
Sudah dua Minggu berlalu, sejak kejadian yang terjadi di rumah Dina, Arisa belum sekalipun pulang untuk menjenguk ibunya. Oleh karena itu, dia berencana akan mengunjungi ibunya saat libur weekend ini. Awalnya, Arisa tidak ingin pulang ke rumah ibunya, namun setelah dibujuk oleh suaminya, akhirnya dia mengikuti saran dari Andika. Memang sebaiknya, masalah ini jangan dibiarkan berlarut-larut. Untuk itu, dia bertekad akan menyelesaikannya hari ini.
Saat ini, Arisa dalam perjalanan menuju rumah Dina diantar oleh Andika. Sesampai di depan rumah ibunya, terlihat pintu depan dalam keadaaan terkunci. Apakah mungkin ibunya sedang beristirahat siang di dalam ataupun sedang keluar, Arisa mencoba mengetuk pintu.
Sudah berkali-kali, Arisa mengetuk ointu sambil memanggil ibunya, namun tak kunjung ada jawaban dari dalam, hingga salah satu tetangga samping rumahnya keluar.
"Jeng Dina sedang keluar, Arisa." sahut tetangganya Dina.
"Tante tahu ibu ke mana?"
"Saya kurang tahu. Tadi sepertinya dijemput oleh seseorang. Coba saja ditelepon!"
Benar juga, kenapa Arisa tidak terpikir untuk menelepon ibunya dari tadi.Dia penasaran, siapa yang datang menjemput ibunya tadi.
Tut....Tut...tut
Belum terdengar panggilan dari seberang, membuat Arisa menjadi mulai kuatir. Dia mencoba lagi dan lagi, dan akhirnya panggilannya diangkat. Syukurlah.
"Halo, Bu Ibu lagi di mana sih?" tanya Arisa
"Risa, kamu ke sini sekarang juga!"
"Ibu di mana sekarang?"
"Ibu sedang di rumah sakit Medika Jaya. Pokonya kamu ke sini sekarang juga!" Arisa mulai kalut mendengar ibunya sedang di rumah sakit.
"Mas, ibu lagi di rumah sakit. Ayo, kita pergi ke sana sekarang!" ujar Arisa kepada suaminya yang dari tadi berdiri di sampingnya
"Rumah sakit? Memang siapa yang sakit?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Ayo, Mas...cepat!" Panggilan tadi terputus, jadi Arisa tidak sempat bertanya jelas siapa yang sakit. Pikirannya mulai terbayang saat ibunya mengalami kecelakaan dulu. Mudah-mudahan bukan itu yang terjadi, harap Arisa.
Mobil Andika cukup ngebut menerobos jalanan kota yang mulai macet, sehingga tidak perlu lama, mereka pun sampai di rumah sakit Medika Jaya.
Dengan cepat, Arisa menelusuri lorong rumah sakit menuju ruang perawatan yang tadi sempat diberitahu oleh ibunya melalui pesan singkat. Saat menemukan ruang tersebut, tanpa mengetuk pintu, Arisa langsung membuka pintu dan masuk ke dalamnya.
Dengan masuknya Arisa yang tiba-tiba, membuat semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut menoleh bersamaan ke arah Arisa. Pemandangan di dalam membuat Arisa kaget seketika, karena dia melihat ibunya, Dina duduk di salah satu kursi dekat ranjang. Jadi, jika bukan ibunya yang sakit, siapa yang sakit hingga begitu darurat sampai-sampai ibunya menyuruhnya untuk segera datang. Arisa terdiam sejenak. Tidak tahu harus berkata apa.
"Erika sayang, sini Nak!" panggil Handoko. Tentu saja, Arisa tahu yang dimaksud Erika itu adalah dirinya.
"Iya, sini Arisa!" sahut Dina juga.
Dengan langkah pelan, Arisa berjalan mendekati Dina. Matanya memandang sekilas ke arah seorang wanita yang sedang terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang.
Siapa wanita itu? Apakah jangan-jangan....?Guman Arisa dalam hati.
" Ini mamamu, Nak!" ucap Handoko yang seolah-olah memahami isi hati Arisa yang penuh dengan pertanyaan itu. Arisa masih terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Dilihatnya wajah wanita paruh payah yang mungkin seumuran dengan ibunya itu, terlihat pucat pasi lemas tak berdaya, membuat hatinya menjadi lirih. Tanpa sadar, dia berjalan mendekati ranjang.
"Mama!" panggil Arisa pelan, sambil meraih tangan wanita tersebut.
"Mama kenapa?" tanya Arisa sambil memandang ke arah orang-orang sekelilingnya.
"Mama sebenarnya mempunyai penyakit bawaan penyakit jantung lemah dari dulu. Sudah lama, penyakitnya tidak kambuh. Namun akhir-akhir ini, kesehatan mama menurun drastis sejak pulang dari luar negeri, mungkin bawaan banyak pikiran ,sheingga membuat penyakit lama mama kambuh lagi." ucap Handoko menjelaskan panjang lebar.
"Mama, ini aku Ma." ucap Arisa pelan. Tiba-tiba mata Della mulai terbuka pelan-prlan.
Dalam keadaan sadar, Della menatap wajah yang sangat dirindukannya selama ini di depannya.
Apakah ini mimpi? Pikir Della.
__ADS_1
"Erina.." panggil Della pelan, hampir tak terdengar suaranya.
"Ini Erika, Ma!"
"Erika?" tanya Della semakin tak percaya. Meski masih lemas, tangannya mulai terangkat untuk menggapai wajah Arisa.
"Kamu anakku kan? Ini bukan mimpi kan?" tanya Della, namun dia masih belum begitu sadar untuk bisa membedakan apakah yang di depannya itu Erina atau Erika.
Efek obat bius yang diberikan dokter sebelumnya, membuat Della tertidur kembali sebelum bertanya lebih lanjut kepada Arisa.
Sesaat setelah dokter datang dan memeriksa keadaan Della, semua orang dalam ruangan tersebut dapat bernafas lega, karena dokter mengatakan, keadaan Della sudah mulai stabil dan tidak ada yang perlu dikuatirkan lagi.
Mereka kemudian duduk bersama di kursi sofa yang tersedia di sudut ruangan tersebut.
" Ibu, kok bisa ada di sini juga, Bu?"
"Tadi, Papa yang menjemput ibumu, Nak. Rencananya, papa ingin memberi kejutan kepada mamamu, berita bahagia kalau kami telah menemukan dirimu, anak kami yang telah lama hilang. Namun, belum sempat bertemu, saat kami sampai di rumah, Mama jatuh pingsan. Jadi, segera kami bawa ke rumah sakit." sahut Handoko menjelaskan sebelum Dina sempat menjawab pertanyaan Arisa.
Arisa hanya sekedar mengangguk tanpa memberi tanggapan apa-apa. Dirinya masih canggung, jika harus memanggil pria paruh baya di depannya itu dengan sebutan papa. Sebanarnya, dia sangat merindukan sosok seorang ayah, sejak meninggalkan suami Dina, saat dia masih kecil. Baginya, Dina dan suaminya adalah orang tua kandungnya.
"Mereka berdua adalah orang tua kandungmu, Tisa. Kamu harus mulai membiasakan diri untuk memanggil Papa dan Mama ya kepada Tuan Handoko dan Nyonya Della ya Risa." ucap Dina.
"Tetapi, Bu?"
"Sudah, tidak ada tapi-tapian..." ujar Dina, membuat Arisa terdiam seketika tanpa bantahan lagi.
"Mas!" panggil Arisa menatap Andika yang duduk di sampingnya seolah-olahrminta pendapat. Andika hanya mengangguk saja.
"Papa!" panggil Arisa tiba-tiba langsung menghampiri Handoko dan menangis di dalam pelukannya pria tersebut. Handoko pun menyambut Arisa dalam pelukan hangatnya, putrinya yang sudah lama hilang dan kini Tuhan pertemukan kembali. Betapa dia mensyukuri hal itu. Dia berharap hal ini akan bisa menjadi penyemangat hidup bagi Della sehingga akan segera memulihkan kesehatannya seperti sedia kala lagi.
__ADS_1
Arisa merasa sangat lega, setelah menahan perasaannya selama ini. Kini dia hanya berharap, mamanya akan segera sadar, sehingga dia juga bisa memeluk wanita yang telah melahirkannya itu.