
Waktu hampir menunjukkan pukul dua belas siang, saat Handoko sampai di rumah Wijaya. Sebenarnya ada rasa tidak nyaman juga karena sepertinya datang di waktu yang salah, mungkin saja ini waktunya makan siang keluarga Wijaya, namun karena terlanjur sudah sampai di depan rumah sahabatnya itu, maka Handoko memberanikan diri untuk membunyikan klakson mobil di depan pintu gerbang rumah Wijaya.
Seorang bapak paruh baya segera datang untuk melihat siapa gerangan yang datang.
"Mau bertemu dengan siapa, Tuan?" tanya bapak tersebut sebelum membuka pintu. Namun, saat orang yang di dalam mobil tersebut mendongakkan kepalanya keluar dari jendela mobil, tahulah bapak tersebut itu adalah teman Tuannya, pak Handoko. Maka, diapun segera membukakan pintu gerbangnya.
"Tuan ada?" tanya Handoko saat turun mobil.
"Ada, Tuan. Mari, silakan ikut dengan saya." jawab bapak tersebut sambil menuntun Handoko masuk ke dalam rumah.
"Pemisi, Tuan...ada tamu." Wijaya dan istrinya yang kebetulan sedang duduk di ruang tama, segera menoleh dan melihat siapa yang datang.
"Hei, Doko....ayo masuk!" sapa Wijaya senang saat melihat siapa yang datang.
"Iya, ayo silakan duduk!" sambut Anita dengan ramah. Kemudian Anita menuju ke dapur sebentar, untuk memerintahkan asisten rumah tangganya untuk membuatkan tamu mereka.
"Kamu apa kabarnya? Aku kira kamu tidak tahu jalan pulang lagi, mau selamanya tinggal selamanya di luar negeri....hahaha..." ucap Wijaya membuka pembicaraan setelah Handoko telah duduk.
"Ya tidaklah kawan...Kamu tahu sendiri kan alasan kami untuk pindah keluar negeri sementara waktu."
"Iya, aku paham itu. Bagaimana kabar istrimu sekarang?"
"Sudah baikan. Ngomong-ngomong tentang itu, saya mau minta maaf atas kejadian waktu itu ya....Tidak sepantasnya Della berkata seperti itu kepadamu." ucap Handoko.
"Tidak apa-apa, tidak usah dipermasalahkan soal itu. Saya bisa mengerti kok, itu sungguh hal yang berat buat kalian. Saya juga merasa bersalah dengan kalian."
"Sudahlah, tidak usah dibahas lagi soal itu. Tidak ada yang bisa dipersalahkan dalam hal ini. Kejadian itu murni kecelakaan. Kita tidak bisa berbuat apa-apa." ujar Handoko lirih. Anita sudah ikut kembali bergabung duduk dengan mereka.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Della, Doko?" tanya Anita.
"Dia baik kok sekarang."
"Syukurlah. Aku cukup mengkuatirkan keadaannya."
"Awalnya memang dia drop sekali dan tidak bisa menerima kehilangan ini. Namun sekarang dia sudah mulai membaik."
"Syukurlah...aku lega mendengar hal itu. Kapan-kapan aku ingin mengunjunginya." ucap Anita membuat Handoko merasa sedikit tidak enak untuk menjawab, karena dia ragu apakah Della masih membenci mereka atau sudah memaafkannya.
"Iya." jawab Handoko singkat.
"Oh ya, bagaimana keadaan Andika sekarang?" tanya Handoko
Orang yang ditanya memang panjang umur, baru saja Handoko bertanya, tiba-tiba terdengar bunyi mesin mobil dari depan rumah. Anita berjalan ke luar untuk melihat siapa yang datang, rupanya Andika datang bersama istrinya.
Saat Andika masuk ke dalam rumah duluan, karena Arisa sedang merapikan riasan dan rambutnya di dalam mobil, dia melihat orang tuanya sedang kedatangan tamu.
"Hai Andika, bagaimana kabarmu sekarang?" ucap Handoko balik menyapa.
"Baik, Om." Andika melihat ke arah mamanya, ingin bertanya siapa tamunya itu, kok bisa mengenalnya, dia tidak ingat sama sekali.
"Selamat siang Pa, Ma." sapa Arisa dari depan pintu tiba-tiba membuat semua orang dalam ruangan tersebut menoleh ke arah suara. Betapa terkejutnya Handoko saat melihat sosok yang berdiri di depan pintu tersebut.
Sosok yang begitu dirindukannya saat ini, tetapi bagaimana mungkin ini terjadi. Putrinya, Erina sudah meninggal. Ini tidak mungkin Erina, Handoko sampai tidak berkedip menatap Erina. Anita yang menyadari situasi tegang ini, segera mengajak Andika dan Arisa masuk ke dalam meninggalkan Wijaya dan Handoko agar mereka bisa berbicara berdua.
"Ayo masuk sayang...Mama hari ini ada masak kolak kesukaanmu lho, Dika." Andika dan Arisa mengikuti langkah mamanya masuk ke ruang keluarga, agar mereka bisa ngobrol di situ, sekalian Arisa mau memberikan oleh-oleh kepada mertuanya itu dan beberapa asisten rumah tangga yang bekerja di rumah ini
__ADS_1
.
Sementara itu, di ruang tamu, Handoko masih terdiam, tidak tahu harus bertanya dari mana. Tiba-tiba pikirannya teringat akan kejadian masa lalu yang sangat menyakitkan terjadi.
"Hei, kok melamun?" tanya Wijaya tiba-tiba membuyarkan pikiran flasback Handoko.
"Oh tidak. itu tadi?"
"Oh, itu Arisa....Kamu tahu, akibat dari kecelakaan tersebut, Andika sempat koma, dan saat dia dia sadar, dia mengalami hilang ingatan, makanya mungkin tadi dia tidak mengingatmu."
"Oh..."
"Namun, meski hilang ingatan...satu-satunya sosok yang masih dia ingat adalah putrimu, Erina. Dia bisa mengingat betul bahwa dia akan segera menikah dengan Erina. Setiap hari dia murung dan tidak bersemangat hidup, hingga suatu hari kami bertemu dengan Arisa, yang begitu mirip dengan Erina. Akhirnya, Andika menikah dengan Arisa sekarang." lanjut Wijaya menjelaskan.
"Oh, jadi namanya Arisa."
"Iya...awalnya aku juga kaget, bagaimana mungkin ada orang di dunia ini yang begitu mirip, apakah dia kembaran Erina, tapi setahuku kamu tidak mempunyai anak kembar kan?" ucap Wijaya membuat Handoko tiba-tiba tertegun.
Anak kembar....ya, kami memilikinya dulu, tetapi ada sebuah musibah yang terjadi. Sampai sekarang kami masih merasa bersalah atas kejadian waktu itu. Guman Handoko dalam hati, wajar sahabatnya itu tidak tahu menahu soal anak kembar yang dimilikinya dulu, karena waktu itu, Wijaya dan keluarganya sempat tinggal di luar negeri dalam wkatu yang cukup lama.
"Waktunya makan siang, ayo kita makan bersama Pa, Doko." sahut Anita tiba-tiba dari dalam sambil berjalan menghampiri mereka.
"Kamu ikut makan siang bareng kita ya." ajak Wijaya. Tidak enak hati untuk menolak, akhirnya Handoko menerima tawaran Wijaya dan ikut berjalan menuju ruang makan.
Sepanjang sesi makan siang tersebut, Handoko menatap erat wajah Arisa. Wajah itu benar-benar mirip Erina, apakah dia putri kami yang hilang itu? Ada secerca harapan dalam hatinya, berharap kemungkinan itu terjadi. Untuk memastikan hal itu, dia berencana akan memerintahkan seseorang untuk mencari tahu seluk beluk siapa gadis yang menjadi istri Andika sekarang. Namun sebelum semuanya dipastikan, dia akan merahasiakan hal ini dari istrinya, karena dia tidak mau jika istrinya tersebut mengalami kekecewaan dan luka hati sekali lagi.
*******
__ADS_1
Oke, update lagi nih. Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman melalui like, komen, rate dan vote.
Dukungan semuanya sangat author harapkan supaya author semakin semangat menulisnya.