
Ada perasaan tidak rela sebenarnya pada diri Andika untuk mengizinkan istrinya bekerja. Namun, dia juga mencoba memahami keinginan Arisa yang ingin menjadi wanita karier dan mempunyai kesibukan untuk dijalani.
Malam ini, Arisa mencoba untuk tidur lebih awal, karena dia ingin besok bisa bangun lebih awal, sehingga mempunyai lebih banyak waktu bersiap-siap. Setelah pulang dari mall, dirinya segera membersihkan diri dan naik ke atas tempat tidur untuk bersiap-siap tidur. Mereka memang sudah makan malam di mall tadi.
Tinggallah Andika terbengong sendiri duduk di tepi ranjang, berharap istrinya belum benar-benar belum terlelap, karena ada hasrat dirinya yang belum tersalurkan..
"Sayang....sayang sudah tidur?" tanya Andika dengan suara pelan.
"Hmm....." dengus Arisa
"Sayang...."
Tidak ada jawaban lagi, tiba-tiba mulai terdengar dengkuran halus yang menandakan kalau Arisa benar-benar terlelap. Mungkin dia kecapekan setelah berkeliling di mall tadi untuk mencari keperluannya.
Pupus sudah harapan Andika. Kini dia pun berusaha untuk bisa terlelap menyusul istrinya di alam mimpi. Dia berusaha memejamkan mata namun tetap saja tiba bisa tertidur, apalagi karena tadi dia mendapatkan pesan chat dari detetif yang disuruhnya, sebuah informasi yang semakin menguatkan perkiraannya selama ini. Namun, Andika tetap mencoba bersikap tenang seolah-olah tidak ada masalah apa-apa.
Saat dia mencoba memejamkan mata, tiba-tiba slide-slide kejadian saat dia mengalami kecelakaan mobil muncul begitu saja.
"Arrrgh...." Andika merasa sakit kepala lagi yang cukup menyiksa. Dengan segera dia meraih obat pereda sakitnya, yang memang dikonsumsinya jika sakit kepalanya kambuh setiap saat.
Setelah menelan pil pahit tersebut, akhirnya Andika mulai merasakan kantuk. Tidak lama kemudian, diapun tertidur.
****
Pagi itu, jam weker yang dipasang Arisa belum berbunyi, namun Arisa sudah bangun duluan. Dia segera mandi untuk menyegarkan tubuhnya dan siap untuk memulai aktivitasnya pagi ini. Saat keluar dari kamar mandi, dilihatkan Andika masih tertidur pulas. Arisa sengaja tidak membangunkan Andika, agar Andika bisa beristirahat cukup. Diapun segera menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Saat dia kembali dari dapur, Andika pun masih belum terbangun, padahal hari sudah cukup terang. Barulah kali ini Arisa membangunkan suaminya, supaya Andika tidak sampai terlambat berangkat ke kantor.
"Bangun, Mas....bangun!" ujar Arisa. Namun, Andika tak bergeming sedikitpun.
"Ayo bangun, Tuan Pemalas. Hari sudah siang nih!" ucap Arisa dengan suara yang lebih keras, namun tetap saja Andika belum bangun juga. Akhirnya, pelan-pelan tangan Arisa mengarah pada kaki Andika. Dipegangnya salah satu bulu kaki Andika, lalu tiba-tiba....
"Arrgh...." teriak Andika langsung terbangun
__ADS_1
"Ha...ha...ha..." tawa Arisa cekikian melihat reaksi Andika, yang segera mendapat pelototan dari Andika.
"Sudah makin berani ya... Awas ya, nanti kubalas!" ancam Andika bercanda lalu dia mengelitiki tubuh Arisa.
"Ampun...ampun...Tuanku Raja!" teriak Arisa sambil mencoba menahan tahan karena kegelian. Dirinya paling tidak tahan kalau dikelitiki oleh Andika.
"Makanya....."
"Habis, dari tadi dibangunkan, tidak mau bangun sih. Udah mandi sana, gih!" ucap Arisa sambil menyodorkan handuk kepada Andika.
Andika segera menuju ke kamar mandi, sedangkan Arisa segera mengganti pakaiannya dengan setelan kantor dan memberikan sedikit riasan pada wajahnya agar tidak terlihat pucat polos.
Dia sudah mununggu di meja makan, saat Andika selesai mandi dan berpakaian rapi, yang kemudian menyusul istrinya untuk menikmati sarapan bersama.
"Sudah siap untuk hari pertama kali kerja, sayang?" tanya Andika.
"Sudah dong."
"Semangat ya hari ini!"
"Oh, aku antar ya !"
"Tidak usah, Mas. Kan arah perusahaan tempatku bekerja berlawanan arah dengan perusahaanmu. Nanti terlambat lagi. Ingat harus jadi contoh buat para karyawan. Aku bisa pakai taksi online kok!" ucap Arisa menolak tawaran Andika yang ingin mengantarnya.
"Ya sudah, kalau maunya begitu!"
Setelah selesai sarapan, mereka pun berjalan keluar dari apartemen bersama. Sebelumnya, Arisa sudah memesan taksi online. Tidak lama kemudian, datanglah mobil yang menjemput Arisa. Setelah memastikan istrinya sudah dijemput taksi, barulah Andika masuk ke dalam mobil dan segera melaju ke kantornya.
Karena jalanan belum macet, Arisa hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke perusahaan tempatnya bekerja. Saat turun dari mobil dan berjalan memasuki perusahaan tersebut, dia merasa sedikit canggung karena semua pertama kali baginya.
Dia berjalan menuju resepsionis dan memberikan informasi dirinya sebagai salah satu karyawan baru yang akan mulai bekerja di sini. Kemudian, resepsionis tersebut mengarahkan dirinya untuk masuk ke dalam suatu ruangan dan menunggu dengan beberapa orang di sana, kemungkinan juga karyawan baru seperti dirinya, untuk mendengarkan pengarahan dari bagian HRD, sebelum mereka ditempatkan pada posisinya dan mulai bekerja.
Arisa duduk sendiri agak jauh dari dua orang gadis yang terlihat sedang mengobrol. Arisa melihat ke arah mereka dan tersenyum untuk mencoba bersikap ramah kepada mereka. Dan kedua gadis itu pun ikut membalas senyuman tersebut. Sekilas terdengar obrolan seru di antara keduanya.
__ADS_1
"Hei, kamu tahu gak? dengar-dengar, CEO di perusahaan ini masih muda dan sangat tampan lho..." ujar salah satu gadis tersebut
"Dengar-dengar, dia juga masih jomblo. Alangkah beruntungnya ya, kalau aku bisa menjadi kekasihnya ya...." lanjut gadis itu sambil membayangkan.
"Hush....kita ke sini tuh, untuk bekerja. Jangan mengada-ngada deh, apalagi bermimpi di siang bolong begini. Mana mungkin itu Tuan CEO itu masih sama gadis model macam kita. Pasti pilihannya high class punya." tegur gadis satunya lagi.
Arisa hanya senyam-senyum sendiri mendengarkan percakapan kedua gadis itu. Tidak lama kemudian, datanglah seorang wanita yang merupakan pimpinan HRD perusahaan tersebut, dia akan memberikan pengarahan dan penjelasan tentang tata tertib kerja sebelum mereka akan ditempatkan di divisi masing-masing sesuai kualifikasi mereka masing-masing.
"Baiklah, ada pertanyaan sebelum kalian mulai bekerja hari ini?" tanya wanita tersebut sebelum mengakhiri pengarahannya. Ruangan senyap tidak ada yang bertanya menandakan semuanya sudah mengerti atau malah tidak mengerti sama sekali sehingga bingung apa yang mau ditanyakan.
Arisa sendiri ditempatkan di divisi keuangan bersama kedua gadis yang tadi mengobrol tersebut. Mereka pun berkenalan saat berjalan menuju kantor mereka. Dinda, si gadis yang berangan-angan menjadi kekasih CEO tadi dan Reni gadis satunya lagi. Tiba di kantor divisi keuangan, mereka pun diperkenalkan dengan staf lama, kemudian mereka diarahkan duduk pada meja kerja yang sudah disiapkan oleh mereka. Kebetulan meja Arisa ditempatkan berdekatan dengan Dinda, sedangkan Reni agak terpisah beberapa meja dari mereka. Tidak masalah, yang penting mereka masih dalam satu ruangan dan ketiganya cepat menjadi akrab, bahkan mereka janjian akan makan siang bersama pada jam istirahat siang nanti.
Hari pertama kerja Arisa berlangsung dengan lancar, kebetulan staf senior yang dalam ruangan tersebut hampir semuanya ramah-ramah dan membantu menjelaskan apa saja yang harus mereka kerjakan. Arisa sendiri cepat belajar, sehingga dia tidak kesulitan saat disodorkan setumpuk laporan keuangan dan harus menginput semua data tersebut ke dalam komputer.
Setelah makan bersama dengan rekan kerja barunya, Arisa kembali melanjutkan pekerjaannya di depan komputer, hingga tidak terasa hari sudah sore menandakan sebentar lagi waktunya pulang kerja.
"Ayo, kita pulang, Risa!" ajak Reni dan Dinda yang sudah beranjak duluan dari meja kerjanya. Beberapa staf lainnya sudah pulang duluan.
"Kalian duluan saja. Ini tanggung, tinggal sedikit lagi. Aku selesaikan dulu!" jawab Arisa.
"Baiklah, kalau begitu. Kami duluan ya!"
Setelah Arisa menyelesaikan pekerjaannya, barulah Arisa bersiap-siap akan pulang. Tiba-tiba handphonenya berbunyi menandakan sebuah panggilan masuk. Arisa segera menerima panggilan tersebut karena tertulis nama suaminya yang sedang memanggil.
"Hai sayang, kamu udah pulang kan? Aku jemput ya. Ini bentar lagi sampai. Kamu tunggu di depan ya!" ucap Andika dari seberang. Belum sempat Arisa menjawab, panggilan tersebut sudah ditutup dari seberang. mungkin Andika sedang menyetir sehingga tidak bisa telepon lama.
Karena tidak mau Andika menunggu lama di bawah, Arisa segera bergegas turun dan masuk dalam lift supaya cepat sampai di depan. Saat pintu lift terbuka di lantai dasar, Arisa langsung bergegas keluar namun karena tidak berhati-hati dengan dirinya yang belum begitu terbiasa menggunakan sepatu high heel, dia hampir terjatuh dan mendarat sempurna di badan seorang pria yang berdiri di depan pintu lift.
"Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja. Maaf....!" ucap Arisa sambil mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah pria tersebut. tersebut.
"Kamu?" teriak Arisa dan pria itu bersamaan.
****
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys..