
Bukan tanpa alasan, kenapa Arisa meminta supaya pernikahannya itu dilakukan secara sederhana saja. Bila perlu diam-diaman saja, biar tidak banyak yang tahu. Apalagi kalau diketahui oleh pasukan emak-emak tukang gosip di kompleks pemukiman tempat tinggalnya itu. Bisa habis Arisa jadi bahan ngerumpi oleh emak-emak yang selalu berkumpul sore-sore membahas anak-anak tetangga satu per satu.
Sedangkan Andika, tentu saja menginginkan pernikahannya dilakukan secara mewah, agar semua orang tahu bahwa dia menikahi gadis yang dicintainya itu, Erina. Tetapi, tentu saja dia juga mempertimbangkan perasaan gadis itu, yang pasti memiliki alasan kenapa memilih melangsungkan pernikahan secara sederhana saja.
Sesampainya di rumah, kebetulan Anita dan Wijaya sedang duduk santai di ruang keluarga menonton sebuah acara talk show di televisi, Andika langsung menghampiri dan duduk di sofa samping mamanya. Hari ini adalah hari Sabtu, jadi libur akhir pekan bagi Wijaya, sehingga dia tidak ke kantor hari ini.
"Kamu sudah pulang, Nak?" sapa Anita.
"Pa...Ma....ada yang mau aku bicarakan?" Seketika itu Anita dan Wijaya yang sedang asyik menonton tv mengarahkan pandangan mereka kepada Andika.
"Apa yang kamu bicarakan? Mengenai pernikahan kamu?" tanya Wijaya
"Iya....tadi Dika sudah mengunjungi Erina di rumah sakit, Erina meminta sesuatu....."
"Memangnya, apa diminta oleh Erina, Nak?" tanya Anita
"Dia ingin agar pernikahan kami dilakukan secara sederhana saja." Anita dan Wijaya sama-sama terkejut, padahal mereka sudah merencanakan akan membuat pesta pernikahan yang mewah buat putra semata wayangnya itu.
"Tetapi, kenapa? Sayang donk, acara pernikahanmu hanya dilakukan sederhana saja. Kalau menurutmu sendiri, gimana?" tanya Wijaya.
"Kalau Dika sendiri, tidak masalah Pa, yang penting kami menikah, mau sederhana ataupun mewah itu sama saja." jawab Andika santai.
__ADS_1
"Baiklah, papa dan mama akan mempertimbangkan itu, benar kan ma?" Wijaya mengarahkan pandangannya kepada Anita yang terlihat sedang berpikir.
Anita memang sedang berpikir, menebak-nebak alasan kenapa Arisa menginginkan pesta pernikahan yang sederhana saja. Anita berpikir mungkin karena pernikahan ini bukan pernikahan seutuhnya baginya Arisa, makanya dia menginginkan pernikahan yang sederhana saja, supaya tidak banyak yang tahu tentang pernikahannnya ini.
"Kalau menurut mama, kita ambil jalan tengah saja ya, kita hargai permintaan Erina, tetapi bukankah kita tidak mungkin melangsungkan pernikahanmu diam-diam tanpa mengundang kerabat-kerabat dekat kita tokh.." Wijaya mengangguk mengiyakan pendapat istrinya.
"Jadi, kita akan melangsungkan acara pernikahanmu dengan undangan terbatas saja, gimana menurut kalian?" wijaya menganggukkan kepalanya sekali lagi, mengisyaratkan bahwa dia setuju dengan dengan pendapat istrinya.
"Oke Ma, Dika tidak masalah, begitu juga bagus. Nanti, Dika akan segera mengabarkannya kepada Erina." ujar Andika.
"Kalau begitu, Dika ke kamar dulu ya Pa, Ma....Mau istirahat."
"Baiklah...." Anita dan Wijaya kembali menonton acara talkshow yang sempat ketinggalan beberapa menit.
"Apanya yang akan bermasalah? Sudah, pokoknya papa tenang saja, mama akan atur semuanya. Ini semua untuk kebaikan Andika." jawab Anita.
"Baiklah, papa serahkan semuanya kepada mama ya, papa percaya sama mama."
****
Andika segera menghubungi Arisa yang diyakininya sebagai Erina itu. Ketika makan bersama di kantin tadi, sudah sudah meminta nomor calon istrinya itu, meskipun awalnya gadis itu enggan memberikan kepadanya.
__ADS_1
"Halo.....Erina, sayang..." sapa Andika ketika panggilan telepon diterima.
Ini apalagi, pakai sayang-sayang segala....Ya ampun, Tuan , aku ini Arisa, bukan Erina....Ingin rasanya Arisa berteriak seperti itu kepada Andika.
"Eh...iya....ada apa?"
"Tadi aku sudah bicarakan dengan orang tuaku mengenai permintaanmu itu? Mereka setuju, tetapi dengan catatan kerabat-kerabat dekat tetap diundang. Kamu tidak keberatan kan?" tanya Andika
Sebenarnya Arisa sendiri tidak yakin tadi jika permintaannya itu akan dipenuhi, dia tahu bahwa keluarga Andika adalah orang kaya yang tentu mempunyai banyak relasi bisnis, yang tentu saja akan diundang. Jadi, kalau akhirnya undangan dibatasi hanya untuk kerabat dekat, dia sudah sangat senang. Jadi, buat apa lagi keberatan, pikirnya.
"Erina....Erina...lho kok diam?"
"Eh...eh...iya....aku tidak keberatan kok, begitu juga baik, yang penting kita menikah kan." jawab Arisa.
"Iya....aku sudah tidak sabaran menikah denganmu, sayang."
Tidak sabar???? Gak salah Tuan, kita bahkan belum saling mengenal satu sama lain. Bukankah ini terlalu cepat?? Tetapi ya sudahlah, ini semua demi ibu.
"Kalau gitu, aku tutup teleponnya dulu ya, aku ada sedikit urusan." ucap Arisa berbohong, supaya bisa segera mengakhiri percakapannya di telepon dengan laki-laki yang mengaku sebagai calon suaminya itu.
"Oh...oke...besok aku akan mengunjungimu dan calon mertuaku lagi ya."
__ADS_1
"Iya..." jawab Arisa malas. Syukurlah akhirnya obrolan di telepon itu dapat berakhir.