
Tit....Tit....Tit....
Bunyi alarm jam weker di atas meja nakas samping tempat tidur Arisa sudah berbunyi dari tadi. Namun kedua sejoli itu masih terlelap di dalam tidurnya. Tangan Arisa mulai meraih jam tersebut untuk mematikannya. Sekilas dia membuka mata melihat sudah jam berapa sekarang.
"Akh....ini sudah siang!" teriak Arisa kelabakan saat melihat jam sudah hampir menunjukkan pukul 7 pagi. Dilihatnya ke arah jendela untuk memastikan bahwa waktu yang ditunjukkan oleh jam tersebut tidak salah, terlihat hari memang sudah begitu terang.
Arisa bergegas melompat turun dari tempat tidurnya dan segera mandi dengan jurus cepat. Tak perlu waktu lama, ARisa keluar dari kamar mandi dan segera berpakaian stelan kantornya. Dia tidak mau kalau harus sampai terlambat ke kantor, apalagi statusnya masih sebagai karyawan baru.
"Selamat pagi, sayang. Kenapa harus buru-buru sih?" sapa Andika dari tempat tidur yang terbangun dengan suara berisik yang dibuat oleh Arisa.
"Aku sudah terlambat, Mas!"
"Ya sudah, kalau gitu gak usah masuk kerja saja!"
"Ikh...masa aku bolos kerja. Nanti bisa-bisa aku dipecat, gimana dong?" protes Arisa.
"Kalau begitu, kamu berhenti bekerja saja!" pinta Andika.
"Tidak semudah itulah, Mas. Kamu lupa, aku kan terikat kontrak."
"Ya tidak masalah. Kan tinggal dibayar denda kontraknya kan?"
"Akh...gak gitu juga kali. Kalau aku berhenti mendadak, memutuskan kontrak sepihak begini, rusak dong reputasiku Mas. Gak mau akh!"
"Tetapi, aku tidak mau kamu terlalu sibuk bekerja hingga kecapekan terus. Udah, kamu berhenti saja ya, aku kan masih sanggup menafkahi kamu, jadi kamu tidak perlu ikut bekerja lagi."
"Ini bukan soal nafkah, Mas. Aku benar-benar menikmati pekerjaanku ini setelah sekian lama menganggur. Aku menikmati kesibukan ini kok."
"Tetapi aku tidak mau kamu kecapekan, sayang!" ucap Andika sekali lagi meyakinkan Arisa agar mau berhenti bekerja. Tetapi Arisa tetap bersikeras dengan pendiriannya.
"Biarkan aku tetap bekerja Mas, sampai kontrak kerjaku selesai selama setahun ini. Atau, aku akan berhenti bekerja jika aku sudah hamil. Boleh ya, Mas?" pinta Arisa bermaksud nego dengan Andika.
"Oke, kalau begitu, aku beri waktu 1 tahun ya. Tetapi kalau dalam 1 tahun ini, kamu udah keburu hamil. Tidak ada bantahan lagi, kamu harus berhenti. Janji?"
"Sip, aku tidak akan membantah, Mas."
"Kalau begitu, aku akan membuat kamu secepatnya berhenti bekerja hahaha....." tawa Andika dengan penuh maksud.
__ADS_1
"Dan ingat, jangan pernah lagi kamu bertindak bodoh menelan pil-pil sialan itu ya....!" sahut Andika sambil berjalan menuju ke kamar mandi memperingati Arisa soal pil-pil kontrasepsi tersebut.
Sejenak Arisa memandangi botol pil kontrasepsi yang masih ditaruh di atas meja riasnya.
"Tentu saja, Mas. Aku tidak akan berani lagi menelan pil-pil ini lagi." jawab Arisa dengan suara pelan yang lebih ditujukan untuk dirinya sendiri. Dia segera mengambil botol tersebut dan membuangnya ke tempat sampah.
*****
Arisa bergegas berangkat ke kantor setelah berpamitan dengan Andika. Dia bersikeras tetap pergi dengan taksi online meski Andika sudah menawarkan untuk mengantarnya, supaya dia bisa berangkat lebih cepat tanpa harus menunggu suaminya bersiap-siap dulu. Andika masih santai karena dia bekerja di perusahaannya sendiri.
Saat taksi yang ditumpanginya sampai di perusahaan Alex, dengan cepat dia turun setelah menyerahkan beberapa lembar uang kepada supir taksi. Dia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kantornya. Sambil melihat jam tangannya, waktu tinggal 2 menit lagi sebelum batas waktu keterlambatan. Syukurlah, saat dia sampai di kantor dan melakukan finger print, waktunya tepat, dia tidak terlambat satu menit pun.
Arisa segera menuju meja kerjanya. Dia berusaha menenangkan jantungnya yang tadi berpacu dengan waktu. Setelah sudah tenang, barulah dia menyalakan komputer di depannya untuk memulai pekerjaannnya hari ini.
Dinda yang melihat Arisa baru datang dengan terburu-buru, segera menyapa lewat grup chat mereka.
Dinda : Hei, Arisa...tumben kamu hampir datang terlambat. Biasanya kamu yang paling awal.
Reni : Iya tuh....habis keluyuran ke mana tuh tadi malam?
Arisa : Enak aja keluyuran Emangnya aku kayak kalian, kelayapan ke mana-mana tiap malam.
Arisa : Iya sih, aku bangun kesiangan, aku hanya kecapekan aja kok...
Dinda : Kecapekan habis ngapain tuh? diriku kepo....
Arisa : Udah akh, lanjut kerja guys....ntar gak selesai lagi kerjaan, lembur lagi kayak kemarin, mau???
Reni : Gak dong
Arisa : Makanya...
Arisa memang belum menceritakan kepada kedua temannya itu bahwa dia sudah menikah, jadi tidak mungkin juga dia bercerita kalau hari ini dia bangun kesiangan gara-gara bertempur dengan suaminya semalaman.
Lagi asyik-asyik bekerja, Arisa mendengar obrolan beberapa rekan kerja senior di sampingnya.
"Eh, dengar-dengar, mbak Evalia, sekretarisnya Pak Direktur kita mengundurkan diri mendadak. Tahu gak kenapa?" ujar salah satu rekannya.
__ADS_1
"Gak tahu tuh, apa mungkin karena mendapatkan tawaran pekerjaan yang lebih baik?'' balas rekan satunya lagi.
"Bisa jadi. Tetapi mungkin ada alasan pribadi. Kalau tidak salah, mbak Evalia kan memang sudah mau menikah, dan dengar-dengar calon suaminya itu kerjanya sebagai kontraktor yang suka pindah-pindah kota. Mungkin karena harus ikut suami, maka harus mengundurkan diri."
"Oh begitu...terus perusahaan membuka lowongan untuk jabatan sekretaris dong?"
""Akh gak tahu juga ya, yang kudengar, ada kemungkinan, Pak Direktur yang akan menyeleksi staf yang sudah ada dari salah satu divisi untuk mengisi kekosongan posisi tersebut!"
"Wah, benaran? Mudah-mudahan aku bisa terpilih mengisi posisi itu ya, biar bisa berdekatan dengan Pak Direktur tampan kita!" ucap salah satu rekan kerja Arisa itu dengan penuh harap.
Arisa hanya mendengar sekilas tanpa ingin tahu lebih lanjut, dia kemudian fokus kembali dengan pekerjaannya. Tiba-tiba telepon di samping komputernya berdering.
"Halo.....baik Bu!" jawab Arisa terhadap panggilan dari ibu Nelly yang menyuruhnya untuk segera ke ruangannya.
Tok...Tok...Tok...
"Masuk!"
"Ada apa, Bu? Saya dipanggil."
"Silakan duduk, Arisa!" Arisa pun segera duduk di kursi di depan meja Ibu Nelly.
"Begini, tadi barusan saya dapat telepon dari Pak Alex, Direktur kita. Beliau menginginkan kamu yang menggantikan kekosongan posisi mbak Evalia. Bagaimana, kamu siap ya dipindahkan ke lantai atas, untuk menjadi sekretaris Pak Direktur kita. Ini kesempatan bagus lho untuk karirmu." ucap Ibu Nelly menjelaskan dengan panjang lebar.
"Tetapi, Bu...."
"Sudah, jangan ada tapi-tapian....ini adalah perintah langsung dari Pak Direktur. Jangan membantah, supaya saya dan kamu sama-sama tidak mendapat masalah."
"Iya, Bu." jawab Arisa dengan terpaksa. Padahal kalau boleh jujur, dia lebih menikmati pekerjaan dan posisinya di divisi ini daripada harus menjadi sekretaris Alex.
"Nah, sekarang silakan kamu menghadap Pak Alex. Beliau sudah menunggu di kantornya, untuk menjelaskan apa saja yang menjadi tugasmu!"
"Baik, Bu!"
Arisa segera keluar dari ruang Ibu Nelly dengan langkah lesu, seperti orang yang habis dipecat, padahal bukankah dia baru saja mendapat posisi yang diidam-idamkan beberapa rekan kerjanya yang lain.
Dengan langkah malas, dia berjalan menuju ruang kantor Alex untuk menghadap.
__ADS_1
*****
Jangan lupa, tinggalkan jejak ya teman-teman, like dan komen saja sudah membuat author senang, apalagi kalau ada yang berkenan vote, author akan lebih bersemangat lagi menulis.