
"Andika, minggu depan kamu mewakili papa ya untuk pembukaan cabang perusahaan kita yang di Bali." Pinta Wijaya pagi itu, saat Andika baru saja sampai di kantor. Wijaya memang sengaja mulai banyak mendelegasikan urusan bisnis kepada Andika saat ini. Untuk urusan pekerjaan, sepertinya Andika cepat belajar dan bisa menghandle semuanya dengan baik meskipun ingatannya belum pulih sepenuhnya.
"Oh, papa tidak ikut?"
"Tidak, biar saja papa yang standby handle perusahaan kita di sini saja. Kamu kalau mau ajak ajak istrimu juga boleh, hitung-hitung sekalian bulan madu di sana. Kan kalian belum pergi bulan madu sejak menikah." lanjut Wijaya.
"Dika mau sekali, Pa. Tetapi tidak yakin nih rasanya, Erina mau ikut. Soalnya ibunya kan baru keluar dari rumah sakit dan saat ini sedang menginap sementara waktu di apartemen kami." jawab Andika.
"Oh iya yah, tetapi gak ada salahnya, coba tanyakan saja apakah dia mau ikut atau tidak. Soal ibu mertua kamu, gampang deh, nanti papa kirimkan seseorang untuk menemani selama kalian pergi."
"Iya, nanti aku tanyakan, Pa."
Sepanjang hari itu, Andika bekerja dengan semangat. Tak sabar rasanya, dia ingin segera pulang menemui istrinya dan mengatakan rencananya untuk sekalian mengajak istrinya pergi ke Bali, meskipun urusan pekerjaan tetapi bisalah sekalian bulan madu juga.
*****
Sementara itu, Rasti yang baru saja menerima telepon dari seseorang, sedang tersenyum lebar saat ini seolah-olah dia baru mendengar sebuah kabar baik. Kabar apa lagi yang bisa menyenangkan hatinya, kalau bukan soal Andika. Dia memang punya informan di mana-mana sehingga berita apapun mengenai Andika cepat sampai di telinganya, bahkan sekretaris pribadi Andika pun bisa dia gaet untuk menjadi intel bagi dirinya, tentu saja karena dia menjanjikan bayaran yang besar sehingga Desy, sekretaris Andika tergiur dengan tawarannya. Dan telepon barusan adalah telepon dari Desy yang mengabarkan bahwa bos mudanya akan pergi ke Bali minggu depan untuk menghadiri acara peresmian pembukaan cabang perusahaan yang baru.
Dan sepertinya dia sudah menyusun sebuah rencana agar bisa mendekati Andika lagi sehingga Andika bisa jatuh ke dalam pelukannya lagi. Syukurnya, seminggu ke depan dia tidak memiliki jadwal show yang padat, sehingga dia merencanakan sebuah liburan ke Bali untuk menyusul Andika.
*****
Waktu menunjukkan pukul 7 malam, saat Andika baru saja sampai di apartemennya. Saat dia masuk ke dalam apartemennya, dilihatnya Arisa dan ibunya sedang mempersiapkan makanan untuk makan malam. Arisa sedang menata piring di atas meja makan.
__ADS_1
"Sudah pulang, Mas....Mandi dulu gih, setelah itu kita makan sama-sama." sapa Arisa menyambut kedatangan Andika.
"Iya, aku mandi dulu ya...." ucap Andika.
Setelah selesai mandi, barulah Andika bergabung di meja makan bersama istrinya dan ibu mertuanya itu. Sebenarnya, dia merasa sedikit canggung dengan kehadiran Dina di apartemen mereka. Namun, dia berusaha menutupi kecanggungan itu supaya tidak menimbulkan perasaan tidak nyaman di hati ibu mertuanya itu. Bukan karena dia keberatan jika Dina harus tinggal sama-sama mereka, hanya saja dia sudah terbiasa tinggal berdua saja dengan Arisa di apartemen mereka ini. Dina sendiri lebih memilih untuk kembali ke rumahnya sendiri, namun Arisa belum mengizinkannya, dia mau memastikan dulu kondisi ibunya betul-betul pulih, barulah dia tidak kuatir jika ibunya tinggal sendiri nanti.
"Minggu depan, aku akan ke Bali, untuk menghadiri acara peresmian pembukaan perusahaan cabang di sana. Aku berencana mengajakmu ikut bersamaku, ya hitung-hitung sekalian kita bisa bulan madu. Gimana, kamu mau?" tanya Andika sesaat setelah dia menghabiskan sendok terakhir makanannya.
"Hmm......" Arisa terlihat ragu, memandang wajah Andika lalu beralih ke wajah ibunya yang duduk tepat di hadapannya.
"Kenapa? kamu tidak mau?"
"Bukan begitu...hanya saja aku kuatir meninggalkan ibu sendirian di sini. Ibu kan baru beberap hari keluar dari rumah sakit."
"Gak kok, Bu....aku tidak bosan menemani ibu di rumah sakit." ujar Arisa.
"Mengenai ibu, kamu tidak perlu kuatir, nanti papa akan mengirimkan seorang perawat untuk merawat dan sekalian menemari ibu selama kita pergi." ucap Andika berusaha menyakinkan Arisa.
"Tapi...." Arisa masih saja ragu.
"Udah, tidak usah tapi-tapi....kamu ikut saja sana sama suamimu. Ibu bukan anak kecil kok, ibu pandai jaga diri sendiri." ucap Dina membantu Andika meyakinkan Arisa.
"Ibu yakin?"
__ADS_1
"Iya, ibu yakin....ibu baik-baik saja kok."
"Baiklah, kalau begitu. Aku ikut ya, Mas." jawab Arisa membuat Andika tersenyum penuh kemenangan sambil membayangkan romantisnya bulan madu mereka di sana tanpa gangguan dari siapapun. Akhirnya bulan madu mereka yang sempat tertunda itu akan terealisasikan juga.
****
Seminggu kemudian, hari di mana Andika dan Arisa akan berangkat ke Bali pun tiba. Saat ini mereka sedang berada di bandara. sesudah mengurus boarding pass, mereka masuk ke ruang tunggu untuk menunggu waktu penerbangan mereka yang tinggal setengah jam lagi.
Sementara itu, di sudut lain di ruangan tunggu bandara tersebut, seorang gadis cantik juga menunggu waktu penerbangannya dengan gaya pakaian elegan dengan topi lebarnya, membuat dirinya terlihat sedikit norak. Namun, dia tidak pedulikan meskipun beberapa tatapan mata tertuju kepadanya. Lagipula, dia memakai kaca mata hitam membuat orang-orang tidak begitu mengenalinya. Siapa lagi kalau bukan Rasti Andini.
Dari kejauhan, Rasti bisa melihat Andika dan Arisa sedang duduk berdampingan. Arisa sedang menatap layar handphonenya, sedangkan Andika malah bergelayut manja dengan menyandarkan kepalanya di pundak Arisa. Melihat itu, membuat Rasti terbakar cemburu. Harusnya dia yang ada di posisi itu, pikirnya.
Rasti sengaja memilih penerbangan dengan jadwal yang sama dengan Andika. Awalnya, dia berpikir Andika hanya berangkat sendirian, sehingga dia memiliki kesempatan untuk lebih leluasa mendekati Andika, tetapi rupanya Arisa juga ikut. Dirinya harus menyusun strategi baru agar rencananya bisa berhasil.
Tidak lama kemudian, terdengar suara yang menginformasikan bahwa penumpang diharapkan segera menuju pesawat. Rasti beranjak dari kursinya untuk ikut dalam antrian, tiba-tiba dirinya ditabrak oleh seseorang yang terburu-buru melewatinya.
"Hei...hati-hati dong kalau jalan." ujar Rasti kesal.
"Maaf mbak...saya tidak sengaja." jawab Arisa yang rupanya berjalan terburu-buru supaya bisa menyusul Andika dalam antrian karena dirinya pergi ke toilet sebentar.
"Kamu?" tanya Arisa sepertinya mengenali orang yang ditabraknya itu namun dia tidak yakin.
"Maaf saya tidak kenal dengan kamu." ketus Rasti sambil melangkahkan kakinya ke depan, pura-pura tidak mengenali Arisa, dan dia juga tidak mau kalau sampai Arisa mengenalinya dan mengetahui bahwa dia juga ikut ke Bali. Bisa-bisa rencananya berantakan nanti.
__ADS_1