan wajahnya yang mirip dengan Erina.


"Dengan ini, aku nyatakan bahwa aku menerimamu sebagai istriku selamanya, akan mencintai dirimu dengan segenap hatiku dan jiwa ragaku sampai maut memisahkan kita, sayang." ucap Andika sambil menyematkan cincin berlian tersebut di salah satu jari Arisa.


"Terima kasih, Mas!"


"Sayang sekali ya, ada sesuatu yang kurang deh..."


"Memangnya, apa yang kurang Mas. Bagiku ini semua sudah lebih dari cukup?"


"Sayangnya, tidak ada orang yang menjadi saksi atas momen penting kita ini."


"Bukankah Tuhan sudah menjadi saksi atas cinta kita ini dan pohon-pohon ini juga turut menjadi saksinya, Mas. Aku mencintaimu, Mas!" ucap Arisa.


"Aku juga mencintaimu, sayang!' balas Andika sambil mengecup lembut bibir Arisa yang kemudian berlanjut menjadi ciuman yang semakin membuat hasrat tubuh kedua sejoli itu semakin bergejolak. Namun, mereka masih menyadari kalau mereka sedang di tempat yang terbuka. jadi, tidak mungkin mereka akan melakukan itu. Kalau saja, saat ini mereka sedang berada di aparteman, pastilah kita tahu mereka akan berakhir di mana saat ini.


Merekapun menikmati makanan dan minuman yang tersedia dalam pikinik romantis mereka dengan disuguhi pemandangan indah di depannya. Sungguh sangat menyenangkan hingga tak terasa waktu sudah menjelang sore. Saatnya mereka harus pulang, supaya mereka bisa beristirahat untuk mulai beraktivitas dengan kesibukan mereka keesokan harinya.

__ADS_1


******


Jangan lupa tinggalkan jejak yang tmean-teman


__ADS_2