Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Persiapan Nikah


__ADS_3

Segala sesuatu yang terjadi saat ini terasa begitu cepat bagi Arisa, baginya kisah hidupnya berubah dalam sekejap mata. Dua minggu yang lalu, dirinya masih bisa bersenang-senang dengan masa muda yang dia miliki, menggoda ibunya yang tak henti-hentinya mengomelinya namun sangat menyayanginya, bercanda gurau dengan Johan, sahabatnya itu. Namun kini, dia harus mempersiapkan dirinya untuk menikah dengan seorang laki-laki yang belum begitu dia kenal.


Akh, andai saja waktu itu dapat diputar ulang. Seandainya, hari itu aku yang mengantar ibu ke pasar, mungkin kecelakaan ini tidak akan terjadi. Tetapi sekarang semua sudah jadi seperti ini. Keluhnya dalam hati tak berdaya.


Baru saja dia beranjak dari kursinya, bermaksud keluar untuk berjalan-jalan di sekitaran rumah sakit untuk menghirup udara segar, tahu-tahu Andika sudah berdiri di depan pintu.


"Ikh....kamu ngejutin orang saja. Datang tak diundang...tiba-tiba aja udah nongol di situ." ketus Arisa sengaja menampakkan muka kesalnya.


"Ha....ha....ha....jangan kesal gitu donk, kalau mukanya begitu jelek sekali." goda Andika.


"Biarin....situ aja yang bodoh, udah tahu jelek, kenapa juga masih mau menikah denganku." balas Arisa


"Terus, ada urusan apa lagi ke sini? pagi-pagi aja sudah nongol di sini." lanjut Arisa semakin kesal yang melihat Andika main nyelonong aja sudah duduk di kursi dekat ranjang ibunya itu.


"Lho, emangnya aku tidak boleh ketemu calon ibu mertuaku? kan aku mau mengenal lebih dekat sebagai calon menantu yang baik." jawab Andika membuat Arisa menjadi semakin kesal.


Kalau bukan karena ibu terbaring di situ dan membutuhkan biaya perawatan yang besar, tidak sudi aku menikah denganmu, tahu!!! Lagian aku ini Arisa bukan Erina, kekasihmu. Sabar....sabar Arisa, semua ini demi ibu.


"Oh ya, siang ini ikut aku ya!" lanjut Andika

__ADS_1


"Ke mana?"


"Kita akan fitting baju pengantin kita. Mumpung hari ini, aku santai tidak pergi ke kantor Papa." Arisa memang sering lupa bahwa sesuai janjinya kepada Nyonya Anita, ibunya Andika, dia harus berperan sebagai Erina, sehingga kadang-kadang tanpa sadar dia menunjukkan perasaan tidak suka kepada Andika. Namun, dirinya harus berusaha mengalahkan perasaan tersebut, supaya dia bisa menjalankan perannya dengan baik dan tidak membuat Andika menjadi curiga.


"Oh....oke....tunggu sebentar ya, aku bersiap-siap dulu. " Dengan segera, dia menyambar kantong yang berisi baju-baju yang dibelikan Anita kemarin dan menggantinya di kamar mandi. Kebetulan, baju-baju tersebut memang belum sempat dia bawa pulang ke rumah, bahkan beberapa hari ini dia memang sama sekali tidak pulang ke rumah. Dia memilih berada di rumah sakit seharian supaya bisa menjagai ibunya, keluarga satu-satunya dalam hidupnya.


Tak lupa, dia memberikan sedikit riasan pada wajahnya supaya terlihat lebih menarik, sesuai pesan dari mama Andika. Setelah dirasanya cukup, dia pun berjalan keluar dari kamar mandi dengan santai.


"Kamu cantik...." ujar Andika terkesima saat melihat Arisa keluar dari kamar mandi


"Terima kasih..." jawab Arisa sesopan mungkin agar dia bisa menjalankan perannya dengan baik sebagai Erina. Sebelumnya Anita sudah menceritakan sekilas tentang sosok Erina, wanita yang cantik, anggun, elegan dan sedikit manja, yang tentu saja sangat bertolak belakang dengan keseharian Arisa. Tetapi, mau tidak mau, dia harus belajar agar dia bisa tampil seperti Erina.


"Sudah siap? Kita berangkat sekarang ya." ajak Andika sambil berjalan ke luar disusul oleh Arisa di belakangnya.


Tidak lama kemudian, sampailah mereka di butik yang dimaksud.


"Kita sudah sampai, ayo masuk...!" ajak Andika, Arisa mengikuti dari belakang berjalan dengan lambat, hingga akhirnya Andika berhenti dan menyejajarkan langkahnya sambil menggandeng tangannya.


"Permisi, ada yang bisa bantu, Tuan?" tanya salah satu karyawan butik dengan ramah menyambut kedatangan mereka.

__ADS_1


"Kami mau mencoba gaun pengantin dan stelan atas nama Andika Raharsyah."


"Baik, mohon tunggu sebentar, akan kami siapkan."


Tidak lama kemudian, datanglah karyawan butik tersebut dengan membawa sebuah gaun pengantin yang begitu mewah, dengan hiasan kristal-kristal mengkilap pada bagian depannya, membuat Arisa takjub memandang gaun tersebut seketika. Tidak pernah terbayang dalam pikirannya, dia akan mengenakan gaun pengantin, apalagi yang mewah seperti ini.


"Silakan dicoba, nona." Sambil menganggukkan kepalanya, Arisa langsung mengikuti karyawan tersebut ke ruang ganti untuk dibantu mencoba gaun tersebut. Sedangkan, Andika juga sudah menerima stelan jasnya dan mencobanya di ruang ganti lainya.


Setelah mengenakannya, Arisa melihat bayangan dirinya di cermin besar. Rasanya, dia tidak percaya bahwa dia sedang memandangi dirinya sendiri. Dia berjalan ke luar menuju ke tempat Andika yang sudah duluan selesai memakai stelan jasnya. Andika yang sedari tadi menatap layar handphonenya, mendongakkan kepalanya dan melihat Arisa.


"Wow....kamu cantik sekali, gaun ini cocok sekali denganmu, sayang." Arisa menjadi tersipu malu mendengarnya. Ingin rasanya dia membayangkan bahwa ini adalah pernikahan yang sesungguhnya baginya, bukan sekedar pernikahan settingan dengan berperan sebagai Erina. Laki-laki di depannya ini memang akan menjadi suaminya, tetapi bukan suami yang mencintai Arisa, tetapi mencintai Erina. Memikirkan itu, membuat hati Arisa menjadi lirih.


"Kamu juga tampan dengan stelan itu." balas Arisa memuji Andika. Tidak bisa dia pungkiri, laki-laki di depannya itu memang terlihat sangat tampan dan keren apalagi setelah mengenakan stelan jas tersebut.


"Ya...kalau begitu, bukankah kita pasangan yang serasi, bukankah begitu, nona?" tanya Andika sambil mengerdipkan matanya ke arah karyawan butik yang ada di dekat mereka, seolah-olah meminta pengakuan.


"Iya, tuan dan nona, kelihatan serasi sekali, apalagi dengan gaun pengantin ini, nona sangat cantik." puji gadis itu.


Sesi fiiting baju pengantin akhirnya selesai juga hari itu. Andika senang sekali, karena meski lupa sebagian ingatannya, dia ingat betul bahwa sebelumnya dia memang akan membawa Erina fitting gaun pengantin sebelum mereka mengalami kecelakaan. Syukurlah, dia dan Erina selamat dari kecelakaan tersebut, sehingga rencana pernikahan mereka tetap bisa dilaksanakan, pikir Andika.

__ADS_1


Untuk persiapan lainnya, semua sudah diatur oleh Anita, sehingga Andika tidak perlu pusing-pusing lagi memikirkannya. Undangan yang rencana semula akan disebarkan banyak, akhirnya dibatasi hanya untuk kerabat dekat, karena mereka hanya akan mengadakan resepsi kecil namun tetap berkelas di sebuah ballroom hotel yang telah dibooking sebelumnya.


Sementara Arisa sendiri, dia semakin gelisah, menghitung hari pernikahannya yang tinggal hitungan jari.. Mungkin jika pernikahan ini adalah pernikahan sesungguhnya dengan orang yang dicintainya,, dia akan tidak sabar menunggunya, bukannya tegang seperti ini. Dia menyadari betul, bahwa ini hanya sekedar pernikahan settingan, sebagai balas jasa atas biaya perawatan ibunya yang telah dikeluarkan oleh mama Andika, calon suaminya itu. Jadi, kebahagiaan apa yang bisa dia harapkan dari pernikahan ini.


__ADS_2