Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Foto Misterius


__ADS_3

Pagi ini, Andika sudah berpakaian rapi, bersiap-siap untuk pergi ke kantor, sedangkan Arisa masih tertidur di atas tempat tidur. Jangan ditanya lagi gayanya saat tidur, seprai ranjang yang sebelumnya rapi sudah acakan-acakan bukan karena ada pertempuran dahsyat di antara dua insan itu tadi malam, melainkan pertempuran pribadi Arisa yang tidur urak-urakan gak jelas, sehingga dengan sukses menyingkirkan Andika yang kemudian mengungsi tidur si sofa menjelang subuh tadi.. Andika tersenyum memandang istrinya yang masih nyenyak gara-gara bergadang menonton film action tadi malam. Enggan untuk mengganggunya, Andika keluar dari kamar menuju dapur untuk mempersiapkan sarapannya sendiri. Biasanya, meskipun hanya ala kadarnya, Arisa selalu berusaha mempersiapkan sarapan buat Andika, sebagai bagian dari kewajiban seorang istri yang harus dijalaninya.


Selesai sarapanpun, rupanya Arisa masih juga tak kunjung bangun, sehingga pagi itu dia memilih berangkat ke kantor tanpa membangunkan istrinya itu. Andika sudah mulai terbiasa dengan pekerjaannya di kantor, sepertinya Wijaya, papa Andika bisa kembali menikmati masa pensiunnya sebentar lagi. Andika sudah mulai bisa diandalkan kembali, dia memang orang yang cepat belajar dan mengerti.


Sesampainya di ruang kantornya, dia melihat secarik amplop tergeletak di atas meja kantornya. Sepertinya ada kiriman untuknya hari ini. Entah apa isinya, supaya tidak penasaran, Andika langsung membuka amplop tersebut untuk melihat isinya. Beberapa foto dikeluarkannya dari dalam amplop tersebut. Betapa terkejutnya ketika dia melihat foto-foto tersebut, seorang laki-laki dengan seorang perempuan, dengan berbagai pose mesra. Tentu saja dia mengenali laki-laki di dalam foto tersebut yang tidak lain adalah dirinya sendiri, tetapi gadis yang sedang bersamanya itu? Akh, dia tidak bisa mengingatnya sama sekali. Siapa gerangan gadis tersebut.


Kelihatannya mereka mempunyai cerita masa lalu, yang tentu saja tidak bisa diingat Andika sama sekali, karena dia mengalami lupa ingatan akibat kecelakaan yang dialaminya.'


Siapa gadis ini? Bukankah diriku hanya memiliki Erina sebagai kekasihku satu-satunya? Apakah mungkin dia juga salah satu kekasihku yang lain?


Akh...tidak mungkin rasanya. Aku hanya mencintai Erina....


Lebih terkejut lagi, ketika dia melihat tulisan pada salah satu foto ketika dia tidak sengaja membalikkan salah satu foto tersebut. Sebuah tulisan jelas tertulis " Aku merindukanmu, sayang" semakin membuat dia penasaran tentang gadis di dalam foto tersebut.


"Aku harus mencari tahu tentang foto-foto ini?" gumannya pelan.


"Mungkin saja mama mengenali siapa gadis ini?"


"Aku akan tanyakan nanti, setelah pulang kantor nanti sore." ucap Andika pelan.


Keberadaan foto tersebut akhirnya membuat Andika tidak bisa berkonsentrasi bekerja seharian ini. Dia ingin secepatnya pulang menemui mamanya nanti, supaya bisa menanyakan perihal foto tersebut. Mudahan saja mamanya mengenali siapa gadis di dalam foto tersebut. Dia juga kuatir jika foto ini dilihat oleh istrinya, akan menjadi masalah besar nanti, pikirnya.


Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya sore itu, akhirnya dia bisa pulang dan segera meluncur ke rumah orang tuanya.

__ADS_1


"Kamu datang, Nak. Tumben...." sapa Anita ketika melihat putranya tiba-tiba saja sudah muncul di depan pintu.


"Ada yang mau aku bicarakan Ma."


"Soal apa? Ayo, kita bicara di ruang santai keluarga saja." ajak Mamanya yang sudah berjalan duluan, kemudian disusul oleh Andika.


"Ada yang ingin kutanyakan Ma. Soal ini...." ujar Andika sambil menyerahkan foto-foto tersebut kepada mamanya.


"Foto ini....." seketika itu Anita langsung mengernyitkan dahi dan tampak seperti menyembunyikan sesuatu.


"Mama mengenali gadis ini?"


"Mama kurang tahu, nak. Seingat mama, itu hanya salah satu teman SMA mu dulu yang pernah kamu ajak main ke rumah. Dulu kan kamu sering mengajak teman-temanmu main ke rumah." jawab Anita, sepertinya menutupi sesuatu sehingga membuat Andika menjadi curiga.


"Akh....itu perasaamu saja, kamu dulu kan memang dekat dengan teman-temanmu baik laki-laki dan perempuan, kalian sering mengambil foto bersama seperti itu kok." sanggap Anita cepat.


Andika tidak begitu puas dengan penjelasan mamanya. Namun, sepertinya tidak banyak informasi yang bisa dia dapatkan dari mamanya itu yang terkesan menutupi sesuatu.


"Kalau begitu, Dika permisi dulu ya, Ma." pamit Andika.


"Kamu tidak mau tunggu dulu untuk makan malam, Nak. Lagi sedang disiapin kok. Sudah lama kita tidak makan bersama-sama."


"Lain kali saja Ma, Andika kuatir Erina sendirian di apartemen." tolak Andika beralasan, meskipun sebenarnya dia tahu kemungkinan besar istrinya itu pasti sedang berada di rumah sakit saat ini.

__ADS_1


Benar perkiraan Andika, Arisa memang sedang berada di rumah sakit sekarang, sepertinya dia tidak pernah absen seharipun mengunjungi ibunya itu dan berharap hari itu ibunya akan sadar. Namun, sekali lagi dia harus kecewa, karena hari itupun ibunya tak kunjung sadar.


Tok....tok....tok....


Bunyi pintu diketuk. Arisa membalikkan badannya untuk melihat siapa yang datang, tentu saja laki-laki tampan berkharisma yang sekarang berstatus suaminya itu yang datang.


"Aku datang untuk menjemputmu, sayang?" ujar andika sambil tersenyum kepada Arisa.


"Lho, kok repot-repot, Mas? Aku bisa kok pulang sendiri dengan taksi online, mas kan bisa langsung pulang ke apartemen dari kantor tadi." Sepertinya Arisa lebih nyaman memangggil suaminya itu dengan sebutan "Mas" meskipun kadang-kadang Andika tetap bersikeras memintanya memanggil dengan panggilan "sayang". Dia kadang-kadang masih bingung dengan perasaannya itu.


"Tidak repot kok, masa menjemput istri sendri itu merepotkan. Lagian, aku benar-benar merindukanmu hari ini, sayang....." balas Andika sembari menghampiri Arisa dan kemudian tiba-tiba mengecup kening istrinya itu. Dari lubuk hati Arisa, sebenarnya dia sangat senang diperlakukan sepeti itu, meski dia sendiri belum seratus persen yakin apakah ini nyata buat dia.


"Gimana keadaan ibu hari ini? Sudah ada perkembangan?"


"Masih sama, Mas. Belum ada kemajuan." jawab Arisa menunjukkan raut wajahnya yang sedih.


"Kamu yang sabar ya, sayang. Pasti suatu hari nanti, ibu akan sadar." hibur Andika sambil membelai rambut Arisa. Ingin sekali Arisa berharap bahwa Andika itu benar-benar mencintai dirinya yang sebenarnya, bukan karena dirinya mirip dengan Erina.


"Kita pulang ya...!" ajak Andika.


Mereka pun bergegas berjalan menuju parkiran mobil. Sepanjang perjalanan menuju parkiran mobil, Andika mengenggam erat tangan Arisa seolah-olah takut dipisahkan dengan istrinya itu. Apalagi, ketika dia mengingat mimpi buruk yang sudah dialaminya beberapa kali dalam waktu terakhir ini. Bahkan di dalam mobil pun, dia masih memegang tangan Arisa dan mengecup punggung tangannya, membuat Arisa merasa risih.


"Sudah Mas, kamu harus fokus lihat ke depan, kamu sedang nyetir, lho." ujar Arisa memperingatkan. Barulah kemudian Andika melepaskan tangannya dan mulai fokus menyetir mobilnya menerobos kemacetan kota sore menjelang malam itu hingga mereka sampai di apartemen mereka.

__ADS_1


__ADS_2