
Arisa dan pria berjas elegan itu sama-sama terkejut saat mereka saling menatap.
"Kamu Arisa kan?" tanya pria tersebut menatap tidak percaya dengan gadis di depannya itu. Wajah gadis di depannya itu tidak asing di depannya, namun karena penampilannya yang berbeda, membuat dia agak pangling melihat gadis tersebut.
"Kamu Alex ya?" tanya balik Arisa.
Lalu keduanya pun tertawa bersamaan, mereka senang karena bisa bertemu teman lama setelah sekian lama.
"Kamu bekerja di ini " tanya Alex.
"Iya, ini baru hari pertamaku kerja di sini. Maaf ya, tadi aku sampai menimpa badanmu karena buru-buru jalan tadi."
"Oh, tidak apa-apa. Tetapi kenapa harus sampai terburu-buru jalannya tadi, kamu sedang ada urusan penting?"
"Oh, tidak. Hanya saja......" belum selesai Arisa menjelaskan, handphonenya sudah berbunyi, dia segera mengangkatnya. Itu adalah panggilan dari Andika yang mengabarkan bahwa dia sudah menunggu di depan.
"Maaf ya, aku sudah dijemput. Aku duluan ya, Lex." pamit Arisa dan segera berjalan meninggalkan Alex yang menatapnya dari belakang. Alex begitu terkesima dengan perubahan Arisa. Mereka memang pernah satu sekolah SMA dulu, sekolah yang sama dengan Michella dan Johan, namun seingatnya penampilan Arisa dulu itu sedikit tomboi dan tidak begitu menjaga penampilan seperti anak gadis pada umumnya. Namun kini, Alex sampai pangling dan mengagumi keanggunanan Arisa.
Sementara itu, sambil berjalan menuju mobil Andika, Arisa juga memikirkan pertemuan singkatnya dengan Alex tadi. Alex adalah ketua osis saat dirinya sekolah SMA dulu. Alex yang menjadi incaran para gadis karena memang perawakannya yang atletis dan wajahnya yang tampan, tak heran juga Arisa juga menyukai Alex secara diam-diam. Namun tentu saja dirinya tidak berani berharap untuk bisa bersaing dengan para gadis lainnya yang lebih cantik darinya, terutama Michella. Michella merupakan salah satu gadis yang paling gencar mendekati Alex waktu itu.
"Maaf ya, jadi menunggu lama." ucap Arisa saat memasuki mobil Andika.
"Tidak apa-apa, sayang!" jawab Andika
"Bagaimana hari pertama kerjamu? seru?" lanjut Andika bertanya karena penasaran dengan cerita hari pertama kerja istrinya.
"Semua berjalan dengan lancar. Aku juga sudah memiliki beberapa teman baru. Staf-staf seniornya juga ramah. Mereka mau membantu mengajari kami yang masih baru. Hari ini juga aku sudah disodori laporan setumpuk yang harus diinput datanya." ucap Arisa menjelaskan dengan panjang lebar dan antusias. Maklum, ini adalah kali pertama dia memiliki sebuah pekerjaan kantoran seperti yang diidam-idamkan selama ini.
"Baguslah kalau begitu. Aku ikut senang mendengarkannya. Bagaimana kalau hari ini kita merayakannya dengan makan malam di luar?"
"Akh, tidak usah saja. Kan aku masih bisa masak makan malam di apartemen." tolak Arisa.
__ADS_1
"Sudah, khusus hari ini...kamu gak boleh kecapekan sayang. Kan, ini hari pertama kamu bekerja. Pasti kamu sudah melewati hari yang melelahkan." Arisa tidak membantah lagi, karena dirinya memang tidak memungkiri kalau hari ini benar-benar cukup melelahkan bagi dirinya. Maka mereka pun segera meluncur ke sebuah resto untuk menikmati makan malam mereka sebelum mereka kembali ke apartemen.
Setelah selesai makan malam, barulah mereka kembali ke apartemen. Arisa ingin segera mandi karena merasa sudah sangat gerah setelah beraktivitas seharian. Namun, sebelum dia sempat berjalan menuju ke kamar mandi, Andika sudah memegang tangannya.
"Aku ikut...!" pinta Andika dengan muka memelas.
"Baiklah....tetapi ingat ya, tidak ada kegiatan plus-plusnya di dalam ya!" ujar Arisa mengingatkan. Andika menganggukan kepalanya, tetapi sebenarnya dirinya tidak bisa berjanji apakah dia bisa menahan godaan di dalam.
Akhirnya aktivitas kedua sejoli tersebut di dalam kamar mandi berlangsung lebih lama dari waktu normal pada umumnya orang mandi. Apa yang mereka lakukan, entahlah, biarlah mereka yang tahu, karena author dan readers tidak diperkenankan mengintip.
Barulah mereka keluar dari kamar mandi setelah puas dengan aktivitas mereka di dalam, namun rupanya masih ada ronde selanjutnya di atas tempat tidur hingga membuat malam mereka semakin panas meski air conditioner kamar tersebut dalam kondisi menyala. Setelah puas dengan beberapa sesi keintiman mereka, barulah mereka tertidur pulas hingga menjelang esok.
*****
Arisa bangun lebih awal seperti kemarin. Dirinya sepertinya sudah mulai terbiasa untuk selalu bangun lebih awal. Tidak ada yang berbeda dalam rutinitas paginya, setelah selesai mandi dan menyiapkan sarapan, serta sudah berpakaian rapi begitu juga dengan Andika, mereka pun menikmati sarapannya bersama-sama dan siap untuk menyambut hari yang baru.
Andika berangkat duluan karena dirinya ada kegiatan meninjau tempat proyek langsung ke lapangan pagi ini, sedangkan Arisa setelah selesai membereskan cucian piring dan gelas kotor, barulah dia memesan taksi online dan siap berangkat kerja pagi ini.
Tak lama kemudian, taksi online yang ditumpangi Arisa pun telah sampai di perusahaan tempatnya bekerja. Arisa segera turun dari mobil setelah menyodorkan beberapa lembar uang untuk membayar. Dia berjalan dengan langkah cepat ke kantor divisinya, supaya tidak terlambat untuk finger print. Syukurlah saat sampai di kantornya, dia belum terlambat dan masih ada sisa waktu 10 menit sebelum batas waktu yang ditentukan.
"Kamu selesaikan laporan ini ya!" ucap salah satu staf senior Arisa setelah dirinya baru saja duduk di kursi kerja.
"Siap!" sahut Arisa dan diapun segera memulai harinya engan berkutat dengan laporan-laporan yang menumpuk di atas meja kerjanya.
Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa hampir waktunya makan siang. Namun sebelum Arisa beranjak dari kursinya untuk ikut makan siang bersama rekan kerjanya yang sama-sama staf baru itu, dia tiba-tiba dipanggil oleh pimpinan divisi keuangan Ibu Nelly.
"Arisa, bagaimana laporan tadi, sudah selesai semua?" tanya Nelly.
"Hampir selesai semuanya, Bu....tinggal sedikit lagi." jawab Arisa.
"Oke...kalau begitu, kamu selesaikan semuanya, setelah itu antarkan laporan-laporan tersebut ke ruangan direktur kita ya untuk ditandatangani ya.. Ruangannya terletak di lantai 4, satu lantai di atas kita. Nanti sampai di sana, kamu bisa memberitahukan kepada sekretaris yang ada di depannya dulu ya." perintah Nelly.
__ADS_1
"Baik, Bu!" Arisa pun segera menyelesaikan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi. Sementara itu, Dinda dan Reni yang bermaksud mengajaknya untuk makan siang bersama tahu bahwa Arisa tidak akan ikut, terlihat dari aba-aba yang diberikan Arisa, sehingga akhirnya mereka pergi makan siang tanpa Arisa.
Setelah menyelesaikan laporan terakhirnya, Arisa segera membawa semua dokumen tersebut menuju ruang direktur seperti perintah Ibu Nelly tadi. Sampai di lantai 4, dia melaporkan maksud dan tujuannya kepada sekretaris yang ada di depan ruangan direktur. Sekretaris bernama Evalia itu pun mempersilakan Arisa untuk masuk ke ruangan direktur.
Arisa mengetuk pintu.
"Masuk!" terdengar panggilan dari dalam. Arisa pun membuka pintu dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.
Sepertinya sang direktur sedang berbicara di telepon dengan posisi membelakangi Arisa, sehingga Arisa tidak bisa melihat siapa di balik kursi putar itu. Setelah mengakhiri pembicaraannya di telepon, barulah sang direktur tersebut memutar kursinya untuk melihat siapa yang datang.
Arisa terkejut saat menatap orang yang duduk di kursi tersebut, begitu juga dengan sang direktur tersebut. Siapa lagi, kalau bukan Alex, teman SMA yang sebenarnya menjadi cinta pertamanya Arisa secara diam-diam dulu.
"Alex?" sahut Arisa serasa tak percaya.
"Eh, maaf....Pak Alex...Jadi, kamu pemilik perusahaan ini?" tanyanya.
"Ya begitulah....tetapi ngomong-ngomong jangan terlalu sungkan begitu, panggil saja Alex seperti biasa!" pinta Alex
"Oh tidak! kamu adalah atasanku, sudah sepantasnya aku harus memanggil dengan sebutan Pak Alex." bantah Arisa. Dia tentu harus bisa membedakan saat situasi formal dan santai.
"Baiklah, kalau kamu maunya begitu. Jadi, ngomong-ngomong ada keperluan apa, kamu datang ke ruanganku?"
"Ini ada laporan-laporan yang harus Bapak tandatangani." ucap Arisa seraya menyerahkan dokumen-dokumen yang dipegangnya. Alex membaca sekilas kemudian menandatanganinya.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya Pak!"
"Tunggu dulu!"
******
Update lagi nih, hari ini author lagi senang, akhirnya karya ini sudah lulus kontrak. Namun, levelnya masih rendah nih. Makanya yuk bantu support ya teman-teman untuk meningkatkan perfoma karya ini. Jangan lupa like, komen, rate dan vote ya teman-teman!
__ADS_1