Cinta Karena Hilang Ingatan

Cinta Karena Hilang Ingatan
Diperebutkan


__ADS_3

Kabar tentang kehamilan Arisa sudah terdengar oleh keluarga Andika maupun Arisa. Pagi itu, di ruang perawatan Arisa, telah berkumpul Wijaya, Anita, Handoko dan Della Tak ketinggalan Dina juga sudah ikut berkumpul meski datang belakangan.


"Jadi, gimana keadaanmu, Nak? Sudah merasa enakan?" tanya Della. Arisa hanya mengangguk untuk merespon pertanyaan mamanya itu.


"Nah, kamu hamil juga akhirnya Risa. Pasti ini karena yang malam itu ya, minuman yang ibu kasih tuh memang manjur ya, top ceeeer!" ujar Dina santai, Arisa jadi malu mendengar ibunya berkata seperti di depan semua orang. Sedangkan yang lain semua menjadi saling berpandangan, tidak mengerti apa maksud perkataan Dina barusan.


"Nah, karena kamu sedang hamil sekarang, sebaiknya kamu ikut tinggal dengan kami, Arisa. Biar ada yang memperhatikanmu dalam masa kehamilan ini." ucap Anita mulai nimbrung.


"Tidak bisa...Arisa itu anak kandung kami, jadi seharusnya dia tinggal dengan kami. Aku yang akan merawatnya selama masa kehamilannya ini!" sahut Della.


"Tidak bisa gitu dong, Arisa itu sudah menikah dengan putraku, dia harus ikut suaminya. Jadi, dia harusnya tinggal dengan kami." balas Anita tak mau kalah.


"Tidak...Arisa dengan kami!" ujar Della dengan nada yang semakin tinggi.


"Dengan kami!" balas Anita juga dengan nada yang hampir sama.


Keduanya tidak ada yang mau mengalah. Arisa menjadi pusing melihat pertengkaran kecil di antara mama dan mertuanya, begitu juga dengan Andika. Arisa menatap Andika memberi kode agar Andika melakukan sesuatu.


"Sudah Ma, Arisa tetap tinggal denganku di apartemen saja!" ucap Andika bermaksud untuk menengahi.


"Tinggal denganmu? Tidak salahkah? lalu siapa yang akan menjaga istrimu itu, jika kamu pergi kerja, Dika?" tanya Anita. Andika berpikir sejenak. Benar juga, siapa yang akan menjaga istrinya kalau dia seharian di kantor. Tidak mungkin dia membiarkan istrinya sendirian di apartemen.


"Makanya, Arisa tinggal dengan kami saja!" sahut Della lagi.


"Enak aja, dengan kami dong... Dia kan menantu kami!" ujar Anita masih tak mau kalah.


"Sudah....sudah....jangan bertengkar lagi. Sebaiknya masalah ini biar Arisa yang memutuskan sendiri, Mah!" ucap Handoko kepada istrinya.


"Iya...benar kata Pak Handoko. Biar Arisa saja yang memutuskan, dia lebih nyaman tinggal bersama siapa." ucap Wijaya ikut nimbrung, karena dia juga merasa cukup bising dengan pertengkaran keduanya.

__ADS_1


"Jadi, gimana sayang? kamu mau tinggal dengan siapa?" tanya Handoko.


Sejenak Arisa kelihatan sedang berpikir. Jika, dia memilih salah satu di antara keduanya, pasti satunya akan merasa tidak terima.


"Aku tetap di apartemen saja, Pah, Mah!" jawab Arisa setelah mempertimbangkan sebentar.


"Tetapi, siapa yang akan menjagamu, sayang?" tanya Della


"Ibu yang akan menjagaku. Mau ya, Bu? Tinggal dengan kami, selama masa kehamilanku ini." pinta Arisa penuh harap kepada Dina yang dari tadi diam merasa tidak berhak ikut campur dalam urusan pertengkaran di antara kedua wanita yang seumuran dengannya itu.


Sejak Arisa sudah bertemu dengan orang tua kandungnya, Dina merasa kalau dia bukan siapa-siapa lagi bagi Arisa. Tetapi tentu saja, tidak bagi Arisa. Arisa tetap memandang Dina seperti ibu kandungnya yang telah membesarkan dan merawatnya dengan baik selama ini.


Dina berpikir sejenak, kemudian menganggukkkan kepalanya.


"Nah, jadi sudah selesai kan masalahnya. Keputusannya, biarkan Arisa tetap tinggal di apartemen dengan Andika. Ada ibu Dina yang akan merawatnya. Jadi, kalian tidak perlu kuatir lagi." ucap Handoko.


"Iya, Pah. Aku setuju!" jawab Andika. Dia bersyukur ibu mertuanya, Dina bersedia ikut tinggal bersamanya sementara waktu untuk merawat Arisa selama masa kehamilannya tersebut sehingga dia tidak perlu kuatir jika harus bekerja seharian di kantor.


*****


Siang itu, Arisa sudah diperbolehkan ke luar dari rumah sakit. Badannya sudah cukup fit, meski sesekali Arisa masih merasa mual-mual, apalagi setiap kali dia memakan sesuatu, tak lama setelah itu dia pasti akan muntah-muntah.


Sesampai di apartemennya, Arisa langsung beristirahat di dalam kamarnya. Andika sengaja tidak masuk kerja hari ini, supaya bisa menemani istrinya. Saat ini, di apartemen mereka hanya berdua saja. Orang tua mereka masing-masing sudah pulang ke rumah, sedangkan Dina juga pamit pulang ke rumahnya sebentar untuk mempersiapkan pakaian dan beberapa keperluannya untuk tinggal di apartemen Andika selama sementara waktu.


"Sayang, kamu maunya bayi kita laki-laki atau perempuan?" tanya Arisa saat Andika juga ikut merebahkan diri di sampingnya.


"Tidak masalah, nanti si adek itu laki-laki atau perempuan, yang penting dia lahir dengan selamat dan kamu juga melahirkannya dengan lancar, aku sudah bersyukur, sayang. Mau laki-laki ataupun perempuan itu sama saja." jawab Andika.


"Akh....kalau aku maunya laki-laki. Pasti dia akan tampan seperti kamu, Mas." ujar Andika.

__ADS_1


"Kalaupun dia perempuan, pasti juga akan secantik mamanya, sayang." ucap Andika sambil memegang dagu Arisa dan mulai mengecup bibir istrinya itu. Lama-lama kecupan tersebut menjadi ciuman panas. Tangan Andika sudah mulai tidak bisa dikondisikan, bergerilya ke sana ke mari ke area sensitif Arisa.


Tiba-tiba.....


Oekkk.....oekkk


Arisa merasa mual-mual lagi. Dengan cepat, dia berlari ke kamar mandi, karena dirinya merasa ingin muntah lagi.


"Yakh....gak kesampaian...!" keluh Andika, lalu beranjak bangun untuk menyusul istrinya di kamar mandi.


"Kamu tidak apa-apa, sayang? Masih merasa mual?" tanya Andika sambil mengelus tengkuk Arisa, berusaha membuat Arisa merasa lebih nyaman.


"Tunggu sebentar, aku ambilkan air minum dulu!" ujar Andika.


Setelah merasa agak enakan, barulah Arisa kembali ke ranjangnya. Andika masuk dengan membawa segelas air putih hangat di tangannya.


"Minum ya!" ucap Andika sambil menyodorkan gelas tersebut kepada istrinya. Dengan segera, Arisa meneguk air putih tersebut untuk melegakan tenggorokannya.


"Kalau keadaanmu seperti ini terus, aku jadi kuatir dan kepikiran terus sayang. Aku tidak bisa bekerja dengan tenang deh." ucap Andika dengan nada sedih.


"Aku tidak apa-apa, Mas. Kan, Mas dengar sendiri apa kata dokter kemarin. Ini hanya efek perubahan hormon saja. Nanti juga akan pulih sendiri."


"Tetapi, tetap saja aku kuatir, sayang. Dokter mengatakan mungkin saja kondisi seperti ini bisa berlangsung sampai kamu melahirkan. Aku tidak tega melihat kamu seperti ini terus, sayang." ucap Andika.


"Cup...cup...sudah Mas. Ini kenapa suamiku tiba-tiba jadi melow begini. Aku tidak apa-apa kok. Aku yakin, aku pasti bisa melewati keadaan seperti ini. Mas lupa? Aku kan wanita perkasa hehehe....." ucap Arisa berusaha menenangkan suaminya agar tidak kuatir berlebihan.


"Perkasa dari mananya coba, sudah lemes begini." bantah Andika.


"Akh....Mas!" ujar Arisa setengah merengek.

__ADS_1


__ADS_2