Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Kecelakaan Ibu


__ADS_3

Seperti biasanya, setiap pagi Arisa harus dibangunkan oleh ibunya dengan teriakan melengking yang terdengar sampai ke rumah tetangga kiri kanan.


"Risa....kamu mau sampai kapan sih, bermalas-malasan begitu? Ayo, cepat bangun, mandi sana.." teriak ibu Arisa dari dapur, sambil mempersiapkan sarapannya.


"Iya...nyonya bawel...." sahut Arisa menyelonong lewat cepat-cepat masuk ke kamar mandi, sebelum kena omelan lagi sama wanita itu lagi.


Sesudah mandi dan merias diri ala kadarnya, yang terpaksa dia lakukan, karena dirinya bekerja di cafe, mau gak mau dia harus memperbaiki tampilannya, begitu pesan bosnya di cafe, yang tidak lain adalah sahabat dari ibunya itu, Arisa segera menuju ke meja makan, ibunya sudah menunggu di situ.


"Kamu cepat makan dan segera berangkat. Mak juga akan pergi ke pasar." ujar ibunya sambil mengambilkan nasi goreng ke piring Arisa.


"Aku antar ya Bu...." sahut Arisa.


"Tidak usah, nanti kamu terlambat. Arah pasar dan tempat kerjamu kan berbeda. Ibu tidak mau kamu terlambat, nanti gak enak dengan tante Ririn." jawab ibunya. Tante Ririn adalah sahabat ibunya, sekaligus pemilik cafe tempatnya bekerja, yang menawarkannya pekerjaan untuk membantu di cafe sementara dia masih menjadi pengangguran karena panggilan kerja yang tak kunjung datang.


"Iya deh..." Arisa melanjutkan memakan nasi goreng buatan ibunya itu. Setelah selesai makan, segera dia berpamitan kepada ibunya dan bersiap-siap mengendarai si Jablay menuju cafe tempatnya bekerja.


*****


Sebenarnya hari ini, Andika sudah berniat mengikuti papanya ke kantor untuk sekedar melihat-lihat. Namun karena ada jadwal kontrol ke dokter siang nanti, membuatnya terpaksa mengurungkan niatnya. Sembari menunggu waktu berangkat, Andika memilih memutar musik pada handphonenya. Sungguh damai rasanya hati Andika, mendengarkan musik lembut itu, sehingga tidak lama kemudian Andika malah terlelap.


******


"Andika.....akh." Andika melihat Erina yang berada di sampingnya itu berteriak. Seketika itu mobil yang dikendarainya itu menabrak pagar pembatas jalan dan terjun ke bawah.


Mobil itu terguling-guling, namun Andika masih sadar dan melihat darah sudah bercucuran dari kepalanya. Dia begitu kaget melihat darah ada di mana-mana. Kemudian, dia mendengar suara sayup memanggil namanya


"Andika....Andika...." dia melihat ke samping, Erina sudah tidak ada di situ. Dia melihat keluar jendela dalam moblnya yang terbalik. Dia melihat Erina berjalan meninggalkannya terjebak di dalam mobil


"Erina....Erina....jangan tinggalkan aku...akh...." tiba-tiba mobil meledak.

__ADS_1


*****


"Akh......" teriak Andika begitu kencang hingga mengagetkan Anita yang sedang membaca majalah di ruang keluarga bawah. Segera Anita berlari menuju ke kamar Andika untuk melipat apa yang terjadi. Tanpa mengetuk pintu, dia masuk dan melihat Andika sedang terduduk di atas tempat tidurnya dengan muka yang begitu tegang.


"Ada apa, Nak? apa yang terjadi?" tanya Anita.


"Aku mimpi buruk....Erina meninggalkanku." jawab Andika masih dengan tatapan kosongnya itu.


"Kamu hanya mimpi, Dika.....Sudah, jangan dipikirkan lagi...Hayo, kamu bersiap-siap, sebentar lagi kita akan ke rumah sakit untuk periksa kondisi kesehatanmu." kata Anita sembari mengelus bahu andika untuk menenangkan putranya itu.


"Mama tunggu di luar ya, segera bersiap-siap ya, jangan kelamaan ya...." Anita segera beranjak bangun setelah melihat Andika sudah lebih tenang dari sebelumnya.


Setelah Mamanya meninggalkan kamarnya, Andika masih memikirkan mimpi buruknya tadi. Mimpi itu terasa begitu nyata. Apa maksud dari mimpinya itu? Apakah Erina benar-benar akan meninggalkannya? Apakah karena itu Erina berpura-pura tidak lagi mengenalinya? Andika bertanya-tanya dalam hati.


*****


"Risa....Loe cepat ke rumah sakit XXX.....Ibumu ada di rumah sakit sekarang." suara Johan terdengar tegang dari seberang.


"Ibu di rumah sakit?? Apa yang terjadi dengan Ibu?" tanya Arisa kaget mendengar kabar dari Johan.


"Pokoknya, Loe segera ke sini....Ibumu kecelakaan. Ojek yang ditumpanginya ditabrak oleh truk yang melaju cepat tadi...Cepat ke sini!" Seketika itu Arisa menjatuhkan handphonenya ketika mendengar kabar bahwa ibunya mengalami kecelakaan.


Dengan segera, dia meminta izin kepada tante Ririn yang sedang duduk di meja kasir dan meluncur ke rumah sakit XXX sesuai informasi dari Johan.


Dia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi seperti orang gila, dia tidak peduli dengan jalanan yang terbilang cukup macet saat itu, hampir saja dia tersenggol oleh sebuah mobil ketika dia berusaha menyalip sebuah mobil di depannya. Syukur dia bisa menghindar dengan cepat, sehingga dia selamat. Tidak lama kemudian, sampailah dia di rumah sakit XXX. Seperti orang gila, dia langsung menerobos masuk, menelusuri lorong rumah sakit, menuju lokasi ruangan operasi setelah dia menanyakan informasi di bagian informasi.


Akhirnya dia melihat Johan dari kejauhan dan segera mempercepat langkahnya.


"Bagaimana keadaan ibuku sekarang? bagaimana? " seketika itu juga pecah tangisan Arisa membuat beberapa orang yang juga menunggu di sekitar situ menengok ke arahnya.

__ADS_1


"Tenang....Loe tenang dulu, ibumu lagi dioperasi. Kita serahkan saja sama dokter yang menanganinya." jawab Johan berusaha menenangkan Arisa.


"Tetapi....gue takut Joh....Gue dah gak punya siapa-siapa lagi, gue siap kalau ibu gue meninggalkan ku." ujar Arisa masih terisak-isak menahan tangisannya.


"Iya...iya....jangan berpikir jauh dulu....Kita doakan saja supaya ibu Loe baik-baik saja." lanjut Johan.


Waktu rasanya berjalan begitu lambat, Arisa berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi. Dia sangat takut akan mendengar kabar buruk ketika dokter keluar dari ruangan operasi nanti.


****


Sementara itu, Andika dan mamanya baru saja sampai di rumah sakit XXX untuk menemui dokter Hadi sesuai jadwal kontrol. Setelah turun dari mobil, mereka segera menuju lantai 3, tempat ruangan dokter Hadi, lantai yang sama dengan ruang operasi di mana Arisa sedang menunggu dengan cemas. Namun, kedua ruangan tersebut cukup jauh dipisahkan oleh beberapa ruangan rawat inap.


Sesampai di ruangan dokter Hadi, Andika berbaring di atas tempat tidur pasien dan dokter Hadi segera melakukan beberapa pemeriksaaan standar.


"Apakah beberapa hari ini, Anda masih merasakan sakit kepala yang luar biasa, Tuan Andika?" tanya dokter Hadi.


"Sesekali, Dok...apakah itu berdampak buruk bagi saya?"


"Hmm....tidak ada apa-apa, itu hal yang biasa bagi pasien yang mengalami gegar otak sebelumnya, nanti pelan-pelan sakit kepala itu akan berkurang dan hilang." jawab dokter Hadi.


"Saya akan meresepkan obat tambahan untuk membantu mengurangi sakit kepala Anda." lanjut dokter Hadi.


"Berdasarkan pemeriksaan tadi, sepertinya kondisi Anda sudah mengalami banyak perkembangan. Tetapi, ingat, jangan terlalu memaksakan diri untuk mengingat kejadian masa lalu Anda, itu akan akan memicu sakit kepala yang parah. Dan akan berdampak bruruk, jika itu sering terjadi." Anita ikut mendengarkan penjelasan dokter Hadi dengan serius dari tadi.


"Jadi, apakah anak saya sudah boleh beraktivitas seperti biasa, misalnya mulai bekerja di kantor?" tanya Anita.


"'Boleh...boleh saja bu, hanya saja jangan terlalu berlebihan dulu ya, pelan-pelan saja dulu" jawab dokter Hadi.


Setelah selesai pemeriksaan, Anita dan putranya pun segera keluar, menuju ruang pengambilan obat. Namun, sebelumnya, Anita bermaksud ke toilet dulu. Disuruhnya Andika untuk berjalan duluan menuju ruang pengambilan obat.

__ADS_1


__ADS_2